1.
Pengertian
Desain Pembelajaran
Desain
pembelajaran adalah pengembangan secara sistematis dari spesifikasi pembelajaran
dengan menggunakan teori belajar dan pembelajaran untuk menjamin kualitas
pembelajaran. Proses perancangan dan pengembangan ini meliputi segala proses
analisis kebutuhan pembelajaran, tujuan dan pengembangan sistem untuk mencapai tujuan,
pengembangan bahan dan aktivitas pembelajaran, uji coba dan evaluasi dari
seluruh pembelajaran dan aktivitas peserta didik.
Desain
pembelajaran merupakan kegiatan memaksimalkan keefektifan, efisiensi dan hasil
pembelajaran dan pengalaman pembelajaran lainnya. Kegiatan tersebut meliputi
penentuan keadaan awal, kebutuhan peserta didik, menentukan tujuan akhir dan
menciptakan beberapa perlakuan untuk membantu dalam masa transisi tersebut. Di
bagian lain dijelaskan desain pembelajaran adalah pengembangan pengajaran
secara sistematik yang digunakan secara khusus teori-teori pembelajaran untuk
menjamin kualitas pembelajaran. Gagne (1985) menyatakan bahwa desain
pembelajaran disusun untuk membantu proses belajar peserta didik, proses
belajar tersebut memiliki tahapan saat ini dan tahapan jangka panjang.
Pendapat
yang lebih spesifik dikemukakan oleh Gentry (1985: 67), bahwa desain
pembelajaran berkenaan dengan proses menentukan tujuan pembelajaran, strategi
dan teknik untuk mencapai tujuan serta merancang media yang dapat digunakan
untuk keefektifan pencapaian tujuan.
Dari
beberapa pengertian di atas, dapat dirumuskan bahwa desain pembelajaran adalah
pengembangan pembelajaran secara sistematis untuk memaksimalkan keefektifan dan
efisiensi pembelajaran. Kegiatan mendesain pembelajaran diawali dengan
menganalisis kebutuhan peserta didik, menentukan tujuan pembelajaran,
mengembangkan bahan dan aktivitas pembelajaran, yang di dalamnya mencakup penentuan
sumber belajar, strategi pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, media
pembelajaran dan penilaian (evaluasi) untuk mengukur tingkat keberhasilan
pembelajaran. Hasil evaluasi tersebut digunakan sebagai acuan untuk mengetahui
tingkat efektivitas, efisiensi dan produktivitas proses pembelajaran.
2. Desain Sistem Pembelajaran
Sistem
pembelajaran merupakan satu kesatuan dari beberapa komponen pembelajaran yang
saling berinteraksi, interelasi dan interdependensi dalam mencapai tujuan
pembelajaran yang telah ditetapkan. Komponen pembelajaran meliputi; peserta
didik, pendidik, kurikulum, bahan ajar, media pembelajaran, sumber belajar,
proses pembelajaran, fasilitas, lingkungan dan tujuan.
Untuk
mendesain pembelajaran harus memahami asumsi-asumsi tentang hakekat desain
sistem pembelajaran, Asumsi-asumsi yang perlu diperhatikan dalam mendesain
system pembelajaran sebagai berikut:
(1)
desain sistem pembelajaran didasarkan pada pengetahuan tentang bagaimana
seseorang belajar,
(2)
desain sistem pembelajaran diarahkan kepada peserta didik secara individual dan
kelompok,
(3)
hasil pembelajaran mencakup hasil langsung dan pengiring,
(4)
sasaran terakhir desain sistem pembelajaran adalah memudahkan belajar, (5)
desain sistem pembelajaran mencakup semua variabel yang mempengaruhi belajar,
(6)
inti desain sistem pembelajaran adalah penetapan silabus, rencana pelaksanaan
pembelajaran, (metode, media, skenario, sumber belajar, sistem penilaian) yang
optimal untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
3. Komponen Utama Desain
Pembelajaran
Fausner
(2006) berpandangan bahwa seorang perancang program pembelajaran tidak dapat
menciptakan program pembelajaran yang efektif, jika hanya mengenal satu model
desain pembelajaran. Perancang program pembelajaran hendaknya mampu memilih
desain yang tepat sesuai dengan situasi atau setting pembelajaran yang
spesifik. Untuk itu diperlukan adanya pengetahuan dan pemahaman yang baik
tentang model-model desain sistem pembelajaran dan cara mengimplementasikannya.
Untuk
merancang dan mengembangkan sistem pembelajaran, dipengaruhi oleh beberapa
komponen sebagai berikut:
1.
Kemampuan awal peserta didik dan potensi
yang dimiliki
2. Tujuan
Pembelajaran (umum dan khusus) adalah penjabaran kompetensi yang akan dikuasai
oleh peserta didik
3. Analisis
materi pembelajaran yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
4. Analisis
aktivitas pembelajaran, merupakan proses menganalisis topik atau materi yang
akan dipelajari
5. Pengembangan
media pembelajaran yang sesuai dengan tujuan, materi pembelajaran dan kemampuan
peserta didik
6. Strategi
pembelajaran, dapat dilakukan secara makro dalam kurun satu tahun atau mikro
dalam kurun satu kegiatan belajar mengajar.
7. Sumber
belajar, adalah sumber-sumber yang dapat diakses untuk memperoleh materi yang
akan dipelajari
8. Penilaian
belajar, tentang pengukuran kemampuan atau kompetensi yang dikuasai oleh
peserta didik.
4.Prinsip
Desain Pembelajaran
Prinsip-prinsip
yang akan digunakan dalam kegiatan desain pembelajaran pada dasarnya merupakan
kaidah-kaidah atau hukum yang akan menjiwai suatu kurikulum pembelajaran.
Desain pembelajaran dapat menggunakan prinsip-prinsip yang telah berkembang
dalam kehidupan sehari-hari atau justru menciptakan sendiri prinsip-prinsip
baru. Oleh karena itu, dalam implementasi kurikulum di suatu unit diklat sangat
mungkin terjadi penggunaan prinsip-prinsip yang berbeda dengan kurikulum
pembelajaran yang digunakan di unit diklat lainnya, sehingga akan ditemukan
banyak sekali prinsip-prinsip yang digunakan dalam suatu desain pembelajaran.
Dalam hal ini, Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengetengahkan prinsip-prinsip
pengembangan kurikulum atau desain pembelajaran yang dibagi ke dalam dua
kelompok:
1.
prinsip – prinsip umum : relevansi, fleksibilitas,
kontinuitas, praktis, dan efektivitas;
2.
prinsip-prinsip khusus : prinsip berkenaan dengan
tujuan pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan, prinsip
berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar, prinsip berkenaan dengan
pemilihan media dan alat pelajaran, dan prinsip berkenaan dengan pemilihan
kegiatan penilaian.
Sedangkan Asep Herry Hernawan dkk
(2002) menjabarkan secara lebih lanjut kelima prinsip umum dalam pengembangan
instruksional seperti tersebut di atas sebagai berikut.
1.
Prinsip
relevansi: secara internal bahwa kurikulum memiliki relevansi di antara
komponen-komponen kurikulum (tujuan, bahan, strategi, organisasi dan evaluasi).
Sedangkan secara eksternal bahwa komponen-komponen tersebut memiliki relevansi
dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi (relevansi epistomologis),
tuntutan dan potensi peserta diklat (relevansi psikologis) serta tuntutan dan
kebutuhan perkembangan masyarakat (relevansi sosilogis).
2.
Prinsip
fleksibilitas: dalam pengembangan kurikulum mengusahakan agar yang dihasilkan
memiliki sifat luwes, lentur dan fleksibel dalam pelaksanaannya, memungkinkan
terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi tempat dan
waktu yang selalu berkembang, serta kemampuan dan latar bekang peserta diklat.
3.
Prinsip
kontinuitas: yakni adanya kesinambungan dalam kurikulum, baik secara vertikal,
maupun secara horizontal. Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan
kurikulum harus memperhatikan kesinambungan, baik yang di dalam tingkat kelas,
antarjenjang pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan dengan jenis
pekerjaan.
4.
Prinsip
efisiensi: yakni mengusahakan agar dalam pengembangan kurikulum dapat
mendayagunakan waktu, biaya, dan sumber-sumber lain yang ada secara optimal,
cermat dan tepat sehingga hasilnya memadai.
5.
Prinsip
efektivitas: yakni mengusahakan agar kegiatan pengembangan kurikulum mencapai
tujuan tanpa kegiatan yang mubazir, baik secara kualitas maupun kuantitas.
Prinsip-Prinsip Khusus dalam Desain
pembelajaran dapat dijabarkan sebagai berikut:
1.
Prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan: ketentuan/kebijakan pemerintah;
survey persepsi user; survey pandangan para ahli atau nara sumber;
pengalaman badan pemerintah yang lain atau dari negara lain; penelitian
sebelumnya
2.
Prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan: penjabaran tujuan ke
dalam bentuk pengalaman belajar yang diharapkan; isi meliputi pengetahuan,
sikap, dan keterampilan disusun berdasarkan urutan logis dan sistematis
3.
Prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar: keselarasan
pemilihan metode; memperhatikan perbedaan individual ; pencapaian aspek
kognitif, afektif, dan skills.
4.
Prinsip berkenaan dengan pemilihan media: ketersediaan alat yang sesuai
dengan situasi; pengorganisasian alat dan bahan; pengintegrasian ke dalam
proses
5.
Prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian: kesesuaian dengan
isi dan tingkat perkembangan peserta diklat; waktu; administrasi penilaian;
5.Kedudukan
Desain Sistem Pembelajaran
Setiap
komponen memiliki peran dan fungsi sesuai dengan konteksnya. Untuk membuat
rancangan dan pengembangan sistem pembelajaran harus memahami posisi dan
perannya dalam pelaksanaan pembelajaran. Kedudukan desain sistem pembelajaran
dalam kegiatan pembelajaran, merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran.
Proses kegiatan pembelajaran secara umum meliputi tiga tahap, yaitu tahap
pertama; merancang dan mengembangkan system pembelajaran, kedua penerapan
desain sistem pembelajaran dan ketiga evaluasi pembelajaran.

6.
Klasifikasi Model Desain Sistem Pembelajaran
1. Model desain
sistem pembelajaran yang berorientasi kelas (Classrooms oriented model)
Model ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan
pendidik dan peserta didik akan aktivitas pembelajaran yang efektif, efisien,
produktif dan menarik. Model-model desain sistem pembelajaran yang termasuk
klasifikasi ini dapat diimplementasikan mulai dari jenjang sekolah dasar sampai
jenjang pendidikan tinggi. Pendidik, widyaiswara, instruktur, dan dosen perlu
memiliki pemahaman yang baik tentang desain sistem pembelajaran yang efektif,
efisien, dan menarik.
Penggunaan model berorientasi kelas ini didasarkan
pada asumsi adanya sejumlah aktivitas pembelajaran yang diselenggarakan di
dalam kelas dengan waktu belajar yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam hal
ini, tugas pendidik memilih isi/materi pelajaran yang tepat, merencanakan
strategi pembelajaran, menyampaikan isi/materi pelajaran, dan mengevaluasi
hasil belajar. Para pendidik biasanya menganggap bahawa model desain sistem
pembelajaran pada dasarnya berisi langkah-langkah yang harus diikuti.
2.
Model desain pembelajaran yang berorientasi
produk (Product oriented model)
Model desain sistem pembelajaran yang berorientasi
pada produk, pada umumnya didasarkan pada asumsi adanya program pembelajaran
yang dikembangkan dalam kurun waktu tertentu. Model-model desain sistem
pembelajaran ini menerapkan proses analisis kebutuhan yang sangat ketat.
Para pengguna produk/program pembelajaran yanga
dihasilkan melalui penerapan desain sistem pembelajaran pada model ini biasanya
tidak memiliki kontak langsung dengan pengembang programnya. Kontak langsung
antara pengguna program dan pengembang program hanya terjadi pada saat proses
evaluasi terhadap prototipe program.
Model-model yang berorientasi pada produk biasanya
ditandai dengan empat asumsi pokok, yaitu: 1) Produk atau program pembelajaran
memang sangat diperlukan, 2) Produk atau program pembelajaran baru perlu
diproduksi, 3) Produk atau program pembelajaran memerlukan proses uji coba dan
revisi, 4) Produk atau program pembelajaran dapat digunakan walaupun hanya dengan
bimbingan dari fasilitator.
3. Model desain sistem pembelajaran yang
berorientasi sistem (System oriented model)
Model desain sistem pembelajaran yang berorientasi
pada sistem dilakukan untuk mengembangkan sistem dalam skala besar seperti keseluruhan
mata pelajaran atau kurikulum. Implementasi model desain sistem pembelajaran
yang berorientasi pada sistem memerlukan dukungan sumber daya besar dan tenaga
ahli yang berpengalaman.
Model
desain sistem pembelajaran yang berorientasi pada sistem dimulai dari tahap
pengumpulan data untuk menentukan kemungkinan-kemungkinan implementasi solusi
yang diperlukan untuk mengatasi masalah yang terdapat dalam suatu sistem
pembelajaran. Analisis kebutuhan dan front-end analysis dilakukan secara
intensif untuk mencari solusi yang akurat. Perbedaan pokok antara model yang
berorientasi sistem dengan produk terletak pada tahap atau fase desain,
pengembangan, dan evaluasi. Ketiga fase ini dilakukan dalam skala yang lebih
besar pada model desain sistem pembelajaran yang berorientasi pada sistem.
7.
Model
Model Desain Pembelajaran
Model
desain sistem pembelajaran berperan sebagai alat konseptual, pengelolaan,
komunikasi untuk menganalisis, merancang, menciptakan, mengevaluasi program
pembelajaran, dan program pelatihan.
1) Model
Dick and Carey
Model
yang dikembangkan didasarkan pada penggunaan pendekatan sistem terhadap
komponen-komponen dasar desain pembelajaran yang meliputi analisis desain pengembangan,
implementasi dan evaluasi. Adapun komponen dan sekaligus merupakan
langkah-langkah utama dari model desain pembelajaran yang dikemukakan oleh
Dick, Carey & Carey (2009) adalah:
1.
Mengidentifikasi tujuan
pembelajaran.
2. Melakukan
analisis instruksional.
3. Menganalisis
karakteristik peserta didik dan konteks pembelajaran.
4. Merumuskan
tujuan pembelajaran khusus.
5. Mengembangkan
instrumen penilaian.
6. Mengembangkan
strategi pembelajaran.
7. Mengembangkan dan memilih bahan ajar.
8. Merancang dan mengembangkan evaluasi formatif.
9. Melakukan revisi terhadap program
pembelajaran.
10.
Merancang dan mengembangkan
evaluasi sumatif.
Adapun
Model Dick,Carey & Carey diilustrasikan melalui Bagan berikut

2).
Model Kemp
Menurut
Morisson, Ross, dan Kemp (2004), model desain sistem pembelajaran ini akan membantu
pendidik sebagai perancang program atau kegiatan pembelajaran dalam memahami
kerangka teori dengan lebih baik dan menerapakan teori tersebut untuk
menciptakan aktivitas pembelajaran yang lebih efektif dan efisien. Desain
pembelajaran model Kemp dapat dijelaskan dengan sebuah bagan berikut:

Secara
singkat, menurut model ini terdapat beberapa langkah, yaitu:
a) Menentukan tujuan dan daftar topik,
menetapkan tujuan umum untuk pembelajaran tiap topiknya;
b) Menganalisis karakteristik peserta
didik, untuk siapa pembelajaran tersebut didesain;
c) Menetapkan
tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan syarat dampaknya dapat dijadikan
tolok ukur perilaku peserta didik;
d) Menentukan
isi materi pelajar yang dapat mendukung tiap tujuan;
e) Pengembangan
penilaian awal untuk menentukan latar belakang peserta didik dan pemberian
level pengetahuan terhadap suatu topik;
f) Memilih
aktivitas dan sumber pembelajaran yang menyenangkan atau menentukan strategi
pembelajaran, jadi peserta didik akan mudah menyelesaikan tujuan yang
diharapkan;
g)
Mengkoordinasi dukungan pelayanan atau sarana penunjang yang meliputi
personalia, fasilitas-fasilitas, perlengkapan, dan jadwal untuk melaksanakan
rencana pembelajaran;
h) Mengevaluasi pembelajaran peserta
didik dengan syarat mereka menyelesaikan pembelajaran serta melihat
kesalahan-kesalahan dan peninjauan kembali beberapa fase dari perencanaan yang
membutuhkan perbaikan yang terus menerus, evaluasi yang dilakukan berupa
evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.
3. Model ADDIE

Ada satu model
desain pembelajaran yang lebih sifatnya lebih generik yaitu model ADDIE (Analysis-Design-Develop-Implement-Evaluate).
ADDIE muncul pada tahun 1990-an yang dikembangkan oleh Reiser dan Mollenda.
Salah satu fungsinya ADDIE yaitu menjadi pedoman dalam membangun perangkat dan
infrastruktur program pelatihan yang efektif, dinamis dan mendukung kinerja
pelatihan itu sendiri.
Model ini
menggunakan lima tahap pengembangan yakni: a) Analysis (analisa), b) Design
(disain/perancangan), c) Development (pengembangan), d) Implementation
(implementasi/eksekusi), e) Evaluation (evaluasi/umpan balik).
Masing-masing langkah dideskripsikan sebagai berikut:
Langkah 1: Analisis
Tahap
analisis merupakan suatu proses mendefinisikan apa yang akan dipelajari oleh
peserta didik, yaitu melakukan needs assessment (analisis kebutuhan),
mengidentifikasi masalah (kebutuhan), dan melakukan analisis tugas (task
analysis). Oleh karena itu, output yang akan dihasilkan adalah berupa
karakteristik atau profil calon peserta didik, identifikasi kesenjangan,
identifikasi kebutuhan dan analisis tugas yang rinci didasarkan atas kebutuhan.
Langkah 2: Desain
Tahap ini dikenal juga dengan istilah
membuat rancangan (blueprint). Ibarat bangunan, maka sebelum dibangun
gambar rancang bangun (blue-print) di atas kertas harus ada terlebih
dahulu. Pada tahap desain ini diperlukan: pertama merumuskan tujuan
pembelajaran yang SMART (spesific, measurable, applicable, realistic, dan
Times ). Selanjutnya menyusun tes yang didasarkan pada tujuan pembelajaran
yang telah dirumuskan tadi. Kemudian menentukan strategi pembelajaran yang
tepat harusnya seperti apa untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam hal ini ada
banyak pilihan kombinasi metode dan media yang dapat dipilih dan tentukan yang
paling relevan. Di samping itu, perlu dipertimbangkan pula sumber-sumber
pendukung lain, semisal sumber belajar yang relevan, lingkungan belajar yang
seperti apa seharusnya, dan lain-lain. Semua itu tertuang dalam suatu dokumen
bernama blue-print yang jelas dan rinci.
Langkah 3: Pengembangan
Pengembangan adalah proses mewujudkan blue-print
atau desain yang dibuat menjadi kenyataan. Artinya, jika dalam desain
diperlukan suatu software berupa multimedia pembelajaran, maka
multimedia tersebut harus dikembangkan, misal diperlukan modul cetak, maka
modul tersebut perlu dikembangkan. Begitu pula halnya dengan lingkungan belajar
lain yang akan mendukung proses pembelajaran semuanya harus disiapkan dalam
tahap ini. Satu langkah penting dalam tahap pengembangan adalah uji coba sebelum diimplementasikan. Tahap uji
coba ini memang merupakan bagian dari salah satu langkah ADDIE, yaitu evaluasi.
Lebih tepatnya evaluasi formatif, karena hasilnya digunakan untuk memperbaiki
sistem pembelajaran yang sedang dikembangkan.
Langkah 4: Implementasi
Implementasi adalah
langkah nyata untuk menerapkan sistem pembelajaran yang dibuat. Artinya, pada
tahap ini semua yang telah dikembangkan dipersiapkan sesuai dengan peran atau
fungsinya agar bisa diimplementasikan. Misal, jika memerlukan software tertentu
maka software tersebut harus sudah diinstall. Jika penataan lingkungan
harus tertentu, maka lingkungan atau setting tertentu tersebut juga
harus ditata. Barulah diimplementasikan sesuai skenario atau desain awal.
Langkah 5: Evaluasi
Evaluasi adalah proses
untuk melihat apakah sistem pembelajaran yang sedang dibangun berhasil, sesuai
dengan harapan awal atau tidak. Sebenarnya tahap evaluasi bisa terjadi pada
setiap empat tahap di atas. Evaluasi yang terjadi pada setiap empat tahap
diatas itu dinamakan evaluasi formatif, karena tujuannya untuk kebutuhan
revisi. Misal, pada tahap rancangan, mungkin kita memerlukan salah satu bentuk
evaluasi formatif misalnya review ahli untuk memberikan input terhadap
rancangan yang sedang dibuat. Pada tahap pengembangan, mungkin perlu uji coba
dari produk yang dikembangkan atau mungkin perlu evaluasi kelompok kecil dan
lain-lain.
Pertanyaan :
1.
Apakah dengan mengenal dan memahami satu
model desain pembelajaran dapat menciptakan pembelajaran yang efektif ? Beri
alasannya !
2.
Bagaimana kita sebagai perancang program
pembelajaran dalam memilih desain pembelajaran yang tepat sesuai dengan situasi
dan kondisi belajar di kelas ?
3.
Pada prinsip desain
sistem pembelajaran terdapat prinsip umum dan prinsip khusus, menurut Anda
prinsip yang manakah yang sangat berpengaruh dalam mendesain pembelajaran kimia
?
saya akan menanggapi pertanyaan fero yakni Apakah dengan mengenal dan memahami satu model desain pembelajaran dapat menciptakan pembelajaran yang efektif ? Beri alasannya !
BalasHapusmenurut saya kita tidak cukup hanya terpaku pada satu model desain sistem pembelajaran saja, menurut syaa sebaiknya kita juga mempelajari dan memahami model yang lainnya,degan demikian kita bisa melakukan komparasi terhadap model tsb satu sama lain dan dapat lebih onjektif memilih mana model yang cocok kita gunakan di sekolah yang kita belajarkan.
Saya setuju dengan kak rini dimana kita harus memahami banyak model desain pembelejaran agar nanti kita lebih objektif dalam memilihnya. Karena dalam merancang suatu desain pembelajaran kita memiliki tujuan pembelajaran seperti apa yang hendak dicapai. Sintak pembelajaran dikelas kah yang mau direvisi atau membuat suatu produkkah. Maka dari itu sebelum memilih model maka kita tentukan tujuan seperti apa yang hendak dicapai lalu dipilihlah model desain mana yang sesuai
HapusTerima kasih atas jawaban kak rini dan Rifani, tadi dikatakan bahwa kita tidak cukup hanya terpaku pada satu model desain sistem pembelajaran saja, sebaiknya kita juga mempelajari dan memahami model yang lainnya,dengan demikian kita bisa melakukan komparasi terhadap model tsb satu sama lain dan dapat lebih objektif memilih mana model yang cocok kita gunakan di sekolah yang kita belajarkan. Maka dari itu sebelum memilih model maka kita tentukan tujuan seperti apa yang hendak dicapai lalu dipilihlah model desain mana yang sesuai. Yang menjadi pertanyaan adalah berikan contoh tujuan seperti apa yang sesuai dalam memilih model pembelajaran ?
Hapusingin menjawab pertanyaan 1, menurut saya tidak bisa hanya mengenal satu model desain saja, karena ketika kita ingin mendesain kita harus menganalisis tujuan dan kebutuhan yg ada di kelas. dan dari analisis inilah kita baru bisa menentukan desain mana yang cocok dan dapat dipakai untuk memenuhi tujuan dan kebutuhan tsb.
BalasHapusTerima kasih atas jawaban saudari Rina, tadi dikatakan bahwa tidak bisa hanya mengenal satu model desain saja, karena ketika kita ingin mendesain kita harus menganalisis tujuan dan kebutuhan yg ada di kelas. dan dari analisis inilah kita baru bisa menentukan desain mana yang cocok dan dapat dipakai untuk memenuhi tujuan dan kebutuhan tsb. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana jika ada guru yang belum bisa menganalisis tujuan ? otomatis apabila belum bisa menganalisis tujuan, tidak bisa ke tahap selanjutnya yaitu menentukan desain, bagaimana cara menanggapinya ?
HapusSaya setuju dengan pendapat rina bahwa memang untuk mendesain tidak hanya emahami 1 model saja namun banyak model dan kembali lagi kepada tujuan apa tujuan pembelajaran hari itu, lalu apa kebutuhan siswa dan munculkan hal2 apa yang ingin di harapkan, baru bisa kita mebdesain model apa yang cocok untuk diterapkab
HapusDengan berpegang kepada prinsip2 dalam desain pembelajaran. Yaitu prinsip yang berkenaan dengan tujuan pendidikan dimana kita harus melihat kebijakan pemerintah survey persepsi user survey pandangan para ahli atau narasumber pengalaman badan pemerintah yang lain atau negara lain dan penelitian sebelumnya. Prinsip yang berkenaan dengan pemilihan isi pebdidikan. Disini kita menjabarkn tujuan ke dalam bentuk pengalaman belajar yang di harappkan isi meliputi pengatuan sikap dan skills yang disusun berdasarkan aturan logis dan sistematis. Prinsip yang berkenaan dengan pemilihan proses brlajar mengajar disini melihat keselarasan pemilihan metode memperhatijan perbedaan individual percapaian aspek kognitif afektif dan skills. Prinsip yang berkenaan dengan pemilihan media disini guru harus memperhatikan ketersediaan alat yang sesuai dengan situasu pengorganisasian alat dan bahan, pengintegrasian kebdalam proses. Dan prinsip yang berkenaan drngan pemilihan kegiatan penilaian atau evaluasi disni guru harus memperhatikan kesesuaian dengan isi dan tingkat perkembangan peserta waktu dan administrasi penilaian. Dari prinsip prinsip inilah guru mampu menyusun desain pembelajaran agar sesuai dengan situasi dan kondisi didalam kelas.
BalasHapussependapat dengan dian bahwa Dengan berpegang kepada prinsip2 dalam desain pembelajaran. Yaitu prinsip yang berkenaan dengan tujuan pendidikan dimana kita harus melihat kebijakan pemerintah survey persepsi user survey pandangan para ahli atau narasumber pengalaman badan pemerintah yang lain atau negara lain dan penelitian sebelumnya. Prinsip yang berkenaan dengan pemilihan isi pebdidikan. Disini kita menjabarkn tujuan ke dalam bentuk pengalaman belajar yang di harappkan isi meliputi pengatuan sikap dan skills yang disusun berdasarkan aturan logis dan sistematis. Prinsip yang berkenaan dengan pemilihan proses brlajar mengajar disini melihat keselarasan pemilihan metode memperhatijan perbedaan individual percapaian aspek kognitif afektif dan skills
Hapussaya sependpat dengan saudari dian. Dengan berpegang kepada prinsip2 dalam desain pembelajaran. Yaitu prinsip yang berkenaan dengan tujuan pendidikan dimana kita harus melihat kebijakan pemerintah survey persepsi user survey pandangan para ahli atau narasumber pengalaman badan pemerintah yang lain atau negara lain dan penelitian sebelumnya. selain itu dengan memahami banyak prinsip desain pembelajaran, kita dapat memilah dan memilih desai pembelajaran apa yang akan kita tetapkan.
HapusMenanggapi permasalahan tantang Bagaimana kita sebagai perancang program pembelajaran dalam memilih desain pembelajaran yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi belajar di kelas ?
BalasHapusUntuk memilih suatu desain pembelajaran yg harus kita pertimbangkan yang pertama adalah kemampuan diri kita sendiri, kemudian baru kita analisa model apa yang cocok, yang mana tujuan dari desain pembelajaran itu adalah untuk mencapai solusi terbaik dalam memecahkan masalah dengan memanfaatkan sejumlah informasi yg ada.
Terima kasih atas jawaban dari saudari Esa, tadi dikatakan bahwa untuk memilih suatu desain pembelajaran yg harus kita pertimbangkan yang pertama adalah kemampuan diri kita sendiri, yang menjadi pertanyaan adalah apabila kemampuan guru ada yang belum maksimal dalam memahami suatu desain pembelajaran, bagaimana menanggapi hal tersebut ?
Hapusmenanggapi permasalahan ini saya setuju dengan kaka esa dimana Untuk memilih suatu desain pembelajaran yg harus kita pertimbangkan yang pertama adalah kemampuan diri kita sendiri, kemudian baru kita analisa model apa yang cocok, yang mana tujuan dari desain pembelajaran itu adalah untuk mencapai solusi terbaik dalam memecahkan masalah dengan memanfaatkan sejumlah informasi yg ada.
Hapusnah muncul pertanyaan lagi bagaimana jika kemampuan guru ada yang belum maksimal dalam memahami suatu desain pembelajaran?
menurut saya hal ini memang tidak dapat sertamerta dilakukan guru perlu adanya pembelajaran terus menerus dari penaglaman nya berdasarkan penerapan disain yang cocok sesuai situasi dan kondisi belajar dikelas, selain itu bisa pula dengan melakukan sharing dengan rekan sejawatnya, atau melalui pelatihan dalam mendesai pembelajaran yang dapat dilakukan disekolah ataupun dari pemerintah
menurt saya mau umum dan khusus harus berjalan berkaitan karena prinsip-prinsip pengembangan kurikulum atau desain pembelajaran yang dibagi ke dalam dua kelompok:
BalasHapus1. prinsip – prinsip umum : relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, praktis, dan efektivitas;
2. prinsip-prinsip khusus : prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar, prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pelajaran, dan prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian.
Saya setuju dengan pendapat saudari tri dimana saling berkaitan antara prinsip khusus dan prinsip umum .
HapusPrinsip-prinsip umum meliputi :
·Relevansi
Dalam hal ini dapat dibedakan relevansi keluar yang berarti bahwa tujuan, isi, dan proses belajar harus relevan dengan tuntutan, kebutuhan dan perkembangan masyarakat dan relevansi ke dalam berarti bahwa terdapat kesesuaian atau konsistensi antara komponen-komponen kurikulum, yaitu antara tujuan, isi, proses penyampaian dan penilaian yang menunjukkan keterpaduan kurikulum.
·Fleksibilitas
Kurikulum harus dapat mempersiapkan anak untuk kehidupan sekarang dan yang akan datang, di sini dan di tempat lain, bagi anak yang memiliki latar belakang dan kemampuan yang berbeda. Hal ini berarti bahwa kurikulum harus berisi hal-hal yang solid, tetapi dalam pelaksanaannya memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan kondisi daerah, waktu maupun kemampuan, dan latar belakang anak.
·Kontinuitas
Terkait dengan perkembangan dan proses belajar anak yang berlangsung secara berkesinambungan, maka pengalaman belajar yang disediakan kurikulum juga hendaknya berkesinambungan antara satu tingkat kelas dengan kelas lainnya, antara satu jenjang pendidikan dengan jenjang lainnya, serta antara jenjang pendidikan dengan pekerjaan.
·Praktis/efisiensi
Kurikulum harus praktis, mudah dilaksanakan, menggunakan alat-alat sederhana dan biayanya murah. Dalam hal ini, kurikulum dan pendidikan selalu dilaksanakan dalam keterbatasan-keterbatasan, baik keterbatasan waktu, biaya, alat, maupun personalia.
·Efektifitas
Efektifitas berkenaan dengan keberhasilan pelaksanaan kurikulum baik secara kuantitas maupun kualitasnya. Kurikulum merupakan penjabaran dari perencanaan pendidikan dari kebijakan-kebijakan pemerintah. Dalam pengembangannya, harus diperhatikan kaitan antara aspek utama kurikulum yaitu tujuan, isi, pengalaman belajar, serta penilaian dengan kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan.
Prinsip-prinsip khusus dalam pengembangan kurikulum meliputi:
Hapus· Prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan
Tujuan pendidikan merupakan pusat dan arah semua kegiatan pendidikan sehingga perumusan komponen pendidikan harus selalu mengacu pada tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Tujuan ini bersifat umum atau jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek. Perumusan tujuan pendidikan bersumber pada ketentuan dan kebijakan pemerintah, survey mengenai persepsi orangtua / masyarakat tentang kebutuhan mereka, survey tentang pandangan para ahli dalam bidang-bidang tertentu, survey tentang manpower, pengalaman-pengalaman negara lain dalam masalah yang sama, dan penelitian.
· Prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan
Dalam perencanaan kurikulum perlu mempertimbangkan beberapa hal, yaitu perlunya penjabaran tujuan pendidikan ke dalam bentuk perbuatan hasil belajar yang khusus dan sederhana, isi bahan pelajaran harus meliputi segi pengetahuan, sikap, dan keterampilan, dan unit-unit kurikulum harus disusun dalam urutan yang logis dan sistematis.
· Prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar-mengajar
Pemilihan proses belajar mengajar hendaknya mempertimbangkan beberapa hal, yaitu apakah metode yang digunakan cocok, apakah dengan metode tersebut mampu memberikan kegiatan yang bervariasi untuk melayani perbedaan individual siswa, apakah metode tersebut juga memberikan urutan kegiatan yang bertingkat-tingkat, apakah penggunaan metode tersebut dapat mencapai tujuan kognitif, afektif dan psikomotor, apakah metode tersebut lebih menaktifkan siswa, apakah metode tersebut mendorong berkembangnya kemampuan baru, apakah metode tersebut dapat menimbulkan jalinan kegiatan belajar di sekolah dan rumah sekaligus mendorong penggunaan sumber belajar di rumah dan di masyarakat, serta perlunya kegiatan belajar yang menekankan learning by doing, bukan hanya learning by seeing and knowing.
· Prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pengajaran
Proses belajar mengajar perlu didukung oleh penggunaan media dan alat-alat bantu pengajaran yang tepat. Untuk itu perlu diperhatikan beberapa hal berikut, yaitu alat/media apa yang dibutuhkan, bila belum ada apa penggantinya, bagaimana pembuatannya, siapa yang membuat, bagaimana pembiayaannya, dan kapan dibuatnya, bagaimana pengorganisasiannya dalam keseluruhan kegiatan belajar, serta adanya pemahaman bahwa hasil terbaik akan diperoleh dengan menggunakan multi media
· Prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan kegiatan penilaian meliputi kegiatan penyusunan alat penilaian harus mengikuti beberapa prosedur mulai dari perumusan tujuan umum, menguraikan dalam bentuk tingkah laku siswa yang dapat diamati, menghubungkan dengan bahan pelajaran dan menuliskan butir-butir tes. Selain itu, terdapat bebarapa hal yang perlu juga dicermati dalam perencanaan penilaian yang meliputi bagaimana kelas, usia, dan tingkat kemampuan siswa yang akan dites, berapa lama waktu pelaksanaan tes, apakah tes berbentuk uraian atau objective, berapa banyak butir tes yang perlu disusun, dan apakah tes diadministrasikan guru atau murid. Dalam kegiatan pengolahan haisl penilaian juga perlu mempertimbangkan beberapa hal yaitu norma apa yang digunakan dalam pengolahan hasil tes, apakah digunakan formula guessing bagaimana pengubahan skor menjadi skor masak, skor standar apa yang digunakan, serta untuk apa hasil tes digunakan.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusSaya setuju dengan pendapat kak tri dan kak wiwid dimana prinsip umum dan prinsip khusus dalam sebuah desain sistem pembelajaran kimia itu saling berhubungan dan saling keterkaitan dimana masing-masing dari prinsip umum dan prinsip khusus itu sendiri sudah disebutkan diatas secara rinci oleh kak wiwid
Hapusuntuk pertanyaan "Bagaimana kita sebagai perancang program pembelajaran dalam memilih desain pembelajaran yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi belajar di kelas ?"
BalasHapusmenurut saya sebagai seorang desainer, kita memahami betul apa yang kita butuhkan, jdi bagaimana kita memilih desainnya, menurut saya contohnya begini kita seorang koki, mau membuat kue kukus, berarti yang kita perlu pakai adalah sistematika proses (desain) pembuatan kue kukus. jangan dilakukan pemanggangan dioven karna nantinya jdi kue panggang bukan kukus. ya sekiranya begitulah.