DESAIN PENILAIAN AUTENTIK
DALAM PEMBELAJARAN KIMIA
Kurikulum 2013
menitikberatkan pada kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Ketiga
komponen tersebut secara eksplisit dinyatakan dalam kompetensi inti yang harus
dimiliki siswa. Kurikulum 2013 juga mengatur kegiatan pembelajaran yang
mengutamakan pendekatan scientific (ilmiah) yaitu mengamati, menanya, melatih,
mencoba, menalar, dan meng-komunikasikan. Perubahan yang mendasar itu juga
berdampak pada sistem penilaian yang lebih mengarah ke penilaian otentik. Salah satu penekanan di
dalam kurikulum 2013 adalah penilaian autentik. Seperti yang kita ketahui
penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang memberikan gambaran
mengenai perkembangan siswa setelah siswa mengalami proses pembelajaran.
Penilaian autentik adalah kegiatan menilai peserta didik yang menekankan pada
apa yang seharusnya dinilai, baik proses maupun hasil dengan berbagai instrumen
penilaian yang disesuaikan dengan tuntutan kompetensi yang ada di Standar
Kompetensi (SK) atau Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD).
Dalam Permendikbud Nomor 66 tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan. Berdasarkan Permendikbud tersebut dijelaskan, bahwa penilaian terdiri atas: tes tulis, tes lisan, praktek dan kinerja (unjuk kerja / performance), observasi selama kegiatan pembelajaran dan di luar pembelajaran, serta penugasan (terstruktur dan tugas mandiri tak terstruktur). Penilaian otentik sebagai bentuk penilaian yang mencerminkan hasil belajar sesungguhnya, dapat menggunakan berbagai cara atau bentuk. Kunandar menyatakan, bahwa penilaian otentik antara lain melalui penilaian proyek atau kegiatan siswa, penggunaan portofolio, jurnal, demonstrasi, laporan tertulis, ceklis dan petunjuk observasi. Tujuan penilaian otentik adalah untuk mengukur berbagai keterampilan dalam berbagai konteks yang mencerminkan situasi di dunia nyata, di mana keterampilan-keterampilan tersebut digunakan. Penilaian otentik juga dapat digunakan untuk menjamin informasi yang sebenar-benarnya tentang kemampuan atau kompetensi peserta didik.
Dalam Permendikbud Nomor 66 tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan. Berdasarkan Permendikbud tersebut dijelaskan, bahwa penilaian terdiri atas: tes tulis, tes lisan, praktek dan kinerja (unjuk kerja / performance), observasi selama kegiatan pembelajaran dan di luar pembelajaran, serta penugasan (terstruktur dan tugas mandiri tak terstruktur). Penilaian otentik sebagai bentuk penilaian yang mencerminkan hasil belajar sesungguhnya, dapat menggunakan berbagai cara atau bentuk. Kunandar menyatakan, bahwa penilaian otentik antara lain melalui penilaian proyek atau kegiatan siswa, penggunaan portofolio, jurnal, demonstrasi, laporan tertulis, ceklis dan petunjuk observasi. Tujuan penilaian otentik adalah untuk mengukur berbagai keterampilan dalam berbagai konteks yang mencerminkan situasi di dunia nyata, di mana keterampilan-keterampilan tersebut digunakan. Penilaian otentik juga dapat digunakan untuk menjamin informasi yang sebenar-benarnya tentang kemampuan atau kompetensi peserta didik.
1. Pengertian Penilaian Otentik
Penilaian
autentik (Authentic Assessment) adalah pengukuran yang bermakna
secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap,
keterampilan, dan pengetahuan. Istilah Assessment merupakan
sinonim dari penilaian, pengukuran, pengujian, atau evaluasi. Istilah autentik
merupakan sinonim dari asli, nyata, valid, atau reliabel. Secara konseptual
penilaian autentik lebih bermakna secara signifikan dibandingkan dengan tes
pilihan ganda terstandar sekali pun. Ketika menerapkan penilaian autentik untuk
mengetahui hasil dan prestasi belajar peserta didik, guru menerapkan kriteria
yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan, aktivitas mengamati dan mencoba,
dan nilai prestasi luar sekolah.
2.
Prinsip-Prinsip Penilaian Otentik
Sebagai bagian dari
kurikulum 2013, penilaian otentik sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor dan
komponen yang ada di dalamnya.namun disini guru mempunyai posisi yang sentral
dalam menentukan keberhasilan dan kegagalan dalam pembelajaran. Untuk itu
penilaian otentik harus memperhatikan beberapa prinsip-prinsip diantaranya
adalah:
a.Sahih, berarti penilaian didasarkan pada data yang
mencerminkan kemampuan yang diukur.
b. Objektif, berarti penilaian didasarkan pada
prosedur dan kriteria yang jelas, tidak dipengaruhi subjektivitas penilai.
c. Adil, berarti penilaian tidak menguntungkan atau
merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar
belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender.
d. Terpadu, berarti penilaian merupakan salah satu
komponen yang tidak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran.
e. Terbuka, berarti prosedur penilaian, kriteria
penilaian, dan dasar pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihakpihak yang
berkepentingan.
f. Menyeluruh dan berkesinambungan, berarti penilaian
mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian
yang sesuai, untuk memantau perkembangan kemampuan peserta didik.
g. Sistematis, berarti penilaian dilakukan secara
terencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku.
h. Beracuan kriteria, berarti penilaian didasarkan
pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan.
i. Akuntabel, berarti penilaian dapat
dipertanggungjawabkan, baik dari segi teknik, prosedur, maupun hasilnya.
3.
Model Penilaian Otentik
Banyak tugas dan
kegiatan penilaian pembelajaran yang dapat dikelompokkan ke dalam penilaian
otentik selama tugas tersebut sesuai dengan hakikat penilaian otentik. O'Malley
dan Pierce menyebutkan beberapa model penilaian otentik, antara lain wawancara
lisan, menceritakan kembali teks, menulis sampel, proyek dan pameran,
eksperimen atau demonstrasi, constructed-response items, pengamatan guru, dan
portofolio Sementara itu, model penilaian otentik yang disebutkan oleh
Nurgiyantoro antara lain penilaian kinerja, wawancara lisan, pertanyaan
terbuka, menceritakan kembali teks atau cerita, portofolio, dan proyek. Model
penilaian otentik juga disebutkan oleh Kemendikbud, antara lain penilaian
kinerja, penilaian proyek, penilaian portofolio, dan penilaian tertulis.
4.
Ruang Lingkup Penilaian Otentik
Permendikbud Nomor 53
tahun 2015 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik pada Pendidikan Dasar
dan Pendidikan Menengah bahwa ruang lingkup dalam penilaian otentik mencakup
kompetensi sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan.
5.
Teknik dan Instrumen Penilaian Otentik
Teknik dan instrumen
penilaian otentik untuk menilai kemajuan belajar siswa yang meliputi sikap
spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan.
a.
Penilaian Kompetensi Sikap Spiritual dan Sikap Sosial
Berdasarkan Salinan Lampiran
Permendikbud Nomor 53 tahun 2015 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik
pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, bahwa ada beberapa cara yang
yang dapat digunakan untuk menilai sikap spiritual dan sikap sosial siswa,
yaitu observasi, penilaian diri, dan penilaian antar teman. Instrumen yang
digunakan dalam observasi adalah lembar observasi atau jurnal. Hasil observasi
dicatat dalam jurnal yang dibuat selama satu semester oleh guru kimia, guru BK,
dan wali kelas Instrumen yang digunakan untuk penilaian diri berupa lembar
penilaian diri yang dirumuskan secara sederhana, namun jelas dan tidak bermakna
ganda, dengan bahasa lugas yang dapat dipahami peserta didik, dan menggunakan
format sederhana yang mudah diisi peserta didik. Instrumen yang digunakan untuk
penilaian antar teman berupa lembar penilaian antar teman menggunakan daftar
cek.
a. Observasi merupakan teknik penilaian
yang dilakukan secara berkesinambungan dengan menggunakan indera, baik secara
langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan pedoman observasi yang berisi
sejumlah indikator perilaku yang diamati.
b. Penilaian diri merupakan teknik
penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk mengemukakan kelebihan dan
kekurangan dirinya dalam konteks pencapaian kompetensi. Instrumen yang
digunakan berupa lembar penilaian diri.
c.
Penilaian antarpeserta didik merupakan teknik penilaian dengan cara
meminta peserta didik untuk saling menilai terkait dengan pencapaian
kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian antarpeserta
didik.
d. Jurnal merupakan catatan pendidik di
dalam dan di luar kelas yang berisi informasi hasil pengamatan tentang kekuatan
dan kelemahan peserta didik yang berkaitan dengan sikap dan perilaku.
b.
Penilaian Kompetensi Pengetahuan
Berbagai teknik penilaian pengetahuan
dapat digunakan sesuai karakteristik masing-masing KD.
Pendidik menilai kompetensi pengetahuan
melalui tes tulis, tes lisan, dan penugasan.
a. Instrumen tes tulis berupa soal
pilihan ganda, isian, jawaban singkat, benar-salah, menjodohkan, dan uraian.
Instrumen uraian dilengkapi pedoman penskoran.
b. Instrumen tes lisan berupa daftar
pertanyaan.
c. Instrumen penugasan berupa pekerjaan
rumah dan/atau projek yang dikerjakan secara individu atau kelompok sesuai
dengan karakteristik tugas.
c.
Penilaian Kompetensi Keterampilan
Pendidik menilai kompetensi keterampilan
melalui penilaian kinerja, yaitu penilaian yang menuntut peserta didik
mendemonstrasikan suatu kompetensi tertentu dengan menggunakan tes praktik,
projek, dan penilaian portofolio. Instrumen yang digunakan berupa daftar cek
atau skala penilaian (rating scale) yang dilengkapi rubrik.
a. Tes praktik adalah penilaian yang
menuntut respon berupa keterampilan melakukan suatu aktivitas atau perilaku
sesuai dengan tuntutan kompetensi.
b. Projek adalah tugas-tugas belajar
(learning tasks) yang meliputi kegiatan perancangan, pelaksanaan, dan pelaporan
secara tertulis maupun lisan dalam waktu tertentu.
c. Penilaian portofolio adalah penilaian
yang dilakukan dengan cara menilai kumpulan seluruh karya peserta didik dalam
bidang tertentu yang bersifat reflektif-integratif untuk mengetahui minat,
perkembangan, prestasi, dan/atau kreativitas peserta didik dalam kurun waktu
tertentu. Karya tersebut dapat berbentuk tindakan nyata yang mencerminkan
kepedulian peserta didik terhadap lingkungannya.
Disamping itu dikenal juga penilain
produk yang meliputi penilaian kemampuan peserta didik membuat produkproduk,
teknologi, dan seni. Pengembangan produk meliputi 3 tahap dan setiap tahap
perlu diadakan penilaian yaitu: (1) Tahap persiapan,, meliputi penilaian
kemampuan peserta didik dan merencanakan, menggali, dan mengembangkan gagasan,
dan mendesain produk; (2) Tahap pembuatan produk (proses), meliputi penilaian
kemampuan peserta didik dalam menyeleksi dan menggunakan bahan, alat, dan
teknik; (3) Tahap penilaian produk, meliputi penilaian produk yang dihasilkan
peserta didik sesuai kriteria yang ditetapkan, misalnya berdasarkan tampilan,
fungsi, dan estetika. Penilaian produk biasanya menggunakan cara analitik atau
holistik. Cara analitik, yaitu berdasarkan aspek-aspek produk, biasanya
dilakukan terhadap semua kriteria yang terdapat pada semua tahap proses
pengembangan (tahap persiapan, pembuatan produk, dan penilaian produk). Cara
holistik, yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk, biasanya dilakukan
hanya pada tahap penilaian produk. Fokus penilaian portofolio adalah kumpulan
karya peserta didik secara individu atau kelompok pada satu periode
pembelajaran tertentu.Melalui penilaian portofolio guru Kimia akan mengetahui
perkembangan atau kemajuan belajar peserta didik. Misalnya, hasil karya peserta
didik dalam menyusun atau membuat laporan praktikum Kimia selama satu
semester.Atas dasar penilaian itu, pendidik dan/atau peserta didik dapat
melakukan perbaikan sesuai dengan tuntutan pembelajaran Kimia
Instrumen penilaian harus memenuhi persyaratan:
1)
substansi yang merepresentasikan kompetensi yang dinilai;
2)
konstruksi yang memenuhi persyaratan teknis sesuai dengan bentuk
instrumen yang digunakan; dan
3) penggunaan bahasa yang baik dan benar
serta komunikatif sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik.
CONTOH-CONTOH DESAIN PENILAIAN AUTENTIK DALAM
PEMBELAJARAN KIMIA
Lembar Penilaian Sikap pada Kegiatan
Praktikum
Mata Pelajaran :
Kimia
Kelas/Semester :
XI/2
Materi
: Koloid
|
no
|
Nama
|
disiplin
|
tanggung jawab
|
jujur
|
teliti
|
kreatif
|
peduli
|
jumlah skor
|
|
1.
|
A
|
|||||||
|
2.
|
B
|
|||||||
|
......
|
Lembar Penilaian
Kegiatan Diskusi
Mata Pelajaran : Kimia
Kelas/Semester
: XI / 2
Materi : Koloid
No
|
Nama Siswa
|
Kerja sama
|
Santun
|
Toleran
|
Responsif
|
Proaktif
|
Bijaksana
|
Jumlah Skor
|
1.
|
A
|
|||||||
2.
|
B
|
|||||||
...
|
.
Cara pengisian lembar
penilaian sikap adalah dengan memberikan skor pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan
terhadap peserta didik selama kegiatan yaitu:.
Skor 1, jika tidak pernah berperilaku dalam
kegiatan
Skor 2, jika kadang-kadang berperilaku dalam
kegiatan
Skor 3, jika sering berperilaku dalam
kegiatan
Skor 4, jika selalu berperilaku dalam kegiatan
Rentang nilai: skor ≤ 60 =
cukup
61 ≤ nilai < 80 = baik
81 ≤ nilai ≤ 100 = sangat
baik
b. Penilaian Sikap melalui
Penilaian Diri
Penilaian Diri
Topik:......................
|
Nama: ................
Kelas: ...................
|
Setelah
mempelajari materi koloid,
Anda dapat melakukan penilaian diri dengan cara memberikan tanda V pada kolom
yang tersedia sesuai dengan kemampuan.
No
|
Pernyataan
|
Sudah
memahami
|
Belum
memahami
|
1.
|
Memahami
pengertian
koloid
|
||
2.
|
Memahami
perbedaan antara larutan, koloid dan suspensi
|
||
3.
|
Memahami
jenis-jenis
koloid
|
- Penilaian
diri setelah melaksanakan suatu tugas.
Contoh format penilaian diri setelah peserta
didik mengerjakan Tugas Proyek Kimia
Penilaian Diri
Tugas:............................
|
Nama:.......................... Kelas:..............................
|
Bacalah
baik-baik setiap pernyataan dan berilah tanda V pada kolom yang sesuai dengan
keadaan dirimu yang sebenarnya.
No
|
Pernyataan
|
YA
|
TIDAK
|
1
|
Selama
melakukan tugas kelompok saya bekerjasama dengan teman satu kelompok
|
||
2
|
Saya
mencatat data dengan teliti dan sesuai dengan fakta
|
||
3
|
Saya
melakukan tugas sesuai dengan jadwal yang telah dirancang
|
||
4
|
Saya
membuat tugas terlebih dahulu dengan membaca literatur yang mendukung tugas
|
||
5
|
……………………………………….
|
Dari penilaian diri ini Anda dapat
memberi skor misalnya YA=2, Tidak =1 dan membuat rekapitulasi bagi semua
peserta didik. Penilaian diri, selain sebagai penilaian sikap jujur juga dapat
diberikan untuk mengukur pencapaian kompetensi pengetahuan, misalnya peserta
didik diminta mengerjakan soal-soal sebelum ulangan akhir bab dilakukan dan
mencocokan dengan kunci jawaban yang tersedia pada buku siswa. Berdasarkan
hasilnya, diharapkan peserta didik akan belajar kembali pada topik-topik yang
belum mereka kuasai. Untuk
melihat hasil penilaian diri peserta didik, guru dapat membuat format rekapitulasi
penilaian diri peserta didik dalam satu kelas.
Contoh.
REKAPITULASI PENILAIAN DIRI PESERTA DIDIK
Mata
Pelajaran:...........................................
Topik/Materi:..............................................
Kelas:..........................................................
No
|
Nama
|
Skor Pernyataan
Penilaian Diri
|
Jumlah
|
Nilai
|
||||
1
|
2
|
3
|
.....
|
.....
|
||||
1
|
A
|
|||||||
2
|
B
|
|||||||
3
|
.............
|
|||||||
.......
|
||||||||
Nilai peserta didik
dapat menggunakan rumus:
c. Penilaian Sikap melalui Penilaian antar Peserta Didik
Penilaian sikap pada Kurikulum 2013 juga dapat
diperoleh dari Penilaian Antar Peserta Didik. Penilaian ini merupakan teknik
penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk saling menilai terkait dengan
pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian
antarpeserta didik dalam bentuk daftar
cek dan skala penilaian. Kalimat pernyataan dirumuskan secara
sederhana, namun jelas dan tidak berpotensi munculnya penafsiran makna ganda/berbeda
dan penilaian dapat dilakukan oleh peserta didik
Penilaian antar Peserta Didik
Mata Pelajaran
: Kimia
Kelas/Semester
: XI / 2
Materi
: Koloid
Penilaian antar Peserta Didik
Materi :
Tanggal Penilaian:
|
Nama Teman yang dinilai:
Nama Penilai:
|
- Amati
perilaku temanmu dengan cermat selamat mengikuti pembelajaran Kimia
- Berikan
tanda v pada kolom yang disediakan berdasarkan hasil pengamatannu.
- Serahkan
hasil pengamatanmu kepada gurumu
No
|
Perilaku
|
Dilakukan/muncul
|
|
YA
|
TIDAK
|
||
1.
|
Mau menerima pendapat teman
|
||
2.
|
Memaksa teman untuk menerima pendapatnya
|
||
3.
|
Memberi solusi terhadap pendapat yang bertentangan
|
||
4.
|
Mau bekerjasama dengan semua teman
|
||
5.
|
......................................
|
||
Pengolahan Penilaian:
1. Perilaku/sikap pada instrumen di
atas ada yang positif (no 1. 2dan 4) dan ada yang negatif (no 2)
Pemberian skor untuk perlaku positif = 2, Tidak = 1. Untuk yang negatif
Ya = 1 dan Tidak = 2
2. Selanjutnya
guru dapat membuat rekapitulasi hasil penilaian menggunakan format
berikut.
No
|
Nama
|
Skor Perilaku
|
Jumlah
|
Nilai
|
||||
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
||||
1
|
A
|
|||||||
2
|
B
|
|||||||
3
|
||||||||
Nilai peserta didik
dapat menggunakan rumus:
d. Penilaian Sikap melalui Jurnal
Jurnal merupakan catatan pendidik di
dalam dan di luar kelas yang berisi informasi hasil pengamatan tentang kekuatan
dan kelemahan peserta didik yang berkaitan dengan sikap dan perilaku. Jurnal dapat memuat
penilaian peserta didik terhadap aspek tertentu secara kronologis.
Kriteria jurnal:
- Mengukur
capaian kompetensi sikap yang penting.
- Sesuai
dengan kompetensi dasar dan indikator.
- Menggunakan
format yang sederhana dan mudah diisi/digunakan.
- Dapat
dibuat rekapitulasi tampilan sikap peserta didik secara kronologis.
- Memungkinkan
untuk dilakukannya pencatatan yang sistematis, jelas dan komunikatif.
- Format
pencatatan memudahkan dalam pemaknaan terhadap tampilan sikap peserta didik
- Menuntun
guru untuk mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan peserta didik.
Kelebihan yang ada pada jurnal
adalah peristiwa/kejadian dicatat dengan segera. Dengan demikian, jurnal
bersifat asli dan objektif dan dapat digunakan untuk memahami peserta didik
dengan lebih tepat. Sementara itu, kelemahan yang ada pada jurnal adalah
reliabilitas yang dimiliki rendah dan menuntut waktu yang banyak.
Beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam membuat jurnal adalah:
1) Catatan
atas pengamatan guru harus objektif
2) Pengamatan
dilaksanakan secara selektif, artinya yang dicatat hanyalah kejadian/peristiwa
yang berkaitan dengan Kompetensi Inti.
3) Pencatatan
segera dilakukan (jangan ditunda-tunda)
4) Setiap
peserta didik memiliki Jurnal yang berbeda ( Kartu Jurnal yang berbeda)
Pedoman umum penskoran jurnal:
1) Penskoran
pada jurnal dapat dilakukan dengan menggunakan skala likert. Sebagai contoh
skala 1 sampai dengan 4.
2) Setiap
aspek yang sesuai dengan indikator yang muncul pada diri peserta didik diberi
skor 1, sedangkan yang tidak muncul diberi skor 0.
3) Jumlahkan
skor pada masing-masing aspek,skor yang diperoleh pada masing-masing aspek
kemudian direratakan
4) Nilai Sangat Baik (SB), Baik
(B), Cukup (C), dan Kurang (K) ditentukan dengan cara menghitung rata-rata skor
dan membandingkan dengan kriteria penilaian
CONTOH
JURNAL
Nama Peserta Didik: …………...........................................……..
Kelas:
.....................................................................................
Aspek yang diamati: ………...........................................………..
NO
|
HARI/TANGGAL
|
KEJADIAN
|
KETERANGAN/
TINDAK LANJUT
|
1.
|
A
|
||
2.
|
B
|
Penilaian
Pengetahuan
Indikator
|
:
|
Menganalisis perbedaan larutan,
koloid dan suspensi
|
Soal
|
:
|
Kalian dengan
teman-temanmu akan menyelidiki perbedaan larutan, koloid dan
suspensi, coba jawablah pertanyaan
berikut
a. Uraikan
langkah identifikasi koloid beserta hasil percobaan
b. Uraikan
langkah identifikasi larutan dan suspensi beserta hasil percobaan
c. Bagaimana
sifat-sifat koloid ?
|
No.
|
Jawaban
|
Skor
|
2.a
|
Uraian prosedur lengkap beserta
hasil percobaan koloid
|
10
|
Uraian prosedur lengkap tanpa
hasil percobaan koloid
|
5
|
|
Hanya hasil percobaan koloid
|
2
|
|
2.b
|
Uraian prosedur lengkap beserta
hasil percobaan larutan dan suspensi
|
10
|
Uraian prosedur lengkap tanpa
hasil percobaan larutan dan suspensi
|
5
|
|
Hanya hasil percobaan larutan
dan suspensi
|
2
|
|
2.c
|
Penjelasan konsep koloid
|
6
|
Menjelaskan hasil percobaan
koloid
|
15
|
|
Sifat-sifat koloid
|
5
|
|
Skor Maksimal
|
60
|
|
Permasalahan :
1. Kurikulum 2013 menitikberatkan pada
kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Sebagai bagian dari kurikulum 2013, penilaian otentik
sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor dan komponen yang ada di dalamnya.namun
disini guru mempunyai posisi yang sentral dalam menentukan keberhasilan dan
kegagalan dalam pembelajaran. Apakah faktor dan komponen yang mempengaruhi penilaian otentik dalam
proses pembelajaran ?
2. seberapa penting peran
penilaian otentik dalam mengukur tingkat ketercapaian proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan ?
3. Apakah cocok penilaian yang
saya buat untuk materi koloid ? Berikan saran anda!
Menanggapi pertanyaan pertama, Melaksanakan penilaian autentik bukanlah sesuatu yang gampang untuk dilaksanakan. Penilaian autentik akan bermanfaat bagi guru dan siswa dalam meningkatkan kompetensi siswa, jika nilai yang diperoleh dari penilaian itu dilandasi oleh faktor-faktor yang menyebabkan siswa memperoleh nilai tersebut. Faktor-faktor tersebut harus kita ketahui. Jika guru hanya asal melaksanakan penilaian autentik tanpa memperhatikan faktor-faktor penyebabnya, penilaian tersebut merupakan penilaian yang hampa, karena penilaian itu tidak dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki pembelajaran atau membantu siswa yang lemah dan guru tidak dapat menjelaskan mengapa nilai autentik siswa naik atau turun.
BalasHapusSebagai contoh :
Pada penilaian sikap, sikap siswa dapat berubah meningkat atau menurun bergantung pada faktor-faktor yang mempengaruhinya pada saat dinilai, jika kita ingin menilai sikap siswa, kita harus mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan sikap itu. Jika kita tidak mengetahui faktor-faktor tersebut, kita melakukan penilaian autentik yang tidak bermakna dan tidak bermanfaat.
untuk pertanyaan kedua menurut saya penilaian otentik ini sangat penting digunakan karena hasil yang didapat lebih spesifik dan dapat disimpulkan secara keseluruhan
BalasHapussaya sependapat dengan rina, menambahkan Penilaian autentik mencakup tiga ranah hasil belajar yaitu ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Terminologi autentik merupakan sinonim dari asli, nyata atau sebenarnya, valid, atau reliabel.
HapusSaya sepenfapat, tentu penilaian ini sangat penting,
HapusKarna disinilah kita melihat ketercapaian kemampuan peserta dididk kita, yg dapat tergambar melalui penilaian ketiga aspek tersebut.
penilaian otetentik untuk ketiga aspek yang dinilai yakni afektif, psikomotor dan kognitif sangatlah perlu dilakukan. namun pelaksanaannya tidak lah boleh terlepas dari apa tujuan awal dari penilaian itu dilakukan, penggunaan instrumennnya harusla jelas.
HapusSaya sependapat dengan rina dan tri dimana penilaian otentik sangatlah penting, karena mencakup tiga ranah hasil belajar seperti yang di katakan saudari tri,,
BalasHapusDimana dalam mengimplementasikan penilaian autentik yang baik dapat dimulai dengan mengidentifikasi standar kompetensi yang harus dimiliki oleh peserta didik yang diambil dari standar isi kurikulum yang digunakan. Standar tersebut akan menjadi acuan dalam melaksanakan pembelajaran dan dalam melakukan penilaian. Sehingga hasil penilaian autentikdapat menggambarkan kualitas pendidikan berdasarkan proses pembelajaran yang dilakukan.
menjawab pertanyaan yang kedua, seberapa penting peran penilaian otentik dalam mengukur tingkat ketercapaian proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan ?
BalasHapusmenurut saya sangat penting, semua aspek penting dan dituntut penilaiannya di dalam kurikulum sekarang yaitu kurikulum 2013. Dalam berbagai artikel telah jelas menyebutkan bahwa Kurikulum 2013 menitikberatkan pada kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Ketiga komponen tersebut secara eksplisit dinyatakan dalam kompetensi inti yang harus dimiliki siswa.jika harus dimiliki siswa yang artinya harus dan penting juga dilakukan penilaian dari ketiga aspek tersebut, karena tercapainya proses belajar yang telah dilaksanakan bisa terlihat dengan adanya evaluasi atau penilaian secara keseluruhan, bukan hanya salah satu sisi aspek saja. dan yang kita ketahui penilaian autentik (Authentic Assessment) memang pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
Saya setuju dengan kak melda dimana penilaian autentik memiliki peran yang sangat penting. Karena di dalam kurikulum 2013 siswa harus menguasai ketiga aspek sikap, keterampilan, dan pengetahuan sehingga dengan adanya penilaian autentik ini, dapat menilai dengan mencakup keseluruhan aspek pembelajaran seperti sikap, pengetahuan, dan keterampilan lalu tidak hanya satu aspek saja. Penilaian autentik (Authentic Assessment) memang pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
HapusUntuk seberapa pentingnya penilaian otentik tentu sangat penting dilakukan. Karena dalam kurikulum 2013 sudah memamg menerapkan 3 aspek. Yaitu kognitif afektif dan psikomotor.
BalasHapusseberapa pentingkah peran penilaian otentik dalam mengukur tingkat keberhasilan kegiatan belajar mengajar yang telah dilaksanakan?
BalasHapusMenurut Diane Hart, dalam pengantar yang sangat baik pada : A Handbook untuk Pendidik menyatakan berbagai kelebihan penggunaan penilaian otententik, yaitu:
1. Siswa berperan aktif dalam proses penilaian. Pada fase ini dapat mengurang rasa cemas, takut mendapatkan nilai jelek yang dapat menggganggu harga dirinya.
2. Penilaian autentik berhasil digunakan dengan siswa dari berbagai latar belakang budaya, gaya belajar, dan kemampuan akademik.
3. Tugas yang digunakan dalam penilaian otentik lebih menarik dan mencerminkan kehidupan sehari-hari siswa.
4. Sikap yang lebih positif terhadap sekolah dan belajar dapat berkembang.
5. Penilaian otentik mempromosikan pendekatan yang lebih berpusat pada siswa untuk mengajar.
6. Guru memegang peran lebih besar dalam proses penilaian selain melalui program pengujian tradisional. keterlibatan ini lebih mungkin untuk memastikan proses evaluasi mencerminkan tujuan dan sasaran program.
7. penilaian otentik menyediakan informasi yang berharga kepada guru pada kemajuan siswa serta keberhasilan instruksi.
8. Orang tua akan lebih mudah memahami penilaian otentik dari persentil abstrak, perangkingan, dan pengukuran lain tes standar.
9. penilaian autentik baru untuk kebanyakan siswa. Mereka mungkin curiga pada awalnya, tahun pengkondisian dengan paper tes,, mencari jawaban yang benar tunggal, tidak mudah dibatalkan.
10. penilaian otentik memerlukan cara baru untuk merasakan bahwa dia sedang belajar dan dievaluasi.
11. Peran guru juga berubah. Tugas khusus, baik dalam bentuk pekerjaan maupun dalam bentuk pengasaan pengetahuan dan keterampilan haru harus diidentifikasi secara jelas di awal.
12. Dengan cara itu maka siswa dapat memulai sesuatu yang berbaik skala kecil dan dari awal.
Penilaian otentik ini sangat penting karena pada penilaian secara otentik dapat menghilangkan tekanan belajar yang berpedoman pada penilaian kognitif saja. pada penilaian otentik tidak hanya mengukur kognitif siswa saja namun juga mengukur afektif dan psikomotor siswa. Sehingga proses pembelajaran menjadi menyenangkan.
BalasHapussaya akan mencoba menjawab pertanyaan fero yakni Apakah faktor dan komponen yang mempengaruhi penilaian otentik dalam proses pembelajaran ?
BalasHapusmenurut saya faktor dan komponen yang penting dalam proses menilai secara otentik yakni dengan melihat situasi dan kondisi siswa maka guru harus cakap dalam merencanakan/menyusun sebuah format penilaian siswa yang reliabel dan valid sehingga hasil penilaian objektif dan dapat digunakan sebagai acuan, disamping itu penilaian otentik haruslah mencakup 3 aspek pokok yang ketiga-tiganya harus dinilai dengan baik yakni aspek afektif, kognitif maupun psikomotor.
sependapat dengan rini bahwa faktor dan komponen yang penting dalam proses menilai secara otentik yakni dengan melihat situasi dan kondisi siswa maka guru harus cakap dalam merencanakan/menyusun sebuah format penilaian siswa yang reliabel dan valid sehingga hasil penilaian objektif dan dapat digunakan sebagai acuan, disamping itu penilaian otentik haruslah mencakup 3 aspek pokok yang ketiga-tiganya harus dinilai dengan baik yakni aspek afektif, kognitif maupun psikomotor. Artinya, agar penilaian otentik benar benar terlaksana dengan baik, guru harus mampu melihat karakteristik siswa dan mata pelajaran
Hapusmenurut pendapat saya untuk menjawab permaslaahan nomor satu yaitu mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi penilaian otentik dalam proses pembelajaran diantaranya (1) guru kurang memahami materi, (2) guru kurang menguasai kelas, (3) guru enggan menggunakan alat peraga dalam mengajar, (4) guru kurang
BalasHapusmampu memotivasi peserta didik dalam belajar, (5) guru menyamaratakan kemampuan peserta didik di dalam menyerap pelajaran, (6) guru kurang disiplin dalam mengatur waktu, (7) guru enggan membuat persiapan mengajar, (8) guru tidak mempunyai kemajuan untuk menambah atau menimba ilmu, (9) guru kurang terampil mengajukan pertanyaan kepada peserta didik, dan (10) guru selalu mengutamakan pencapaian
target kurikulum