Konsep Dasar Pembelajaran Kontekstual
Contextual Teaching
and Learning (CTL) merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan
membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap
konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural),
sehingga siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel
untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.
CTL
disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru
mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan
mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.
Nurhadi
dalam Rusman (2014) mengatakan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching
and Learning) merupakan konsep belajar yang dapat membantu guru mengaitkan
antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong
siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya
dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Untuk
memperkuat dimilikinya pengalaman belajar yang aplikatif bagi siswa, tentu saja
diperlukan pembelajaran yang lebih banyak memberikan kesempatan kepada siswa
untuk melakukan, mencoba, dan mengalami sendiri (learning to do), dan bahkan
sekedar pendengar yang pasif sebagaimana penerima terhadap semua informasi yang
disampaikan guru.
Rasional
Dalam Contextual teaching and learning
(CTL) diperlukan sebuah pendekatan yang lebih memberdayakan siswa dengan
harapan siswa mampu mengkonstruksikan pengetahuan dalam benak mereka, bukan
menghafalkan fakta. Disamping itu siswa belajar melalui mengalami bukan
menghafal, mengingat pengetahuan bukan sebuah perangkat fakta dan konsep yang
siap diterima akan tetapi sesuatu yang harus dikonstruksi oleh siswa. Dengan
rasional tersebut pengetahuan selalu berubah sesuai dengan perkembangan jaman.
Sintaks Model
Pembelajaran Kontekstual
CTL
dapat diterapkan dalam kurikulum apapun, bidang studi apapun, dan kelas yang
bagaimanapun keadaannya. Model pembelajaran CTL dalam kelas cukup mudah. Secara
garis besar, langkah-langkah yang harus ditempuh dalam CTL adalah sebagai
berikut:
Fase 1
Guru menjelaskan
kompetensi yang harus dicapai siswa serta manfaatnya dari proses pembelajaran
serta pentingnya materi pelajaran yang akan dipelajari. Guru menggali
pengetahuan awal siswa serta menganalisis miskonsepsi siswa (Konstruktivism).
Fase 2
Siswa dibagi dalam
beberapa kelompok kecil.Guru menyajikan model atau fenomena dan setiap kelompok
diberi tugas untuk melakukan observasi. Melalui observasi yang dilakukan, siswa
ditugaskan diminta untuk menyampaikan gagasan yang dimilikinya terkait dengan
materi yang dipelajari dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan
guru (Modelling).
Fase 3
Guru melakukan tanya
jawab seputar tugas yang harus dilakukan oleh setiap kelompok siswa guna
mencapai tujuan pembelajaran (Questioning).
Fase 4
Siswa melakukan
observasi dan mencatat hasil observasinya dengan menggunakan alat observasi
yang telah mereka tentukan sebelumnya. Siswa menganalisis hasil observasinya
(Inquiry).
Fase 5
Siswa mendiskusikan
hasil temuan mereka sesuai dengan kelompok masing-masing. Masing-masing
kelompok melaporkan hasil diskusinya dalam pleno kelas. Setiap kelompok
menjawab pertanyaan yang diajukan kelompok lainnya (Learning Community).
Fase 6
Dengan bantuan guru,
siswa menyimpulkan hasil observasinya. Simpulan tersebut merupakan pengetahuan
atau keterampilan baru yang diperoleh dalam proses pembelajaran melalui
penemuan.
Fase 7
Guru melakukan
penilaian autentik dan memberi tugas kepada siswa untuk meningkatkan pemahaman,
memperluas dan memperdalam pengetahuan berkaitan dengan topik yang telah
dipelajari. Siswa juga melakukan refleksi diri (Authentic assessment).
Komponen Utama Model
Pembelajaran Kontestual
Menurut
Trianto (2014) pembelajaran kontekstual melibatkan tujuh komponen utama
pembelajaran efektif yaitu, Constructivism (konstruktivisme), Inquiry
(menemukan) , Questioning (bertanya), Learning Community (masyarakat belajar),
Modeling (pemodelan), Reflection (refleksi) dan Authentic Assessment (penilaian
yang sebenarnya).
1. Konstruktivisme
(Constructivism)
Konstruktivistik
merupakan landasan pendekatan kontekstual. Pengetahuan dibangun oleh manusia
sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas
(sempit) dalam kontruktivistik, strategi lebih diutamakan dibanding seberapa
banyak peserta didik memperoleh dan mengingat pengetahuan. Dalam kontruktivis,
lebih diutamakan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan.
Untuk itu tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan cara:
a) Menjadikan
pengetahuan bermakna bagi siswa
b) Memberikan
kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri
c) Menyadarkan
siswa menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.
2. Pemodelan
(Modelling)
Dalam
suatu pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa
ditiru siswa, misalnya cara mengoperasikan suatu mesin, guru mendatangkan
ahlinya kesekolah agar peserta didik dapat menirunya dan lain seba gainya.
Pembelajaran kontekstual guru bukan satu-satunya model. Pemodelan dirancang
dengan melibatkan siswa. Model juga dapat didatangkan dari luar yang ahli
dibidangnya.
3. Bertanya
(questioning)
Bertanya
adalah induk dari strategi pembelajaran kontekstual, awal dari pengetahuan,
jantung dari pengetahuan dan aspek penting dari pembelajaran. Guru menggunakan
questioning (bertanya) untuk menuntun siswa berpikir bukannya penjejalan
berbagai informasi penting yang harus dipelajari siswa. Bertanya digunakan
sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan
berpikir siswa. Inti dari penerapan bertanya (questioning):
a) Mendorong
siswa untuk mengetahui sesuatu
b) Mengarahkan
siswa untuk memperoleh informasi
c) Melatih
siswa untuk berpikir kritis
4. Menemukan (inquiry)
Pengetahuan
dan keterampilan yang diperoleh peserta didik diharapkan bukan hasil mengingat
seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil menemukan sendiri. Guru harus merancang
suatu pembelajaran dalam bentuk kegiatan nememukan (inquiri) dalam bentuk
apapun materinya yang diajarkan. Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan
pembelajaran berbasis kontekstual, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh
siswa diharapkan bukan dari hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi
hasil dari menemukan sendiri. Siklus inquiry:
a) Observasi
(Observation)
b) Bertanya
(Questioning)
c) Mengajukan
dugaan (Hipotesis)
d) Pengumpulan
data (Data gathering)
e) Penyimpulan
(Conclussion)
5. Masyarakat Belajar
(Learning Community)
Masyarakat
belajar artinya bahwa seseorang kaya dengan pengetahuan dan pengalaman tatkala
mereka banyak belajar dari orang lain, dalam masyarakat belajar hasil
pembelajaran dapat diperoleh dari kerja sama dengan orang lain dengan sharring
antar teman, antar kelompok dan mereka yang tahu ke yang belum tahu.Masyarakat
belajar dapat dilakukan dengan menerapkan pembelajaran melalui kelompok
belajar. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok yang anggotanya bersifat
heterogen, baik dilihat dari kemampuan maupun bakat dan minatnya. Praktik dalam
pembelajaran ”masyarakat belajar” terwujud dalam:
a) Pembentukan
kelompok kecil
b) Pembentukan
kelompok besar
c) Mendatangkan
ahli ke kelas (tokoh, olahragawan, dokter, budayawan, petani, perawat, polisi,
dll)
d) Bekerja
dengan kelas sederajat
e) Bekerja
kelompok dengan kelas yang diatasnya
f) Bekerja
dengan masyarakat
6. Refleksi
(Reflection)
Refleksi
merupakan guru/pelajar menghubungkan antara pengetahuan peserta didik yang
telah dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru diterima. Pada akhir
pembelajaran, pembelajar menyisakan waktu sejenak agar peserta didik melakukan
refleksi, berupa pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari
ini, catatan atau jurnal dari buku peserta didik, kesan dan saran peserta didik
mengenai pembelajaran hari itu.
7. Penilaian yang
sebenarnya (Authentic Assesment)
Prosedur
penilaian otentik adalah menunjukkan kemampuan (pengetahuan, keterampilan, dan
sikap) peserta didik secara nyata penekanan penilaian otentik adalah pada
penilaian yang tidak hanya mengacu pada hasil akan tetapi penilaian pada
proses, bagaimana peserta didik memperoleh dan memiliki pengetahuan,
keterampilan, dan sikap.
Indikator
Berpikir Kreatif
Munandar (2012)
berpendapat untuk mengetahui tingkat kekreatifan seseorang, perlu adanya
penilaian terhadap kemampuan berpikir kreatif. Berikut indikator penilaian
berpikir kreatif beserta perilakunya.
1. Berpikir lancar
(Fluency)
·
Menghasilkan banyak gagasan/jawaban yang relevan
·
Arus pemikiran lancar
2. Berpikir luwes
(flexibility)
·
Menghasilkan gagasan-gagasan yang beragam
·
Mampu mengubah cara atau pendekatan
·
Arah pemikiran yang berbeda
3. Berpikir orisinil
(Originality)
·
Meberikan jawaban yang tidak lazim
·
Memberkan jawaban yang lain dari pada yang lain
·
Memberikan jawaban yang jarang diberikan kebanyakan
orang
4. Berpikir
terperinci (elaboration)
·
Mengembangkan, menambah, memperkaya suatu gagasan
·
Memperinci detail-detail
·
Memperluas suatu gagasan
KELEBIHAN DAN
KELEMAHAN
A.
Kelebihan dari model pembelajaran CTL
1. Memberikan
kesempatan pada sisiwa untuk dapat maju terus sesuai dengan potensi yang
dimiliki sisiwa sehingga sisiwa terlibat aktif dalam PBM.
2. Siswa
dapat berfikir kritis dan kreatif dalam mengumpulkan data, memahami suatu isu
dan memecahkan masalah dan guru dapat lebih kreatif
3. Menyadarkan
siswa tentang apa yang mereka pelajari.
4. Pemilihan
informasi berdasarkan kebutuhan siswa tidak ditentukan oleh guru.
5. Pembelajaran
lebih menyenangkan dan tidak membosankan.
6. Membantu
siwa bekerja dengan efektif dalam kelompok.
7. Terbentuk
sikap kerja sama yang baik antar individu maupun kelompok.
B.
Kelemahan dari model pembelajaran CTL
1. Dalam
pemilihan informasi atau materi dikelas didasarkan pada
kebutuhan siswa padahal,dalam kelas itu tingkat kemampuan
siswanya berbeda-beda sehinnga guru akan kesulitan dalam menetukan materi
pelajaran karena tingkat pencapaianya siswa tadi tidak sama
2. Tidak
efisien karena membutuhkan waktu yang agak lama dalam PBM
3. Dalam
proses pembelajaran dengan model CTL akan nampak jelas antara siswa yang
memiliki kemampuan tinggi dan siswa yang memiliki kemampuan kurang, yang
kemudian menimbulkan rasa tidak percaya diri bagi siswa yang kurang
kemampuannya
4. Bagi
siswa yang tertinggal dalam proses pembelajaran dengan CTL ini akan terus
tertinggal dan sulit untuk mengejar ketertinggalan, karena dalam model
pembelajaran ini kesuksesan siswa tergantung dari keaktifan dan usaha sendiri
jadi siswa yang dengan baik mengikuti setiap pembelajaran dengan model ini
tidak akan menunggu teman yang tertinggal dan mengalami kesulitan.
5. Tidak
setiap siswa dapat dengan mudah menyesuaikan diri dan mengembangkan kemampuan
yang dimiliki dengan penggunaan model CTL ini.
6. Kemampuan
setiap siswa berbeda-beda, dan siswa yang memiliki kemampuan intelektual tinggi
namun sulit untuk mengapresiasikannya dalam bentuk lesan akan mengalami
kesulitan sebab CTL ini lebih mengembangkan ketrampilan dan kemampuan soft
skill daripada kemampuan intelektualnya.
7. Pengetahuan
yang didapat oleh setiap siswa akan berbeda-beda dan tidak merata.
8. Peran
guru tidak nampak terlalu penting lagi karena dalam CTL ini peran guru hanya
sebagai pengarah dan pembimbing, karena lebih menuntut siswa untuk aktif dan
berusaha sendiri mencari informasi, mengamati fakta dan menemukan
pengetahuan-pengetahuan baru di lapangan
Sintaks Inovasi yang
saya buat
Materi
: Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit
Model
: Contextual Teaching and Learning
Pertemuan
: Ke-1
No
|
Model Konvensional (Model Kontekstual)
|
No
|
Inovasi Sintaks Model Kontekstual
|
Dampak Berpikir Kreatif
|
1.
|
Konstruktivisme
|
1.
|
Konstruktivisme
|
|
Mengkondisikan siswa
|
Mengkondisikan siswa
|
|||
Menyampaikan tujuan dan kompetensi yang harus dicapai
|
Menyampaikan tujuan dan kompetensi yang harus dicapai
|
|||
Memberikan pertanyaan mengenai materi pelajaran sebelumnya
|
Mengajukan pertanyaan tentang materi pelajaran sebelumnya
|
|||
Menggali pengetahuan awal siswa
|
Menggali pengetahuan awal siswa tentang materi larutan elektrolit dan non
elektrolit dengan memberikan
pertanyaan yang memotivasi siswa agar memiliki rasa ingin tahu dan mengajak
siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan yang ada dalam pikiran mereka. “ketika
tangan kita basah atau berkeringat memegang stock kontak listrik maka tangan
kita akan tersentrum, mengapa demikian?”
|
Memiliki gagasan yang bervariasi (aspek berpikir luwes)
|
||
Mendorong siswa untuk membuat keterkaitan antara persoalan yang diajukan
dengan materi yang akan dipelajari
|
Menjawab persoalan berdasarkan sudut pandang yang berbeda (berpikir
luwes)
|
|||
2.
|
Pemodelan (Modelling)
|
2.
|
Pemodelan (Modelling)
|
|
Mengarahkan siswa membentuk kelompok
|
Mengarahkan siswa membentuk kelompok secara heterogen yang dilakukan oleh
guru
|
|||
Menampilkan media/video/fenomena yang berhubungan dengan materi dan
selanjutnya mengajukan pertanyaan
|
Memberikan LKPD tentang materi larutan elektrolit dan non elektrolit
kepada masing-masing kelompok
|
|||
Menampilkan video berupa fenomena larutan elektrolit dan non elektrolit
dan mengajukan pertanyaan kepada siswa
|
||||
3.
|
Bertanya (Questioning)
|
3.
|
Menemukan (Inquiry)
|
|
Membimbing siswa melakukan tanya jawab
|
Membimbing siswa untuk melakukan observasi dan mencatat setiap pengamatan
|
Membuat laporan secara detail sesuai hasil
observasi masing-masing kelompok (aspek kemampuan berfikir detail)
|
||
Mengarahkan siswa mencari tahu materi larutan elektrolit
dan non elektrolit dari berbagai sumber
|
||||
Mengawasi siswa selama proses observasi
berlangsung
|
||||
Membimbing siswa untuk melakukan analisis
terhadap hasil observasi
|
-Merumuskan masalah, gagasan/ ide atau
hal-hal belum terfikirkan oleh orang lain (aspek kemampuan berfikir orisinil)
· -Mencetuskan
berbagai gagasan jawaban, atau sasaran dengan tepat dan lancar (aspek
kemampuan berfikir lancar)
|
|||
4.
|
Menemukan (Inquiry)
|
4.
|
Masyarakat Belajar(Learning Community)
|
|
Membimbing siswa mencari tahu sendiri materi pelajaran dari berbagai
sumber
|
Mempersilakan siswa bergabung dengan
kelompoknya masing-masing untuk melakukan diskusi
|
-Bekerja lebih cepat dan melakukan banyak hal (aspek berpikir lancar)
· -Mencetuskan
banyak gagasan, jawaban atau sarana dengan lancar dan tepat (aspek berpikir
lancar)
· -Memberikan
gagasan yang bervariasi (aspek berpikir luwes)
-Merumuskan masalah, gagasan/ ide atau hal-hal belum terfikirkan oleh
orang lain (aspek berpikir orisinil)
|
||
Mengarahkan siswa untuk berpartisipasi secara
aktif dalam kelompok masing-masing
|
-Mencetuskan banyak
gagasan, jawaban atau sarana dengan lancer dan tepat (aspek kemampuan
berfikir lancar)
-Memberikan gagasan yang bervariasi (aspek
kemampuan berfikir luwes)
-Merumuskan
masalah, gagasan/ ide atau hal-hal belum terfikirkan oleh orang lain (aspek
kemampuan berfikir orisinil)
|
|||
Mengarahkan siswa untuk menjawab LKPD
berdasarkan observasi
|
Menciptakan ide-ide atau hasil karya baru
yang berbeda (aspek kemampuan berfikir orisinil)
|
|||
Mempersilakan perwakilan kelompok untuk
mempresentasikan hasil diskusi kelompok
|
Mengembangkan dan memperkaya gagasan-gagasan
orang lain (kemampuan berfikir kreatif)
|
|||
Memberikan kesempatan pada
masing-masing kelompok untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh kelompok
lain
|
-Menjawab pertanyaan yang diajukan secara
lancar dan benar terhadap jawaban yang diberikan (aspek berpikir lancar)
· -Berpartisipasi
aktif dengan memberikan argumen atau pendapat yang dimilikinya (aspekberpikir
orisinil)
·-Memberikan
sanggahan atau saran yang sesuai dengan persoalan yang sedang dibahas (aspekberpikir
luwes)
|
|||
5.
|
Masyarakat Belajar(Learning Community)
|
5.
|
Bertanya (Questioning)
|
|
Membantu siswa megatasi permasalahan yang diberikan
|
Mendorong siswa mengajukan pertanyaan terkait materi yang belum
dimengerti siswa
|
-Mengembangkan atau memperkaya gagasan
orang lain (aspek berpikir detail)
-Merumuskan masalah atau hal-hal belum
terfikirkan oleh orang lain (aspek berpikir orisinil)
|
||
Memberikan kesempatan tanya jawab seputar hasil diskusi
|
Mendorong siswa lain untuk menanggapi pertanyaan yang diberikan oleh
temannya
|
Memberikan jawaban dari sudut pandang
yang berbeda (aspek berpikir luwes)
-Memberikan jawaban berdasarkan hasil pemikirannya
sediri (aspekberpikir orisinil)
|
||
Mengarahkan siswa untuk membuat kesimpulan berdasarkan pembelajaran yang
telah dilakukan
|
Memberikan gagasan bervariasi (aspek berpikir luwes)
|
|||
6.
|
Refleksi (Reflection)
|
6.
|
Refleksi (Reflection)
|
|
Memberikan penguatan dan membimbing siswa untuk membuat ringkasan
|
Membimbing siswa untuk mengevaluasi ilmu pengetahuan yang telah diperoleh
selama proses pembelajaran berlangsung dan membuat suatu ringkasan
|
-Memberikan gagasan bervariasi (aspek berpikir luwes)
-Membuat laporan dengan detail dan berbeda dengan yang lain (aspek
berpikir detail)
|
||
7.
|
Penilaian yang Sebenarnya (Authentic
Assessment)
|
7.
|
Penilaian yang Sebenarnya (Authentic
Assessment)
|
|
Membantu siswa menyimpulkan
|
Membimbing
siswa untuk mengerjakan tugas akhir
|
|||
Memberikan tes akhir
|
Mengawasi
siswa selama proses pengerjaan soal
|
Permasalahan :
Apakah inovasi sintaks model pembelajaran yang telah saya buat sudah
efektif ? lalu langkah pembelajaran keberapa yang dapat menimbulkan secara
nyata aspek berpikir kreatif ? dan berikan saran Anda terhadap inovasi yang
saya buat !
menurut saya efektif atau tidaknya suatu model pembelajaran haruslah diuji coba terlebih dahulu. namun, menurut saya inovasi yg telah Anda buat ini bisa menjadi salah satu bagian pembaruan dalam mengajar melalui model CTL. dan menurut saya bagian sintaks yang lebih menekankan pada keterampilan berpikir kreatif adalah inkuiri karna didalam inkuiri ini Menurut Trianto (2009) merupakan bagian inti kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. didalam inkuiri sendiri terdapat
BalasHapusa) Observasi
b) Bertanya
c) Mengajukan dugaan (hipotesis)
d) Pengumpulan data
e) Penyimpulan
sehingga dari tahap inkuiri ini siswa lebih aktif dalam mwngkonstruk pengetahuannya sehigga muncullah pikiran" kreatif yang dapat menyelesaikan masalah yg mereka hadapi
benar yang disampaikan rina, bahwa efektif atau tidaknya suatu model pembelajaran haruslah diuji coba terlebih dahulu. namun, inovasi yg telah dibuat ini bisa menjadi salah satu bagian pembaharuan dalam mengajar melalui model CTL. dan menurut saya bagian sintaks yang lebih menekankan pada keterampilan berpikir kreatif adalah inkuiri karna didalam inkuiri ini Menurut Trianto (2009) merupakan bagian inti kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual.
HapusSaya setuju dengan pendapat rina bahwa memang benar harus diuji cobakan dulu agar bisa mengetahui sebrapa efektinya inovasi model tersebut
HapusMenurut saya sintaks CTL diatas sudah cukup efektif untuk diterapkan, karena mengandung keseluruhan komponen CTL. Sintaks nya pun dapat menimbulkan pola berpikir kreatif karena adanya diskusi dan perintah untuk mengamati. Melalui sintaks inkuiri siswa dapat menimbulkan gagasan bervariasi pada masing-masing individu karena pembelajaran yang menarik itu dapat membuat masing-masing siswa memiliki pendapat berbeda. Lalu pada bagian akhir juga ada proses refleksi tentu ini sangat bermanfaat untuk mengingat materi apa yang dirasa kurang dikuasai dan proses menyimpulkan siswa juga berguna dalam memperkuat pengetahuan siswa mengenai materi yang diajarkan.
BalasHapusmenurut saya langkah pembelajaran kontestual yang dapat menimbulkan secara nyata aspek berpikir kreatifnya langkah pembelajaran ke 3 pada inovasi sintaks yaitu inquiry pada tahap membimbing siswa melakukan analisis dari setiap observasi yang dilakukannya. karna Berpikir kreatif itu sendiri adalah suatu kegiatan mental untuk meningkatkan kemurnian, ketajaman pemahaman dalam mengembangkan sesuatu.
BalasHapusMenurut saya langkah yg lebih memunculkn sikap kreatif adalah saat langkah inkuiri dan masyarakat belajar. Karena dilangkah itulah siswa benar2 belajar sambil melakukan sesuatu berupa pembuktian atau praktikum kemudian berdikusi dengan teman2 dan mencari sumber2 lain dgn inisiatifnya sndiri agar hasil yg mereka dptkan lebih kuat dgn dukungan teori.
BalasHapussaya sependapat degan dian langkah yg lebih memunculkan sikap kreatif adalah saat langkah inkuiri dan masyarakat belajar. karena pada tahap inquiri siswa akan berusaha mengumpulkan data dan menganasisnya sehingga akan memunculkan gagasan-gagasannya terhadap hasil yang diperoleh tersebut kemudian pada masyarakat belajar siswa akan menyampaikan hasil gagasannya tersebut dan mengembangkan, menambah, memperkaya suatu gagasan yang berasal dari orang lain
Hapussaya sependapat dengan dian dan syafira yang akan menimbulkan sikap kreatif siswa yaitu pada langkah inquiry dan masyarakat belajar. Namun ide kreatif siswa juga dapat dimunculkan pada langkah modeling, karena pada modeling adanya proses guru menanya. karena menanya ini dapat menimbulkan berbagai sumber pemikiran siswa.
HapusSaya sependapat dengan saudari di atas dimana di tahap inquiry siswa akan berusaha mengumpulkan data dan menganasisnya sehingga akan memunculkan gagasan-gagasannya terhadap hasil yang diperoleh tersebut kemudian pada masyarakat belajar siswa akan menyampaikan hasil gagasannya tersebut dan mengembangkan, menambah, memperkaya suatu gagasan yang berasal dari orang lain.
Hapussaya kan mencoba menjawab pertanyaan fero, Apakah inovasi sintaks model pembelajaran yang telah saya buat sudah efektif ?
BalasHapusmenurut saya efektif atau tidaknya inovasi yang dilakukan akan terasa nyata ketika diaplikasikan didalam kegiatan pembelajaran realnya (uji coba) jika telah di uji coba maka kita akan tahu dimana letak kekurangan yang harus kita revisi dan kita pertajam agar kemampuan berpikir kreatif siswa tidak hanya muncul tetapi dapat meningkat dari sebelumnya
saya setuju dengan kk rini, jika keefektifannya dapat dilihat jika telah dilakukan ujicoba serta dilakukan evaluasi untuk melihat keefektifan model yang telah dibuat
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusmenurut saya untuk permasalahan ini "Apakah inovasi sintaks model pembelajaran yang telah saya buat sudah efektif?" secara teori seharusnya sudah efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif, dan implementasinya akan lebih banyak lagi nantinya yang perlu diperhatikan agar keberhasilannya oftimal.
BalasHapustingkat efektifitas suatu model pembelajaran haruslah diuji coba terlebih dahulu. namun, inovasi yg telah dibuat ini bisa menjadi salah satu bagian pembaharuan dalam mengajar melalui model CTL. dengan penambahan dn perincian dibeberapa tempat bisa lebih menambah inovasi demi lebih baiknya model ini.
BalasHapus