Senin, 11 Februari 2019

MATERI 2 : PENILAIAN KETERAMPILAN DASAR LABORATORIUM DALAM KIMIA


Laboratorium adalah tempat belajar mengajar melalui metode pratikum yang dapat menghasilkan pengalaman belajar di mana siswa berinteraksi dengan berbagai alat dan bahan untuk mengobservasi gejala-gejala yang dapat diamati secara langsung dan dapat membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari.

Keterampilan Dasar Dalam Laboratorium
A.  Keterampilan sebelum bekerja
1. Mengenal Bahan
Bahan kimia dapat dikenali melalui sifat dan wujudnya. Sifat bahan kimia berupa asam, basa dan bentuk garam. Wujud bahan kimia dapat berbentuk padatan, cairan, dan gas. Bahan juga dapat dikenali dengan menggunakan indera misalnya tembaga sulfat bentuk kristal warna biru, iodium bentuk kristal berwarna coklat ungu. Sebelum mengenali bahan sebaiknya dikenali dahulu sifatnya dengan melihat simbol bahaya yang tercantum pada label.

2. Pemberian Label dan Penyimpanan Bahan Kimia
Pemberian label terhadap jenis – jenis bahan kimia diperlukan untuk dapat mengenal dengan cepat dan mudah sifat bahaya dari suatu bahan kimia. Pengenalan dengan label ini  amat penting dalam penanganannya, transportasi dan penyimpanan bahan-bahan atau pergudangan. Cara penyimpanan bahan-bahan kimia memerlukan pengetahuan dasar akan sifat bahaya serta kemungkinan interaksi antara bahan serta kondisi yang mempengaruhinya.

3. Dalam sebuah praktikum, praktikum diwajibkan mengenal dan memahami cara kerja serta fungsi dari alat-alat laboratorium. Alat-alat dilaboratorium dapat dibagi berdasarkan jenis bahan pembuatnya atau berdasarkan fungsinya.

4. Sebelum melakukan praktikum, hendaknya memeriksa alat-alat yang akan digunakan. Untuk alat-alat dalam penggunaannya memerlukan ketelitian dan kehati-hatian.

5. Kebersihan meja praktikum serta penataan alat dan zat-zat kimia harus tertata dengan baik. Dengan kerapihan dan penataan meja praktikum beserta alat dan zat-zat kimia akan mengecilkan kemungkinan mencampur adukan sample, salah menambahkan zat kimia, menumpahkan larutan dan memecahkan alat gelas.

B. Keterampilan saat bekerja
1.  Penyediaan atau Penyiapan Bahan
Setiap akan mengambil bahan kimia, baca terlebih dahulu labelnya dengan teliti agar tidak terjadi kesalahan. Pegang botol dengan baik, yaitu dengan label yang melekat pada botol ada di bawah telapak tangan. Dengan cara ini tidak akan ada bahan yang menetes atau menempel pada label sehingga label tetap utuh.

2. Cara Mengambil dan Menuangkan Bahan Padat
    # Pegang botol bahan dengan label di bawah telapak tangan.
    # Miringkan botol sehingga sedikit bahan masuk ke dalam tutup botol, kemudian keluarkan 
       tutup botol dengan hati-hati.
    # Ketuk-ketuk tutup botol dengan telunjuk atau batang pengaduk sehingga bahan pada tutup jatuh
       pada tempat yang diinginkan.

3. Cara Mengambil dan Menuangkan Bahan Cair
    # Baca label bahan pada botol dengan teliti.
    # Pegang botol sedemikian rupa sehingga label botol terletak pada telapak tangan agar tidak terjadi
       penetesan bahan ke label.
  # Basahi tutup botol dengan bahan di dalam botol dengan cara botol dimiringkan untuk memudahkan
       melepas tutup botol
    # Jika akan menuangkan, buka botol dan jepit tutup botol diantara jari.
    # Tuangkan bahan cair dengan bantuan batang pengaduk

4. Memanaskan
Proses pemanasan dan penguapan bahan memerlukan ketrampilan khusus untuk keselamatan bekerja. Pengetahuan bahan kimia sangat diperlukan, misalnya jangan sekali-kali memanaskan atau menguapkan bahan yang mudah terbakar di atas nyala api langsung. Gunakan penangas air atau penangas uap. Untuk memanaskan bahan cair di dalam tabung reaksi, lakukan seperti berikut.
·                     Nyalakan bunsen atau pemanas lain dengan baik.
·                     Jepit tabung reaksi berisi cairan yang akan dibakar dengan penjepit.
·                     Panaskan tabung reaksi di atas nyala api. 
·                     Hadapkan tabung ke arah yang berlawanan dengan muka kita. Pemanasan dimulai dari bagian permukaan cairan bukan dari dasar tabung. Jangan lupa menggerakkan tabung reaksi selama pemanasan agar pemanasan tidak berlangsung hanya pada satu bagian saja.
·                     Untuk memanaskan bahan cair yang cukup banyak, lakukan dengan menempatkan bahan cair tersebut dalam gelas beaker dan dipanaskan di atas pemanas bunsen.

5. Jika ingin memindahkan bahan kimia :
·                     Membaca label bahan kimia (minimal 2 kali)
·                     Memindahkan sesuai dengan jumlah yang diperlukan
·                     Tidak menggunakan secara berlebihan
·                     Jika ada sisa, jangan mengembalikan bahan kimia ke dalam botol semula untuk mencegah kontaminasi
·                     Menggunakan alat yang tidak bersifat korosif untuk memindahkan bahan kimia padat
·                     Untuk bahan kimia cair, pindahkan secara hati-hati agar tidak tumpah

6. Dilarang makan, minum, merokok, menyimpan makanan atau memakai kosmetik dalam ruang Laboratorium Terpadu oleh karena beberapa bahan kimia/bahan biologis yang digunakan bersifat racun dan berbahaya bagi kesehatan, potensi penumpahan yang akan merusak alat atau menyebabkan kontaminasi ruangan pula harus dicegahkan.

7. Mahasiswa/peneliti wajib menggunakan jas praktikum dan alas kaki. Sepatu harus tertutup dan rambut harus ringkas dan tidak boleh tergerai.

C. Keterampilan setelah bekerja
- Cuci segera tangan atau anggota badan yang kontak atau terpecik darah. Cuci dengan cermat dan menggunakan sabun.
- Buang bahan yang mengandung darah dalam wadah plastik tertutup. Glassware dan alat lain yang kena darah harus direndam dalam larutan natrium hipoklorit 0,5% selama 30 menit. Kemudian alat tsb bisa dicuci dengan sabun.
- Bersihkan meja laboratorium dengan larutan natrium hipoklorit 0,5%. Tinggalkan meja kerja dalam keadaan bersih.
- Penanganan terhadap bahan kimia :
·                     Menghindari kontak langsung dengan bahan kimia
·                     Menghindari untuk mencium langsung uap bahan kimia
·                     Menggunakan sarung tangan

- Jika terkena bahan kimia :
·                     Bersikap tenang dan jangan p anik
·                     Meminta bantuan teman yang ada di dekat Anda
·                     Membersihkan bagian yang mengalami kontak langsung (dicuci dengan air bersih)
·                     Jangan menggaruk kulit yang terkena bahan kimia
·                     Menuju ke tempat yang cukup oksigen
·                     Menghubungi paramedis secepatnya

- Masalah penanganan limbah bahan kimia :
·                     Limbah berupa zat organik harus dibuang terpisah agar dapat didaur ulang
·                     Limbah cair yang tidak berbahaya dapat langsung dibuang tetapi harus diencerkan dulu dengan menggunakan air secukupnya
·                     Limbah cair yang tidak larut dalam air dan limbah beracun harus dikumpulkan dalam botol penampung dan diberi label
·                     Limbah padat harus dibuang terpisah karena dapat menyumbat saluran air
·                     Sabun, deterjen dan cairan yang tidak berbahaya dalam air dapat langsung dibuang melalui saluran air kotor dan dibilas dengan air secukupnya
·                     Gunakan zat / bahan  kimia secukupnya

Penilaian kinerja (performance assessment) secara sederhana dapat dinyatakan sebagai penilaian terhadap kemampuan dan sikap siswa yang ditunjukkan melalui suatu perbuatan. Menurut para ahli penilaian kinerja merupakan penilaian terhadap perolehan, penerapan pengetahuan dan keterampilan yang menunjukkan kemampuan siswa dalam proses maupun produk. Penilaian tersebut mengacu pada standar tertentu. Terdapat istilah lainnya yang berkaitan dengan penilaian kinerja yaitu penilaian alternatif (alternative assessment) dan penilaian otentik (authentic assessment). Beberapa ahli (Marzano, 1994; Popham, 1995; Bookhart, 2001) menyatakan bahwa istilah penilaian otentik kadang‑kadang digunakan untuk menjelaskan penilaian kinerja karena tugas‑tugas asesmennya yang lebih dekat dengan kehidupan nyata. Istilah penilaian alternatif digunakan untuk penilaian kinerja karena merupakan alternatif untuk penilaian tradisional‑paperand pencil test (tes tertulis obyektif).
Standar diperlukan dalam penilaian kinerja untuk mengidentifikasi secara jelas apa yang seharusnya siswa ketahui dan apa yang seharusnya siswa dapat lakukan. Standar tersebut dikenal dengan istilah rubrik. Rubrik dapat dinyatakan sebagai panduan pemberian skor yang menunjukkan sejumlah kriteria performance pada proses atau hasil yang diharapkan. Rubrik terdiri atas gradasi mutu kinerja siswa mulai dari kinerja yang paling buruk hingga kinerja yang paling baik disertai dengan skor untuk setiap gradasi mutu tersebut. Dengan mengacu pada rubrik inilah guru memberikan nilai terhadap kinerja siswa. Selain dari rubrik, penilaian kinerja terdiri atas komponen lainnya yaitu task (tugas‑tugas). Task merupakan perangkat tugas yang menuntut siswa untuk menunjukkan suatu peformance (kinerja) tertentu.
Ada 7 kriteria Untuk mengevaluasi apakah penilaian kinerja (Performance Assessment) berkualitas atau tidak.
1. Generability: apakah kinerja siswa dalam melakukan tugas yang diberikan sudah memadai untuk digeneralisasikan kepada tugas lain.
2. Authenticity: apakah tugas yg diberikan sudah serupa dengan apa yang sering dihadapi dalam praktek kehidupan sehari-hari
3. Multiple foci: apakah tugas yg diberikan kepada siswa sudah mengukur lebih dari satu kemampuan yang diinginkan
4. Teachability: tugas yg diberikan merupakan tugas yg hasilnya makin baik karena adanya usaha mengajar guru di kelas?
5. Fairness: apakah tugas yg diberikan sudah adil untuk semua siswa.
6. Feasibility: apakah tugas yg diberikan relevan utk dapat dilaksanakan (faktor biaya, tempat, waktu atau alat)
7. Scorability: apakah tugas yg diberikan dapat diskor dengan akurat dan reliable ?

Penilaian kinerja dapat menilai pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa. Penilaian kinerja memungkinkan siswa menunjukkan apa yang dapat mereka lakukan. Hal tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa terdapat perbedaan antara “mengetahui bagaimana melakukan sesuatu”‘ dengan mampu secara nyata melakukan hal tersebut”. Seorang siswa yang mengetahui cara menggunakan mikroskop, belum tentu dapat mengoperasikan mikroskop tersebut dengan baik. Tujuan sekolah pada hakekatnya adalah membekali siswa dengan kemampuan nyata (the real world situation). Dengan demikian penilaian kinerja sangat penting artinya untuk memantau ketercapaian tujuan tersebut.
     Penilaian kinerja dapat menliai proses dan produk pembelajaran. Pada pembelajaran kimia, penilaian kinerja lebih menekankan proses apabila dibandingkan dengan hasil. Penilaian proses secara langsung tentu lebih baik karena dapat memantau kemampuan siswa secara otentik. Namun seringkali penilaian proses secara langsung tersebut tidak dimungkinkan karena pengerjaan tugas siswa memerlukan waktu lama sehingga siswa harus mengerjakannya di luar jam pelajaran sekolah. Untuk mengatasi hal tersebut, penilaian terhadap proses dan usaha siswa dapat dilakukan terhadap produk. Misalnya untuk menilai kemampuan siswa membuat koloid maka guru kimia dapat melihat hasil produk koloid siswa. Melalui produk tersebut dapat dilihat kemampuan siswa dalam melakukan tahapan pembuatan koloid dan usahanya. Usaha dan kemajuan belajar mendapatkan penghargaan dalam penilaian kinerja. Hal tersebut menyebabkan penilaian kinerja memiliki keunggulan untuk pembelajaran kimia bila dibandingkan dengan tes tradisional yang berorientasi pada pencapaian hasil belajar.

Terdapat 5 aspek yang dinilai, yaitu:
1. Teknik dasar kerja laboratorium
Berupa penggunaan alat, pemahaman sifat zat, pencucian dan pembuatan larutan, penanganan limbah,      pemeliharaan alat dan bahan.
Dapat dinilai dengan cara observasi menggunakan skala beda semantik
contoh:
sangat kompeten                    tidak kompeten
3          2          1         0        1         2          3

2. Perhitungan
Dari data pengamatan dan laporan yang dikerjakan. Penilaian menggunakan skala sebagai berikut
          teliti                                  tidak teliti
3          2          1         0        1         2          3

3. Intrepretasi data
Data yang diperoleh harus akurat dan reliabilitas, oleh karena itu untuk memperolehnya dapat menggunakan berbagai alat ukur.
contoh pada penentuan sifat asam basa suatu zat dapat diuji dengan berbagai alat uji, misal indikator alami, kertas lakmus, indikator universal, pH meter.
Penilaian dengan menggunakan skala sebagai berikut
lengkap                                  tidak lengkap
3          2          1         0        1         2          3

4. Perakitan Alat
Dalam melakukan praktikum, siswa harus mampu merakit alat percobaan sehingga dapat digunakan dalam praktikum.
Penilaian menggunakan skala sebagai berikut
tepat                                      tidak tepat
3          2          1         0        1         2          3

5. Referensi Ilmiah
Setelah melakukan praktikum dan memperoleh data pengamatan, hasil percobaan dibahas dan dihubungkan dengan konsep yang mendukung data pengamatan. Diperlukan  beberapa referensi ilmiah dalam mengerjakan laporan praktikum.
Penilaian menggunakan skala sebagai berikut
relevan                                   tidak relevan
3          2          1         0        1         2          3

Permasalahan :
1.      Apabila terdapat keterbatasan alat dan bahan yang mengakibatkan tidak semua siswa dapat memperoleh kesempatan untuk melakukan eksperimen di laboratorium, kita sebagai pendidik hal apa yang seharusnya dilakukan ?
2.     Kurangnya persiapan dan pengalaman siswa dapat menimbulkan kesulitan dalam pelaksanaan eksperimen di laboratorium, bagaimana cara menanggapi hal seperti itu ?
3.            Bagaimana cara menanamkan skill lab yang baik dan benar ?



12 komentar:

  1. Menjawab permasalahan ketiga, cara menanamkan skill lab yang baik dn benar. Saya menyarankan sebelum praktikum sebaiknya guru mencontohkan terlebih dahulu bagaimana cara memperlakukan alat dan bahan kimia. Selain itu, guru juga bisa menerapkan metode flipped classroom disini. Dimana guru memasukan suatu video berisi materi yang akan dipraktikumkan di classroom online, dan diminta untuk siswa wajib bertanya satu pertanyaan mengenai hal-hal yang dia ingin tahu sehingga saya rasa bisa didapatkan skill lab yang baik dan benar. Atau bisa dengan metode pre test post test, bagi yang pre test nya rendah kemungkinan kurang memahami keterampilan dasar labor. Dan bisa dberikan perhatian lebih kepadanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya sependapat dengan fanny, sebenarnya ada banyak cara untuk menanamkan skill lab yang baik dan benar siswa, bisa melalui flipped classroom seperti yang fanny katakan, atau bisa dengan menggunakan media virtual lab, belajar memahami teori terlebih dahulu, lalu kemudian bisa didemonstrasikan oleh guru di depan siswa bagaimana cara yang baik dalam memperlakukan alat dan bahan kimia yang ada dilab, setelah didemonstrasikan siswa bisa diberi kesempatan untuk berpraktikum sendiri secara berkelomok atau individual namun secara bergantian

      Hapus
    2. Saya sangat setuju dengan pendapat fanny dan rini, skill lab tidak muncul dengan sendirinya namun dengan pengetahuan yang dimiliki dan tutorial yang pernah diamati atau dilihat seperti demonstrasi atau virtual lab, sehingga saat siswa benar-benar berhubungan dengan alat-alat lab dan prosedur-prosedur yang harus dilakukan

      Hapus
    3. saya setuju dengan fanny, kk rini dan kk melda bahwa pada dasarnya pengetahuan itu dimulai dari basic mereka sendiri

      Hapus
  2. Saya sependapat dengan teman2 di atas bisa dengan cara sederhana yaitu guru harus mencontohkan terlebih dahulu basic skill lab yang ada dan juga dpt mendemonstrasikan di kelas .
    Seruju juga dwngan adanya metode flipclassroom jadi siswa akan lebih dapat ememcahkan masalah dalam praktikum dan juga bisa dengan menggunakan virtual lab jika sarana dan prasara di sekolah tidak memadai.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepedapat dgn kk wid. Jika ada keterbatasan seperti itu kita sbgai guru harus lebih kritis utk menghadapi situasi seperti itu. Bisa dilakukan praktikum dgn alat dan bahan yg sederhana. Yg tentunya dkt dgn kehidupan sehari hari siswa. Sehingga pengetahuan siswa pun jg lebih luas.

      Hapus
  3. menjawab pertanyaan kedua menurut saya seharusnya guru mengenal karakteristik siswa nya yang seperti apa sehingga kesulitan" yang mungkin ditemui di saat proses pembelaJaran bisa diminimalisir oleh guru. dan saya sependapat dgn teman" diatas bahwa untuk menanamkan skill lab yang baik kepada siswa, guru harus mencontohkan terlebih dahulu prosesnya dan juga untuk membentuk skill yang terasah dgn baik proses tsb harus terus diulang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sependapat dengan rekan rekan mengenai Kurangnya persiapan dan pengalaman siswa dapat menimbulkan kesulitan dalam pelaksanaan eksperimen di laboratorium, bagaimana cara menanggapi hal seperti itu ?

      Kekurangan tersebut dapat kita minimalisir, dengan meminta siswa mencari literatur terlebih dahulu, melihat video di youtube, dengan demikian wawasan siswa menjadi bertambah, dan dapat meminimalisir kesulitan siswa.

      Hapus
  4. cara menanamkan skill lab yang baik dan benar. Saya menyarankan sebelum praktikum sebaiknya guru mencontohkan terlebih dahulu bagaimana cara memperlakukan alat dan bahan kimia. setelah pengetahuan awal siswa dibangun dengan baik, baru siswa dibawa ke labor, sehingga bisa memperkecil kemungkinan kecelakaan di labor. kalau bahan praktikumnya sedikit, kita bisa melakukan deminstrasi saja.

    BalasHapus
  5. Kurangnya persiapan dan pengalaman siswa dapat menimbulkan kesulitan dalam pelaksanaan eksperimen di laboratorium, bagaimana cara menanggapi hal seperti itu ?
    Meurut saya hal yang bisa dilakukan oleh guru yaitu dengan penyesuaian urutan materi, karena pada kelas x ada materi tentang pengenalan alat laboratorium, disini guru bisa menamah fungsi dan cara penggunaan alat. Sehingga dapat meminimalisir kesulitan-kesulitan penggunaan alat dilaboratorium.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya sependapat dengan kak esa untuk menjawab permasalahan ini yaitu dengan penyesuaian urutan materi, Sehingga dapat meminimalisir kesulitan-kesulitan penggunaan alat dilaboratorium. selain itu juga bisa dengan meminta siswa untuk belajar terlebih dahulu dirumah agar siswa sebelum melaksanakan praktikum sudah paham tentang apa yang akan dia lakukan

      Hapus
  6. Bagaimana cara menanamkan skill lab yang baik dan benar ?

    bisa dengan menggunakan media virtual lab, belajar memahami teori terlebih dahulu, lalu kemudian bisa didemonstrasikan oleh guru di depan siswa bagaimana cara yang baik dalam memperlakukan alat dan bahan kimia yang ada dilab, setelah didemonstrasikan siswa bisa diberi kesempatan untuk berpraktikum sendiri secara berkelomok atau individual namun secara bergantian.

    BalasHapus