Rabu, 10 Oktober 2018

Prinsip Desain Sistem Pembelajaran Kimia


1.     Pengertian Desain Pembelajaran
Desain pembelajaran adalah pengembangan secara sistematis dari spesifikasi pembelajaran dengan menggunakan teori belajar dan pembelajaran untuk menjamin kualitas pembelajaran. Proses perancangan dan pengembangan ini meliputi segala proses analisis kebutuhan pembelajaran, tujuan dan pengembangan sistem untuk mencapai tujuan, pengembangan bahan dan aktivitas pembelajaran, uji coba dan evaluasi dari seluruh pembelajaran dan aktivitas peserta didik.
Desain pembelajaran merupakan kegiatan memaksimalkan keefektifan, efisiensi dan hasil pembelajaran dan pengalaman pembelajaran lainnya. Kegiatan tersebut meliputi penentuan keadaan awal, kebutuhan peserta didik, menentukan tujuan akhir dan menciptakan beberapa perlakuan untuk membantu dalam masa transisi tersebut. Di bagian lain dijelaskan desain pembelajaran adalah pengembangan pengajaran secara sistematik yang digunakan secara khusus teori-teori pembelajaran untuk menjamin kualitas pembelajaran. Gagne (1985) menyatakan bahwa desain pembelajaran disusun untuk membantu proses belajar peserta didik, proses belajar tersebut memiliki tahapan saat ini dan tahapan jangka panjang.
Pendapat yang lebih spesifik dikemukakan oleh Gentry (1985: 67), bahwa desain pembelajaran berkenaan dengan proses menentukan tujuan pembelajaran, strategi dan teknik untuk mencapai tujuan serta merancang media yang dapat digunakan untuk keefektifan pencapaian tujuan.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat dirumuskan bahwa desain pembelajaran adalah pengembangan pembelajaran secara sistematis untuk memaksimalkan keefektifan dan efisiensi pembelajaran. Kegiatan mendesain pembelajaran diawali dengan menganalisis kebutuhan peserta didik, menentukan tujuan pembelajaran, mengembangkan bahan dan aktivitas pembelajaran, yang di dalamnya mencakup penentuan sumber belajar, strategi pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, media pembelajaran dan penilaian (evaluasi) untuk mengukur tingkat keberhasilan pembelajaran. Hasil evaluasi tersebut digunakan sebagai acuan untuk mengetahui tingkat efektivitas, efisiensi dan produktivitas proses pembelajaran.
2.     Desain Sistem Pembelajaran
Sistem pembelajaran merupakan satu kesatuan dari beberapa komponen pembelajaran yang saling berinteraksi, interelasi dan interdependensi dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Komponen pembelajaran meliputi; peserta didik, pendidik, kurikulum, bahan ajar, media pembelajaran, sumber belajar, proses pembelajaran, fasilitas, lingkungan dan tujuan.
Untuk mendesain pembelajaran harus memahami asumsi-asumsi tentang hakekat desain sistem pembelajaran, Asumsi-asumsi yang perlu diperhatikan dalam mendesain system pembelajaran sebagai berikut:
(1) desain sistem pembelajaran didasarkan pada pengetahuan tentang bagaimana seseorang belajar,
(2) desain sistem pembelajaran diarahkan kepada peserta didik secara individual dan kelompok,
(3) hasil pembelajaran mencakup hasil langsung dan pengiring,
(4) sasaran terakhir desain sistem pembelajaran adalah memudahkan belajar, (5) desain sistem pembelajaran mencakup semua variabel yang mempengaruhi belajar,
(6) inti desain sistem pembelajaran adalah penetapan silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran, (metode, media, skenario, sumber belajar, sistem penilaian) yang optimal untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
3. Komponen Utama Desain Pembelajaran
Fausner (2006) berpandangan bahwa seorang perancang program pembelajaran tidak dapat menciptakan program pembelajaran yang efektif, jika hanya mengenal satu model desain pembelajaran. Perancang program pembelajaran hendaknya mampu memilih desain yang tepat sesuai dengan situasi atau setting pembelajaran yang spesifik. Untuk itu diperlukan adanya pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang model-model desain sistem pembelajaran dan cara mengimplementasikannya.
Untuk merancang dan mengembangkan sistem pembelajaran, dipengaruhi oleh beberapa komponen sebagai berikut:
1.     Kemampuan awal peserta didik dan potensi yang dimiliki
2.     Tujuan Pembelajaran (umum dan khusus) adalah penjabaran kompetensi yang akan dikuasai oleh peserta didik
3.     Analisis materi pembelajaran yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
4.     Analisis aktivitas pembelajaran, merupakan proses menganalisis topik atau materi yang akan dipelajari
5.     Pengembangan media pembelajaran yang sesuai dengan tujuan, materi pembelajaran dan kemampuan peserta didik
6.     Strategi pembelajaran, dapat dilakukan secara makro dalam kurun satu tahun atau mikro dalam kurun satu kegiatan belajar mengajar.
7.     Sumber belajar, adalah sumber-sumber yang dapat diakses untuk memperoleh materi yang akan dipelajari
8.     Penilaian belajar, tentang pengukuran kemampuan atau kompetensi yang dikuasai oleh peserta didik.
4.Prinsip Desain Pembelajaran
Prinsip-prinsip yang akan digunakan dalam kegiatan desain pembelajaran pada dasarnya merupakan kaidah-kaidah atau hukum yang akan menjiwai suatu kurikulum pembelajaran. Desain pembelajaran dapat menggunakan prinsip-prinsip yang telah berkembang dalam kehidupan sehari-hari atau justru menciptakan sendiri prinsip-prinsip baru. Oleh karena itu, dalam implementasi kurikulum di suatu unit diklat sangat mungkin terjadi penggunaan prinsip-prinsip yang berbeda dengan kurikulum pembelajaran yang digunakan di unit diklat lainnya, sehingga akan ditemukan banyak sekali prinsip-prinsip yang digunakan dalam suatu desain pembelajaran. Dalam hal ini, Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengetengahkan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum atau desain pembelajaran yang dibagi ke dalam dua kelompok:
1.     prinsip – prinsip umum : relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, praktis, dan efektivitas;
2.     prinsip-prinsip khusus : prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar, prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pelajaran, dan prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian.
Sedangkan Asep Herry Hernawan dkk (2002) menjabarkan secara lebih lanjut kelima prinsip umum dalam pengembangan instruksional seperti tersebut di atas sebagai berikut.
1.              Prinsip relevansi: secara internal bahwa kurikulum memiliki relevansi di antara komponen-komponen kurikulum (tujuan, bahan, strategi, organisasi dan evaluasi). Sedangkan secara eksternal bahwa komponen-komponen tersebut memiliki relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi (relevansi epistomologis), tuntutan dan potensi peserta diklat (relevansi psikologis) serta tuntutan dan kebutuhan perkembangan masyarakat (relevansi sosilogis).
2.              Prinsip fleksibilitas: dalam pengembangan kurikulum mengusahakan agar yang dihasilkan memiliki sifat luwes, lentur dan fleksibel dalam pelaksanaannya, memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi tempat dan waktu yang selalu berkembang, serta kemampuan dan latar bekang peserta diklat.
3.              Prinsip kontinuitas: yakni adanya kesinambungan dalam kurikulum, baik secara vertikal, maupun secara horizontal. Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum harus memperhatikan kesinambungan, baik yang di dalam tingkat kelas, antarjenjang pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan dengan jenis pekerjaan.
4.              Prinsip efisiensi: yakni mengusahakan agar dalam pengembangan kurikulum dapat mendayagunakan waktu, biaya, dan sumber-sumber lain yang ada secara optimal, cermat dan tepat sehingga hasilnya memadai.
5.              Prinsip efektivitas: yakni mengusahakan agar kegiatan pengembangan kurikulum mencapai tujuan tanpa kegiatan yang mubazir, baik secara kualitas maupun kuantitas.
Prinsip-Prinsip Khusus dalam Desain pembelajaran dapat dijabarkan sebagai berikut:
1.        Prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan: ketentuan/kebijakan pemerintah; survey persepsi user; survey pandangan para ahli atau nara sumber; pengalaman badan pemerintah yang lain atau dari negara lain; penelitian sebelumnya
2.        Prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan: penjabaran tujuan ke dalam bentuk pengalaman belajar yang diharapkan; isi meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan disusun berdasarkan urutan logis dan sistematis
3.        Prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar: keselarasan pemilihan metode; memperhatikan perbedaan individual ; pencapaian aspek kognitif, afektif, dan skills.
4.        Prinsip berkenaan dengan pemilihan media: ketersediaan alat yang sesuai dengan situasi; pengorganisasian alat dan bahan; pengintegrasian ke dalam proses
5.        Prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian: kesesuaian dengan isi dan tingkat perkembangan peserta diklat; waktu; administrasi penilaian;

5.Kedudukan Desain Sistem Pembelajaran
Setiap komponen memiliki peran dan fungsi sesuai dengan konteksnya. Untuk membuat rancangan dan pengembangan sistem pembelajaran harus memahami posisi dan perannya dalam pelaksanaan pembelajaran. Kedudukan desain sistem pembelajaran dalam kegiatan pembelajaran, merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran. Proses kegiatan pembelajaran secara umum meliputi tiga tahap, yaitu tahap pertama; merancang dan mengembangkan system pembelajaran, kedua penerapan desain sistem pembelajaran dan ketiga evaluasi pembelajaran.

6.        Klasifikasi Model Desain Sistem Pembelajaran
1.     Model desain sistem pembelajaran yang berorientasi kelas (Classrooms oriented model)

Model ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pendidik dan peserta didik akan aktivitas pembelajaran yang efektif, efisien, produktif dan menarik. Model-model desain sistem pembelajaran yang termasuk klasifikasi ini dapat diimplementasikan mulai dari jenjang sekolah dasar sampai jenjang pendidikan tinggi. Pendidik, widyaiswara, instruktur, dan dosen perlu memiliki pemahaman yang baik tentang desain sistem pembelajaran yang efektif, efisien, dan menarik.
Penggunaan model berorientasi kelas ini didasarkan pada asumsi adanya sejumlah aktivitas pembelajaran yang diselenggarakan di dalam kelas dengan waktu belajar yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam hal ini, tugas pendidik memilih isi/materi pelajaran yang tepat, merencanakan strategi pembelajaran, menyampaikan isi/materi pelajaran, dan mengevaluasi hasil belajar. Para pendidik biasanya menganggap bahawa model desain sistem pembelajaran pada dasarnya berisi langkah-langkah yang harus diikuti.

2.     Model desain pembelajaran yang berorientasi produk (Product oriented model)

Model desain sistem pembelajaran yang berorientasi pada produk, pada umumnya didasarkan pada asumsi adanya program pembelajaran yang dikembangkan dalam kurun waktu tertentu. Model-model desain sistem pembelajaran ini menerapkan proses analisis kebutuhan yang sangat ketat.
Para pengguna produk/program pembelajaran yanga dihasilkan melalui penerapan desain sistem pembelajaran pada model ini biasanya tidak memiliki kontak langsung dengan pengembang programnya. Kontak langsung antara pengguna program dan pengembang program hanya terjadi pada saat proses evaluasi terhadap prototipe program.
Model-model yang berorientasi pada produk biasanya ditandai dengan empat asumsi pokok, yaitu: 1) Produk atau program pembelajaran memang sangat diperlukan, 2) Produk atau program pembelajaran baru perlu diproduksi, 3) Produk atau program pembelajaran memerlukan proses uji coba dan revisi, 4) Produk atau program pembelajaran dapat digunakan walaupun hanya dengan bimbingan dari fasilitator.

3. Model desain sistem pembelajaran yang berorientasi sistem (System oriented model)

Model desain sistem pembelajaran yang berorientasi pada sistem dilakukan untuk mengembangkan sistem dalam skala besar seperti keseluruhan mata pelajaran atau kurikulum. Implementasi model desain sistem pembelajaran yang berorientasi pada sistem memerlukan dukungan sumber daya besar dan tenaga ahli yang berpengalaman.
Model desain sistem pembelajaran yang berorientasi pada sistem dimulai dari tahap pengumpulan data untuk menentukan kemungkinan-kemungkinan implementasi solusi yang diperlukan untuk mengatasi masalah yang terdapat dalam suatu sistem pembelajaran. Analisis kebutuhan dan front-end analysis dilakukan secara intensif untuk mencari solusi yang akurat. Perbedaan pokok antara model yang berorientasi sistem dengan produk terletak pada tahap atau fase desain, pengembangan, dan evaluasi. Ketiga fase ini dilakukan dalam skala yang lebih besar pada model desain sistem pembelajaran yang berorientasi pada sistem.
7.        Model Model Desain Pembelajaran
Model desain sistem pembelajaran berperan sebagai alat konseptual, pengelolaan, komunikasi untuk menganalisis, merancang, menciptakan, mengevaluasi program pembelajaran, dan program pelatihan.
1)    Model Dick and Carey
Model yang dikembangkan didasarkan pada penggunaan pendekatan sistem terhadap komponen-komponen dasar desain pembelajaran yang meliputi analisis desain pengembangan, implementasi dan evaluasi. Adapun komponen dan sekaligus merupakan langkah-langkah utama dari model desain pembelajaran yang dikemukakan oleh Dick, Carey & Carey (2009) adalah:
1.     Mengidentifikasi tujuan pembelajaran.
2.     Melakukan analisis instruksional.
3.     Menganalisis karakteristik peserta didik dan konteks pembelajaran.
4.     Merumuskan tujuan pembelajaran khusus.
5.     Mengembangkan instrumen penilaian.
6.     Mengembangkan strategi pembelajaran.
7.      Mengembangkan dan memilih bahan ajar.
8.      Merancang dan mengembangkan evaluasi formatif.
9.      Melakukan revisi terhadap program pembelajaran.
10.            Merancang dan mengembangkan evaluasi sumatif.
Adapun Model Dick,Carey & Carey diilustrasikan melalui Bagan berikut

2). Model Kemp
Menurut Morisson, Ross, dan Kemp (2004), model desain sistem pembelajaran ini akan membantu pendidik sebagai perancang program atau kegiatan pembelajaran dalam memahami kerangka teori dengan lebih baik dan menerapakan teori tersebut untuk menciptakan aktivitas pembelajaran yang lebih efektif dan efisien. Desain pembelajaran model Kemp dapat dijelaskan dengan sebuah bagan berikut:

 Secara singkat, menurut model ini terdapat beberapa langkah, yaitu:

a) Menentukan tujuan dan daftar topik, menetapkan tujuan umum untuk pembelajaran tiap topiknya;
b) Menganalisis karakteristik peserta didik, untuk siapa pembelajaran tersebut didesain;
c) Menetapkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan syarat dampaknya dapat dijadikan tolok ukur perilaku peserta didik;
d) Menentukan isi materi pelajar yang dapat mendukung tiap tujuan;
e) Pengembangan penilaian awal untuk menentukan latar belakang peserta didik dan pemberian level pengetahuan terhadap suatu topik;
f) Memilih aktivitas dan sumber pembelajaran yang menyenangkan atau menentukan strategi pembelajaran, jadi peserta didik akan mudah menyelesaikan tujuan yang diharapkan;
g) Mengkoordinasi dukungan pelayanan atau sarana penunjang yang meliputi personalia, fasilitas-fasilitas, perlengkapan, dan jadwal untuk melaksanakan rencana pembelajaran;
h) Mengevaluasi pembelajaran peserta didik dengan syarat mereka menyelesaikan pembelajaran serta melihat kesalahan-kesalahan dan peninjauan kembali beberapa fase dari perencanaan yang membutuhkan perbaikan yang terus menerus, evaluasi yang dilakukan berupa evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.

3.    Model ADDIE

Ada satu model desain pembelajaran yang lebih sifatnya lebih generik yaitu model ADDIE (Analysis-Design-Develop-Implement-Evaluate). ADDIE muncul pada tahun 1990-an yang dikembangkan oleh Reiser dan Mollenda. Salah satu fungsinya ADDIE yaitu menjadi pedoman dalam membangun perangkat dan infrastruktur program pelatihan yang efektif, dinamis dan mendukung kinerja pelatihan itu sendiri.
Model ini menggunakan lima tahap pengembangan yakni: a) Analysis (analisa), b) Design (disain/perancangan), c) Development (pengembangan), d) Implementation (implementasi/eksekusi), e) Evaluation (evaluasi/umpan balik). Masing-masing langkah dideskripsikan sebagai berikut:

Langkah 1: Analisis
Tahap analisis merupakan suatu proses mendefinisikan apa yang akan dipelajari oleh peserta didik, yaitu melakukan needs assessment (analisis kebutuhan), mengidentifikasi masalah (kebutuhan), dan melakukan analisis tugas (task analysis). Oleh karena itu, output yang akan dihasilkan adalah berupa karakteristik atau profil calon peserta didik, identifikasi kesenjangan, identifikasi kebutuhan dan analisis tugas yang rinci didasarkan atas kebutuhan.
Langkah 2: Desain
Tahap ini dikenal juga dengan istilah membuat rancangan (blueprint). Ibarat bangunan, maka sebelum dibangun gambar rancang bangun (blue-print) di atas kertas harus ada terlebih dahulu. Pada tahap desain ini diperlukan: pertama merumuskan tujuan pembelajaran yang SMART (spesific, measurable, applicable, realistic, dan Times ). Selanjutnya menyusun tes yang didasarkan pada tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan tadi. Kemudian menentukan strategi pembelajaran yang tepat harusnya seperti apa untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam hal ini ada banyak pilihan kombinasi metode dan media yang dapat dipilih dan tentukan yang paling relevan. Di samping itu, perlu dipertimbangkan pula sumber-sumber pendukung lain, semisal sumber belajar yang relevan, lingkungan belajar yang seperti apa seharusnya, dan lain-lain. Semua itu tertuang dalam suatu dokumen bernama blue-print yang jelas dan rinci.
Langkah 3: Pengembangan
Pengembangan adalah proses mewujudkan blue-print atau desain yang dibuat menjadi kenyataan. Artinya, jika dalam desain diperlukan suatu software berupa multimedia pembelajaran, maka multimedia tersebut harus dikembangkan, misal diperlukan modul cetak, maka modul tersebut perlu dikembangkan. Begitu pula halnya dengan lingkungan belajar lain yang akan mendukung proses pembelajaran semuanya harus disiapkan dalam tahap ini. Satu langkah penting dalam tahap pengembangan adalah  uji coba sebelum diimplementasikan. Tahap uji coba ini memang merupakan bagian dari salah satu langkah ADDIE, yaitu evaluasi. Lebih tepatnya evaluasi formatif, karena hasilnya digunakan untuk memperbaiki sistem pembelajaran yang sedang dikembangkan.
Langkah 4: Implementasi
Implementasi adalah langkah nyata untuk menerapkan sistem pembelajaran yang dibuat. Artinya, pada tahap ini semua yang telah dikembangkan dipersiapkan sesuai dengan peran atau fungsinya agar bisa diimplementasikan. Misal, jika memerlukan software tertentu maka software tersebut harus sudah diinstall. Jika penataan lingkungan harus tertentu, maka lingkungan atau setting tertentu tersebut juga harus ditata. Barulah diimplementasikan sesuai skenario atau desain awal.
Langkah 5: Evaluasi
Evaluasi adalah proses untuk melihat apakah sistem pembelajaran yang sedang dibangun berhasil, sesuai dengan harapan awal atau tidak. Sebenarnya tahap evaluasi bisa terjadi pada setiap empat tahap di atas. Evaluasi yang terjadi pada setiap empat tahap diatas itu dinamakan evaluasi formatif, karena tujuannya untuk kebutuhan revisi. Misal, pada tahap rancangan, mungkin kita memerlukan salah satu bentuk evaluasi formatif misalnya review ahli untuk memberikan input terhadap rancangan yang sedang dibuat. Pada tahap pengembangan, mungkin perlu uji coba dari produk yang dikembangkan atau mungkin perlu evaluasi kelompok kecil dan lain-lain.
Pertanyaan :
1.     Apakah dengan mengenal dan memahami satu model desain pembelajaran dapat menciptakan pembelajaran yang efektif ? Beri alasannya !
2.     Bagaimana kita sebagai perancang program pembelajaran dalam memilih desain pembelajaran yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi belajar di kelas ?
3.     Pada prinsip desain sistem pembelajaran terdapat prinsip umum dan prinsip khusus, menurut Anda prinsip yang manakah yang sangat berpengaruh dalam mendesain pembelajaran kimia ?

18 komentar:

  1. saya akan menanggapi pertanyaan fero yakni Apakah dengan mengenal dan memahami satu model desain pembelajaran dapat menciptakan pembelajaran yang efektif ? Beri alasannya !
    menurut saya kita tidak cukup hanya terpaku pada satu model desain sistem pembelajaran saja, menurut syaa sebaiknya kita juga mempelajari dan memahami model yang lainnya,degan demikian kita bisa melakukan komparasi terhadap model tsb satu sama lain dan dapat lebih onjektif memilih mana model yang cocok kita gunakan di sekolah yang kita belajarkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju dengan kak rini dimana kita harus memahami banyak model desain pembelejaran agar nanti kita lebih objektif dalam memilihnya. Karena dalam merancang suatu desain pembelajaran kita memiliki tujuan pembelajaran seperti apa yang hendak dicapai. Sintak pembelajaran dikelas kah yang mau direvisi atau membuat suatu produkkah. Maka dari itu sebelum memilih model maka kita tentukan tujuan seperti apa yang hendak dicapai lalu dipilihlah model desain mana yang sesuai

      Hapus
    2. Terima kasih atas jawaban kak rini dan Rifani, tadi dikatakan bahwa kita tidak cukup hanya terpaku pada satu model desain sistem pembelajaran saja, sebaiknya kita juga mempelajari dan memahami model yang lainnya,dengan demikian kita bisa melakukan komparasi terhadap model tsb satu sama lain dan dapat lebih objektif memilih mana model yang cocok kita gunakan di sekolah yang kita belajarkan. Maka dari itu sebelum memilih model maka kita tentukan tujuan seperti apa yang hendak dicapai lalu dipilihlah model desain mana yang sesuai. Yang menjadi pertanyaan adalah berikan contoh tujuan seperti apa yang sesuai dalam memilih model pembelajaran ?

      Hapus
  2. ingin menjawab pertanyaan 1, menurut saya tidak bisa hanya mengenal satu model desain saja, karena ketika kita ingin mendesain kita harus menganalisis tujuan dan kebutuhan yg ada di kelas. dan dari analisis inilah kita baru bisa menentukan desain mana yang cocok dan dapat dipakai untuk memenuhi tujuan dan kebutuhan tsb.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas jawaban saudari Rina, tadi dikatakan bahwa tidak bisa hanya mengenal satu model desain saja, karena ketika kita ingin mendesain kita harus menganalisis tujuan dan kebutuhan yg ada di kelas. dan dari analisis inilah kita baru bisa menentukan desain mana yang cocok dan dapat dipakai untuk memenuhi tujuan dan kebutuhan tsb. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana jika ada guru yang belum bisa menganalisis tujuan ? otomatis apabila belum bisa menganalisis tujuan, tidak bisa ke tahap selanjutnya yaitu menentukan desain, bagaimana cara menanggapinya ?

      Hapus
    2. Saya setuju dengan pendapat rina bahwa memang untuk mendesain tidak hanya emahami 1 model saja namun banyak model dan kembali lagi kepada tujuan apa tujuan pembelajaran hari itu, lalu apa kebutuhan siswa dan munculkan hal2 apa yang ingin di harapkan, baru bisa kita mebdesain model apa yang cocok untuk diterapkab

      Hapus
  3. Dengan berpegang kepada prinsip2 dalam desain pembelajaran. Yaitu prinsip yang berkenaan dengan tujuan pendidikan dimana kita harus melihat kebijakan pemerintah survey persepsi user survey pandangan para ahli atau narasumber pengalaman badan pemerintah yang lain atau negara lain dan penelitian sebelumnya. Prinsip yang berkenaan dengan pemilihan isi pebdidikan. Disini kita menjabarkn tujuan ke dalam bentuk pengalaman belajar yang di harappkan isi meliputi pengatuan sikap dan skills yang disusun berdasarkan aturan logis dan sistematis. Prinsip yang berkenaan dengan pemilihan proses brlajar mengajar disini melihat keselarasan pemilihan metode memperhatijan perbedaan individual percapaian aspek kognitif afektif dan skills. Prinsip yang berkenaan dengan pemilihan media disini guru harus memperhatikan ketersediaan alat yang sesuai dengan situasu pengorganisasian alat dan bahan, pengintegrasian kebdalam proses. Dan prinsip yang berkenaan drngan pemilihan kegiatan penilaian atau evaluasi disni guru harus memperhatikan kesesuaian dengan isi dan tingkat perkembangan peserta waktu dan administrasi penilaian. Dari prinsip prinsip inilah guru mampu menyusun desain pembelajaran agar sesuai dengan situasi dan kondisi didalam kelas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sependapat dengan dian bahwa Dengan berpegang kepada prinsip2 dalam desain pembelajaran. Yaitu prinsip yang berkenaan dengan tujuan pendidikan dimana kita harus melihat kebijakan pemerintah survey persepsi user survey pandangan para ahli atau narasumber pengalaman badan pemerintah yang lain atau negara lain dan penelitian sebelumnya. Prinsip yang berkenaan dengan pemilihan isi pebdidikan. Disini kita menjabarkn tujuan ke dalam bentuk pengalaman belajar yang di harappkan isi meliputi pengatuan sikap dan skills yang disusun berdasarkan aturan logis dan sistematis. Prinsip yang berkenaan dengan pemilihan proses brlajar mengajar disini melihat keselarasan pemilihan metode memperhatijan perbedaan individual percapaian aspek kognitif afektif dan skills

      Hapus
    2. saya sependpat dengan saudari dian. Dengan berpegang kepada prinsip2 dalam desain pembelajaran. Yaitu prinsip yang berkenaan dengan tujuan pendidikan dimana kita harus melihat kebijakan pemerintah survey persepsi user survey pandangan para ahli atau narasumber pengalaman badan pemerintah yang lain atau negara lain dan penelitian sebelumnya. selain itu dengan memahami banyak prinsip desain pembelajaran, kita dapat memilah dan memilih desai pembelajaran apa yang akan kita tetapkan.

      Hapus
  4. Menanggapi permasalahan tantang Bagaimana kita sebagai perancang program pembelajaran dalam memilih desain pembelajaran yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi belajar di kelas ?
    Untuk memilih suatu desain pembelajaran yg harus kita pertimbangkan yang pertama adalah kemampuan diri kita sendiri, kemudian baru kita analisa model apa yang cocok, yang mana tujuan dari desain pembelajaran itu adalah untuk mencapai solusi terbaik dalam memecahkan masalah dengan memanfaatkan sejumlah informasi yg ada.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas jawaban dari saudari Esa, tadi dikatakan bahwa untuk memilih suatu desain pembelajaran yg harus kita pertimbangkan yang pertama adalah kemampuan diri kita sendiri, yang menjadi pertanyaan adalah apabila kemampuan guru ada yang belum maksimal dalam memahami suatu desain pembelajaran, bagaimana menanggapi hal tersebut ?

      Hapus
    2. menanggapi permasalahan ini saya setuju dengan kaka esa dimana Untuk memilih suatu desain pembelajaran yg harus kita pertimbangkan yang pertama adalah kemampuan diri kita sendiri, kemudian baru kita analisa model apa yang cocok, yang mana tujuan dari desain pembelajaran itu adalah untuk mencapai solusi terbaik dalam memecahkan masalah dengan memanfaatkan sejumlah informasi yg ada.
      nah muncul pertanyaan lagi bagaimana jika kemampuan guru ada yang belum maksimal dalam memahami suatu desain pembelajaran?
      menurut saya hal ini memang tidak dapat sertamerta dilakukan guru perlu adanya pembelajaran terus menerus dari penaglaman nya berdasarkan penerapan disain yang cocok sesuai situasi dan kondisi belajar dikelas, selain itu bisa pula dengan melakukan sharing dengan rekan sejawatnya, atau melalui pelatihan dalam mendesai pembelajaran yang dapat dilakukan disekolah ataupun dari pemerintah

      Hapus
  5. menurt saya mau umum dan khusus harus berjalan berkaitan karena prinsip-prinsip pengembangan kurikulum atau desain pembelajaran yang dibagi ke dalam dua kelompok:
    1. prinsip – prinsip umum : relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, praktis, dan efektivitas;
    2. prinsip-prinsip khusus : prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar, prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pelajaran, dan prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju dengan pendapat saudari tri dimana saling berkaitan antara prinsip khusus dan prinsip umum .


      Prinsip-prinsip umum meliputi :
      ·Relevansi
      Dalam hal ini dapat dibedakan relevansi keluar yang berarti bahwa tujuan, isi, dan proses belajar harus relevan dengan tuntutan, kebutuhan dan perkembangan masyarakat dan relevansi ke dalam berarti bahwa terdapat kesesuaian atau konsistensi antara komponen-komponen kurikulum, yaitu antara tujuan, isi, proses penyampaian dan penilaian yang menunjukkan keterpaduan kurikulum.

      ·Fleksibilitas
      Kurikulum harus dapat mempersiapkan anak untuk kehidupan sekarang dan yang akan datang, di sini dan di tempat lain, bagi anak yang memiliki latar belakang dan kemampuan yang berbeda. Hal ini berarti bahwa kurikulum harus berisi hal-hal yang solid, tetapi dalam pelaksanaannya memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan kondisi daerah, waktu maupun kemampuan, dan latar belakang anak.

      ·Kontinuitas
      Terkait dengan perkembangan dan proses belajar anak yang berlangsung secara berkesinambungan, maka pengalaman belajar yang disediakan kurikulum juga hendaknya berkesinambungan antara satu tingkat kelas dengan kelas lainnya, antara satu jenjang pendidikan dengan jenjang lainnya, serta antara jenjang pendidikan dengan pekerjaan.

      ·Praktis/efisiensi
      Kurikulum harus praktis, mudah dilaksanakan, menggunakan alat-alat sederhana dan biayanya murah. Dalam hal ini, kurikulum dan pendidikan selalu dilaksanakan dalam keterbatasan-keterbatasan, baik keterbatasan waktu, biaya, alat, maupun personalia.

      ·Efektifitas
      Efektifitas berkenaan dengan keberhasilan pelaksanaan kurikulum baik secara kuantitas maupun kualitasnya. Kurikulum merupakan penjabaran dari perencanaan pendidikan dari kebijakan-kebijakan pemerintah. Dalam pengembangannya, harus diperhatikan kaitan antara aspek utama kurikulum yaitu tujuan, isi, pengalaman belajar, serta penilaian dengan kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan.

      Hapus
    2. Prinsip-prinsip khusus dalam pengembangan kurikulum meliputi:

      · Prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan
      Tujuan pendidikan merupakan pusat dan arah semua kegiatan pendidikan sehingga perumusan komponen pendidikan harus selalu mengacu pada tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Tujuan ini bersifat umum atau jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek. Perumusan tujuan pendidikan bersumber pada ketentuan dan kebijakan pemerintah, survey mengenai persepsi orangtua / masyarakat tentang kebutuhan mereka, survey tentang pandangan para ahli dalam bidang-bidang tertentu, survey tentang manpower, pengalaman-pengalaman negara lain dalam masalah yang sama, dan penelitian.

      · Prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan
      Dalam perencanaan kurikulum perlu mempertimbangkan beberapa hal, yaitu perlunya penjabaran tujuan pendidikan ke dalam bentuk perbuatan hasil belajar yang khusus dan sederhana, isi bahan pelajaran harus meliputi segi pengetahuan, sikap, dan keterampilan, dan unit-unit kurikulum harus disusun dalam urutan yang logis dan sistematis.

      · Prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar-mengajar
      Pemilihan proses belajar mengajar hendaknya mempertimbangkan beberapa hal, yaitu apakah metode yang digunakan cocok, apakah dengan metode tersebut mampu memberikan kegiatan yang bervariasi untuk melayani perbedaan individual siswa, apakah metode tersebut juga memberikan urutan kegiatan yang bertingkat-tingkat, apakah penggunaan metode tersebut dapat mencapai tujuan kognitif, afektif dan psikomotor, apakah metode tersebut lebih menaktifkan siswa, apakah metode tersebut mendorong berkembangnya kemampuan baru, apakah metode tersebut dapat menimbulkan jalinan kegiatan belajar di sekolah dan rumah sekaligus mendorong penggunaan sumber belajar di rumah dan di masyarakat, serta perlunya kegiatan belajar yang menekankan learning by doing, bukan hanya learning by seeing and knowing.

      · Prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pengajaran
      Proses belajar mengajar perlu didukung oleh penggunaan media dan alat-alat bantu pengajaran yang tepat. Untuk itu perlu diperhatikan beberapa hal berikut, yaitu alat/media apa yang dibutuhkan, bila belum ada apa penggantinya, bagaimana pembuatannya, siapa yang membuat, bagaimana pembiayaannya, dan kapan dibuatnya, bagaimana pengorganisasiannya dalam keseluruhan kegiatan belajar, serta adanya pemahaman bahwa hasil terbaik akan diperoleh dengan menggunakan multi media

      · Prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian
      Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan kegiatan penilaian meliputi kegiatan penyusunan alat penilaian harus mengikuti beberapa prosedur mulai dari perumusan tujuan umum, menguraikan dalam bentuk tingkah laku siswa yang dapat diamati, menghubungkan dengan bahan pelajaran dan menuliskan butir-butir tes. Selain itu, terdapat bebarapa hal yang perlu juga dicermati dalam perencanaan penilaian yang meliputi bagaimana kelas, usia, dan tingkat kemampuan siswa yang akan dites, berapa lama waktu pelaksanaan tes, apakah tes berbentuk uraian atau objective, berapa banyak butir tes yang perlu disusun, dan apakah tes diadministrasikan guru atau murid. Dalam kegiatan pengolahan haisl penilaian juga perlu mempertimbangkan beberapa hal yaitu norma apa yang digunakan dalam pengolahan hasil tes, apakah digunakan formula guessing bagaimana pengubahan skor menjadi skor masak, skor standar apa yang digunakan, serta untuk apa hasil tes digunakan.

      Hapus
    3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    4. Saya setuju dengan pendapat kak tri dan kak wiwid dimana prinsip umum dan prinsip khusus dalam sebuah desain sistem pembelajaran kimia itu saling berhubungan dan saling keterkaitan dimana masing-masing dari prinsip umum dan prinsip khusus itu sendiri sudah disebutkan diatas secara rinci oleh kak wiwid

      Hapus
  6. untuk pertanyaan "Bagaimana kita sebagai perancang program pembelajaran dalam memilih desain pembelajaran yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi belajar di kelas ?"
    menurut saya sebagai seorang desainer, kita memahami betul apa yang kita butuhkan, jdi bagaimana kita memilih desainnya, menurut saya contohnya begini kita seorang koki, mau membuat kue kukus, berarti yang kita perlu pakai adalah sistematika proses (desain) pembuatan kue kukus. jangan dilakukan pemanggangan dioven karna nantinya jdi kue panggang bukan kukus. ya sekiranya begitulah.

    BalasHapus