Senin, 18 Februari 2019

Materi 3 : How To Assess Higher Order Thinking Skills In Your Chemistry Class




Pengertian Higher Order of Thinking Skill (HOTS)

Keterampilan berpikir tingkat tinggi yang diterjemahkan dari Higher Order Thinking Skills (HOTS) adalah kegiatan berpikir yang melibatkan level kognitif hirarki tinggi dari taksonomi berpikir Bloom.

Alice Thomas dan Glenda Thorne mendefinisikan istilah HOTS dalam artikel yang berjudul How to Increase Higher Order Thinking (2009) sebagai cara berpikir pada tingkat yang lebih tinggi daripada menghafal, atau menceritakan kembali sesuatu yang diceritakan orang lain.
Dimensi proses berpikir dalam Taksonomi Bloom sebagaimana yang telah disempurnakan oleh Anderson & Krathwohl (2001), terdiri atas kemampuan: mengetahui (knowing-C1), memahami (understanding-C2), menerapkan (aplying-C3), menganalisis (analyzing-C4), mengevaluasi (evaluating-C5), dan mengkreasi (creating-C6). Soal-soal HOTS pada umumnya mengukur kemampuan pada ranah menganalisis (analyzing-C4), mengevaluasi (evaluating-C5), dan mengkreasi (creating-C6). Pada pemilihan kata kerja operasional (KKO) untuk merumuskan indikator soal HOTS, hendaknya tidak terjebak pada pengelompokkan KKO. Sebagai contoh kata kerja ‘menentukan’ pada Taksonomi Bloom ada pada ranah C2 dan C3. Dalam konteks penulisan soal-soal HOTS, kata kerja ‘menentukan’ bisa jadi ada pada ranah C5 (mengevaluasi) apabila untuk menentukan keputusan didahului dengan proses berpikir menganalisis informasi yang disajikan pada stimulus lalu peserta didik diminta menentukan keputusan yang terbaik. Bahkan kata kerja ‘menentukan’ bisa digolongkan C6 (mengkreasi) bila pertanyaan menuntut kemampuan menyusun strategi pemecahan masalah baru. Jadi, ranah kata kerja operasional (KKO) sangat dipengaruhi oleh proses berpikir apa yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan yang diberikan.

Pada penyusunan soal-soal HOTS umumnya menggunakan stimulus. Stimulus merupakan dasar untuk membuat pertanyaan. Dalam konteks HOTS, stimulus yang disajikan hendaknya bersifat kontekstual dan menarik. Stimulus dapat bersumber dari isu-isu global seperti masalah teknologi informasi, sains, ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur.

Stimulus juga dapat diangkat dari permasalahan-permasalahan yang ada di lingkungan sekitar satuan pendidikan seperti budaya, adat, kasus-kasus di daerah, atau berbagai keunggulan yang terdapat di daerah tertentu. Kreativitas seorang guru sangat mempengaruhi kualitas dan variasi stimulus yang digunakan dalam penulisan soal HOTS.


Teknik Penulisan Butir HOTS dalam kimia

1.    Perhatikan cakupan materi kimia yang diharuskan untuk tiap jenjang SMP atau SMA (kurikulum kimia).

2.    Perhatikan beberapa kompetensi yang terkait dengan HOTS dan diturunkan menjadi indicator dan tujuan sesuai dengan karakteristik HOTS kimia.

3.    Menggunakan hukum dasar kimia pengetahuan atau kemampuan dasar nya untuk menyesaikan permasalahan yang ada kaitannya dengan kimia.

4.    Dianjurkan untuk menyediakan berbagai macam data kimia (kualitatif, tabel, grafik, hasil dari percobaan yang dilakukan, laporan, bahan bacaan, hasil observasi, dll) sebagai stimulus untuk menjawab soal-soal HOTS

5.    Berbagai macam data kimia yang disediakan seharusnya memberikan informasi kepada siswa merujuk kepada hokum dasar kimia sehingga dapat diolah lebih lanjut

6.    Menulis contoh soal HOTS tentang kimia

Langkah-Langkah Penyusunan Soal HOTS 

Langkah-langkah untuk menyusun soal HOTS sebenarnya sama saja dengan langkah-langkah dalam menyusun soal yang bukan HOTS, hanya saja penekanannya adalah adanya stimulus yang kontekstual dengan perilaku yang diharapkan dalam soal HOTS. Dalam soal bukan HOTS, stimulus juga dibutuhkan namun lebih banyak soal yang disusun tanpa menggunakan stimulus. Langkah-langkah penyusunan soal HOTS sebagai berikut: 

a. Menganalis KD dan IPK 

Soal dalam bentuk apapun dibuat untuk mengukur ketercapaian rumusan kompetensi yang dirumuskan dalam naskah kurikulum suatu mata pelajaran. Oleh karena KD merupakan rumusan kompetensi yang terakhir dalam naskah kurikulum, maka pendidik harus melakukan analisis KD yang akan dibuatkan soal HOTS, dan memastikan bahwa IPK yang dikembangkan benar-benar mencerminkan bukti ketercapaian dari KD tersebut. 

b. Menyusun kisi-kisi soal 

Kisi-kisi soal diperlukan sebagai panduan oleh pendidik dalam menyusun soal, agar soal yang akan disusun benar-benar mencerminkan kompetensi yang diukur. Oleh karena itu dalam kisi-kisi soal berisi keterkaitan antara KD, IPK (indikator soal), materi, level kognitif dan bentuk soalnya. No. KD Materi Indikator Soal Level Kognitif Bentuk Soal No. Soal 

c. Menentukan stimulus yang kontekstual dan menarik

Stimulus yang kontekstual artinya rumusan materi yang diangkat sebagai stimulus terkait dengan kehidupan sehari-hari siswa di lingkungan kehidupannya, adapun stimulus yang menarik jika rumusan materi yang diangkat dalam stimulus itu baru atau aktual sesuai dengan perkembangan usia perkembangan peserta didik. Stimulus ini dapat berupa kasus/tabel/diagram/ilustrasi/peristiwa/gambar atau sejenisnya yang dibuat oleh pendidik sendiri atau mengambil dari sumber lainnya. 

d. Menulis butir pertanyaan sesuai dengan kisi-kisi soal

Kaidah penulisan soal HOTS dan bukan HOTS intinya sama saja baik dari aspek konstruksi dan bahasanya, perbedaannya hanya pada aspek materi dari level kognitif yang diujikan.

e. Menentukan kunci jawaban atau pedoman penskoran (rubrik) 

Menentukan kunci jawaban untuk soal yang berbentuk objektif (B-S, pilihan ganda, isian singkat) dan menentukan pedoman penskoran untuk soal subyektif atau berbentuk uraian.

Keterampilan berfikir tingkat tinggi dalam Kimia

1. Berfikir Kritis Kimia

Berfikir yang memeriksa, menghubungkan, dan mengevaluasi semua sifat-sifat kimia suatu zat. Misalnya air, sebagai pelarut bersifat polar, terdisosiasi membentuk ion H+ dan OH-. Kelarutan suatu zat dalam air, misalnya asam cuka, akan menimbulkan sifat asam lemah, bila kedalam larutan ditambahkan suatu garam akan membentuk karakter asam kuat mengapa demikian karena ion H+ terionisasi sempurna.

2. Berfikir Kreatif kimia

Yang sifatnya orisinil dan reflektif. Hasil dari keterampilan berfikir ini adalah sesuatu yang kompleks. Misalnya mencairkan air pada suhu -20, kenapa bisa air mencair pada suhu yang seharusnya membeku. Hal yang biasa menjadi tidak biasa tetapi masuk di akal.

3. Pemecahan Masalah Kimia

Berfikir yang memeriksa, menghubungkan, dan mengevaluasi semua aspek situasi atau masalah. Termasuk di dalamnya mengumpulkan, mengorganisir, mengingat, dan menganalisa informasi. Berfikir kritis termasuk kemampuan membaca dengan pemahaman dan mengidentifikasi materi yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan. Kemampuan menarik kesimpulan yang benar dari data yang diberikan dan mampu menentukan ketidak-konsistenan dan pertentangan dalam sekelompok data merupakan bagian dari keterampilan berfikir kritis. 

4. Menyimpulkan dalam kimia

Yang sifatnya orisinil dan reflektif. Misalnya air bersifat polar. Proses menyimpulkan fakta-fakta tentang kimia (fakta dengan konsep). Hasil dari keterampilan berfikir ini adalah sesuatu yang kompleks. Kegiatan yang dilakukan di antaranya menyatukan ide, menciptakan ide baru, dan menentukan efektifitasnya. Berfikir kreatif meliputi juga kemampuan menarik kesimpulan yang biasanya menelorkan hasil akhir yang baru.

Pengembangan butir soal HOTS

Agar butir soal yang ditulis dapat menuntut berpikir tingkat tinggi, maka setiap butir soal selalu diberikan dasar pertanyaan (stimulus)

·Berbentuk sumber/bahan bacaan seperti: teks materi kimia, paragraph khusus yang berhubungan dengan HOTS, teks yang berhubungan demontrasi dalam kimia, penggalan komentar orang awam tentang kimia /cerita tentang bibbliografi orang kimia/dongeng dalam kimia, TTS kimia, kasus dalam kimia, gambar unsur kimia, grafik data-data kimia, foto reaksi kimia, rumus kimia, tabel percobaan kimia, daftar sifat-sifat kimia/symbol kimia, contoh perubahan kimia, peta konsep kimia, film pendek fenomena kimia, atau suara ledakan reaksi kimia.

·Dianalisis, dievaluasi dan dikreasikan



CONTOH SOAL URAIAN PENILAIAN KOGNITIF DITINJAU DARI TINGKAT BERPIKIR BESERTA PEDOMAN PENSKORAN PADA MATERI KOLOID
 


·     Kompetensi yang di uji:

1.  Contoh soal C1
Indikator soal :Siswa mampu menyebutkan bahan-bahan yang tergolong bersifat koloid
Soal                  : Sebutkan 5 jenis bahan-bahan yang tergolong bersifat koloid!

2.  Contoh soal C2
Indikatorsoal    :Siswa mampu menjelaskan pengertian larutan sejati, sistem koloid, dan suspensi serta dapat memberikan contohnya
Soal                  :Jelaskan perbedaan larutan sejati,sistem koloid,dan suspensi serta berikan contohnya masing-masing!

3.  Contoh soal C3
Indikator  soal  :Siswa dapat membuktikan peristiwa efek tyndall dalam kehidupan sehari-hari.
Soal                      :Buktikan3 peristiwa efek tyndall dalam kehidupan anda sehari-hari!
4.  Contoh soal C4
Indikator  soal  :siswa dapat menganalisis bahan koloid berdasarkan fase dan medium pendispersinya.
Soal                  :   1. Susu               5. intan
  2. mentega          6. cat
            3. busa sabun      7. awan
            4. asap                 8. batu apung

Berdasarkan data di atas,coba anda analisis bahan koloid tersebut berdasarkan fase dan medium pendispersinya!

5.  Contoh soal C5
Indikator soal   : Siswa dapat menggambarkan cara kerja detergen sintetik sebagai bahan pembersih pakaian.
Soal                  :Gambarkan cara kerja  dari detergen sintetik sebagai pembersih pakaian!

6.  Contoh soal C6
Indikator soal   : Siswa mampu membandingkanprinsip proses penjernihan air dengan proses pencucian darah dalam kehidupan sehari-hari.
Soal                  : Coba anda bandingkan prinsip proses penjernihan air dengan proses pencucian darah dalam kehidupan sehari-hari!


PEDOMAN PENSKORAN



NO
KRITERIA JAWABAN
SKOR
1
·     Mentega
·     Susu
·     Tinta
·     Kabut
·     Asap
2
2
2
2
2
TOTAL
10
2
·     Suspensi merupakan suatu campuran dimana paling sedikit satu komponen yang secara relatif mempunyai partikel besar yang akan saling tersebar dengan komponen lainnya.
Contoh: pasir yang halus yang tersuspensi dalam air, salju yang ditiup ke udara, endapan yang terbentuk pada campuran reaksi

·     Larutan merupakan suatu campuran dimana semua partikel baik pelarut maupun zat terlarut, ukuran partikelnya adalah sebesar molekul atau ion-ion. Partikel ini tersebar secara merata antara masing-masing dan mengahsilkan satu fase homogen.
Contoh: larutan NaCl, minuman ringan berkarbonat yang mengandung CO2 yang kuat

·     Koloid merupakan campuran dari dua zat atau lebih dimana partikel terdispersinya berukuran 1 nm sampai 1000 nm.
Contoh: semprotan aerosol (cairan tersuspensi dalam gas), susu (tetesan kecil minyak dan padatan dalam air), mayones (tetesan kecil air dalam minyak)
3


1


3



1


3

1
TOTAL
12
3
·     Misalnya di bioskop, jika ada asap mengepul maka cahaya proyektor akan terlihat lebih terang.
·     Di daerah berkabut, sorot lampu mobil terlihat lebih jelas
·  Sinar matahari yang masuk melewati celah ke dalam ruangan berdebu, maka partikel debu akan terlihat dengan jelas

2

2
2
TOTAL
6
4
·     Susu
Fase terdispersi: cair
Fase pendispersi: cair
·     Busa sabun
Fase terdispersi: gas
Fase pendispersi: cair
·     Awan
Fase terdispersi: cair
Fase pendispersi: gas
·     Mentega
Fase terdispersi: cair
Fase pendispersi: padat

·     Asap
Fase terdispersi: padat
Fase pendispersi: gas
·     Cat
Fase terdispersi: padat
Fase pendispersi: cair
·     Intan
Fase terdispersi: padat
Fase pendispersi: padat
·     Batu apung
Fase terdispersi: gas
Fase pendispersi: padat

1
1

1
1

1
1

1
1


1
1

1
1

1
1

1
1

TOTAL
16
5
Detergen sintetik
Contoh: Natrium Alkil Benzana Sulfonat (ABS)





1




10




















10










10
TOTAL
31
6
Pada dasarnya penjernihan air menggunakan prinsip koagulan. Mula-mula mengendapkan atau menyaring bahan-bahan yang tidak larut
dengan saringan pasir. Kemudian air yang telah disaring ditambah zat kimia, misalnya tawas atau aluminium sulfat dan kapur agar kotoran menggumpal dan selanjutnya mengendap, dan kaporit atau kapur klor untuk membasmi bibit-bibit penyakit. Air yang  dihasilkan dari penjernihan itu, apabila akan dipakai sebagai air minum, harus dimasak  terlebih dahulu sampai mendidih beberapa saat lamanya.sedangkan untuk proses pencucian darah menggunakan prinsip dialisis untuk memisahkan partikel-partikel koloid dan zat terlarut.Ion-ion dan molekul kecil dapat melewati selaput semipermiabel dengan demikian pada akhir proses pada kantung hanya tersisa  koloid saja. Dengan melakukan cuci darah senyawa beracun seperti urea dan keratin dalam darah penderita gagal ginjal dapat dikeluarkan. Darah yang telah bersih kemudian dimasukkan kembali ke tubuh pasien.
25
TOTAL
25
SKOR TOTAL KESELURUHAN
100

Permasalahan :
1.  Menurut Anda apa saja aspek-aspek yang perlu diperhatikan seorang guru untuk menerapkan HOTS ( Higher Order Thinking Skill ) dalam pembelajaran kimia ?
2. Kita ketahui bahwa soal HOTS ini dianggap sulit bagi siswa karena mengandung pola berpikir tingkat tinggi, bagaimana cara Anda sebagai guru agar soal HOTS mampu dijawab oleh siswa ?
3. Bagaimana cara menyusun skenario pembelajaran HOTS pada kelas yang memiliki siswa dengan kemampuan yang rendah dan tinggi ?

13 komentar:

  1. Keterampilan berpikir tingkat tinggi atau dikenal dengan istilah Higher Order Thingking Skills(HOTS) pada Taksonomi Bloom, merupakan urutan tingkatan berpikir (kognitif) dari tingkat rendah ke tinggi. Guru harus memahami apa itu HOTS dan bagaimana cara mmembelajarkannya. Dasar pengajaran HOTS yaitu pemberian stimulus/ mengaitkan materi dengan kehidupan nyata. Selain itu beberapa hal yang harus diperhatikan guru adalah guru harus memahami karakteristik HOTS itu sendiri seperti :
    1.Mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi, meminimalkan aspek ingatan atau pengetahuan. Ciri-ciri berpikir tingkat tinggi seperti menemukan, menganalisis, menciptakan metode baru, mereflksi, memprediksi, berargumen, mengambil keputusan yang tepat.
    2.Berbasis permasalahan kontekstual.
    3.Menggunakan bentuk soal beragam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju dengan pendapat rini yang pasti salah satu aspek yang perlu di perhatikan guru/pendidik untuk menerapkan HOTS adalah dengan membiasakan siswa berhadapan dengan soal-soal atau masalah-masalah yang berbasis kontekstual, bukan ingatan ataupun pengetahuan menyalin isi buku saja, sehingga mampu memunculkan dan layak untuk menerapkan HOTS dalam penyelesaian soal atau masalah dikelas. artinya harus ada pemicu atau pemancing siswa berhadapan dengan masalah HOTS terlebih dahulu, baru kita bisa menuntut siswa menerepakan HOTS dalam menjawab soal-soal HOTS.

      Hapus
    2. Saya setuju dengan Rini dan Kak Melda, dimana dalam menerapkan HOTS dalam pembelajaran Kimia sebaiknya diberikan stimulus yang didasarkan pada pembelajaran kontekstual. Selain itu hal yang perlu diperhatikan adalah Menurut saya dalam pembuatan soal HOTS tidaklah terlalu sulit apabila kita mengetahui isi dari materi dan strategi perumusan soal HOTS. Disini guru harus mampu menyusun soal HOTS yang dapat merangsang siswa untuk menjawab pertanyaan tersebut. Lalu dalam menulis soal HOTS alangkah baiknya guru juga mengawali pembelajaran dengan rangkaian materi yang HOTS juga sehingga siswa akan terbawa suasana dan tidak merasa terbebani melihat soal HOTS diakhir pembelajaran.

      Hapus
    3. saya sependapat dengan teman" diatas bahwa dalam menerapkan HOTS dalam pembelajaran Kimia sebaiknya diberikan stimulus yang didasarkan pada pembelajaran kontekstual.diperlukan kemampuan bernalar.

      Hapus
  2. Dalam berfikir tingkat tinggi, diperlukan kemampuan bernalar. Dimana kemampuan bernalar dan berfikir kritis ini saling berhubungan. Hal ini sejalan dengan pendapat Krulik dan Rudnick (1995: 2), bahwa penalaran mencakup berpikir dasar (basic thinking), berpikir kritis (critical thinking), dan berpikir kreatif (creative thinking). Dua tingkat berfikir terakhir inilah (berfikir kritis dan berfikir kreatif) yang disebut sebagai keterampilan berfikir tingkat tinggi yang harus dikembangkan dalam pembelajaran matematika dan akan dibahas dalam tulisan ini.
    Beberapa konsep utama yang sesuai dengan pendekatan HOTS adalah mengikuti ketiga anggapan tentang berpikir dan belajar. Yaitu:
    a. Berpikir tidak bisa tidak dihubungkan dari tingkat, mereka saling tergantung satu sama lain
    b. Berfikir atau tidak berpikir dapat belajar tanpa isi pokok, hanya poin teoritis. Dalam kehidupan nyata, siswa akan mempelajari materi pelajaran berdasarkan pada pengalaman sekolahnya.
    c. HOTS meliputi berbagai cara berpikir, memproses, serta menerapkan pada situasi gabungan dan variabel kelipatan setelahnya.
    Tingkat berpikir bergantung pada hubungan real-word situation (situasi dunia nyata) dengan variabel kelipatan penawaran ke tantangan berpikir memproses. Keberhasilan berfikir tingkat tinggi bergantung pada kemampuan individu dalam menerapkan, merombak, dan memperindah pengetahuan dalam konteks situasi berpikir.
    Pengajaran keterampilan berfikir dilandasi dua filosofi. Pertama harus ada materi atau pelajaran khusus tentang berfikir. Kedua, mengintegrasikan kegiatan berfikir ke dalam setiap pembelajaran matematika. Dengan demikian, keterampilan berfikir terutama berfikir tingkat tinggi harus dikembangkan dan menjadi bagian dari pelajaran matematika sehari-hari. Dengan pendekatan ini, keterampilan berfikir dapat dikembangkan dengan cara membantu siswa menjadi problem solver yang lebih baik. Untuk itu, guru harus menyediakan masalah (soal) yang memungkinkan siswa menggunakan keterampilan berfikir tingkat tingginya.

    BalasHapus
  3. Menanggpi permasalahan ketiga yaitu Bagaimana cara menyusun skenario pembelajaran HOTS pada kelas yang memiliki siswa dengan kemampuan yang rendah dan tinggi ?
    Caranya adalah dengan melakukan kegiatan pembelajaran HOTS secara bertahap, dimulai dari sosialisasi atau pengenalan HOTS dan seterusnya hingga siswa mampu beradaptasi dengan baik dengan pembelajaran HOTS
    Pada proses ini sangat dibutuhkan keterampilan dan kreatifitas seorang guru untuk menyajikan setiap proses pembelajaran dengan baik agar mudah difahami dan menyenangkan bagi siswa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menanggpi permasalahan ketiga yaitu Bagaimana cara menyusun skenario pembelajaran HOTS pada kelas yang memiliki siswa dengan kemampuan yang rendah dan tinggi ?

      saya sependapat dengan kak Nelly, dimana cara yang dapat dilakukan kegiatan pembelajaran HOTS secara bertahap, dimulai dari sosialisasi atau pengenalan HOTS dan seterusnya hingga siswa mampu beradaptasi dengan baik dengan pembelajaran HOTS
      Pada proses ini sangat dibutuhkan keterampilan dan kreatifitas seorang guru untuk menyajikan setiap proses pembelajaran dengan baik agar mudah difahami dan menyenangkan bagi siswa.

      Hapus
  4. menurut saya yang guru harus prhatikan pertama yakni :
    1. bagaimana karakteristik siswa dan kemampuan berpikirnya apakah mampu utuk mengerjakan HOTS atw belum, jika belum maka perlu dilakukan pelatihan pengerjaan soal mulai dari c3,c4,c5,c6 secara bertahap hinggaakhirnya siswa terbiasa.
    2. karakteristik materi, guru harus mampu melihat apa yang bia diangkat sbg tema dalam ber-HOTS, kecocokannya terutama dengan proses pengembangan HOTS
    3. guru haruslah dapat membangun suasana kelas yang kondusif dan nyaman untuk siswa belajar
    4 guru harus mematangkan tujuan, perencanaan penilaian HOTS dan Pelaksanaannya dengan amat sangat matang.

    nah kesulitan yang mungkin guru temui yakni dalam meminimalisir kesubjektifan alam menilai siswa, serta sering ditemui bahwa guru sedikit kesulitan dalam menyusun rubrik penilaian yang kriteria skornya tidak bias.

    BalasHapus
  5. untuk mejawab permasalahan mangenai aspek-aspek yang perlu di perhatikan guru/pendidik untuk menerapkan HOTS ((Higher Order Thinking Skill) dalam pembelajaran kimia, menurut saya yang utama adalah aspek materi dan strategi pembelajaran. hal ini karena guru haruslah mampu merancang suatu rangkaian proses pembelajran yang sesuai dengan materi sehingga siswa dapat terpancing dan mampu untuk aktif mengembangkan kemampuan HOTS nya. Penerapan beberapa model pembelajaran seperti pembelajaran berbasis proyek (Project based learning), pembelajaran berbasis masalah (Problem based learning), belajar penemuan (Discovery/ inquiry) menjadi peluang bagi guru untuk menerapkan kegiatan pembelajaran pada level HOTS (Higher order thinking skill). Pada prakteknya, penerapan pembelajaran HOTS bukan hal yang mudah dilaksanakan oleh guru. Adapun karakteristik pembelajaran pada HOTS (Higher Order of Thinking Skill) untuk dapat diterapkan dikelas yaitu Berfokus pada pertanyaan, Menganalisis / menilai argumen dan data, Mendefinisikan konsep, Menentukan kesimpulan, Menggunakan analisis logis, Memproses dan menerapkan informasi, Menggunakan informasi untuk memecahkan masalah.

    BalasHapus
  6. menjawab pertanyaan kedua, baaimana cara guru agar siswa dapat menjawab soal HOTS. nah, terlebih dahulu siswa harus diberikan soal/penyajian masalah dari tingkat rendah, kalau dirasa semua siswa mampu menjawab dinaikkan lagi ke soal yg tingkat kerumitannya lumayan. jika sudah juga, lalu ke soal" HOTS. pada saat ulangan ataupun ujian guru harus menyesuaikan soal" dari apa yg dipelajari siswa.

    BalasHapus
  7. 1. Menganalisis KD yang dapat dibuat soal-soal HOTS
    2. Menyusun kisi-kisi soal
    3. Memilih stimulus yang menarik dan kontekstual
    4. Menulis butir pertanyaan sesuai dengan kisi-kisi soal
    5. Membuat pedoman penskoran (rubrik) atau kunci jawaban
    dalam menyusun soal HOTS agar bisa diselesaikan oleh anak, tentu dalam proses pembelajaran kita menerapkan strategi dan materi pembelajaran yang sesuai. sebelum proses pembelajaran tentunya sudah direncanakan dengan baik agar semuanya bisa terpenuhi.

    BalasHapus
  8. saya akan menjawab pertanyaan fero, apa saja aspek-aspek yang perlu diperhatikan seorang guru untuk menerapkan HOTS ( Higher Order Thinking Skill ) dalam pembelajaran kimia ?
    menurut saya aspek yang perlu diperhatikan yakni karakteristik siswa, karakteristik materi, tujuan apa yang ingi dicapai/target apa yang ingin guru nilai dan potensi aspek (kogntif,afekti, psikomotor) apa yang ingi guru muncul, latih-kembangkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya sependapat dengan kk rini, untuk menerapkan HOTS kenalin dulu seberapa besar kemampuan yang dimiliki siswa

      Hapus