Rabu, 21 November 2018

Persentasi Inovasi Sintaks Model Pembelajaran Kontekstual dan Dampaknya terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif


Konsep Dasar Pembelajaran Kontekstual
Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.
CTL disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.
Nurhadi dalam Rusman (2014) mengatakan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) merupakan konsep belajar yang dapat membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Untuk memperkuat dimilikinya pengalaman belajar yang aplikatif bagi siswa, tentu saja diperlukan pembelajaran yang lebih banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan, mencoba, dan mengalami sendiri (learning to do), dan bahkan sekedar pendengar yang pasif sebagaimana penerima terhadap semua informasi yang disampaikan guru.

Rasional    

Dalam Contextual teaching and learning (CTL) diperlukan sebuah pendekatan yang lebih memberdayakan siswa dengan harapan siswa mampu mengkonstruksikan pengetahuan dalam benak mereka, bukan menghafalkan fakta. Disamping itu siswa belajar melalui mengalami bukan menghafal, mengingat pengetahuan bukan sebuah perangkat fakta dan konsep yang siap diterima akan tetapi sesuatu yang harus dikonstruksi oleh siswa. Dengan rasional tersebut pengetahuan selalu berubah sesuai dengan perkembangan jaman.

Sintaks Model Pembelajaran Kontekstual

CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apapun, bidang studi apapun, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Model pembelajaran CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkah-langkah yang harus ditempuh dalam CTL adalah sebagai berikut:
Fase 1
Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai siswa serta manfaatnya dari proses pembelajaran serta pentingnya materi pelajaran yang akan dipelajari. Guru menggali pengetahuan awal siswa serta menganalisis miskonsepsi siswa (Konstruktivism).
Fase 2
Siswa dibagi dalam beberapa kelompok kecil.Guru menyajikan model atau fenomena dan setiap kelompok diberi tugas untuk melakukan observasi. Melalui observasi yang dilakukan, siswa ditugaskan diminta untuk menyampaikan gagasan yang dimilikinya terkait dengan materi yang dipelajari dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan guru (Modelling).
Fase 3
Guru melakukan tanya jawab seputar tugas yang harus dilakukan oleh setiap kelompok siswa guna mencapai tujuan pembelajaran (Questioning).
Fase 4
Siswa melakukan observasi dan mencatat hasil observasinya dengan menggunakan alat observasi yang telah mereka tentukan sebelumnya. Siswa menganalisis hasil observasinya (Inquiry).
Fase 5
Siswa mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai dengan kelompok masing-masing. Masing-masing kelompok melaporkan hasil diskusinya dalam pleno kelas. Setiap kelompok menjawab pertanyaan yang diajukan kelompok lainnya (Learning Community).
Fase 6
Dengan bantuan guru, siswa menyimpulkan hasil observasinya. Simpulan tersebut merupakan pengetahuan atau keterampilan baru yang diperoleh dalam proses pembelajaran melalui penemuan.
Fase 7
Guru melakukan penilaian autentik dan memberi tugas kepada siswa untuk meningkatkan pemahaman, memperluas dan memperdalam pengetahuan berkaitan dengan topik yang telah dipelajari. Siswa juga melakukan refleksi diri (Authentic assessment).

Komponen Utama Model Pembelajaran Kontestual

Menurut Trianto (2014) pembelajaran kontekstual melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif yaitu, Constructivism (konstruktivisme), Inquiry (menemukan) , Questioning (bertanya), Learning Community (masyarakat belajar), Modeling (pemodelan), Reflection (refleksi) dan Authentic Assessment (penilaian yang sebenarnya).

1. Konstruktivisme (Constructivism)
Konstruktivistik merupakan landasan pendekatan kontekstual. Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dalam kontruktivistik, strategi lebih diutamakan dibanding seberapa banyak peserta didik memperoleh dan mengingat pengetahuan. Dalam kontruktivis, lebih diutamakan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan cara:
a)   Menjadikan pengetahuan bermakna bagi siswa
b)   Memberikan kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri
c)   Menyadarkan siswa menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.

2. Pemodelan (Modelling)
Dalam suatu pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru siswa, misalnya cara mengoperasikan suatu mesin, guru mendatangkan ahlinya kesekolah agar peserta didik dapat menirunya dan lain seba gainya. Pembelajaran kontekstual guru bukan satu-satunya model. Pemodelan dirancang dengan melibatkan siswa. Model juga dapat didatangkan dari luar yang ahli dibidangnya.

3. Bertanya (questioning)
Bertanya adalah induk dari strategi pembelajaran kontekstual, awal dari pengetahuan, jantung dari pengetahuan dan aspek penting dari pembelajaran. Guru menggunakan questioning (bertanya) untuk menuntun siswa berpikir bukannya penjejalan berbagai informasi penting yang harus dipelajari siswa. Bertanya digunakan sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Inti dari penerapan bertanya (questioning):
a)  Mendorong siswa untuk mengetahui sesuatu
b)  Mengarahkan siswa untuk memperoleh informasi
c)   Melatih siswa untuk berpikir kritis

4. Menemukan (inquiry)
Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta didik diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil menemukan sendiri. Guru harus merancang suatu pembelajaran dalam bentuk kegiatan nememukan (inquiri) dalam bentuk apapun materinya yang diajarkan. Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan dari hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi hasil dari menemukan sendiri. Siklus inquiry:
a)  Observasi (Observation)
b)  Bertanya (Questioning)
c)   Mengajukan dugaan (Hipotesis)
d)  Pengumpulan data (Data gathering)
e)  Penyimpulan (Conclussion)

5. Masyarakat Belajar (Learning Community)
Masyarakat belajar artinya bahwa seseorang kaya dengan pengetahuan dan pengalaman tatkala mereka banyak belajar dari orang lain, dalam masyarakat belajar hasil pembelajaran dapat diperoleh dari kerja sama dengan orang lain dengan sharring antar teman, antar kelompok dan mereka yang tahu ke yang belum tahu.Masyarakat belajar dapat dilakukan dengan menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok yang anggotanya bersifat heterogen, baik dilihat dari kemampuan maupun bakat dan minatnya. Praktik dalam pembelajaran ”masyarakat belajar” terwujud dalam:
a)  Pembentukan kelompok kecil
b)  Pembentukan kelompok besar
c) Mendatangkan ahli ke kelas (tokoh, olahragawan, dokter, budayawan, petani, perawat, polisi, dll)
d)  Bekerja dengan kelas sederajat
e)  Bekerja kelompok dengan kelas yang diatasnya
f)   Bekerja dengan masyarakat

6. Refleksi (Reflection)
Refleksi merupakan guru/pelajar menghubungkan antara pengetahuan peserta didik yang telah dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru diterima. Pada akhir pembelajaran, pembelajar menyisakan waktu sejenak agar peserta didik melakukan refleksi, berupa pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari ini, catatan atau jurnal dari buku peserta didik, kesan dan saran peserta didik mengenai pembelajaran hari itu.

7. Penilaian yang sebenarnya (Authentic Assesment)
Prosedur penilaian otentik adalah menunjukkan kemampuan (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) peserta didik secara nyata penekanan penilaian otentik adalah pada penilaian yang tidak hanya mengacu pada hasil akan tetapi penilaian pada proses, bagaimana peserta didik memperoleh dan memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

Indikator Berpikir Kreatif

Munandar (2012) berpendapat untuk mengetahui tingkat kekreatifan seseorang, perlu adanya penilaian terhadap kemampuan berpikir kreatif. Berikut indikator penilaian berpikir kreatif beserta perilakunya.
1. Berpikir lancar (Fluency)
·                     Menghasilkan banyak gagasan/jawaban yang relevan
·                     Arus pemikiran lancar
2. Berpikir luwes (flexibility)
·                     Menghasilkan gagasan-gagasan yang beragam
·                     Mampu mengubah cara atau pendekatan
·                     Arah pemikiran yang berbeda
3. Berpikir orisinil (Originality)
·                     Meberikan jawaban yang tidak lazim
·                     Memberkan jawaban yang lain dari pada yang lain
·                     Memberikan jawaban yang jarang diberikan kebanyakan orang
4. Berpikir terperinci (elaboration)
·                     Mengembangkan, menambah, memperkaya suatu gagasan
·                     Memperinci detail-detail
·                     Memperluas suatu gagasan

KELEBIHAN DAN KELEMAHAN

A.          Kelebihan dari model pembelajaran CTL

1. Memberikan kesempatan pada sisiwa untuk dapat maju terus sesuai dengan potensi yang dimiliki sisiwa sehingga sisiwa terlibat aktif dalam PBM.
2.  Siswa dapat berfikir kritis dan kreatif dalam mengumpulkan data, memahami suatu isu dan memecahkan masalah dan guru dapat lebih kreatif
3.  Menyadarkan siswa tentang apa yang mereka pelajari.
4.  Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa tidak ditentukan oleh guru.
5.  Pembelajaran lebih menyenangkan dan tidak membosankan.
6.  Membantu siwa bekerja dengan efektif dalam kelompok.
7.  Terbentuk sikap kerja sama yang baik antar individu maupun kelompok.

B.           Kelemahan dari model pembelajaran CTL

1. Dalam pemilihan informasi atau materi  dikelas didasarkan pada kebutuhan  siswa  padahal,dalam kelas itu tingkat kemampuan siswanya berbeda-beda sehinnga guru akan kesulitan dalam menetukan materi pelajaran karena tingkat pencapaianya siswa tadi tidak sama
2.  Tidak efisien karena membutuhkan waktu yang agak lama dalam PBM 
3.  Dalam proses pembelajaran dengan model CTL akan nampak jelas antara siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan siswa yang memiliki kemampuan kurang, yang kemudian menimbulkan rasa tidak percaya diri bagi siswa yang kurang kemampuannya
4. Bagi siswa yang tertinggal dalam proses pembelajaran dengan CTL ini akan terus tertinggal dan sulit untuk mengejar ketertinggalan, karena dalam model pembelajaran ini kesuksesan siswa tergantung dari keaktifan dan usaha sendiri jadi siswa yang dengan baik mengikuti setiap pembelajaran dengan model ini tidak akan menunggu teman yang tertinggal dan mengalami kesulitan.
5. Tidak setiap siswa dapat dengan mudah menyesuaikan diri dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki dengan penggunaan model CTL ini.
6. Kemampuan setiap siswa berbeda-beda, dan siswa yang memiliki kemampuan intelektual tinggi namun sulit untuk mengapresiasikannya dalam bentuk lesan akan mengalami kesulitan sebab CTL ini lebih mengembangkan ketrampilan dan kemampuan soft skill daripada kemampuan intelektualnya.
7.  Pengetahuan yang didapat oleh setiap siswa akan berbeda-beda dan tidak merata.
8.  Peran guru tidak nampak terlalu penting lagi karena dalam CTL ini peran guru hanya sebagai pengarah dan pembimbing, karena lebih menuntut siswa untuk aktif dan berusaha sendiri mencari informasi, mengamati fakta dan menemukan pengetahuan-pengetahuan baru di lapangan

Sintaks Inovasi yang saya buat
Materi              : Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit
Model              : Contextual Teaching and Learning
Pertemuan       : Ke-1

No
Model Konvensional (Model Kontekstual)
No
Inovasi Sintaks Model Kontekstual
Dampak Berpikir Kreatif
1.
Konstruktivisme
1.
Konstruktivisme


Mengkondisikan siswa

Mengkondisikan siswa

Menyampaikan tujuan dan kompetensi yang harus dicapai
Menyampaikan tujuan dan kompetensi yang harus dicapai

Memberikan pertanyaan mengenai materi pelajaran sebelumnya
Mengajukan pertanyaan tentang materi pelajaran sebelumnya

Menggali pengetahuan awal  siswa
Menggali pengetahuan awal siswa tentang materi larutan elektrolit dan non elektrolit dengan  memberikan pertanyaan yang memotivasi siswa agar memiliki rasa ingin tahu dan mengajak siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan yang ada dalam pikiran mereka. “ketika tangan kita basah atau berkeringat memegang stock kontak listrik maka tangan kita akan tersentrum, mengapa demikian?”
Memiliki gagasan yang bervariasi (aspek berpikir luwes)
Mendorong siswa untuk membuat keterkaitan antara persoalan yang diajukan dengan materi yang akan dipelajari
Menjawab persoalan berdasarkan sudut pandang yang berbeda (berpikir luwes)
2.
Pemodelan (Modelling)
2.
Pemodelan (Modelling)


Mengarahkan siswa membentuk kelompok

Mengarahkan siswa membentuk kelompok secara heterogen yang dilakukan oleh guru

Menampilkan media/video/fenomena yang berhubungan dengan materi dan selanjutnya mengajukan pertanyaan
Memberikan LKPD tentang materi larutan elektrolit dan non elektrolit kepada masing-masing kelompok

Menampilkan video berupa fenomena larutan elektrolit dan non elektrolit dan mengajukan pertanyaan kepada siswa

3.
Bertanya (Questioning)
3.
Menemukan (Inquiry)


Membimbing siswa melakukan tanya jawab


Membimbing siswa untuk melakukan observasi dan mencatat setiap pengamatan
Membuat laporan secara detail sesuai hasil observasi masing-masing kelompok (aspek kemampuan berfikir detail)
Mengarahkan siswa mencari tahu materi larutan elektrolit dan non elektrolit dari berbagai sumber

Mengawasi siswa selama proses observasi berlangsung

Membimbing siswa untuk melakukan analisis terhadap hasil observasi
-Merumuskan masalah, gagasan/ ide atau hal-hal belum terfikirkan oleh orang lain (aspek kemampuan berfikir orisinil)
· -Mencetuskan berbagai gagasan jawaban, atau sasaran dengan tepat dan lancar (aspek kemampuan berfikir lancar)

4.
Menemukan (Inquiry)

4.
Masyarakat Belajar(Learning Community)



Membimbing siswa mencari tahu sendiri materi pelajaran dari berbagai sumber


Mempersilakan siswa bergabung dengan kelompoknya masing-masing untuk melakukan diskusi

-Bekerja lebih cepat dan melakukan banyak hal (aspek berpikir lancar)
· -Mencetuskan banyak gagasan, jawaban atau sarana dengan lancar dan tepat (aspek berpikir lancar)
· -Memberikan gagasan yang bervariasi (aspek  berpikir luwes)
    -Merumuskan masalah, gagasan/ ide atau hal-hal belum terfikirkan oleh orang lain (aspek berpikir orisinil)
Mengarahkan siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam kelompok masing-masing

 -Mencetuskan banyak gagasan, jawaban atau sarana dengan lancer dan tepat (aspek kemampuan berfikir lancar)
 -Memberikan gagasan yang bervariasi (aspek kemampuan berfikir luwes)
 -Merumuskan masalah, gagasan/ ide atau hal-hal belum terfikirkan oleh orang lain (aspek kemampuan berfikir orisinil)

Mengarahkan siswa untuk menjawab LKPD berdasarkan observasi

Menciptakan ide-ide atau hasil karya baru yang berbeda (aspek kemampuan berfikir orisinil)
Mempersilakan perwakilan kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok

Mengembangkan dan memperkaya gagasan-gagasan orang lain (kemampuan berfikir kreatif)
Memberikan kesempatan pada masing-masing kelompok untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh kelompok lain
 -Menjawab pertanyaan yang diajukan secara lancar dan benar terhadap jawaban yang diberikan (aspek berpikir lancar)
· -Berpartisipasi aktif dengan memberikan argumen atau pendapat yang dimilikinya (aspekberpikir orisinil)
·-Memberikan sanggahan atau saran yang sesuai dengan persoalan yang sedang dibahas (aspekberpikir luwes)

5.
Masyarakat Belajar(Learning Community)
5.
Bertanya (Questioning)


Membantu siswa megatasi permasalahan yang diberikan

Mendorong siswa mengajukan pertanyaan terkait materi yang belum dimengerti siswa
 -Mengembangkan atau memperkaya gagasan orang lain (aspek berpikir detail)
-Merumuskan masalah atau hal-hal belum terfikirkan oleh orang lain (aspek berpikir orisinil)
Memberikan kesempatan tanya jawab seputar hasil diskusi
Mendorong siswa lain untuk menanggapi pertanyaan yang diberikan oleh temannya
 Memberikan jawaban dari sudut pandang yang berbeda (aspek berpikir luwes)
-Memberikan jawaban berdasarkan hasil pemikirannya sediri (aspekberpikir orisinil)
Mengarahkan siswa untuk membuat kesimpulan berdasarkan pembelajaran yang telah dilakukan
Memberikan gagasan bervariasi (aspek berpikir luwes)
6.
Refleksi (Reflection)
6.
Refleksi (Reflection)


Memberikan penguatan dan membimbing siswa untuk membuat ringkasan

Membimbing siswa untuk mengevaluasi ilmu pengetahuan yang telah diperoleh selama proses pembelajaran berlangsung dan membuat suatu ringkasan
-Memberikan gagasan bervariasi (aspek berpikir luwes)
-Membuat laporan dengan detail dan berbeda dengan yang lain (aspek berpikir detail)
7.
Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assessment)
7.
Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assessment)

Membantu siswa menyimpulkan
Membimbing siswa untuk mengerjakan tugas akhir

Memberikan tes akhir
Mengawasi siswa selama proses pengerjaan soal



Permasalahan :
Apakah inovasi sintaks model pembelajaran yang telah saya buat sudah efektif ? lalu langkah pembelajaran keberapa yang dapat menimbulkan secara nyata aspek berpikir kreatif ? dan berikan saran Anda terhadap inovasi yang saya buat !

14 komentar:

  1. menurut saya efektif atau tidaknya suatu model pembelajaran haruslah diuji coba terlebih dahulu. namun, menurut saya inovasi yg telah Anda buat ini bisa menjadi salah satu bagian pembaruan dalam mengajar melalui model CTL. dan menurut saya bagian sintaks yang lebih menekankan pada keterampilan berpikir kreatif adalah inkuiri karna didalam inkuiri ini Menurut Trianto (2009) merupakan bagian inti kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. didalam inkuiri sendiri terdapat
    a) Observasi
    b) Bertanya
    c) Mengajukan dugaan (hipotesis)
    d) Pengumpulan data
    e) Penyimpulan
    sehingga dari tahap inkuiri ini siswa lebih aktif dalam mwngkonstruk pengetahuannya sehigga muncullah pikiran" kreatif yang dapat menyelesaikan masalah yg mereka hadapi

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar yang disampaikan rina, bahwa efektif atau tidaknya suatu model pembelajaran haruslah diuji coba terlebih dahulu. namun, inovasi yg telah dibuat ini bisa menjadi salah satu bagian pembaharuan dalam mengajar melalui model CTL. dan menurut saya bagian sintaks yang lebih menekankan pada keterampilan berpikir kreatif adalah inkuiri karna didalam inkuiri ini Menurut Trianto (2009) merupakan bagian inti kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual.

      Hapus
    2. Saya setuju dengan pendapat rina bahwa memang benar harus diuji cobakan dulu agar bisa mengetahui sebrapa efektinya inovasi model tersebut

      Hapus
  2. Menurut saya sintaks CTL diatas sudah cukup efektif untuk diterapkan, karena mengandung keseluruhan komponen CTL. Sintaks nya pun dapat menimbulkan pola berpikir kreatif karena adanya diskusi dan perintah untuk mengamati. Melalui sintaks inkuiri siswa dapat menimbulkan gagasan bervariasi pada masing-masing individu karena pembelajaran yang menarik itu dapat membuat masing-masing siswa memiliki pendapat berbeda. Lalu pada bagian akhir juga ada proses refleksi tentu ini sangat bermanfaat untuk mengingat materi apa yang dirasa kurang dikuasai dan proses menyimpulkan siswa juga berguna dalam memperkuat pengetahuan siswa mengenai materi yang diajarkan.

    BalasHapus
  3. menurut saya langkah pembelajaran kontestual yang dapat menimbulkan secara nyata aspek berpikir kreatifnya langkah pembelajaran ke 3 pada inovasi sintaks yaitu inquiry pada tahap membimbing siswa melakukan analisis dari setiap observasi yang dilakukannya. karna Berpikir kreatif itu sendiri adalah suatu kegiatan mental untuk meningkatkan kemurnian, ketajaman pemahaman dalam mengembangkan sesuatu.

    BalasHapus
  4. Menurut saya langkah yg lebih memunculkn sikap kreatif adalah saat langkah inkuiri dan masyarakat belajar. Karena dilangkah itulah siswa benar2 belajar sambil melakukan sesuatu berupa pembuktian atau praktikum kemudian berdikusi dengan teman2 dan mencari sumber2 lain dgn inisiatifnya sndiri agar hasil yg mereka dptkan lebih kuat dgn dukungan teori.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya sependapat degan dian langkah yg lebih memunculkan sikap kreatif adalah saat langkah inkuiri dan masyarakat belajar. karena pada tahap inquiri siswa akan berusaha mengumpulkan data dan menganasisnya sehingga akan memunculkan gagasan-gagasannya terhadap hasil yang diperoleh tersebut kemudian pada masyarakat belajar siswa akan menyampaikan hasil gagasannya tersebut dan mengembangkan, menambah, memperkaya suatu gagasan yang berasal dari orang lain

      Hapus
    2. saya sependapat dengan dian dan syafira yang akan menimbulkan sikap kreatif siswa yaitu pada langkah inquiry dan masyarakat belajar. Namun ide kreatif siswa juga dapat dimunculkan pada langkah modeling, karena pada modeling adanya proses guru menanya. karena menanya ini dapat menimbulkan berbagai sumber pemikiran siswa.

      Hapus
    3. Saya sependapat dengan saudari di atas dimana di tahap inquiry siswa akan berusaha mengumpulkan data dan menganasisnya sehingga akan memunculkan gagasan-gagasannya terhadap hasil yang diperoleh tersebut kemudian pada masyarakat belajar siswa akan menyampaikan hasil gagasannya tersebut dan mengembangkan, menambah, memperkaya suatu gagasan yang berasal dari orang lain.

      Hapus
  5. saya kan mencoba menjawab pertanyaan fero, Apakah inovasi sintaks model pembelajaran yang telah saya buat sudah efektif ?
    menurut saya efektif atau tidaknya inovasi yang dilakukan akan terasa nyata ketika diaplikasikan didalam kegiatan pembelajaran realnya (uji coba) jika telah di uji coba maka kita akan tahu dimana letak kekurangan yang harus kita revisi dan kita pertajam agar kemampuan berpikir kreatif siswa tidak hanya muncul tetapi dapat meningkat dari sebelumnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya setuju dengan kk rini, jika keefektifannya dapat dilihat jika telah dilakukan ujicoba serta dilakukan evaluasi untuk melihat keefektifan model yang telah dibuat

      Hapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  7. menurut saya untuk permasalahan ini "Apakah inovasi sintaks model pembelajaran yang telah saya buat sudah efektif?" secara teori seharusnya sudah efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif, dan implementasinya akan lebih banyak lagi nantinya yang perlu diperhatikan agar keberhasilannya oftimal.

    BalasHapus
  8. tingkat efektifitas suatu model pembelajaran haruslah diuji coba terlebih dahulu. namun, inovasi yg telah dibuat ini bisa menjadi salah satu bagian pembaharuan dalam mengajar melalui model CTL. dengan penambahan dn perincian dibeberapa tempat bisa lebih menambah inovasi demi lebih baiknya model ini.

    BalasHapus