Rabu, 30 Januari 2019

MATERI 1 : DESIGNING AUTHENTIC ASSESSMENT IN CHEMISTRY EDUCATION


DESAIN PENILAIAN AUTENTIK DALAM PEMBELAJARAN KIMIA

Kurikulum 2013 menitikberatkan pada kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Ketiga komponen tersebut secara eksplisit dinyatakan dalam kompetensi inti yang harus dimiliki siswa. Kurikulum 2013 juga mengatur kegiatan pembelajaran yang mengutamakan pendekatan scientific (ilmiah) yaitu mengamati, menanya, melatih, mencoba, menalar, dan meng-komunikasikan. Perubahan yang mendasar itu juga berdampak pada sistem penilaian yang lebih mengarah ke penilaian otentik. Salah satu penekanan di dalam kurikulum 2013 adalah penilaian autentik. Seperti yang kita ketahui penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang memberikan gambaran mengenai perkembangan siswa setelah siswa mengalami proses pembelajaran. Penilaian autentik adalah kegiatan menilai peserta didik yang menekankan pada apa yang seharusnya dinilai, baik proses maupun hasil dengan berbagai instrumen penilaian yang disesuaikan dengan tuntutan kompetensi yang ada di Standar Kompetensi (SK) atau Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD).

      Dalam Permendikbud Nomor 66 tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan. Berdasarkan Permendikbud tersebut dijelaskan, bahwa penilaian terdiri atas: tes tulis, tes lisan, praktek dan kinerja (unjuk kerja / performance), observasi selama kegiatan pembelajaran dan di luar pembelajaran, serta penugasan (terstruktur dan tugas mandiri tak terstruktur). Penilaian otentik sebagai bentuk penilaian yang mencerminkan hasil belajar sesungguhnya, dapat menggunakan berbagai cara atau bentuk. Kunandar menyatakan, bahwa penilaian otentik antara lain melalui penilaian proyek atau kegiatan siswa, penggunaan portofolio, jurnal, demonstrasi, laporan tertulis, ceklis dan petunjuk observasi. Tujuan penilaian otentik adalah untuk mengukur berbagai keterampilan dalam berbagai konteks yang mencerminkan situasi di dunia nyata, di mana keterampilan-keterampilan tersebut digunakan. Penilaian otentik juga dapat digunakan untuk menjamin informasi yang sebenar-benarnya tentang kemampuan atau kompetensi peserta didik.


1. Pengertian Penilaian Otentik
Penilaian autentik (Authentic Assessment) adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Istilah Assessment merupakan sinonim dari penilaian, pengukuran, pengujian, atau evaluasi. Istilah autentik merupakan sinonim dari asli, nyata, valid, atau reliabel. Secara konseptual penilaian autentik lebih bermakna secara signifikan dibandingkan dengan tes pilihan ganda terstandar sekali pun. Ketika menerapkan penilaian autentik untuk mengetahui hasil dan prestasi belajar peserta didik, guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan, aktivitas mengamati dan mencoba, dan nilai prestasi luar sekolah.

2. Prinsip-Prinsip Penilaian Otentik
Sebagai bagian dari kurikulum 2013, penilaian otentik sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor dan komponen yang ada di dalamnya.namun disini guru mempunyai posisi yang sentral dalam menentukan keberhasilan dan kegagalan dalam pembelajaran. Untuk itu penilaian otentik harus memperhatikan beberapa prinsip-prinsip diantaranya adalah:
a.Sahih, berarti penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang diukur.
b. Objektif, berarti penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas, tidak dipengaruhi subjektivitas penilai.
c. Adil, berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender.
d. Terpadu, berarti penilaian merupakan salah satu komponen yang tidak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran.
e. Terbuka, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihakpihak yang berkepentingan.
f. Menyeluruh dan berkesinambungan, berarti penilaian mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai, untuk memantau perkembangan kemampuan peserta didik.
g. Sistematis, berarti penilaian dilakukan secara terencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku.
h. Beracuan kriteria, berarti penilaian didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan.
i. Akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi teknik, prosedur, maupun hasilnya.

3. Model Penilaian Otentik
Banyak tugas dan kegiatan penilaian pembelajaran yang dapat dikelompokkan ke dalam penilaian otentik selama tugas tersebut sesuai dengan hakikat penilaian otentik. O'Malley dan Pierce menyebutkan beberapa model penilaian otentik, antara lain wawancara lisan, menceritakan kembali teks, menulis sampel, proyek dan pameran, eksperimen atau demonstrasi, constructed-response items, pengamatan guru, dan portofolio Sementara itu, model penilaian otentik yang disebutkan oleh Nurgiyantoro antara lain penilaian kinerja, wawancara lisan, pertanyaan terbuka, menceritakan kembali teks atau cerita, portofolio, dan proyek. Model penilaian otentik juga disebutkan oleh Kemendikbud, antara lain penilaian kinerja, penilaian proyek, penilaian portofolio, dan penilaian tertulis.

4. Ruang Lingkup Penilaian Otentik
Permendikbud Nomor 53 tahun 2015 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah bahwa ruang lingkup dalam penilaian otentik mencakup kompetensi sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan.

5. Teknik dan Instrumen Penilaian Otentik
Teknik dan instrumen penilaian otentik untuk menilai kemajuan belajar siswa yang meliputi sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan.


a. Penilaian Kompetensi Sikap Spiritual dan Sikap Sosial
Berdasarkan Salinan Lampiran Permendikbud Nomor 53 tahun 2015 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, bahwa ada beberapa cara yang yang dapat digunakan untuk menilai sikap spiritual dan sikap sosial siswa, yaitu observasi, penilaian diri, dan penilaian antar teman. Instrumen yang digunakan dalam observasi adalah lembar observasi atau jurnal. Hasil observasi dicatat dalam jurnal yang dibuat selama satu semester oleh guru kimia, guru BK, dan wali kelas Instrumen yang digunakan untuk penilaian diri berupa lembar penilaian diri yang dirumuskan secara sederhana, namun jelas dan tidak bermakna ganda, dengan bahasa lugas yang dapat dipahami peserta didik, dan menggunakan format sederhana yang mudah diisi peserta didik. Instrumen yang digunakan untuk penilaian antar teman berupa lembar penilaian antar teman menggunakan daftar cek.
a. Observasi merupakan teknik penilaian yang dilakukan secara berkesinambungan dengan menggunakan indera, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan pedoman observasi yang berisi sejumlah indikator perilaku yang diamati.
b. Penilaian diri merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya dalam konteks pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian diri.
c.  Penilaian antarpeserta didik merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk saling menilai terkait dengan pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian antarpeserta didik.
d. Jurnal merupakan catatan pendidik di dalam dan di luar kelas yang berisi informasi hasil pengamatan tentang kekuatan dan kelemahan peserta didik yang berkaitan dengan sikap dan perilaku.

b. Penilaian Kompetensi Pengetahuan
Berbagai teknik penilaian pengetahuan dapat digunakan sesuai karakteristik masing-masing KD.
Pendidik menilai kompetensi pengetahuan melalui tes tulis, tes lisan, dan penugasan.
a. Instrumen tes tulis berupa soal pilihan ganda, isian, jawaban singkat, benar-salah, menjodohkan, dan uraian. Instrumen uraian dilengkapi pedoman penskoran.
b. Instrumen tes lisan berupa daftar pertanyaan.
c. Instrumen penugasan berupa pekerjaan rumah dan/atau projek yang dikerjakan secara individu atau kelompok sesuai dengan karakteristik tugas.

c. Penilaian Kompetensi Keterampilan
Pendidik menilai kompetensi keterampilan melalui penilaian kinerja, yaitu penilaian yang menuntut peserta didik mendemonstrasikan suatu kompetensi tertentu dengan menggunakan tes praktik, projek, dan penilaian portofolio. Instrumen yang digunakan berupa daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang dilengkapi rubrik.
a. Tes praktik adalah penilaian yang menuntut respon berupa keterampilan melakukan suatu aktivitas atau perilaku sesuai dengan tuntutan kompetensi.
b. Projek adalah tugas-tugas belajar (learning tasks) yang meliputi kegiatan perancangan, pelaksanaan, dan pelaporan secara tertulis maupun lisan dalam waktu tertentu.
c. Penilaian portofolio adalah penilaian yang dilakukan dengan cara menilai kumpulan seluruh karya peserta didik dalam bidang tertentu yang bersifat reflektif-integratif untuk mengetahui minat, perkembangan, prestasi, dan/atau kreativitas peserta didik dalam kurun waktu tertentu. Karya tersebut dapat berbentuk tindakan nyata yang mencerminkan kepedulian peserta didik terhadap lingkungannya.

Disamping itu dikenal juga penilain produk yang meliputi penilaian kemampuan peserta didik membuat produkproduk, teknologi, dan seni. Pengembangan produk meliputi 3 tahap dan setiap tahap perlu diadakan penilaian yaitu: (1) Tahap persiapan,, meliputi penilaian kemampuan peserta didik dan merencanakan, menggali, dan mengembangkan gagasan, dan mendesain produk; (2) Tahap pembuatan produk (proses), meliputi penilaian kemampuan peserta didik dalam menyeleksi dan menggunakan bahan, alat, dan teknik; (3) Tahap penilaian produk, meliputi penilaian produk yang dihasilkan peserta didik sesuai kriteria yang ditetapkan, misalnya berdasarkan tampilan, fungsi, dan estetika. Penilaian produk biasanya menggunakan cara analitik atau holistik. Cara analitik, yaitu berdasarkan aspek-aspek produk, biasanya dilakukan terhadap semua kriteria yang terdapat pada semua tahap proses pengembangan (tahap persiapan, pembuatan produk, dan penilaian produk). Cara holistik, yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk, biasanya dilakukan hanya pada tahap penilaian produk. Fokus penilaian portofolio adalah kumpulan karya peserta didik secara individu atau kelompok pada satu periode pembelajaran tertentu.Melalui penilaian portofolio guru Kimia akan mengetahui perkembangan atau kemajuan belajar peserta didik. Misalnya, hasil karya peserta didik dalam menyusun atau membuat laporan praktikum Kimia selama satu semester.Atas dasar penilaian itu, pendidik dan/atau peserta didik dapat melakukan perbaikan sesuai dengan tuntutan pembelajaran Kimia
  Instrumen penilaian harus memenuhi persyaratan:
1)  substansi yang merepresentasikan kompetensi yang dinilai;
2)  konstruksi yang memenuhi persyaratan teknis sesuai dengan bentuk instrumen yang digunakan; dan
3) penggunaan bahasa yang baik dan benar serta komunikatif sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik.



CONTOH-CONTOH DESAIN PENILAIAN AUTENTIK DALAM PEMBELAJARAN KIMIA

Lembar Penilaian Sikap pada Kegiatan Praktikum

Mata Pelajaran     :     Kimia
Kelas/Semester     :     XI/2
Materi                   :     Koloid


no
Nama 
disiplin
tanggung jawab
jujur
teliti
kreatif
peduli
jumlah skor
1.
A
2.
B
......
Lembar Penilaian  Kegiatan Diskusi
Mata Pelajaran                :      Kimia
Kelas/Semester                :      XI / 2
Materi                      :     Koloid

No
Nama Siswa
Kerja sama
Santun
Toleran
Responsif
Proaktif
Bijaksana
Jumlah Skor
1.
A
2.
B
...
.
Cara pengisian lembar penilaian sikap adalah dengan memberikan skor pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan terhadap peserta didik selama kegiatan yaitu:.
Skor 1 jika  tidak pernah berperilaku  dalam kegiatan 
Skor 2, jika kadang-kadang  berperilaku dalam kegiatan 
Skor 3, jika  sering berperilaku  dalam kegiatan 
Skor 4, jika selalu  berperilaku  dalam kegiatan

Rentang nilai: skor ≤ 60 = cukup
61 ≤ nilai < 80 = baik
81 ≤ nilai ≤ 100 = sangat baik

b. Penilaian Sikap melalui Penilaian Diri

Penilaian Diri
Topik:......................
Nama: ................
Kelas: ...................
Setelah mempelajari materi koloid, Anda dapat melakukan penilaian diri dengan cara memberikan tanda V pada kolom yang tersedia sesuai dengan kemampuan.

No
Pernyataan
Sudah memahami
Belum memahami
1.
Memahami pengertian koloid
2.
Memahami perbedaan antara larutan, koloid dan suspensi
3.
Memahami jenis-jenis koloid

-          Penilaian diri setelah melaksanakan suatu tugas.

Contoh format penilaian diri setelah peserta didik mengerjakan Tugas Proyek Kimia

Penilaian Diri
Tugas:............................  
Nama:..........................                                                                                        Kelas:..............................
Bacalah baik-baik setiap pernyataan dan berilah tanda V pada kolom yang sesuai dengan keadaan dirimu yang sebenarnya.

No
Pernyataan
YA
TIDAK
1
Selama   melakukan tugas kelompok saya bekerjasama dengan teman satu kelompok
2
Saya  mencatat data dengan teliti dan sesuai dengan fakta
3
Saya melakukan tugas sesuai dengan jadwal yang telah dirancang
4
Saya membuat tugas terlebih dahulu dengan membaca literatur yang mendukung tugas
5
……………………………………….

Dari penilaian diri ini Anda dapat memberi skor misalnya YA=2, Tidak =1 dan membuat rekapitulasi bagi semua peserta didik. Penilaian diri, selain sebagai penilaian sikap jujur juga dapat diberikan untuk mengukur pencapaian kompetensi pengetahuan, misalnya peserta didik diminta mengerjakan soal-soal sebelum ulangan akhir bab dilakukan dan mencocokan dengan kunci jawaban yang tersedia pada buku siswa. Berdasarkan hasilnya, diharapkan peserta didik akan belajar kembali pada topik-topik yang belum mereka kuasai. Untuk melihat hasil penilaian diri peserta didik, guru dapat membuat format rekapitulasi penilaian diri peserta didik dalam satu kelas.
Contoh.
REKAPITULASI PENILAIAN DIRI PESERTA DIDIK
Mata Pelajaran:...........................................
Topik/Materi:..............................................
  Kelas:..........................................................
No
Nama
Skor  Pernyataan  Penilaian Diri 
Jumlah
Nilai
1
2
3
.....
.....
1
A
2
B
3
.............
.......
Nilai  peserta didik dapat menggunakan rumus:

c. Penilaian Sikap melalui  Penilaian antar Peserta Didik
Penilaian sikap pada Kurikulum 2013 juga dapat diperoleh dari Penilaian Antar Peserta Didik. Penilaian ini merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk saling menilai terkait dengan pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian antarpeserta didik dalam bentuk  daftar cek dan skala penilaian. Kalimat pernyataan  dirumuskan secara sederhana, namun jelas dan tidak berpotensi munculnya penafsiran makna ganda/berbeda  dan  penilaian dapat dilakukan oleh peserta didik
Penilaian antar Peserta Didik
Mata Pelajaran      :    Kimia
Kelas/Semester     :     XI / 2
Materi                   :     Koloid

 Penilaian antar Peserta Didik
Materi :
Tanggal Penilaian:
Nama Teman yang dinilai:
Nama Penilai:
-        Amati perilaku temanmu dengan cermat selamat mengikuti pembelajaran  Kimia
-        Berikan tanda v pada kolom yang disediakan berdasarkan hasil pengamatannu.
-        Serahkan hasil pengamatanmu kepada gurumu

No
Perilaku
Dilakukan/muncul
YA
TIDAK
1.
Mau menerima pendapat teman
2.
Memaksa teman untuk menerima pendapatnya
3.
Memberi solusi terhadap pendapat yang bertentangan
4.
Mau bekerjasama dengan semua teman
5.
......................................

Pengolahan Penilaian:
1.    Perilaku/sikap  pada instrumen di atas ada yang positif (no 1. 2dan 4)  dan ada yang negatif (no 2) Pemberian skor untuk perlaku positif = 2, Tidak = 1. Untuk yang negatif  Ya = 1  dan Tidak = 2
2.    Selanjutnya  guru dapat membuat rekapitulasi  hasil penilaian menggunakan format berikut.
No
Nama
Skor Perilaku
Jumlah
Nilai
1
2
3
4
5
1
A
2
B
3
Nilai  peserta didik dapat menggunakan rumus:

d. Penilaian Sikap melalui Jurnal
Jurnal merupakan catatan pendidik di dalam dan di luar kelas yang berisi informasi hasil pengamatan tentang kekuatan dan kelemahan peserta didik yang berkaitan dengan sikap dan perilaku. Jurnal dapat memuat penilaian peserta didik terhadap aspek tertentu secara kronologis.  Kriteria jurnal:
-          Mengukur capaian kompetensi sikap yang penting.
-          Sesuai dengan kompetensi dasar dan indikator.
-          Menggunakan format yang sederhana dan mudah diisi/digunakan.
-          Dapat dibuat rekapitulasi tampilan sikap peserta didik secara kronologis.
-          Memungkinkan untuk dilakukannya pencatatan yang sistematis, jelas dan komunikatif.
-          Format pencatatan memudahkan dalam pemaknaan terhadap tampilan sikap peserta didik
-          Menuntun guru untuk mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan peserta didik.
Kelebihan yang ada pada jurnal adalah peristiwa/kejadian dicatat dengan segera. Dengan demikian, jurnal bersifat asli dan objektif dan dapat digunakan untuk memahami peserta didik dengan lebih tepat. Sementara itu, kelemahan yang ada pada jurnal adalah reliabilitas yang dimiliki rendah dan menuntut waktu yang banyak.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat jurnal adalah:
1)    Catatan atas pengamatan guru harus objektif
2)    Pengamatan dilaksanakan secara selektif, artinya yang dicatat hanyalah kejadian/peristiwa yang berkaitan dengan Kompetensi Inti.
3)    Pencatatan segera dilakukan (jangan ditunda-tunda)
4)    Setiap peserta didik memiliki Jurnal yang berbeda ( Kartu Jurnal yang berbeda)

Pedoman umum penskoran jurnal:
1)    Penskoran pada jurnal dapat dilakukan dengan menggunakan skala likert. Sebagai contoh skala 1 sampai dengan 4.
2)     Setiap aspek yang sesuai dengan indikator yang muncul pada diri peserta didik diberi skor 1, sedangkan yang tidak muncul diberi skor 0.
3)    Jumlahkan skor pada masing-masing aspek,skor yang diperoleh pada masing-masing aspek kemudian direratakan
4)    Nilai  Sangat Baik (SB), Baik (B), Cukup (C), dan Kurang (K) ditentukan dengan cara menghitung rata-rata skor dan membandingkan dengan kriteria penilaian

CONTOH JURNAL
Nama Peserta Didik: …………...........................................……..
Kelas:   .....................................................................................
Aspek yang diamati: ………...........................................………..

NO
HARI/TANGGAL
KEJADIAN
KETERANGAN/
TINDAK LANJUT
1.
A
2.
B

Penilaian Pengetahuan
Indikator
:
Menganalisis perbedaan larutan, koloid dan suspensi
Soal
:
Kalian dengan teman-temanmu akan menyelidiki perbedaan larutan, koloid dan suspensi, coba jawablah pertanyaan berikut 
a.       Uraikan langkah identifikasi koloid beserta hasil percobaan
b.      Uraikan langkah identifikasi larutan dan suspensi  beserta hasil percobaan
c.       Bagaimana sifat-sifat koloid ?

No.
Jawaban
Skor
2.a
Uraian prosedur lengkap beserta hasil percobaan koloid
10
Uraian prosedur lengkap tanpa hasil percobaan koloid
5
Hanya hasil percobaan koloid
2
2.b
Uraian prosedur lengkap beserta hasil percobaan larutan dan suspensi
10
Uraian prosedur lengkap tanpa hasil percobaan larutan dan suspensi
5
Hanya hasil percobaan larutan dan suspensi
2
2.c
Penjelasan konsep koloid
6
Menjelaskan hasil percobaan koloid
15
Sifat-sifat koloid
5
Skor Maksimal
60

       Permasalahan :
1.   Kurikulum 2013 menitikberatkan pada kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Sebagai bagian dari kurikulum 2013, penilaian otentik sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor dan komponen yang ada di dalamnya.namun disini guru mempunyai posisi yang sentral dalam menentukan keberhasilan dan kegagalan dalam pembelajaran. Apakah faktor dan komponen yang mempengaruhi penilaian otentik dalam proses pembelajaran ?
2.  seberapa penting peran penilaian otentik dalam mengukur tingkat ketercapaian  proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan ?
3.   Apakah cocok penilaian yang saya buat untuk materi koloid ? Berikan saran anda!





14 komentar:

  1. Menanggapi pertanyaan pertama, Melaksanakan penilaian autentik bukanlah sesuatu yang gampang untuk dilaksanakan. Penilaian autentik akan bermanfaat bagi guru dan siswa dalam meningkatkan kompetensi siswa, jika nilai yang diperoleh dari penilaian itu dilandasi oleh faktor-faktor yang menyebabkan siswa memperoleh nilai tersebut. Faktor-faktor tersebut harus kita ketahui. Jika guru hanya asal melaksanakan penilaian autentik tanpa memperhatikan faktor-faktor penyebabnya, penilaian tersebut merupakan penilaian yang hampa, karena penilaian itu tidak dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki pembelajaran atau membantu siswa yang lemah dan guru tidak dapat menjelaskan mengapa nilai autentik siswa naik atau turun.
    Sebagai contoh :
    Pada penilaian sikap, sikap siswa dapat berubah meningkat atau menurun bergantung pada faktor-faktor yang mempengaruhinya pada saat dinilai, jika kita ingin menilai sikap siswa, kita harus mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan sikap itu. Jika kita tidak mengetahui faktor-faktor tersebut, kita melakukan penilaian autentik yang tidak bermakna dan tidak bermanfaat.

    BalasHapus
  2. untuk pertanyaan kedua menurut saya penilaian otentik ini sangat penting digunakan karena hasil yang didapat lebih spesifik dan dapat disimpulkan secara keseluruhan

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya sependapat dengan rina, menambahkan Penilaian autentik mencakup tiga ranah hasil belajar yaitu ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Terminologi autentik merupakan sinonim dari asli, nyata atau sebenarnya, valid, atau reliabel.

      Hapus
    2. Saya sepenfapat, tentu penilaian ini sangat penting,
      Karna disinilah kita melihat ketercapaian kemampuan peserta dididk kita, yg dapat tergambar melalui penilaian ketiga aspek tersebut.

      Hapus
    3. penilaian otetentik untuk ketiga aspek yang dinilai yakni afektif, psikomotor dan kognitif sangatlah perlu dilakukan. namun pelaksanaannya tidak lah boleh terlepas dari apa tujuan awal dari penilaian itu dilakukan, penggunaan instrumennnya harusla jelas.

      Hapus
  3. Saya sependapat dengan rina dan tri dimana penilaian otentik sangatlah penting, karena mencakup tiga ranah hasil belajar seperti yang di katakan saudari tri,,
    Dimana dalam mengimplementasikan penilaian autentik yang baik dapat dimulai dengan mengidentifikasi standar kompetensi yang harus dimiliki oleh peserta didik yang diambil dari standar isi kurikulum yang digunakan. Standar tersebut akan menjadi acuan dalam melaksanakan pembelajaran dan dalam melakukan penilaian. Sehingga hasil penilaian autentikdapat menggambarkan kualitas pendidikan berdasarkan proses pembelajaran yang dilakukan.

    BalasHapus
  4. menjawab pertanyaan yang kedua, seberapa penting peran penilaian otentik dalam mengukur tingkat ketercapaian proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan ?
    menurut saya sangat penting, semua aspek penting dan dituntut penilaiannya di dalam kurikulum sekarang yaitu kurikulum 2013. Dalam berbagai artikel telah jelas menyebutkan bahwa Kurikulum 2013 menitikberatkan pada kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Ketiga komponen tersebut secara eksplisit dinyatakan dalam kompetensi inti yang harus dimiliki siswa.jika harus dimiliki siswa yang artinya harus dan penting juga dilakukan penilaian dari ketiga aspek tersebut, karena tercapainya proses belajar yang telah dilaksanakan bisa terlihat dengan adanya evaluasi atau penilaian secara keseluruhan, bukan hanya salah satu sisi aspek saja. dan yang kita ketahui penilaian autentik (Authentic Assessment) memang pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju dengan kak melda dimana penilaian autentik memiliki peran yang sangat penting. Karena di dalam kurikulum 2013 siswa harus menguasai ketiga aspek sikap, keterampilan, dan pengetahuan sehingga dengan adanya penilaian autentik ini, dapat menilai dengan mencakup keseluruhan aspek pembelajaran seperti sikap, pengetahuan, dan keterampilan lalu tidak hanya satu aspek saja. Penilaian autentik (Authentic Assessment) memang pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan.

      Hapus
  5. Untuk seberapa pentingnya penilaian otentik tentu sangat penting dilakukan. Karena dalam kurikulum 2013 sudah memamg menerapkan 3 aspek. Yaitu kognitif afektif dan psikomotor.

    BalasHapus
  6. seberapa pentingkah peran penilaian otentik dalam mengukur tingkat keberhasilan kegiatan belajar mengajar yang telah dilaksanakan?
    Menurut Diane Hart, dalam pengantar yang sangat baik pada : A Handbook untuk Pendidik menyatakan berbagai kelebihan penggunaan penilaian otententik, yaitu:
    1. Siswa berperan aktif dalam proses penilaian. Pada fase ini dapat mengurang rasa cemas, takut mendapatkan nilai jelek yang dapat menggganggu harga dirinya.
    2. Penilaian autentik berhasil digunakan dengan siswa dari berbagai latar belakang budaya, gaya belajar, dan kemampuan akademik.
    3. Tugas yang digunakan dalam penilaian otentik lebih menarik dan mencerminkan kehidupan sehari-hari siswa.
    4. Sikap yang lebih positif terhadap sekolah dan belajar dapat berkembang.
    5. Penilaian otentik mempromosikan pendekatan yang lebih berpusat pada siswa untuk mengajar.
    6. Guru memegang peran lebih besar dalam proses penilaian selain melalui program pengujian tradisional. keterlibatan ini lebih mungkin untuk memastikan proses evaluasi mencerminkan tujuan dan sasaran program.
    7. penilaian otentik menyediakan informasi yang berharga kepada guru pada kemajuan siswa serta keberhasilan instruksi.
    8. Orang tua akan lebih mudah memahami penilaian otentik dari persentil abstrak, perangkingan, dan pengukuran lain tes standar.
    9. penilaian autentik baru untuk kebanyakan siswa. Mereka mungkin curiga pada awalnya, tahun pengkondisian dengan paper tes,, mencari jawaban yang benar tunggal, tidak mudah dibatalkan.
    10. penilaian otentik memerlukan cara baru untuk merasakan bahwa dia sedang belajar dan dievaluasi.
    11. Peran guru juga berubah. Tugas khusus, baik dalam bentuk pekerjaan maupun dalam bentuk pengasaan pengetahuan dan keterampilan haru harus diidentifikasi secara jelas di awal.
    12. Dengan cara itu maka siswa dapat memulai sesuatu yang berbaik skala kecil dan dari awal.

    BalasHapus
  7. Penilaian otentik ini sangat penting karena pada penilaian secara otentik dapat menghilangkan tekanan belajar yang berpedoman pada penilaian kognitif saja. pada penilaian otentik tidak hanya mengukur kognitif siswa saja namun juga mengukur afektif dan psikomotor siswa. Sehingga proses pembelajaran menjadi menyenangkan.

    BalasHapus
  8. saya akan mencoba menjawab pertanyaan fero yakni Apakah faktor dan komponen yang mempengaruhi penilaian otentik dalam proses pembelajaran ?

    menurut saya faktor dan komponen yang penting dalam proses menilai secara otentik yakni dengan melihat situasi dan kondisi siswa maka guru harus cakap dalam merencanakan/menyusun sebuah format penilaian siswa yang reliabel dan valid sehingga hasil penilaian objektif dan dapat digunakan sebagai acuan, disamping itu penilaian otentik haruslah mencakup 3 aspek pokok yang ketiga-tiganya harus dinilai dengan baik yakni aspek afektif, kognitif maupun psikomotor.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sependapat dengan rini bahwa faktor dan komponen yang penting dalam proses menilai secara otentik yakni dengan melihat situasi dan kondisi siswa maka guru harus cakap dalam merencanakan/menyusun sebuah format penilaian siswa yang reliabel dan valid sehingga hasil penilaian objektif dan dapat digunakan sebagai acuan, disamping itu penilaian otentik haruslah mencakup 3 aspek pokok yang ketiga-tiganya harus dinilai dengan baik yakni aspek afektif, kognitif maupun psikomotor. Artinya, agar penilaian otentik benar benar terlaksana dengan baik, guru harus mampu melihat karakteristik siswa dan mata pelajaran

      Hapus
  9. menurut pendapat saya untuk menjawab permaslaahan nomor satu yaitu mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi penilaian otentik dalam proses pembelajaran diantaranya (1) guru kurang memahami materi, (2) guru kurang menguasai kelas, (3) guru enggan menggunakan alat peraga dalam mengajar, (4) guru kurang
    mampu memotivasi peserta didik dalam belajar, (5) guru menyamaratakan kemampuan peserta didik di dalam menyerap pelajaran, (6) guru kurang disiplin dalam mengatur waktu, (7) guru enggan membuat persiapan mengajar, (8) guru tidak mempunyai kemajuan untuk menambah atau menimba ilmu, (9) guru kurang terampil mengajukan pertanyaan kepada peserta didik, dan (10) guru selalu mengutamakan pencapaian
    target kurikulum

    BalasHapus