Perkembangan dalam dunia pendidikan abad 21 harus
sejalan dengan perkembangan teknologi,
sosial, ekonomi dan politik. Hal ini berpengaruh bagi perubahan kebutuhan warga
negara, pelajar, guru, pemerintah, sumber informasi, pengetahuan, dan
sebagainya. Oleh karena itu, dibutuhkan model desain pembelajaran yang berpusat
pada siswa dan pengembangan literasi baru dalam pendidikan sains. Aspek penting
dari model desain pembelajaran ini adalah untuk membimbing guru dalam: (a)
mengubah praktek mengajar mereka ke arah yang berpusat pada siswa, dan (b)
mengintegrasikan penggunaan teknologi pendidikan yang efektif dalam praktek
belajar-mengajar mereka. Kedua aspek penting tersebut terkandung dalam Model
Desain Pembelajaran Rase yang menekankan kepada empat komponen pembelajaran,
yakni: Resources (sumber daya), Activity (kegiatan), Support (dukungan) dan Evaluation (evaluasi).
Selain itu, model ini digunakan untuk menekankan
pentingnya konsep pembelajaran dalam pendidikan sains. Masalah yang sering
muncul dalam pendidikan dan sains adalah siswa tidak didukung oleh pengalaman
yang memadai dan sumber daya yang memadai dalam kegiatan pembelajaran untuk
memungkinkan pengembangan pengetahuan konseptual yang diperlukan untuk memahami
dan berpikir dalam ilmu. Guru sering berkonsentrasi pada pengajaran fakta,
mengekspos siswa untuk di formasi yang mereka butuhkan untuk mengingat (sebagai
subjek pemahaman yang mendalam) mempersiapkan pada hasil ujian dan tugas-tugas
penilaian lainnya. Pendidik sains perlu fokus pada mendukung siswa untuk
mengembangkan basis yang cukup pengetahuan konseptual yang diperlukan tidak
hanya untuk masalah berpikir dan pemecahan, tetapi juga untuk menetapkan
keputusan, dan merancang, rekayasa dan menerapkan teknologi.
Semakin berkembangnya teknologi dunia, menggiring
siswa pada pendekatan saintifik. Sehingga secara otomatis konten kurikuler akan
berkembang terus bersama dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Oleh karena itu, diperlukan solusi yang akan mempromosikan cara belajar siswa
pada tingkat pemahaman konseptual yang lebih dalam dan dengan waktu yang lebih
efisien.
Model
Pedagogic RASE
Model Desain Pembelajaran RASE dapat
dilihat dari dua perspektif: (1) instruksional dan (2) pembelajaran. Dari
perspektif instruksional, model ini akan membantu guru dalam mengembangkan
pendekatan yang berpusat pada siswa serta berbasis teknologi pendidikan. Dari
perspektif pembelajaran, model ini mendukung siswa untuk belajar konten
disiplin dan mengembangkan keahlian baru. Model ini dibangun berdasarkan dasar
teoritis penting dan menjelaskan konsep-konsep.
Constructivist learning environment atau Lingkungan belajar
konstruktivis (Jonassen, 1999). Dalam pandangan ini, pembelajaran harus diatur
dalam kegiatan-kegiatan dan terjadi dalam suatu lingkungan yang mendukung
konstruksi pengetahuan, karena bertentangan dengan transmisi pengetahuan.
Konstruksi pengetahuan adalah proses di mana siswa secara individu membangun
pemahaman mereka tentang isi kurikulum berdasarkan eksplorasi, keterlibatan
sosial, pengujian pemahaman dan pertimbangan berbagai perspektif.
Menggarisbawahi lingkungan belajar konstruktivis adalah Activity Theory,
pada awalnya diusulkan oleh Lev Vygotsky (1978) dan para pengikutnya seperti
Leont'ev (1978), dan diartikulasikan dalam kerangka yang lebih spesifik oleh
para ahli lain seperti Engeström (1987). Teori aktivitas ini menentukan
komponen yang spesifik berupa aktivitas dalam sistem yang penting untuk
dipertimbangkan dalam perencanaan, pengelolaan dan memfasilitasi kinerja dalam
pembelajaran, seperti memahami secara spesifik suatu kegiatan, serta
media-media yang digunakan.
Problem solving atau penyelesaian masalah
(Jonassen, 2000). Untuk Jonassen, belajar dapat dikatakan efektif ketika
terjadi dalam konteks suatu kegiatan yang melibatkan siswa untuk mampu
memecahkan masalah secara terstruktur, masalah otentik, kompleks dan dinamis.
Jenis masalah berbeda-beda secara signifikan dari yang logis, terstruktur
dengan baik dan dengan solusi tunggal. Masalah jenis ini termasuk
fenomena, studi kasus, strategi pengambilan keputusan dan desain, yang semuanya
memerlukan peserta didik untuk terlibat dalam pemikiran yang mendalam,
pemeriksaan beberapa kemungkinan, penyebaran berbagai perspektif teoritis,
menggunakan media, penciptaan produk, dan eksplorasi solusi yang memungkinkan.
Siswa belajar dengan memecahkan masalah kompleks daripada menyerap aturan dan
prosedur siap pakai.
Engaged learning atau Pembelajaran yang sedang dipakai (
Dwyer et al., 1985-1998). Dwyer, Ringstaff dan Sand- Holtz melakukan studi
longitudinal untuk menyelidiki pengadopsian yang paling efektif dari teknologi
Apple dalam lingkungan belajar yang berpusat pada siswa (yaitu, Apple Kelas of
Tomorrow). Para ahli ini berpendapat bahwa teknologi harus berfungsi sebagai
media untuk belajar, yang mendukung keterlibatan dalam kegiatan, kolaborasi dan
pembelajaran yang mendalam. Pusat pekerjaan mereka adalah konsep 'pergeseran
pembelajaran, yang penting dalam membuat siswa lebih aktif dalam pembelajaran
dan penggunaan teknologi.
Problem-based learning (PBL) atau pembelajaran berbasis
masalah ( Savery & Duffy, 1995). Savery dan Duffy mengusulkan PBL sebagai
model desain yang optimal untuk belajar yang berpusat pada siswa. Seiringan
dengan hal tersebut, PBL dibangun berdasarkan filosofi konstruktivis dan
pembelajaran cenderung pada suatu proses konstruksi pengetahuan dan sosial.
Salah satu gambaran dari PBL adalah bahwa siswa aktif bekerja pada hubungan
aktivitasyang otentik dengan lingkungan di mana mereka akan secara alami
diterapkan, yaitu, siswa mengkonstruksi pengetahuan dalam konteks yang
mengkonstruk kembali di mana mereka akan menggunakan pengetahuan itu.
Kreativitas, berpikir kritis, metakognisi, negosiasi sosial, dan kolaborasi
dari semua dianggap sebagai komponen penting dari proses PBL. Salah satu
karakteristik kunci dari PBL adalah bahwa guru bukan sebagai satu-satunya
sumber pengetahuan, tetapi juga harus berfokus pada perintah metakognitif.
Rich environments for active learning atau Lingkungan pembelajaran
aktif/Pembelajaran aktif berbasis lingkungan ( Grabinger & Dunlap, 1997).
ILAR, Savery dan Duffy, Grabinger dan Dunlap mengusulkan PBL sebagai intervensi
pendidikan yang efektif. Namun, dalam pendekatan mereka perhatian lebih lanjut
diberikan kepada konteks lingkungan di mana PBL terjadi, mengingat aspek lebih
lanjut dari komponen dan kompleksitas bahwa kegiatan seperti memang dibutuhkan.
Secara khusus, penekanan ditempatkan pada bagaimana membuat siswa lebih
bertanggung jawab, bersedia untuk memberikan inisiatif, reflektif dan
kolaboratif dalam konteks belajar yang dinamis, otentik dan generatif.
Pendekatan ini juga menekankan pentingnya pengembangan keterampilan belajar
sepanjang hayat.
Technology-based learning environments and conceptual
change atau
Lingkungan pembelajaran berbasis teknologi dan perubahan konseptual ( Vosniadou
et al., 1995). Dalam pandangan ini, peran sentral teknologi adalah untuk
mendukung siswa dalam perubahan konseptual dan konsep belajar daripada transfer
pengetahuan sederhana. Siswa membangun model mental dan representasi internal
lainnya melalui upaya untuk menjelaskan dunia luar. Siswa sering membawa
kesalahpahaman sebelum situasi belajar. Oleh karena itu, instruksi seharusnya
dirancang untuk memperbaiki kesalahpahaman tersebut. Teknologi akan dirancang
tidak hanya presentasi representasi eksternal yang efektif dari pengetahuan
konseptual, tetapi juga eksternalisasi representasi internal sehingga guru
dapat memperoleh wawasan pengetahuan dan pemahaman siswa. Mengambil lebih
perspektif konstruktif, teknologi dan representasi akan menempatkan peran
tertentu dalam kegiatan pembelajaran.
Interactive learning environments atau Lingkungan
interaktif pembelajaran (Harper & Hedberg, 1997; Oliver, 1999). Dalam
rangka untuk melayani kompleksitas diperlukan untuk belajar, Oliver mengusulkan
bahwa modul pembelajaran harus mengandung sumber daya, tugas dan dukungan. Agar
pembelajaran terarah, harus melibatkan tugas siswa untuk menentukan tujuan
spesifik sumber daya. Peran guru adalah untuk mendukung pembelajaran.
Komponen-komponen yang terintegrasi akan menyebabkan interaktivitas penting
agar pembelajaran dapat terjadi. Harper dan Hedberg sangat menekankan filsafat
konstruktivis, dan berpendapat bahwa teknologi itu sendiri harus menyediakan
sebuah lingkungan di mana peserta didik dapat berkolaborasi dengan media dan
satu sama lain. Mirip dengan Jonassen (2000), Hedberg mendukung pendekatan
berbasis masalah sebagai intervensi pendidikan yang paling efektif. Meskipun
perspektif ini dirintis pada tahap awal adopsi multitafsir media, pendidikan
dan pengembangan perangkat lunak.
Collaborative knowledge building atau membangun kolaborasi pengetahuan
( Bereiter & Scardamalia, di tekan). Konstruksi pengetahuan adalah
konstruksi teoritis yang dikembangkan oleh Bereiter dan Scardamalia untuk
memberikan interpretasi dari apa yang dibutuhkan dalam konteks kegiatan
pembelajaran kolaboratif. Pengetahuan pribadi dipandang sebagai fenomena
diamati secara internal dan satu-satunya cara untuk mendukung pembelajaran dan
memahami apa yang sedang terjadi yakni untuk berurusan dengan pengetahuan
masyarakat disebut (yang mewakili apa sebuah komunitas pelajar tahu).
pengetahuan masyarakat ini tersedia untuk memperluas kinerja siswa dan
memodifikasinya melalui wacana, negosiasi, dan ide-ide kolektif.
Situated learning atau situasi pembelajaran (Brown
et al., 1989). Brown dan koleganya membangun perspektif Teori Kegiatan untuk
menekankan peran sentral suatu kegiatan dalam belajar. Kegiatan adalah di mana
pengetahuan konseptual dikembangkan dan digunakan. Dikatakan bahwa situasi ini
menghasilkan pembelajaran dan kognisi. Dengan demikian, kegiatan, media-media
dan pembelajaran tidak harus dianggap sebagai terpisah. Belajar adalah suatu
proses enkulturasi dimana siswa menjadi akrab dengan penggunaan media-media
kognitif dalam konteks kinerja pada suatu kegiatan yang otentik. Kedua
aktivitas dan bagaimana media ini digunakan khusus untuk budaya praktek. Konsep
tidak hanya terletak dalam suatu kegiatan, tetapi secara progresif dikembangkan
melalui hal tersebut, dibentuk oleh makna yang ada, budaya dan keterlibatan
sosial. Dalam istilah Vygotsky, konsep memiliki sejarah, baik pribadi dan
budaya. Konsep hanya dapat dipahami dan dipelajari pada tingkat pribadi melalui
penggunaan mereka dalam sebuah aktivitas. Penggunaan media aktif dan interaksi
antara media dan kegiatan mengarah ke peningkatan dan selalu berubah pemahaman
dari kedua kegiatan dan konteks penggunaan media, dan media itu sendiri.
Penggunaan media mungkin berbeda antara komunitas yang berbeda dari praktek,
jadi belajar bagaimana menggunakan media khusus untuk masyarakat adalah suatu
proses enkulturasi. Bagaimana media yang digunakan mencerminkan bagaimana
masyarakat melihat dunia. Konsep ini juga memiliki sejarah mereka sendiri dan
produk dari perkembangan sosial budaya dan pengalaman anggota dari Tengoklah
praktek. Dengan demikian, Brown dan koleganya sangat menyarankan bahwa
aktivitas, konsep dan budaya saling bergantung, bahwa “budaya dan penggunaan
media menentukan cara praktisi melihat dunia, dan cara menghadirkan dunia
kepada mereka menentukan pemahaman budaya tentang dunia dan media. Untuk
belajar menggunakan media sebagai praktisi menggunakannya, mahasiswa, harus
memasukkannya kedalam masyarakat dan budaya”. Oleh karena itu, belajar adalah
proses enkulturasi, dimana siswa belajar untuk menggunakan media konseptual
domain dalam suatu aktivitas otentik.
Inquiry-based learning supported by technology (Pembelajaran berbasis inquiry
didukung oleh teknologi).Bekerja di bawah konsep umum ini termasuk
berorientasi praktis kerangka kerja dan pedoman desain untuk membangun modul
pembelajaran berbasis teknologi. Ini termasuk pendekatan seperti Quest Atlantis
(Barab et al., 2005), Micro Pelajaran (Divaharan & Wong, 2003), Pelajaran
Aktif (Churchill, 2006), dan Web Quest (Dodge, 1995). Mirip dengan karya
teoritis yang dibahas sebelumnya, pendekatan ini mengangkat pentingnya kegiatan
belajar sebagai intervensi pendidikan efektif. Belajar dimulai dengan
penyelidikan atau masalah (didukung dengan presentasi multimedia) yang
disajikan kepada siswa dengan cara yang menarik. Para siswa kemudian ditugaskan
untuk tugas (s), disediakan dengan template untuk membantu mereka dalam
penyelesaian tugas (s), diarahkan ke berbasis Web dan sumber daya lainnya untuk
membantu mereka dan media-media kolaborasi seperti platform diskusi. Paling
sering, siswa menggunakan media berbasis teknologi dalam menyelesaikan
tugas-tugas mereka dan diarahkan untuk menyerahkan hasil melalui sarana elektronik.
Sebagai model desain, pendekatan ini membuat langkah signifikan dalam
mengarahkan guru untuk menjauh dari, penggunaan teknologi tradisional,
konten-driven berpusat pada guru. Apa yang dapat diamati dari ide-ide ini
adalah kegiatan yang dan pengetahuan konseptual adalah pusat untuk belajar.
Berdasarkan model-model tual teoritis dan mengkonsep, kami mengembangkan model
Desain Pembelajaran Rase sebagai media penting untuk mendukung
kegiatan perencanaan instruksional.
Ide utama di balik RASE adalah konten
yang sumber tidak cukup untuk pencapaian penuh hasil belajar. Selain sumber
daya, guru perlu mempertimbangkan hal berikut:
Kegiatan bagi
siswa untuk terlibat dalam penggunaan sumber daya dan kinerja pada tugas-tugas
seperti eksperimen dan memecahkan masalah melalui pengalaman terhadap hasil
belajar masalah.
Dukungan untuk
memastikan bahwa siswa diberikan bantuan, dan jika mungkin dengan media untuk
secara mandiri atau bekerja sama dengan siswa lain, memecahkan kesulitan yang
muncul.
Evaluasi untuk
menginformasikan para siswa dan guru tentang kemajuan dan untuk melayani
sebagai media untuk memahami apa lagi yang perlu dilakukan dalam rangka untuk
memastikan hasil belajar yang dicapai.

Untuk mampu mengembangkan pembelajaran abad 21 ini ada
beberapa hal yang penting untuk diperhatikan yaitu antara lain :
1.
Tugas Utama Guru Sebagai Perencana Pembelajaran
Sebagai
fasilitator dan pengelola kelas maka tugas guru yang penting adalah dalam
pembuatan RPP. RPP haruslah baik dan detil dan mampu menjelaskan semua proses
yang akan terjadi dalam kelas termasuk proses penilaian dan target yang ingin
dicapai. Dalam menyusun RPP, guru harus mampu mengkombinasikan antara target
yang diminta dalam kurikulum nasional, pengembangan kecakapan abad 21 atau
karakter nasional serta pemanfaatan teknologi dalam kelas.
2.
Masukkan unsur Berpikir Tingkat Tinggi (Higher Order Thinking)
Teknologi
dalam hal ini khususnya internet akan sangat memudahkan siswa untuk memperoleh
informasi dan jawaban dari persoalan yang disampaikan oleh guru. Untuk
permasalahan yang bersifat pengetahuan dan pemahaman bisa dicari solusinya
dengan sangat mudah dan ada kecenderungan bahwa siswa hanya menjadi pengumpul
informasi. Guru harus mampu memberikan tugas di tingkat aplikasi, analisa,
evaluasi dan kreasi, hal ini akan mendorong siswa untuk berpikir kritis dan
membaca informasi yang mereka kumpulkan sebelum menyelasikan tugas dari
guru.
3.
Penerapan pola pendekatan dan model pembelajaran yang bervariasi
Beberapa
pendekatan pembelajaran seperti pembelajaran berbasis proyek (Project Based
Learning), pembelajaran berbasis keingintahuan (Inquiry Based Learning) serta
model pembelajaran silang (jigsaw) maupun model kelas terbalik (Flipped
Classroom) dapat diterapkan oleh guru untuk memperkaya pengalaman belajar siswa
(Learning Experience). Satu hal yang perlu dipahami bahwa siswa harus mengerti
dan memahami hubungan antara ilmu yang dipelajari di sekolah dengan kehidupan
nyata, siswa harus mampu menerapkan ilmunya untuk mencari solusi permasalahan
dalam kehidupan nyata.
4.
Integrasi Teknologi
Sekolah
dimana siswa dan guru mempunyai akses teknologi yang baik harus mampu
memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran, siswa harus terbiasa bekerja
dengan teknologi seperti layaknya orang yang bekerja. Seringkali guru
mengeluhkan mengenai fasilitas teknologi yang belum mereka miliki, satu hal
saja bahwa pengembangan pembelajaran abad 21 bisa dilakukan tanpa unsur
teknologi, yang terpenting adalah guru yang baik yang bisa mengembangkan proses
pembelajaran yang aktif dan kolaboratif, namun tentu saja guru harus berusaha
untuk menguasai teknologinya terlebih dahulu. Hal yang paling mendasar yang
harus diingat bahwasannya teknologi tidak akan menjadi alat bantu yang baik dan
kuat apabila pola pembelajarannya masih tradisional. Dirumuskan empat
prinsip yang dikenal sebagai empat pilar pendidikan yaitu learning to know,
lerning to do, learning to be dan learning to live together. Kerangka pemikiran
ini dirasa masih relevan dengan kepentingan pendidikan saat ini dan dapat
dikembangkan sesuai dengan keperluan di abad ke-21 (Scott, 2015b). Pada bagian
berikut dijelaskan sekilas tentang kompetensi dan keterampilan sesuai empat
pilar pendidikan yang terdapat pada Delors Report.
Learning
to Know
Belajar
mengetahui merupakan kegiatan untuk memperoleh, memperdalam dan memanfaatkan
materi pengetahuan. Penguasaan materi merupakan salah satu hal penting bagi
siswa di abad ke-21. Siswa juga harus memiliki kemauan untuk belajar sepanjang
hayat. Hal ini berarti siswa harus secara berkesinambungan menilai kemampuan
diri tentang apa yang telah diketahui dan terus merasa perlu memperkuat
pemahaman untuk kesuksesan kehidupannya kelak. Siswa harus siap untuk selalu
belajar ketika menghadapi situasi baru yang memerlukan keterampilan baru.
Pembelajaran di abad ke-21 hendaknya lebih menekankan pada tema pembelajaran
interdisipliner. Empat tema khusus yang relevan dengan kehidupan modern adalah:
1) kesadaran global; 2) literasi finansial, ekonomi, bisnis, dan kewirausahaan;
3) literasi kewarganegaraan; dan 4) literasi kesehatan. Tema-tema ini perlu
dibelajarkan di sekolah untuk mempersiapkan siswa menghadapi kehidupan dan
dunia kerja di masa mendatang dengan lebih baik.
Learning
to Do
Agar
mampu menyesuaikan diri dan beradaptasi dalam masyarakat yang berkembang sangat
cepat, maka individu perlu belajar berkarya. Siswa maupun orang dewasa
sama-sama memerlukan pengetahuan akademik dan terapan, dapat menghubungkan
pengetahuan dan keterampilan, kreatif dan adaptif, serta mampu
mentrasformasikan semua aspek tersebut ke dalam keterampilan yang
berharga.
Keterampilan
berpikir kritis Keterampilan ini merupakan
keterampilan fndamental pada pembelajaran di abad ke-21. Keterampilan berpikir
kritis mencakup kemampuan mengakses, menganalisis, mensintesis informasi yang
dapat dibelajarkan, dilatihkan dan dikuasai (P21, 2007a; Redecker et al 2011).
Keterampilan berpikir kritis juga menggambarkan keterampilan lainnya seperti
keterampilan komunikasi dan informasi, serta kemampuan untuk memeriksa,
menganalisis, menafsirkan, dan mengevaluasi bukti. Pada era literasi
digital dimana arus informasi sangat berlimpah, siswa perlu memiliki kemampuan
untuk memilih sumber dan informasi yang relevan, menemukan sumber yang
berkualitas dan melakukan penilaian terhadap sumber dari aspek objektivitas,
reliabilitas, dan kemutahiran.
Kemampuan
menyelesaikan masalah Keterampilan
memecahkan masalah mencakup keterampilan lain seperti identifikasi dan
kemampuan untuk mencari, memilih, mengevaluasi, mengorganisir, dan
mempertimbangkan berbagai alternatif dan menafsirkan informasi. Seseorang harus
mampu mencari berbagai solusi dari sudut pandang yang berbeda-beda, dalam
memecahkan masalah yang kompleks. Pemecahan masalah memerlukan kerjasama tim,
kolaborasi efektif dan kreatif dari guru dan siswa untuk dapat melibatkan
teknologi, dan menangani berbagai informasi yang sangat besar jumlahnya, dapat
mendefinisikan dan memahami elemen yang terdapat pada pokok permasalahan,
mengidentifikasi sumber informasi dan strategi yang diperlukan dalam mengatasi
masalah. Pemecahan masalah tidak dapat dilepaskan dari keterampilan berpikir kritis
karena keterampilan berpikir kritis merupakan keterampilan fundamental dalam
memecahkan masalah. Siswa juga harus mampu menerapkan alat dan teknik yang
tepat secara efektif dan efisien untuk menyelesaikan permasalahan.
Komunikasi
dan kolaborasi Kemampuan komunikasi yang baik
merupakan keterampilan yang sangat berharga di dunia kerja dan kehidupan
sehari-hari. Kemampuan komunikasi mencakup keterampilan dalam menyampaikan
pemikiran dengan jelas dan persuasif secara oral maupun tertulis, kemampuan menyampaikan
opini dengan kalimat yang jelas, menyampaikan perintah dengan jelas, dan dapat
memotivasi orang lain melalui kemampuan berbicara. Kolaborasi dan kerjasama tim
dapat dikembangkan melalui pengalaman yang ada di dalam sekolah, antar sekolah,
dan di luar sekolah (P21, 2007a). Siswa dapat bekerja bersama-sama secara
kolaboratif pada tugas berbasis proyek yang autentik dan mengembangkan
keterampilannya melalui pembelajaran tutor sebaya dalam kelompok. Pada dunia
kerja di masa depan, keterampilan berkolaborasi juga harus diterapkan ketika
menghadapi rekan kerja yang berada pada lokasi yang saling berjauhan.
Keterampilan komunikasi dan kolaborasi yang efektif disertai dengan
keterampilan menggunakan teknologi dan sosial media akan memungkinkan
terjadinya kolaborasi dengan kelompok-kelompok internasional.
Kreativitas dan inovasi Pencapaian kesuksesan profesional dan personal, memerlukan keterampilan berinovasi dan semangat berkreasi. Kreativitas dan inovasi akan semakin berkembang jika siswa memiliki kesempatan untuk berpikir divergen. Siswa harus dipicu untuk berpikir di luar kebiasaan yang ada, melibatkan cara berpikir yang baru, memperoleh kesempatan untuk menyampaikan ide-ide dan solusi-solusi baru, mengajukan pertanyaan yang tidak lazim, dan mencoba mengajukan dugaan jawaban. Kesuksesan individu akan didapatkan oleh siswa yang memiliki keterampilan kreatif. Individu-individu yang sukses akan membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik bagi semuanya.
Literasi
informasi, media, dan teknologi Kerangka literasi
media terdiri atas kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan
menciptakan pesan dalam berbagai bentuk media, menciptakan suatu pemahaman dari
peranan media pada masyarakat, dan membangun keterampilan penting dari
informasi hasil penyelidikan dan ekspresi diri. Literasi media juga mencakup
kemampuan untuk menyampaikan pesan dari diri dan untuk memberikan pengaruh dan
informasi kepada orang lain.
Literasi
informasi, komunikasi, dan teknologi (ICT) Kemampuan
literasi ICT mencakup kemampuan mengakses, mengatur, mengintegrasi,
mengevaluasi, dan menciptakan informasi melalui penggunaan teknologi komunikasi
digital. Literasi ICT berpusat pada keterampilan berpikir tingkat tinggi dalam
mempertimbangkan informasi, media, dan teknologi di lingkungan sekitar. Setiap
negara hendaknya menumbuhkan secara luas keterampilan ICT pada masyarakatnya
karena jika tidak, negara tersebut dapat tertinggal dari perkembangan dan
kemajuan pengetahuan ekonomi berbasis teknologi. Terdapat beberapa keterkaitan
antara tiga bentuk literasi yang meliputi literasi komunikasi informasi, media
dan teknologi. Penguasaan terhadap keterampilan tersebut memungkinkan
penguasaan terhadap keterampilan dan kompetensi lain yang diperlukan untuk
keberhasilan kehidupan di abad ke-21 (Trilling & Fadel, 2009).
Learning
to Be
Siswa
yang memiliki kompetensi kognitif yang fundamental merupakan pribadi yang
berkualitas dan beridentitas. Siswa seperti ini mampu menanggapi kegagalan
serta konflik dan krisis, serta siap menghadapi dan mengatasi masalah sulit di
abad ke-21. Secara khusus, generasi muda harus mampu bekerja dan belajar
bersama dengan beragam kelompok dalam berbagai jenis pekerjaan dan lingkungan
sosial, dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Keterampilan
sosial dan lintas budaya Keterampilan ini
memungkinkan individu untuk berinteraksi secara efektif dengan orang lain
(misalnya mengetahui saat yang tepat untuk mendengarkan dan berbicara, dan
bagaimana memperlakukan diri secara hormat, secara profesional), bekerja secara
efektif dalam sebuah tim yang memiliki anggota beragam (misalnya menghormati
perbedaan budaya dan berkolaborasi dengan orang-orang yang berasal dari
berbagai kondisi sosial dan latar belakang budaya), berpikiran terbuka terhadap
ide-ide dan nilai-nilai yang berbeda, dan menggunakan perbedaan sosial dan
budaya untuk menghasilkan ide-ide, inovasi dan kualitas kerja yang lebih baik.
Keterampilan sosial yang baik pada anak-anak dan remaja dapat mempengaruhi
kinerja akademis mereka, sikap, hubungan sosial dan keluarga, dan keterlibatan
dalam kegiatan ekstrakurikuler. Kemampuan berempati juga termasuk keterampilan
sosial yang diharapkan tumbuh di kehidupan abad ke-21 (National Research
Council, 2012; P21, 2007a).
Tanggung
jawab pribadi, pengaturan diri, dan inisiatif Tingginya
tingkat interaksi dan kerja sama tim dalam lingkungan kerja di abad ke-21
diharapkan dapat diantisipasi dengan meningkatkan kualitas pribadi siswa. Siswa
yang mandiri bertanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri dan bersedia
meningkatkan kemampuan sepanjang kariernya. Siswa mandiri paham bahwa semangat
belajar adalah kemampuan dasar yang akan membuat mereka berhasil di tempat
kerja. Kemampuan beradaptasi adalah kemampuan untuk menanggapi perubahan
kondisi ekonomi dan pasar serta menguasai keterampilan baru dengan cepat.
Kemampuan ini merupakan salah satu dari tiga kompetensi yang paling dibutuhkan
di dunia kerja abad ke-21. Hal penting lainnya adalah fleksibilitas dalam
berbagai pengaturan kerja dan sosial dan menunjukkan inisiatif, ketangkasan
mental dan rasa ingin tahu, yang dapat diwujudkan dengan beragam teknologi
berbasis web yang tersedia.
Keterampilan
berpikir logis Generasi muda saat ini hidup di
dunia yang lebih menantang, sehingga mereka perlu mengembangkan kemampuan
berpikir logis terhadap isu-isu global yang kompleks dan penting. Mereka harus
siap untuk mengatasi berbagai masalah, termasuk konflik manusia, perubahan
iklim, kemiskinan, penyebaran penyakit dan krisis energi. Sekolah harus
menyediakan berbagai peluang, bimbingan dan dukungan agar siswa memahami peran
dan tanggung jawabnya di dunia nyata, serta mengembangkan kompetensi yang
memungkinkan mereka untuk memahami situasi dan lingkungan baru.
Keterampilan
metakognitif Metakognisi didefinisikan sebagai
'thinking about thinking'. Seseorang yang memiliki pengetahuan metakognitif
berarti menyadari berapa banyak mereka memahami topik pembelajaran dan
faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman mereka. Keterampilan metakognitif
dapat meningkatkan pembelajaran dan pemahaman siswa. Beberapa langkah penting
untuk mengajarkan keterampilan metakognitif sebagai berikut: (a) ajarkan kepada
siswa bahwa belajar itu tidak terbatas jumlahnya dan kemampuan seseorang untuk
belajar dapat diubah, (b) ajarkan bagaimana menetapkan tujuan belajar dan
merencanakan pencapaiannya, dan (c) berikan siswa banyak kesempatan untuk
berlatih memantau kegiatan belajarnya secara akurat. Tanamkan pada siswa bahwa
hal-hal tersebut penting dan merupakan kebutuhan bagi siswa itu sendiri.
Kemampuan
berpikir berwirausaha Memiliki pola pikir
kewirausahaan (kemampuan untuk mengenali dan memanfaatkan peluang dan
kesanggupan untuk bertanggung jawab dan menanggung resiko), memungkinkan
seseorang untuk menciptakan lapangan kerja bagi diri mereka sendiri dan orang
lain. Oleh karena itu, siswa harus dilatih menjawab pertanyaan dan membuat
keputusan dengan cepat. Mereka juga harus dilatih untuk berpikir inventif,
mengamati dan mengevaluasi peluang dan ide-ide baru. Namun demikian, penting
untuk diperhatikan bahwa ide-ide tersebut harus bermanfaat atau berdampak
positif bagi organisasi dan komunitas tempat tinggal atau kerja.
Belajar
untuk belajar dan kebiasaan belajar sepanjang hayat Sepanjang
hidupnya, seseorang akan selalu menemukan informasi baru yang mengubah
pengetahuan yang dimilikinya. Bolstad (2011) berpendapat bahwa sekolah yang
berorientasi masa depan harus memperluas kapasitas intelektual siswa dan
memperkuat kemauan dan kemampuan mereka untuk terus belajar sepanjang hidup.
Keterampilan belajar untuk belajar, memiliki keterbukaan dan komitmen untuk
belajar seumur hidup dan mempelajari kehidupan secara lebih luas sangat
penting bagi siswa untuk beradaptasi. Kemampuan siswa untuk belajar lebih
diutamakan dibandingkan akumulasi pengetahuan.
Learning
to Live Together
Berbagai
bukti menunjukkan bahwa siswa yang bekerja secara kooperatif dapat mencapai
level kemampuan yang lebih tinggi jika ditinjau dari hasil pemikiran dan
kemampuan untuk menyimpan informasi dalam jangka waktu yang panjang dari pada
siswa yang bekerja secara individu. Belajar bersama akan memberikan kesempatan
bagi siswa untuk terlibat aktif dalam diskusi, senantiasa memantau strategi dan
pencapaian belajar mereka dan menjadi pemikir kritis.
Menghargai
keanekaragaman Peran aktif siswa membantu mereka
mengembangkan kompetensi dalam kehidupan dan bekerja bersama dalam masyarakat
yang memiliki keanekaragaman budaya dan organisasi. Mereka harus belajar bahwa
mereka tidak akan selalu dihargai, tetapi mereka harus mencari dan menggunakan
bakat dan ide-ide mereka di antara beragam siswa lainnya. Keterampilan ini
melibatkan rasa hormat dan menghargai permasalahan orang lain dan budaya yang
berbeda dari budaya mereka, sehingga mereka akan memperoleh keterampilan sosial
dan lintas budaya (Barrett et al., 2014). Hal ini juga akan membangun kesadaran
dan pengetahuan tentang perbedaan yang ada di antara individu dan masyarakat.
Lingkungan sekolah harus menawarkan kemungkinan untuk merancang kegiatan
pembelajaran yang dapat memberikan kesempatan bagi anak muda untuk menghargai,
bergaul dengan baik dan hidup berdampingan secara damai di lingkungan dengan
kebudayaan yang sangat beragam (ini merupakan keterampilan hidup abad ke-21
yang sangat dihargai). Oleh karena itu, ada kebutuhan mendesak bagi guru untuk
merancang kegiatan belajar kolaboratif dan sesuai dengan kehidupan nyata yang
dapat mengembangkan pemahaman, keterampilan dan nilai-nilai siswa.
Civic
dan digital citizenship Civic literacy
(literasi bermasyarakat) merupakan keterampilan penting, karena siswa perlu
mengetahui hak dan kewajiban warganegara di lingkup lokal, regional, dan
nasional; mengembangkan motivasi, watak dan keterampilan untuk berpartisipasi
dalam masyarakat; dan memahami dampak dari masalah kemasyarakatan secara lokal
dan global (P21, 2013). Selain hal tersebut, keterampilan abad ke-21 yang lain
adalah digital citizenship (masyarakat yang melek digital) – memahami bagaimana
cara untuk berpartisipasi secara produktif dan bertanggung jawab secara online
(P21, 2013). Hal ini penting untuk membantu siswa dalam memahami bagaimana
untuk berpartisipasi dengan cerdas dan etis sebagai warga negara yang
bertanggung jawab dalam komunitas virtual. Hal ini melibatkan pembelajaran
tentang bagaimana mengakses reliabilitas dan kualitas dari informasi yang
ditemukan dari internet dan menggunakan informasi yang diperoleh secara
bertanggung jawab (Davies, Fidler dan Gorbis, 2011).
Kompetensi
global Siswa yang memiliki kompetensi global akan mampu
mengambil tindakan melalui banyak cara dan cenderung menganggap diri mereka
sebagai warga dunia, bukan dari warga bangsa tertentu. Mereka mampu menggunakan
keterampilan berpikir kritis untuk mensurvei dan memikirkan masalah yang perlu
diprioritaskan, mengidentifikasi solusi yang dapat dilakukan, menilai solusi
yang dipilih dan rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan bukti, dan
mempertimbangkan dampak potensial dan konsekuensi yang mungkin muncul dari
tindakan yang akan dilakukan.
Kompetensi
antar budaya Sikap saling menghormati dan
toleransi sangat penting untuk memastikan bahwa pandangan individu dari semua
latar belakang budaya diakui dan dihormati dalam masyarakat yang multikultural.
Hal yang sangat penting adalah siswa dapat belajar untuk mendengarkan orang
lain, menunjukkan fleksibilitas, dan bekerja sama dengan kontributor dalam tim
yang berasal dari berbagai budaya dan berbagai rumpun ilmu pengetahuan.
Teamwork
dan interconnectedness Hasil survei
Conference Board (2006, dikutip Scott, 2015b) menemukan bahwa profesionalisme,
etika kerja yang baik, komunikasi secara lisan dan tertulis, kerja tim,
kolaborasi, berpikir kritis dan kemampuan memecahkan masalah merupakan
keterampilan paling penting. Keterampilan-keterampilan ini memungkinkan
seseorang mendapatkan nilai lebih di mata kolega sekaligus berkembang di
lingkungan kerja yang kolaboratif (Redecker et al., 2011). Di antara kompetensi
penting di abad ke-21 adalah kemampuan untuk membantu perkembangan kerjasama
interdisipliner dan pertukaran ide-ide global untuk melawan potensi
diskriminasi karena suku, jenis kelamin atau usia (Leis, 2010).
Pertanyaan
:
1.
Apa yang menjadi masalah mendasar yang dihadapi guru-guru di Indonesia
berkaitan dengan penerapan atau pengaplikasian teknologi pendidikan dalam
proses pembelajaran ?
2.
Mengapa guru perlu mengaplikasikan teknologi dalam proses pembelajaran ?
seberapa penting teknologi tersebut dibutuhkan guru ?
3.
Apa harapan Anda terhadap guru-guru di Indonesia sehubungan dengan penerapan
teknologi pendidikan terhadap peningkatan kualitas pendidikan abad 21 ?
menjawab permasalahan kedua, Hasil penelitian Kurniawati et,al (2005) menunjukan bahwa pada umumnya pendapat guru dan siswa tentang manfaat ICT khususnya edukasi net antara lain : (1) Memudahkan guru dan siswa dalam mencari sumber belajar alternative; (2 ) Bagi siswa dapat memperjelas materi yang telah disampaikan oleh guru, karena disamping disertai gambar juga ada animasi menarik; (3) Cara belajar lebih efisien; (4) Wawasan bertambah; (5) Mengetahui dan mengikuti perkembangan materi dan info-info lain yang berhubungan dengan bidang studi; dan (5) Membantu siswa melek ICT
BalasHapusTerima kasih atas jawaban saudari Rini, tadi dikatakan bahwa poin yang ke tiga manfaat ICT khususnya edukasi net antara lain cara belajar lebih efisien, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kita sebagai sorang guru mengaplikasikan cara belajar yang efisien kepada siswa ?
HapusMenjawab permasalahan pertama, masalah mendasar yang dihadapi guru-guru di Indonesia berkaitan dengan penerapan atau pengaplikasian teknologi pendidikan dalam proses pembelajaran yaitu Gagap Teknologi dan kebanyakan dari mereka tidak mau belajar & berkembang untuk mengambil manfaat maksimal dari perkembangan yang ada sehingga terjadilah metode pembelajaran yang hanya bersumber dari satu sumber saja yakni buku padahal dengan menguasai teknologi guru bisa memperoleh sumber belajar yang beragam dan uptodate
BalasHapusTerima kasih atas jawaban dari rifani, tadi dikatakan bahwa Gagap Teknologi dan kebanyakan dari mereka tidak mau belajar, bagaimana menanggapi/mengatasi guru yang tidak mau belajar teknologi ?
Hapussaya akan menjawab pertanyaan fero Mengapa guru perlu mengaplikasikan teknologi dalam proses pembelajaran ? seberapa penting teknologi tersebut dibutuhkan guru ?
BalasHapusBanyak sekali peran yang dimiliki teknologi dalam proses belajar mengajar pada masa kini, sama halnya pada zaman dahulu dalam dunia pendidikan meiliki metode-metode dan media dalam proses belajar mengajar. Namun pada zaman sekarang dengan semakin berkembangnya teknologi, dunia pendidikan pun memiliki metode dan media baru dalam penerapan proses belajar mengajar dengan menerapkan peranan penting teknologi dalam proses belajar mengajar.
Sebagai contoh peran teknologi dalam proses belajar mengajar yaitu adanya penerapan metode penyampaian materi dengan menggunakan teknologi seperti halnya pemakaian LCD PROJECTOR untuk metode penyampaian materi kepada murid dalam proses mengajar.
Selain guru , teknologi juga memiliki peran tersendiri terhadap siswa siswi , Sebagai contoh peranan teknologi untuk siswa dan siswi :
1. Sebagai media pembelajara daring(online)
2. Sebagai media belajar online dengan cangkupan yang lebih luas
3. sebagai pengganti buku dan digantikan teknologi buku elektronik.
4. Sebagai media belajar kelompok , Karena teknologi smartphone yang dilengkapi aplikasi messenger seperti whatsap dapat membuat grub antar siswa agar lebih mudah dalam melakukan diskusi berkelompok tanpa harus berkumpul.
5. Dengan adanya teknologi untuk metode belajar siswa akan memiliki pengetahuan yang lebih luas sebagai contoh mesin penulusur google yang memiliki banyak sekali artikel dan ilmu didalamnya yang dapat kita akses secara gratis.
6. Peran teknologi terhadap siswa lainya sebagai media untuk mendapatkan pengumuman dari seorang guru atau ketua kelas jika ada PR ataupun pengumuman untuk libur memalui smartphone via sms ataupun online messenger atau whatsapp
7. Lebih ringkas dalam pembelajaran karena materi yang tertera pada teknologi mesin telusur google menunjukan apa yang sedang kita cari dan sangat memudahkan kita dalam menemukan suatu jawaban tanpa memakan waktu lama dan dapat mempersingkat waktu dalam pencarian artikel atau wacana untuk para siswa siswi belajar.
dengan peranannya yang sangat penting dlam pembelajaran maka penggunaan teknologi sdibutuhkan mengingat kita telah memasuki era digital dimana semmua hal berbasis internet.
saya setuju dengan pendapat kk rini dengan peranannya yang sangat penting dlam pembelajaran maka penggunaan teknologi sdibutuhkan mengingat kita telah memasuki era digital dimana semmua hal berbasis internet.dan saat ini kita tak bisa jauh dari teknologi
Hapussaya juga setuju dengan kak rini. Meningkatnya teknologi di era globalisasi yang serba modern ini bisa kita terapkan pada dunia pendidikan sebagai fasilitas lebih dan serba canggih untuk memperlancar proses pembelajaran yang disampaikan. Disini pentingnya teknologi untuk selalu diikuti perkembangannya.
HapusPenggunaan teknologi terbukti dapat meningkatkan minat belajar anak karena tampilan yang lebih menarik sehingga akan terhindar dari rasa jenuh selama mengikuti pelajaran. Seperti di Indonesia yang sebagian besar sekolah masih belum menggunakan teknologi dalam pendidikan.
Saya setuju dengan pendapat teman temana. Bahwa teknologi tidak bisa kita cuek.kan karen jika kita tidak perduli maka kita sndiri la yg akan tertinggal dan tidak berkembang. Teutama dala dunia pendidikam bahwa pendidikan harus mengikuti perkembagan teknologi agar proses pembeljaran terus maju dam tidak tertinggal. Guru harus menguasai teknologi karena tanpa teknologi proses pembelajaran akan pasif dan abstrak karena hanya sebatas ceramah saja tanpa adanya pembuktian atau reall nya. Contohny saja dalam pembelajaran guru atau pun dosen sudah menggunakan proyektor agar bisa menunjukkan kepada siswa nya materi materi yg di sampaikannya dn menujukkan fenomena2 yg sedang terjadi di skitar lingkungan masyarakat. Terbukti dalam penelitian Kurniawati et,al (2005) menunjukan bahwa pada umumnya pendapat guru dan siswa tentang manfaat ICT khususnya edukasi net antara lain : (1) Memudahkan guru dan siswa dalam mencari sumber belajar alternative; (2 ) Bagi siswa dapat memperjelas materi yang telah disampaikan oleh guru, karena disamping disertai gambar juga ada animasi menarik; (3) Cara belajar lebih efisien; (4) Wawasan bertambah; (5) Mengetahui dan mengikuti perkembangan materi dan info-info lain yang berhubungan dengan bidang studi; dan (5) Membantu siswa melek ICT
BalasHapusJadi guru perlu memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran agar belajar lebih terarah dan wawasan guru dan siswa pun agar luas.
menanggapi tentang harapan terhadap guru-guru di Indonesia sehubungan dengan penerapan teknologi pendidikan terhadap peningkatan kualitas pendidikan abad 21 ini, saya berharap guru-guru saat ini dapat dan telah mampu menerapkan teknologi disemua matapelajaran sehingga siswa akan terbiasa berhadapan dengan teknologi. hal ini tentu harus didukung dari terpenuhinya sarana dan prasarana yang mendukung proses pembelajaran tersebut sehingga perlu adanya peran pemerintah dalam pemenuhannya.
BalasHapussependapat dengan fira dimana untuk menanggapi tentang harapan terhadap guru-guru di Indonesia sehubungan dengan penerapan teknologi pendidikan terhadap peningkatan kualitas pendidikan abad 21 ini, saya berharap guru-guru saat ini dapat dan telah mampu menerapkan teknologi disemua matapelajaran sehingga siswa akan terbiasa berhadapan dengan teknologi. hal ini tentu harus didukung dari terpenuhinya sarana dan prasarana yang mendukung proses pembelajaran tersebut sehingga perlu adanya peran pemerintah dalam pemenuhannya.
HapusSaya setuju dengan pendapat syafira bahwa di pemb lajaran abad 21 yang diharapkan kepada guru aadalah melek teknologi dan terapkan lah kurikulum 2013 swcara baik dan benar, mynculkan minat belajar siswa dan kemapuan 4C siswa agar terlahir generasi penerus bangsa yang mampu bersaing,tidak jenuh saat jam pembelajaran dan senang untuk belahar secara terus menerus
HapusGuru harus menguasai teknologi karena tanpa teknologi proses pembelajaran akan pasif dan abstrak karena hanya sebatas ceramah saja tanpa adanya pembuktian atau reall nya. Contohny saja dalam pembelajaran guru atau pun dosen sudah menggunakan proyektor agar bisa menunjukkan kepada siswa nya materi materi yg di sampaikannya dn menujukkan fenomena2 yg sedang terjadi di skitar lingkungan masyarakat. Terbukti dalam penelitian Kurniawati et,al (2005) menunjukan bahwa pada umumnya pendapat guru dan siswa tentang manfaat ICT khususnya
BalasHapusmelihat kondisi di Indonesia sekarang pemerataan jaringan internet masih ada yang belum tercapai hingga ke pelosok desa, sehingga guru" di desa kesulitan dalam menerapkan pembelajaran menggunakan teknologi yang sudah berkembang di masyarakat kota
BalasHapusdan dalam proses pembelajaran yang bermakna artinya pembelajaran tsb harus terus diasah dan diulang, dan ditelaah secara mendalam. disinilah peran teknologi. guru dapat merekam dirinya saat menjelaskan materi yang mungkin pernah terlewatkan atau sebagai bahan pengulangan bagi anak untuk belajar. karna sifat manusia yang sering lupa sehingga teknologi dapat memudahkan guru untuk mentransformasikan pengetahuannya dalam bentuk audio visual yang bisa di putar siswa kapanpun ia mau
saya akan menjawab pertanyaan anda tentang Apa yang menjadi masalah mendasar yang dihadapi guru-guru di Indonesia berkaitan dengan penerapan atau pengaplikasian teknologi pendidikan dalam proses pembelajaran ? banyaknya guru di indonesia yang tidak mengusai teknologi, apalagi dengan internet sehingga mereka lebih memilih menggunakan pembelajaran konvensional.
BalasHapusuntuk pertanyaan "Apa yang menjadi masalah mendasar yang dihadapi guru-guru di Indonesia berkaitan dengan penerapan atau pengaplikasian teknologi pendidikan dalam proses pembelajaran ?"
BalasHapus1. keterampilan tenaga pendidik itu sendiri.
2. fasilitas/ sarana dan prasarana sekolah.
3. lain sebagainya,
ini masalah-masalah mendasar menurut saya.