Landasan yang dipilih untuk dijadikan dasar
pijakan dalam mengembangkan kurikulum sangat tergantung atau dipengaruhi oleh
pandangan hidup, kultur, kebijakan poltik yang dianut oleh negara dimana
kurikulum itu dikembangkan. Secara umum keempat landasan yaitu landasan
filosofis, psikologis, sosiologis, serta landasan ilmu pengetahuan dan
teknologi adalah landasan umum dan pokok sebagai dasar pijakan dalam
mengembangkan kurikulum.
Mengingat
kurikulum merupakan suatu program pendidikan yang berfungsi sebagai alat untuk
merubah perilaku peserta didik (siswa) kearah yang diharapkan oleh pendidikan,
maka tentu saja dalam mengembangkan kurikulum pendidikan harus menggunakan
asusmsi-asumsi atau landasan yang bersumber dari studi ilmiah bidang psikologi.
Psikologi
adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan lingkungan,
sedangkan kurikulum adalah upaya menentukan program pendidikan untuk merubah
perilaku manusia. Oleh sebab itu dalam mengembangkan kurikulum harus dilandasi
oleh psikologi sebagai acuan dalam menentukan apa dan bagaimana perilaku
peserta didik itu harus dikembangkan.
Oleh
karena itu melalui penerapan landasan psikologi dalam pengembangan kurikulum,
tiada lain agar upaya pendidikan yang dilakukan dapat menyesuaikan dengan
hakikat peserta didik, baik penyesuaian dari segi materi atau bahan yang harus
disampaikan, penyesuaian dari segi proses penyampaian atau pembelajarannya, dan
penyesuaian dari unsur-unsur upaya pendidikan lainnya.
Karakteristik
perilaku setiap individu pada berbagai tingkatan perkembangan merupakan kajian
dari psikologi perkembangan, dan oleh karena itu dalam pengembangan kurikulum
yang senantiasa berhubungan dengan program pendidikan untuk kepentingan peserta
didik, maka landasan psikologi mutlak harus dijadikan dasar dalam upaya
pengembangannya.
Perkembangan
yang dialami oleh peserta didik pada umumnya diperoleh melalui proses belajar. Guru sebagai pendidik harus
mengupayakan cara/metode yang lebih baik untuk melaksanakan proses pembelajaran
guna mendapatkan hasil yang optimal, dalam hal ini proses pembelajaran mutlak
diperlukan pemikiran yang mendalam dengan memperhatikan psikologi belajar.
A. Psikologi Perkembangan dan Kurikulum
Anak
sejak dilahirkan sudah memperlihatkan keunikan–keunikan yang berbeda satu sama
lainnya, seperti pernyataan dirinya dalam bentuk tangisan dan gerakan–gerakan
tubuhnya. Hal ini menggambarkan bahwa sejak lahir anak telah memiliki potensi
untuk berkembang. Di dalam psikologi perkembangan terdapat banyak pandangan
ahli berkenaan dengan perkembangan individu pada tiap–tiap fase perkembangan. Pandangan
tentang anak sebagai makhluk yang unik sangat berpengaruh terhadap pengembangan
kurikulum pendidikan. Setiap anak merupakan pribadi tersendiri, memiliki
perbedaan di samping persamaannya. Implikasi dari hal tersebut terhadap
pengembangan kurikulum, antara lain;
1.
Tiap anak diberi kesempatan untuk
berkembang sesuai dengan bakat, minat, dan kebutuhannya,
2.
Di samping disediakan
pembelajaran yang bersifat umum (program inti) yang harus dipelajari peserta
didik di sekolah, disediakan pula pembelajaran pilihan sesuai minat dan bakat
anak,
3.
Kurikulum selain menyediakan bahan
ajar yang bersifat kejuruan juga menyediakan bahan ajar yang bersifat akademik,
4.
Kurikulum memuat tujuan yang
mengandung pengetahuan, nilai/sikap, dan ketrampilan yang menggambarkan
keseluruhan pribadi yang utuh lahir dan bathin.
Implikasi
lain dari pengetahuan tentang anak sebagai peserta didik terhadap proses
pembelajaran (actual curriculum) dapat diuraikan sebagai berikut;
1.
Tujuan pembelajaran yang dirumuskan
secara operasional selalu berpusat pada perubahan tingkah laku anak didik,
2.
Bahan/materi pembelajaran yang
diberikan harus sesuai dengan kebutuhan, minat dan perhatian anak, bahan
tersebut mudah diterima oleh anak,
3.
Strategi pembelajaran yang digunakan
harus sesuai dengan tahap perkembangan anak,
4.
Media yang digunakan selalu menarik
perhatian dan minat anak didik, dan
5.
Sistem
evaluasi berpadu dalam satu kesatuan yang menyeluruh dan
berkesinambungan dari satu tahap ke tahap berikutnya dan dilaksanakan secara
terus – menerus.
B. Psikologi Belajar dan Kurikulum
Merupakan
suatu cabang ilmu yang mengkaji bagaimana individu belajar. Belajar dapat
diartikan sebagai perubahan perilaku yang terjadi melalui pengalaman. Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia belajar berasal dari
kata ajar yang berarti suatu petunjuk yang diberikan kepada
orang supaya diketahui/diturut. Segala perubahan perilaku yang trejadi
karena proses pengalaman dapat dikategorikan sebagai perilaku belajar.
Perubahan yang terjadi secara insting/terjadi karena secara kebetulan
bukan termasuk belajar.Psikologi belajar yang berkembang sampai saat ini, pada
dasarnya dapat dikelompokan menjadi 3 kelas, antara lain;
1. Teori disiplin daya/disiplin
mental
Menurut
teori ini anak sejak dilahirkan memiliki potensi atau daya tertentu
(faculties) yang masing–masing memiliki fungsi tertentu, seperti potensi/daya
mengingat, daya berpikir, daya mencurahkan pendapat, daya mengamati, daya
memecahkan masalah, dan sejenisnya. Potensi–potensi tersebut dapat dilatih
agar dapat berfungsi secara optimal,daya berpikir anak sering dilatih dengan
pembelajaran berhitung misalnya, daya mengingat dilatih dengan menghapal
sesuatu. Daya yang telah terlatih dipindahkan ke dalam pembentukan lain. Pemindahan
(transfer) ini mutlak dilakukan melalui latihan (drill), karena itu pengertian
pembelajaran dalam konteks ini melatih anak didik dalam daya-daya itu, cara
pembelajaran pada umumnya melalui hafalan dan latihan-latihan.
2. Behaviorisme
Dalam
aliran behaviorisme ini, terdapat 3 rumpun teori yang mencakup teori
koneksionisme/asosiasi, teori kondisioning, dan teori operant conditioning
(reinforcement). Behaviorisme muncul dari adanya pandangan bahwa individu
tidak membawa potensi sejak lahir. Perkembangan individu dipengaruhi oleh
lingkungan (keluarga, lembaga pendidikan, masyarakat). Behaviorisme
menganggap bahwa perkembangan individu tidak muncul dari hal yang bersifat
mental, perkembangan hanya menyangkut hal yang bersifat nyata yang dapat
dilihat dan diamati.
Menurut
teori ini kehidupan tunduk pada hukum S – R (stimulus – respon) atau
aksi-reaksi. Menurut teori ini, pada dasarnya belajar merupakan hubungan respon
– stimulus. Belajar merupakan upaya untuk membentuk hubungan stimulus – respon
seoptimal mungkin. Tokoh utama teori ini yaitu Edward L. Thorndike yang
memunculkan tiga teori belajar yaitu, law of readiness, law of
exercise, dan law of effect. Menurut hukum
kesiapan (readiness) hubungan antara stimulus dengan respon akan
terbentuk bila ada kesiapan pada system syaraf individu. Hukum
latihan/pengulangan (exercise/repetition) stimulus dan respon akan
terbentuk apabila sering dilatih atau diulang – ulang. Hukum
akibat (effect) menyatakan bahwa hubungan antara stimulus dan respon
akan terjadi apabila ada akibat yang menyenangkan.
3. Organismic
Menurut
teori ini keseluruhan lebih bermakna dari pada bagian-bagian, keseluruhan bukan
kumpulan dari bagian-bagian. Manusia dianggap sebagai makhluk yang
melakukan hubungan timbal balik dengan lingkungan secara keseluruhan, hubungan
ini dijalin oleh stimulus dan respon. Stimulus yang hadir diseleksi menurut
tujuannya, kemudian individu melakukan interaksi dengannya terus-menerus
sehingga terjadi suatu proses pembelajaran. Dalam hal ini guru lebih
berperan sebagai pembimbing bukan sumber informasi sebagaimana diungkapkan
dalam pandangan koneksionisme, peserta didik lebih berperan dalam hal proses
pembelajaran, belajar berlangsung berdasarkan pengalaman yaitu kegiatan interaksi
antara individu dengan lingkungannya.
Belajar
menurut teori ini bukanlah sebatas menghapal tetapi memecahkan masalah,
dan metode belajar yang dipakai adalah metode ilmiah dengan cara anak
didik dihadapkan pada suatu permasalahan yang cara penyelesaiannya diserahkan
kepada masing-masing anak didik yang pada akhirnya peserta didik dibimbing
untuk mengambil suatu kesimpulan bersama dari apa yang telah dipelajari.
Prinsip-prinsip maupun penerapan
dari organismic/cognitive gestalt field, antara lain;
1. Belajar
berdasarkan keseluruhan
Prinsip
ini mempunyai pandangan sebagaimana proses pembelajaran terpadu. Pelajaran yang
yang diberikan kepada peserta didik bersumber pada suatu masalah atau pkok yang
luas yang harus dipecahkan oleh peserta didik, peserta didik mengolah bahan
pembelajaran dengan reaksi seluruh pelajaran oleh keseluruhan jiwanya.
2. Belajar
adalah pembentukan kepribadian
Anak
dipandang sebagai makhluk keseluruhan, anak diimbing untuk mendapat
pengetahuan, sikap, dan ketrampilan secara berimbang. Ia dibina untuk menjadi
manusia seutuhnya yang memiliki keseimbangan lahir dan batin antara pengetahuan
dengan sikapnya. Seluruh kepribadiannya diharapkan utuh melalui program
pembelajaran yang terpadu.
3. Belajar
berkat pemahaman
Belajar
merupakan proses pemahaman. Pemahaman mengandung makna penguasaan pengetahuan,
dapat menyelaraskan sikap dan ketrampilannya. Ketrampilan menghubungkan
bagian-bagian pengetahuan untuk diperoleh sesuatu kesimpulan merupakan wujud
pemahaman.
4. Belajar
berdasarkan pengalaman
Proses
belajar adalah bekerja, mereaksi, memahami, dan mengalami. Dalam proses
pembelajaran peserta didik harus aktif dengan pengolahan bahan pembelajaran
melalui diskusi, Tanya jawab, kerja kelompok, demonstrasi, survey lapangan, dan
sejenisnya
5. Belajar
adalah proses berkelanjutan
Belajar
adalah proses sepanjang masa. Manusia tidak pernah berhenti untuk belajar, hal
ini dilakukan karena faktor kebutuhan. Dalam pelaksanaannnya dianjurkan dalam
pengembangannya kurikulum tidak hanya terpaku pada proses pembelajaran yang ada
tetapi mengembangkan proses pembelajaran yang bersifat ekstra untuk memenuhi
kebutuhan peserta didik. Keberhasilan belajar tidak hanya ditentukan oleh
kemampuan anak didik tetapi menyangkut minat, perhatian, dan kebutuhannya.
Dalam kaitan ini motivasi sangat menentukan dan diperlukan.
Permasalahannya :
1. Bagaimana keterkaitan landasan psikologis
dengan 4 komponen kurikulum ?
2. Bagaimana penerapan landasan psikologis dalam
pengembangan kurikulum dan berikan contohnya ?
3. Apa manfaat dari landasan psikologis dalam
pengembangan kurikulum ?
Menjawab pertanyaan no3
BalasHapusLandasan psikologis pengembangan kurikulum menuntut kurikulum untuk memperhatikan dan mempertimbangkan aspek peserta didik dalam pelaksanaan kurikulum sehingga nantinya pada saat pelaksanaan kurikulum apa yang menjadi tujuan kurikulum akan tercapai secara optimal. Sehingga unsur psikologis dalam pengembangan kurikulum mutlak perlu diperhatikan.
Dalam pengembangan kurikulum aspek psikologi patut dipertimbangkan, pada proses pelaksanaan kurikulum faktor psikologi dari pebelajar perlu diperhatikan. Psikologi yang dimaksud di sini, terdapat dua aspek psikologi antara lain; psikologi perkembangan dan psikologi belajar.
Psikologi perkembangan memandang aspek kesiapan peserta didik dalam proses pelaksanaan kurikulum, beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum perlu memandang dan memperhatikan faktor psikologi perkembangan dari tiap-tiap peserta didik.
Psikologi belajar merupakan bagian dari psikologi, yang mengkaji bagaimana seseorang melakukan kegiatan belajar, cara dia menerima suatu rangsang/informasi sehingga terjadi suatu proses belajar. Terdapat tiga bagian dari psikologi belajar, antara lain; teori disiplin daya/disiplin mental (faculty theory), behaviorisme, dan organismic/cognitive gestalt field.
Terima Kasih atas jawaban dari saudari wiwid, tadi dikatakan bahwa terdapat dua aspek psikologi antara lain; psikologi perkembangan dan psikologi belajar. Yang psikologi perkembangan memandang aspek kesiapan peserta didik dalam proses pelaksanaan kurikulum, beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum perlu memandang dan memperhatikan faktor psikologi perkembangan dari tiap-tiap peserta didik.Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana keterkaitan antara psikologi perkembangan dengan komponen kurikulum ?
Hapussaya akan mencoba menjawab pertanyaan fero, bagaimana keterkaitan antara psikologi perkembangan dengan komponen kurikulum ? kaitannya yakni dengan mengetahui psikologi perkembangan kita dapat menyelaraskan tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran yang mendandung nilai sikap, pengetahuan serta keterampilan yang menggambarkan kepribadian secara utuh lahir dan bathin
Hapuskalau dari komponen isi yakni Bahan/materi yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan, minat, dan kebutuhan peserta didik sehingga hasilnya bermakna bagi mereka.
serta dari komponen evaluasi kita sbg guru harus menyusun Sistem evaluasi harus dilaksanakan secara terpadu, menyeluruh dan berkesinambungan, karena kan hakikatnya pembelajaran sesungguh adalah long- live learning
saya setuju dengan pendapat kk rini bahwa sbg guru harus menyusun Sistem evaluasi harus dilaksanakan secara terpadu, menyeluruh dan berkesinambungan, karena kan hakikatnya pembelajaran sesungguh adalah long- live learning
HapusSaya setuju debgan pendapat teman2, dengan kita mengetahui komponen kurikulum maka kita dapat menghubungkannya dengan psikologi perkembangan anak, misalnya seperti komponen tujuan, nah dengan mengetahui tujuan yang akan dicapat tentu kita mempertimbangkan psikologi perkembangan anak, di umur siswa yang sd tentu akan sering kuta lakukan eksplorasi atau tahap bermain agar mampu menarik minat siswa belajar dan perlahan mencapai tujuan pemebalaharan, brbeda dengan siswa sma yang dengan tujuan pembelajaran sederhana banyak yang dilakukan baik itu diskusi, praktikum,dll
Hapussaya akan mencoba menanggapi permasalahan nomor 2, menurut saya psikologi itu kan merupakan suatu cabang ilmu yang mengkaji bagaimana individu belajar yang mana belajar dapat diartikan sebagai perubahan perilaku yang terjadi melalui pengalaman. seperti yang telah dijelaskan kak fero di atas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia belajar berasal dari kata ajar yang berarti suatu petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui/diturut sehingga segala perubahan perilaku yang terjadi karena proses pengalaman dapat dikategorikan sebagai perilaku belajar. nah kaitannya disini dengan pengembangan kurikulum adalah dalam mengembangan kurikulum tersebut guru haruslah mempertimbangkan pengalaman positif yang akan diterima siswa setelah proses pemeblajaran, contohnya setelah dilakukan proses pembelajaran siswa dapat meningkat kemempuannya dalam berpikir kritis.
BalasHapusTerima Kasih atas jawaban dari saudari Syafira, tadi dikatakan bahwa dalam mengembangkan kurikulum guru haruslah mempertimbangkan pengalaman positif yang akan diterima siswa setelah proses pembelajaran, contohnya setelah dilakukan proses pembelajaran siswa dapat meningkat kemampuannya dalam berpikir kritis. Yang menjadi pertanyaan adalah coba kaitkan dengan salah satu komponen kurikulum seperti metode, dengan menggunakan metode seperti apa siswa dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis ?
HapusPsikologi perkembangan memandang aspek kesiapan peserta didik dalam proses pelaksanaan kurikulum, beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum perlu memandang dan memperhatikan faktor psikologi perkembangan dari tiap-tiap peserta didik.keberagaman peserta didik menjadi aspek yang sangat perlu dipertimbangkan dalam penyusunannya.
BalasHapusPsikologi belajar merupakan bagian dari psikologi, yang mengkaji bagaimana seseorang melakukan kegiatan belajar, cara dia menerima suatu rangsang/informasi sehingga terjadi suatu proses belajar. Terdapat tiga bagian dari psikologi belajar, antara lain; teori disiplin daya/disiplin mental (faculty theory), behaviorisme, dan organismic/cognitive gestalt field.
psikologi belajar menyangkut apa yang akan dicapai dalam proses tersebut. sehingga apa yang disebut dengan proses belajar yang ditandai dengan perubahan tingkah laku dapat terwujud.
sependapat dengan dani bahwa Psikologi perkembangan memandang aspek kesiapan peserta didik dalam proses pelaksanaan kurikulum, beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum perlu memandang dan memperhatikan faktor psikologi perkembangan dari tiap-tiap peserta didik.keberagaman peserta didik menjadi aspek yang sangat perlu dipertimbangkan dalam penyusunannya.
HapusPsikologi belajar merupakan bagian dari psikologi, yang mengkaji bagaimana seseorang melakukan kegiatan belajar, cara dia menerima suatu rangsang/informasi sehingga terjadi suatu proses belajar. Terdapat tiga bagian dari psikologi belajar, antara lain; teori disiplin daya/disiplin mental (faculty theory), behaviorisme, dan organismic/cognitive gestalt field.
Menjawab permasalahan pertama, psikologis setiap masing-masing manusia berbeda dan itu juga mempengaruhi komponen-komponen dalam perumusan kurikulum. Karena pembelajaran itu dari siswa untuk siswa sehingga diperlukan analisis masing-masing psikologis siswa baik daya ingat, daya mengamati, daya pikir dan lainnya untuk menciptakan perumusan kurikulum yang dapat mewakili masing-masing psikologis dari suatu individu. Implementasi psikologis dalam segi komponen perumusan kurikulum. Berdasarkan tujuan maka bisa mengambil analisis psikologi secara umum yang mampu mewakili psikologis masinh-masing siswa agar tercapainya tujuan yang mampu dilaksanakan oleh masing-masing individu.
BalasHapusBerdasarkan Isi/bahan ajar, maka bisa kita sistematiskan materi yang disampaikan dari sei C1 dahulu baru sampai C4 atau C6 (Kalau mampu)
Berdasarkan Metode, maka kita harus memilih metode yang sesuai dengan psikologi siswa misal siswa didalam kelas beragam tingkat intelektualnya maka kita bisa mengangkat metode belajar yang mengheterogenkan siswanya agar yang pintar bisa mengajari yang kurang.
Berdasarkan evaluasi, evaluasi sumatif dan formatif. Dikeduanya kita harus melihat evaluasi yang seperti apa harus dilakukan bila didasarkan dengan psikologis siwa yang kita ajar sebelumnya apakah metode sebelumnya sesuai dengan psikologisnya jika tidak bisa kita evaluasi lagi proses keseluruhannya
Saya setuju dengan pendapat kak rifanny dan saya ingin menambahkan sedikit mengenai keterkaitan landasan psikologis dengan komponen strategi/metode dan komponen isi yaitu Guru sebagai pendidik harus mengupayakan cara/metode yang lebih baik untuk melaksanakan proses pembelajaran guna mendapatkan hasil yang optimal, dalam hal ini proses pembelajaran mutlak diperlukan pemikiran yang mendalam dengan memperhatikan psikologi belajar.
HapusBegitu juga psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam hal penentuan isi kurikulum yang diberikan/dipelajari peserta didik, baik tingkat kedalaman dan keluasan materi, tingkat kesulitan dan kelayakannya serta manfaatnya yang disesuaikan dengan tahap dan tugas perkembangan peserta didik. Psikologi belajar memberikan sumbangan terhadap pengembangan kurikulum terutama berkenaan dengan bagaimana kurikulum itu diberikan kepada peserta didik dan bagaimana peserta didik harus mempelajarinya, berarti berkenaan dengan strategi pelaksanaan kurikulum.
Dalam pengembangan kurikulum tentu berlandaskan dengan pandangan hidup secara keseluruhan. Contohnya landasan psikologi. Psikologi disini bicara tentang bagaiamana perilaku setiap individu. Tentu psikologi tiap individu berbeda beda. Sehingga landasan ini menjadi acuan dalam pengembangan kurikulum agar kurikulum iu bersifat fleksibel. Dalam landasan psikologi terbagi menjadi 2 yaitu psikologi perkembangan dan psikologi belajar. Psikologi perkembangan disini mempelajari tiap perkembangan individu bahwa sesungguhny perkembngn itu sudah ada sejak dia lahir. Bagaimana diabtumbuh dan berkembang dalam perubahan prilaku. Dan dalam psikologi belajar yaitu mengkaji bagaimana individy belajar. Atau dapat di artikan perubahan perilaku yang terjadi melalui pengalaman. Contoh dalam penerapannya yaitu ketika sedang dalam proses pembelajaran guru memberikan stimulus agar siswa berespon secara aktif dan terus menerus. Disini guna untuk mengembangkan perilaku siswa untuk lebih berani dalam mengemukakan pendapat. Yang sebelumnya blum berani untuk bicara dikelas. Kemudian selama proses pembelajaran guru memberi materi yg bersumber dari masalah yg konkrit dan ada dalam kehidupan sehari hari dan di lingkungan siswa itu senidir. Dan siswa di minta untuk memecahkan suatu masalah terhadap materi tadi. Nah dari sini akan muncul psikologi belajr siswa yaitu siswa belajar berdasarkan keseluruhan. Dan behaviorisme nya juga akan muncul yaitu adanya aksi dan reaksi selama proses pembelajaran.
BalasHapusketerkaitam psikologi ini dalam perkembangan kurikulum yaitu:
BalasHapus1) Tujuan pembelajaran yang dirumuskan secara operasional selalu berpusat kepada perubahan tingkah laku peserta didik.
2) Bahan/materi yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan, minat dan perhatian anak, bahan tersebut mudah diterima oleh anak.
3) Strategi belajar mengajar yang digunakan harus sesuai dengan taraf perkembangan anak.
4) Media yang dipakai senantiasa dapat menarik perhatian dan minat anak.
5) Sistem evaluasi berpadu dalam satu kesatuan yang menyeluruh dan berkesinambungan dari satu tahap ke tahap yang lainnya dan dijalankan secara terus menerus.
manfaat landasan psikologi kita dapat mengetahui sasaran dari kurikulum yang kita susun, karena dari landasan psikologis ini berkaitan dengan cara peserta didik belajar, dan faktor apa yang dapat menghambat kemajuan belajar mereka selain itu psikologis memberikan landasan berpikir tentang hakikai proses belajar mengajar dan tingkat-ingkat perkembangan peserta didik.
BalasHapusuntuk pertanyaan "Bagaimana keterkaitan landasan psikologis dengan 4 komponen kurikulum ?" saya mengkutip pernyataan Kak Rahmah, "Psikologi belajar merupakan bagian dari psikologi, yang mengkaji bagaimana seseorang melakukan kegiatan belajar, cara dia menerima suatu rangsang/informasi sehingga terjadi suatu proses belajar. Terdapat tiga bagian dari psikologi belajar, antara lain; teori disiplin daya/disiplin mental (faculty theory), behaviorisme, dan organismic/cognitive gestalt field". dengan demikian saya rasa sudah terlihat hubungannya, tentunya sangat erat ya, karna yang perlu dipehatikan itu tidak hanya kognitif saja bagaimana perkembangan anak psikologis nya juga harus diperhatikan, tuan pembelajarannya, materinya dan pada tahap trakhir nanti evaluasi pasti sangat berhubungan.
BalasHapus