Menurut Krathwohl (1961) bila
ditelusuri hampir semua tujuan kognitif mempunyaikomponen afektif. Dalam
pembelajaran sains, misalnya, di dalamnya ada komponen sikap ilmiah. Sikap
ilmiah adalah komponen afektif. Tingkatan ranah afektif menurut taksonomi
Krathwohl ada lima, yaitu: receiving (attending), responding,
valuing, organization, dan characterization.
1. Tingkat receiving
Pada tingkat receiving atau attending, peserta
didik memiliki keinginan memperhatikan suatu fenomena khusus atau stimulus,
misalnya kelas, kegiatan, musik, buku, dan sebagainya. Tugas pendidik
mengarahkan perhatian peserta didik pada fenomena yang menjadi objek
pembelajaran afektif. Misalnya pendidik mengarahkan peserta didik agar senang
membaca buku, senang bekerjasama, dan sebagainya. Kesenangan ini akan
menjadi kebiasaan, dan hal ini yang diharapkan, yaitu kebiasaan yang positif.
2. Tingkat responding
Responding merupakan partisipasi aktif peserta didik, yaitu sebagai bagian dari
perilakunya. Pada tingkat ini peserta didik tidak saja memperhatikan fenomena
khusus tetapi ia juga bereaksi. Hasil pembelajaran pada ranah ini
menekankan pada pemerolehan respons, berkeinginan memberi respons, atau
kepuasan dalam memberi respons. Tingkat yang tinggi pada kategori ini adalah minat,
yaitu hal-hal yang menekankan pada pencarian hasil dan kesenangan pada
aktivitas khusus. Misalnya senang membaca buku, senang bertanya, senang
membantu teman, senang dengan kebersihan dan kerapian, dan sebagainya.
3. Tingkat
valuing
Valuing melibatkan penentuan nilai, keyakinan atau sikap yang menunjukkan derajat
internalisasi dan komitmen. Derajat rentangannya mulai dari menerima suatu
nilai, misalnya keinginan untuk meningkatkan keterampilan, sampai pada tingkat
komitmen. Valuing atau penilaian berbasis pada internalisasi
dari seperangkat nilai yang spesifik. Hasil belajar pada tingkat
ini berhubungan dengan perilaku yang konsisten dan stabil agar nilai
dikenal secara jelas. Dalam tujuan pembelajaran, penilaian ini diklasifikasikan
sebagai sikap dan apresiasi.
4. Tingkat
organization
Pada tingkat organization, nilai satu dengan nilai lain
dikaitkan, konflik antar nilai diselesaikan, dan mulai membangun sistem
nilai internal yang konsisten.Hasil pembelajaran pada tingkat ini berupa
konseptualisasi nilai atau organisasi sistem nilai. Misalnya pengembangan
filsafat hidup.
5. Tingkat
characterization
Tingkat ranah afektif tertinggi adalah characterization nilai.
Pada tingkat ini peserta didik memiliki sistem nilai yang mengendalikan
perilaku sampai pada waktu tertentu hingga terbentuk gaya hidup. Hasil
pembelajaran pada tingkat ini berkaitan dengan pribadi, emosi, dan sosial.
C. KARAKTERISTIK
RANAH AFEKTIF
Ada 5 (lima) tipe karakteristik afektif yang penting, yaitu sikap, minat,
konsep diri, nilai, dan moral.
1. Sikap
Sikap merupakan suatu kencendrungan untuk bertindak secara suka atau
tidaksuka terhadap suatu objek. Sikap dapat dibentuk melalui cara
mengamati danmenirukan sesuatu yang positif, kemudian melalui penguatan serta
menerimainformasi verbal. Perubahan sikap dapat diamati dalam proses
pembelajaran,tujuan yang ingin dicapai, keteguhan, dan konsistensi terhadap
sesuatu.
Menurut Fishbein dan Ajzen (1975) sikap adalah suatu predisposisi
yangdipelajari untuk merespon secara positif atau negatif terhadap suatu
objek,situasi, konsep, atau orang. Sikap peserta didik terhadap objek
misalnya sikap terhadap sekolah atau terhadap mata pelajaran. Sikap
peserta didik ini penting untuk ditingkatkan (Popham, 1999). Sikap peserta
didik terhadap mata pelajaran, harus lebih positif setelah
peserta didik mengikuti pembelajaran dibanding sebelum
mengikuti pembelajaran. Perubahan ini merupakan salah satu indikator
keberhasilan pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran. Untuk itu pendidik
harus membuat rencana pembelajaran termasuk pengalaman belajar peserta
didik yang membuat sikap peserta didik terhadap mata pelajaran
menjadi lebih positif.
2. Minat
Menurut Getzel (1966), minat adalah suatu disposisi yang terorganisir
melaluipengalaman yang mendorong seseorang untuk memperoleh objek
khusus,aktivitas, pemahaman, dan keterampilan untuk tujuan perhatian
ataupencapaian. Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia (1990:
583),minat atau keinginan adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap
sesuatu.Hal penting pada minat adalah intensitasnya. Secara umum minat
termasukkarakteristik afektif yang memiliki intensitas tinggi.
Penilaian minat dapat digunakan mengetahui minat peserta didik
sehingga mudah untuk diarahkan dalam pembelajaran, mengetahui
bakat dan minat peserta didik yang sebenarnya, pertimbangan
penjurusan dan pelayanan individual peserta didik, menggambarkan
keadaan langsung di lapangan/kelas,acuan dalam menilai kemampuan peserta didik
secara keseluruhan, memilih metode yang tepat dalam penyampaian
materi, mengetahui tingkat minat peserta didik terhadap pelajaran
yang diberikan pendidik, bahan pertimbangan menentukan program
sekolah, mingkatkankatkan motivasi belajar peserta didik. mengelompokkan
peserta didik yang memiliki minat sama, acuan dalam menilai kemampuan
peserta didik secara keseluruhan dan memilih metode yang tepat dalam
penyampaian materi, mengetahui tingkat minat peserta didik terhadap
pelajaran yang diberikan pendidik, bahan pertimbangan menentukan
program sekolah, dan meningkatkan motivasi belajar peserta didik.
3. konsep diri
Menurut Smith, konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan individu
terhadapkemampuan dan kelemahan yang dimiliki. Target, arah, dan intensitas
konsepdiri pada dasarnya seperti ranah afektif yang lain. Target konsep diri
biasanyaorang tetapi bisa juga institusi seperti sekolah. Arah konsep diri bisa
positif
atau negatif, dan intensitasnya bisa dinyatakan dalam suatu daerah
kontinum,yaitu mulai dari rendah sampai tinggi.
Konsep diri ini penting untuk menentukan jenjang karir peserta didik,
yaitudengan mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri, dapat
dipilih alternatif karir yang tepat bagi peserta didik. Selain itu
informasi konsep diri penting bagi sekolah untuk memberikan motivasi belajar
peserta didik dengan tepat.
4. nilai
Nilai menurut Rokeach (1968) merupakan suatu keyakinan tentang
perbuatan,tindakan, atau perilaku yang dianggap baik dan yang dianggap
buruk.Selanjutnya dijelaskan bahwa sikap mengacu pada suatu organisasi
sejumlahkeyakinan sekitar objek spesifik atau situasi, sedangkan nilai mengacu
padakeyakinan.
5. moral.
Moral berkaitan dengan perasaan salah atau benar terhadap
kebahagiaan orang lain atau perasaan terhadap tindakan yang dilakukan diri
sendiri. Misalnya menipu orang lain, membohongi orang lain, atau melukai
orang lain baik fisik maupun psikis. Moral juga sering dikaitkan dengan
keyakinan agamaseseorang, yaitu keyakinan akan perbuatan yang berdosa dan
berpahala. Jadi
moral berkaitan dengan prinsip, nilai, dan keyakinan seseorang.
D. PENILAIAN
RANAH AFEKTIF
Penilaian sikap adalah
penilaian yang dilakukan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap
mata pelajaran, kondisi pembelajaran, pendidik, dan sebagainya.
Penilaian sikap dapat
dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dapat ditanyakan
bagaimana pendapat atau pernyataan responden terhadap suatu objek.
Secara tidak langsung dapat dilakukan dengan pernyataan-pernyataan
hipotesis, kemudian ditanyakan pendapat responden.
Pada penilaian ranah afektif yang penting dikembangkan adalah
sikap dan minat peserta didik. Hal yang perlu diperhatikan
dalam pengembangan instrumen afektif sebagai berikut.
1. Menentukan
definisi konseptual atau konstruk yang akan diukur.
2. Menentukan
definisi operasional
3. Menentukan
indicator
4. Menulis
instrumen.
Dalam proses
pembelajaran guru dapat melakukan penilaian kompetensi sikap melalui
observasi, penilaian diri (self assessment), penilaian “teman sejawat” (peer
assessment) oleh peserta didik, dan jurnal.
1. Penilian
Observasi.
Observasi merupakan teknik penilaian yang dilakukan secara berkesinambungan
dengan menggunakan indera, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan
menggunakan pedoman observasi yang berisi sejumlah indikator perilaku yang
diamati. Kriteria instrumen observasi:
Mengukur aspek sikap
(bukan pengetahuan atau keterampilan) yang dituntut pada Kompetensi Inti
dan Kompetensi Dasar
Sesuai dengan
kompetensi yang akan diukur
Memuat indikator
sikap yang dapat diobservasi
Mudah atau feasible untuk
digunakan
Dapat merekam sikap
peserta didik
2. Penilaian
Diri
Penilaian diri merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik
untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya dalam konteks pencapaian
kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian diri. Penggunaan
teknik ini dapat memberi dampak positif terhadap perkembangan kepribadian
seseorang. Keuntungan penggunaan teknik penilaian diri dalam penilaian di kelas
sebagai berikut:
·
dapat menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik,
karena mereka diberi kepercayaan untuk menilai dirinya sendiri;
·
peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan
dirinya, karena ketika mereka melakukan penilaian, harus melakukan introspeksi
terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya;
·
dapat mendorong, membiasakan, dan melatih peserta
didik untuk berbuat jujur, karena mereka dituntut untuk jujur dan obyektif
dalam melakukan penilaian.
Kriteria instrumen penilaian diri:
kriteria
penilaian dirumuskan secara sederhana, namun jelas dan tidak bermakna ganda
bahasa
lugas dan dapat dipahami peserta didik
menggunakan
format sederhana yang mudah dipahami peserta didik
menunjukkan
kemampuan peserta didik dalam situasi yang nyata/sebenarnya
mengungkap
kekuatan dan kelemahan capaian kompetensi peserta didik
bermakna,
mengarahkan peseta didik untuk memahami kemampuannya
mengukur
target kemampuan yang akan diukur (valid)
memuat
indikator kunci/indikator esensial yang menunjukkan kemampuan yang akan diukur
memetakan
kemampuan peserta didik dari terendah sampai tertinggi
3. Penilaian
Antar Peserta Didik
Penilaian antarpeserta didik merupakan teknik penilaian dengan cara meminta
peserta didik untuk saling menilai terkait dengan pencapaian kompetensi.
Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian antarpeserta didik.
Kriteria instrumen penilaian antarteman:
sesuai
dengan kompetensi dan indikator yang akan diukur
indikator
dapat dilakukan melalui pengamatan peserta didik
kriteria
penilaian dirumuskan secara sederhana, namun jelas dan tidak berpotensi
munculnya penafsiran makna ganda/berbeda
menggunakan
bahasa lugas yang dapat dipahami peserta didik
menggunakan
format sederhana dan mudah digunakan oleh peserta didik
indikator
menunjukkan sikap peserta didik dalam situasi yang nyata
atau sebenarnya dan dapat diukur
instrumen
dapat mengukur target kemampuan yang akan diukur (valid)
memuat
indikator kunci atau esensial yang menunjukkan penguasaan satu kompetensi
peserta didik
mampu
memetakan sikap peserta didik dari kemampuan pada level terendahsampai
kemampuan tertinggi.
4. Jurnal.
Jurnal merupakan catatan pendidik di dalam dan di luar kelas yang
berisi informasi hasil pengamatan tentang kekuatan dan kelemahan peserta didik
yang berkaitan dengan sikap dan perilaku. Jurnal dapat memuat penilaian peserta
didik terhadap aspek tertentu secara kronologis.
Kriteria jurnal:
Mengukur
capaian kompetensi sikap yang penting.
Sesuai
dengan kompetensi dasar dan indikator.
Menggunakan
format yang sederhana dan mudah diisi/digunakan.
Dapat
dibuat rekapitulasi tampilan sikap peserta didik secara kronologis.
Memungkinkan
untuk dilakukannya pencatatan yang sistematis, jelas dan komunikatif.
Format
pencatatan memudahkan dalam pemaknaan terhadap tampilan sikap peserta didik
Menuntun
guru untuk mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan peserta didik.
Instrumen yang digunakan untuk observasi, penilaian diri, dan penilaian
antarpeserta didik adalah lembar pengamatan berupa daftar cek (checklist)
atau skala penilaian (rating scale) yang disertai rubrik, sedangkan pada
jurnal berupa catatan pendidik.
Instrumen penilaian harus memenuhi persyaratan substansi/materi,
konstruksi, dan bahasa. Persyaratan substansi merepresentasikan kompetensi yang
dinilai, persyaratan konstruksi memenuhi persyaratan teknis sesuai dengan
bentuk instrumen yang digunakan, dan persyaratan bahasa adalah penggunaan
bahasa yang baik dan benar serta komunikatif sesuai dengan tingkat perkembangan
peserta didik.
Contoh
format lembar observasi sikap siswa:
Mata Pelajaran
|
:
|
Kimia
|
|
Kelas
|
:
|
X
|
|
Semester
|
:
|
1
|
|
Tahun pelajaran
|
:
|
2013-2014
|
|
Kompetenti
Inti
|
:
|
||
2. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab,
peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai,
responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas
berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan
bangsa dalam pergaulan dunia
|
|||
Kompetensi
Dasar
|
:
|
||
2.1
|
Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu dalam bekerja
sama memenemukan dan memahami keteraturan atom, unsur dan molekul.
|
||
2.2
|
Berperilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, kerjasama dan
proaktif dalam melakukan percobaan dan berdiskusi.
|
||
2.3
|
Menunjukkan sikap kritis, teliti dan konsisten dalam menyajikan dan
menafsirkan data.
|
||
2.4
|
Berperilaku menjaga lingkungan dan hemat dalam memanfaatkan sumber daya
alam.
|
||
Sikap yang diintegrasikan dan dikembangkan untuk mencapai KD 2.1, 2.2, 2,3
dan KD 2.4 adalah perilaku rasa ingin tahu, jujur, disiplin, tanggung jawab,
santun, dapat bekerja sama, kritis dan teliti. Masing-masing sikap dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1. Sikap Rasa
Ingin Tahu
Rasa Ingin Tahu adalah sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk
mengetahui lebih mendalam dan meluas dari apa yang dipelajarinya, dilihat dan
didengarnya. Rasa ingin tahu dalam proses pembelajaran dapat ditunjukan
dengan mengemukakan pendapat dari berbagai macam sumber, dan selalu
bertanya pada guru atau teman jika belum menguasai pelajaran.
Indicator sikap ingin tahu adalah sebagai berikut:
Antusias
mencari jawaban.
Perhatian
pada obyek yang diamati.
Antusias
pada proses Sains.
Menanyakan
setiap Iangkah kegiatan.
Rubrik penilaian sikap rasa ingin tahu dapat disusun sebagai berikut:
kriteria
|
skor
|
Indikator
|
Sangat Baik (SB)
|
4
|
Selalu berusaha mengetahui pelajaran dengan cara membaca buku dan
bertanya.
|
Baik (B)
|
3
|
Sering berusaha mengetahui pelajaran dengan cara membaca buku dan
bertanya.
|
Cukup (C)
|
2
|
Kadang-kadang berusaha mengetahui pelajaran dengan cara membaca buku dan
bertanya.
|
Kurang (K)
|
1
|
Tidak pernah berusaha mengetahui pelajaran dengan cara membaca buku dan
bertanya.
|
2. Sikap
Jujur
Sikap jujur adalah perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya
sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan dan
pekerjaan.
Indikator sikap jujur adalah sebagai berikut:
Tidak
menyontek dalam mengerjakan ujian/ulangan
Tidak
menjadi plagiat (mengambil/menyalin karya orang lain tanpa menyebutkan sumber)
Mengungkapkan
perasaan apa adanya
Menyerahkan
kepada yang berwenang barang yang ditemukan
Membuat
laporan berdasarkan data atau informasi apa adanya
Mengakui
kesalahan atau kekurangan yang dimiliki
Rubrik penilaian sikap jujur
dapat disusun sebagai berikut:
kriteria
|
skor
|
Indikator
|
Sangat Baik (SB)
|
4
|
Selalu jujur dalam bersikap dan bertutur kata kepada guru dan teman
|
Baik (B)
|
3
|
Sering jujur dalam bersikap dan bertutur kata kepada guru dan
teman
|
Cukup (C)
|
2
|
Kadang-kadang jujur dalam bersikap dan bertutur kata kepada
guru dan teman
|
Kurang (K)
|
1
|
Tidak pernah jujur dalam bersikap dan bertutur kata kepada guru
dan teman
|
3. Sikap
Disiplin
Sikap disiplin adalah tindakan yang menunjukan perilaku tertib dan taat
pada berbagai ketentuan dan peraturan. Sikap disiplin dalam proses
pembelajaran dikelas dapat ditunjukan dengan datang tepat waktu, memperhatikan
penjelasan dan pendapat guru maupun teman, dan mengikuti kegiatan
dengan tertib.
Indicator sikap disiplin adalah sebagai berikut:
Datang
tepat waktu
Patuh
pada tata tertib atau aturan bersama/ sekolah
Mengerjakan/mengumpulkan
tugas sesuai dengan waktu yang ditentukan
Mengikuti
kaidah berbahasa tulis yang baik dan benar
Rubrik penilaian sikap
disiplin dapat disusun sebagai berikut:
kriteria
|
skor
|
Indikator
|
Sangat Baik (SB)
|
4
|
Selalu disiplin dalam mengikuti proses pembelajaran.
|
Baik (B)
|
3
|
Sering disiplin dalam mengikuti proses pembelajaran.
|
Cukup (C)
|
2
|
Kada-kadang disiplin dalam mengikuti proses pembelajaran.
|
Kurang (K)
|
1
|
Tidak pernah disiplin dalam mengikuti proses pembelajaran.
|
4. Sikap
Tanggung Jawab.
Sikap
tanggung jawab adalah sikap dan perilaku untuk melaksanakan tugas dan kewajiban
sebagaimana yang seharusnya dilakukan, baik terhadap diri sendiri, teman maupun
guru. Dalam proses pembelajaran sikap tanggung jawab dapat ditunjukan
dengan cara mengerjakan tugas sesuai yang telah ditentukan, berperan aktif
dalam kelompok dan berani menanggung resiko atas perbuatan yang telah dilakukanya.
Indicator
sikap tanggung jawab adalah sebagai berikut:
Melaksanakan
tugas individu dengan baik
Menerima
resiko dari tindakan yang dilakukan
Tidak
menyalahkan/menuduh orang lain tanpa bukti yang akurat
Mengembalikan
barang yang dipinjam
Mengakui
dan meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan
Menepati janji
Tidak
menyalahkan orang lain utk kesalahan tindakan kita sendiri
Melaksanakan
apa yang pernah dikatakan tanpa disuruh/diminta
Rubrik penilaian sikap tanggung jawab dapat disusun sebagai berikut:
kriteria
|
skor
|
Indikator
|
Sangat Baik (SB)
|
4
|
Selalu bertanggungjawab dalam bersikap dan bertindak terhadp guru
dan teman.
|
Baik (B)
|
3
|
Sering bertanggungjawab dalam bersikap dan bertindak terhadp guru dan
teman.
|
Cukup (C)
|
2
|
Kadang-kadang bertanggungjawab dalam bersikap dan
bertindak terhadp guru dan teman.
|
Kurang (K)
|
1
|
Tidak pernah bertanggungjawab dalam bersikap dan bertindak terhadp guru
dan teman.
|
5. Sikap
Santun
Sikap santun
adalah sifat yang halus dan baik dari sudut pandang tata bahasa ataupun
cara berperilaku terhadap orang lain. Sikap santun di dalam prses
pembelajaran dapat ditunjukan dengan sikap bicara yang sopan, bersikap hormat
dan santun terhadap guru maupun teman.
Indicator
sikap santun adalah sebagai berikut:
Menghormati
orang yang lebih tua.
Tidak
meludah di sembarang tempat.
Tidak
menyela pembicaraan pada waktu yang tidak tepat
Mengucapkan
terima kasih setelah menerima bantuan orang lain
Bersikap
3S (salam, senyum, sapa)
Meminta
ijin ketika akan memasuki ruangan orang lain atau menggunakan barang milik
orang lain
Memperlakukan orang lain sebagaimana diri sendiri ingin diperlakukan
Rubrik penilaian sikap
santun dapat disusun sebagai berikut:
kriteria
|
skor
|
Indikator
|
Sangat Baik (SB)
|
4
|
Selalu santun dalam bersikap dan bertutur kata kepada guru dan teman
|
Baik (B)
|
3
|
Sering santun dalam bersikap dan bertutur kata kepada guru dan teman
|
Cukup (C)
|
2
|
Kadang-kadang santun dalam bersikap dan bertutur kata kepada guru dan
teman
|
Kurang (K)
|
1
|
Tidak pernah santun dalam bersikap dan bertutur kata kepada guru dan
teman
|
6. Sikap
bekerja sama
Kerjasama merupakan kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama oleh
lebih dari satu orang guna mewujudkan tujuan bersama.
Indicator sikap bekerja sama adalah sebagai berikut:
Kesediaan
melakukan tugas sesuai kesepakatan
Bersedia
membantu orang lain tanpa mengharap imbalan
Aktif
dalam kerja kelompok
Memusatkan perhatian
pada tujuan kelompok
Tidak
mendahulukan kepentingan pribadi
Mencari
jalan untuk mengatasi perbedaan pendapat/pikiran antara diri sendiri dengan
orang lain
Mendorong
orang lain untuk bekerja sama demi mencapai tujuan bersama
Rubrik penilaian sikap dapat bekerja sama dapat disusun sebagai berikut:
kriteria
|
skor
|
Indikator
|
Sangat Baik (SB)
|
4
|
Selalu bekerja sama dengan teman dalam proses pembelajaran.
|
Baik (B)
|
3
|
Sering bekerja sama dengan teman dalam proses pembelajaran.
|
Cukup (C)
|
2
|
Kadang-kadang bekerja sama dengan teman dalam proses pembelajaran.
|
Kurang (K)
|
1
|
Tidak pernah bekerja sama dengan teman dalam proses pembelajaran.
|
Selanjutnya guru membuat rekapitulasi hasil penilaian sikap peserta didik
dalam format seperti contoh berikut.
No.
|
Nama siswa
|
Ingin tahu
|
jujur
|
disiplin
|
Tanggung jawab
|
Bekerja sama
|
Jumlah skor
|
Skor sikap
|
kode
|
1
|
A.Nur Aqila
|
4
|
4
|
3
|
3
|
4
|
18
|
3,6
|
SB
|
2
|
M. Aqil Mumtaz
|
4
|
4
|
3
|
3
|
3
|
27
|
3,4
|
SB
|
3'
|
M.Z.Aqil M.
|
4
|
4
|
3
|
4
|
3
|
18
|
3,6
|
SB
|
Keterangan:
1. Rentang skor masing-masing sikap = 1,00 s.d.
4,00
2. Jumlah skor = jumlah skor seluruh criteria
3. skor sikap
= rata-rata dari skor sikap
4. Kode nilai/Predikat:
3.25 - 4.00 = SB (Sangat baik)
2.50 – 3.24 = B (Baik)
1.75 – 2.49 = C (Cukup)
1.00 – 1.74 = K (Kurang)
Contoh Daftar Cek
Penilaian Diri mengenai sikap terhadap mata pelajarankimia.
Mata Pelajaran
|
:
|
Kimia
|
|
Kelas
|
:
|
XI IPA
|
|
Semester
|
:
|
1
|
|
Tahun
pelajaran
|
:
|
2013-2014
|
|
Kompetenti
Inti
|
:
|
||
2. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab,
peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai,
responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas
berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan
bangsa dalam pergaulan dunia
|
|||
Kompetensi
Dasar
|
:
|
||
2.1
|
Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu dalam bekerja
sama memenemukan dan memahami keteraturan atom, unsur dan molekul.
|
||
2.2
|
Berperilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, kerjasama dan
proaktif dalam melakukan percobaan dan berdiskusi.
|
||
2.3
|
Menunjukkan sikap kritis, teliti dan konsisten dalam menyajikan dan
menafsirkan data.
|
||
2.4
|
Berperilaku menjaga lingkungan dan hemat dalam memanfaatkan sumber daya
alam.
|
||
Petunjuk penilaian diri:
Bacalah baik-baik setiap
pernyataan dan berilah tanda V pada kolom yang sesuai dengan keadaan dirimu
yang sebenarnya!
No.
|
Pernyataan
|
Ya
|
Tidak
|
1.
|
Dalam praktikum menentukan ∆H reaksi saya
mencatat data apa adanya.
|
||
2.
|
Saya menyelesaikan tugas praktikum sesuai dengan waktu yang telah
ditentukan
|
||
3.
|
Saya membuat laporan praktikum meskipun tidak didukung data akurat.
|
||
4.
|
Saya berbagi tugas dengan teman satu kelompok.
|
||
5.
|
Dalam praktikum saya mendominasi setiap pekerjaan.
|
||
6.
|
Saya selalu mencari tahu prosedur dalam praktikum.
|
||
7.
|
Saya membersihkan semua alat dan tempat setelah praktikum selesai secara
bersama-sama.
|
Keterangan
1. Pernyataan
pada instrumen di atas ada yang bersifat positif (No.1 dan 2) dan
ada yang bersifat negatif (No 3). Pemberian skor untuk
pernyataan yang bersifat positif: YA = 2, TIDAK = 1. Untuk pernyataan yang
bersifat negatif adalah sebaliknya yaitu TIDAK = 2, dan YA = 1.
2. Selanjutnya
guru dapat membuat rekapitulasi hasil penilaian diri mengenai
sikap terhadap mata pelajaran geografi yang dilakukan
oleh peserta didik menggunakan format berikut.
No.
|
Nama
|
Skor untuk
pernyataan nomor
|
Umlahskor
|
Skor sikap
|
Kode Nilai
|
||||||
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
|||||
1
|
Aisyah N.A.
|
2
|
2
|
2
|
2
|
1
|
2
|
1
|
24
|
3,42
|
B
|
Keterangan:
1. Jumlah
skor maksimal = Jumlah pernyataan x 2
2. Skor
sikap = (Jumlah skor perolehan/jumlah skor maksimal) x 4. Skor
sikap ditulis dengan dua desimal. Rentang skor sikap: 2.00 – 4.00
3. Kode
nilai/predikat:
3.50 - 4.00
= SB (Sangat baik)
3.00 – 3.49
= B (Baik)
2.50 – 2.99
= C (Cukup)
2.00 – 2.49
= K (Kurang)
Contoh
instrumen penilaian (lembar pengamatan) teman sejawat (peer assessment)
untuk mata pelajaran kimia.
Mata Pelajaran
|
:
|
Kimia
|
|
Kelas
|
:
|
XI IPA
|
|
Semester
|
:
|
1
|
|
Tahun
pelajaran
|
:
|
2013-2014
|
|
Kompetenti
Inti
|
:
|
||
2. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab,
peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai,
responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas
berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan
bangsa dalam pergaulan dunia
|
|||
Kompetensi
Dasar
|
:
|
||
2.1
|
Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu dalam bekerja
sama memenemukan dan memahami keteraturan atom, unsur dan molekul.
|
||
2.2
|
Berperilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, kerjasama dan
proaktif dalam melakukan percobaan dan berdiskusi.
|
||
2.3
|
Menunjukkan sikap kritis, teliti dan konsisten dalam menyajikan dan
menafsirkan data.
|
||
2.4
|
Berperilaku menjaga lingkungan dan hemat dalam memanfaatkan sumber daya
alam.
|
||
Petunjuk:
1. Amatilah
perilaku temanmu dengan cemat selama mengikuti kegiatan praktikum
penentuan ∆H menggunakan calorimeter!
2. Berilah
tanda V pada kolom yang sesuai (ya atau tidak) berdasarkan
hasil pengamatanmu!
3. Serahkan
hasil pengamatan kepada bapak/ibu guru!
Nama siswa yang diamati :
Waktu pengamatan :
No.
|
Perilaku/sikap
|
Ya
|
Tidak
|
1.
|
Selama kegiatan selalu mendominasi pekejaan.
|
||
2.
|
Dapat menerima saran teman yang lain.
|
||
3.
|
Memberikan solusi terhadap pendapat yang berbeda.
|
||
4.
|
Mencatat hasil pengamatan apa adanya.
|
||
5.
|
Berpartisipasi dalam membersihkan tempat dan peralatan.
|
||
6.
|
Hati-hati dalam melakukan percobaan.
|
||
7.
|
Teliti dalam melihat ukuran.
|
Keterangan
1. Pernyataan
pada instrumen di atas ada yang bersifat positif (No.1 dan 2) dan
ada yang bersifat negatif (No 3). Pemberian skor untuk
pernyataan yang bersifat positif: YA = 2, TIDAK = 1. Untuk pernyataan yang
bersifat negatif adalah sebaliknya yaitu TIDAK = 2, dan YA = 1.
2. Selanjutnya
guru dapat membuat rekapitulasi hasil penilaian diri mengenai
sikap terhadap mata pelajaran geografi yang dilakukan
oleh peserta didik menggunakan format berikut.
No.
|
Nama
|
Skor untuk
pernyataan nomor
|
Umlahskor
|
Skor sikap
|
Kode Nilai
|
||||||
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
|||||
1
|
Aisyah N.A.
|
2
|
2
|
2
|
2
|
1
|
2
|
1
|
24
|
3,42
|
B
|
Keterangan:
1. Jumlah
skor maksimal = Jumlah pernyataan x 2
2. Skor
sikap = (Jumlah skor perolehan/jumlah skor maksimal) x 4. Skor
sikap ditulis dengan dua desimal. Rentang skor sikap: 2.00 – 4.00
3. Kode
nilai/predikat:
3.50 - 4.00
= SB (Sangat baik)
3.00 – 3.49
= B (Baik)
2.50 – 2.99
= C (Cukup)
2.00 – 2.49
= K (Kurang)
Contoh format jurnal atau catatan harian selama pembelajaran atau
selama di sekolah/madrasah.
No.
|
Hari/Tanggal
|
Nama Siswa
|
Kejadian (positif/negatif
|
1.
|
Penilaian Hasil Belajar Psikomotor
Ada beberapa ahli yang menjelaskan cara menilai hasil belajar psikomotor.
Ryan (1980) menjelaskan bahwa hasil belajar keterampilan dapat diukur melalui
(1) pengamatan langsung dan penilaian tingkah laku peserta didik selama proses
pembelajaran praktik berlangsung, (2) sesudah mengikuti pembelajaran, yaitu
dengan jalan memberikan tes kepada peserta didik untuk mengukur pengetahuan,
keterampilan, dan sikap, (3) beberapa waktu sesudah pembelajaran selesai dan
kelak dalam lingkungan kerjanya. Sementara itu Leighbody (1968) berpendapat
bahwa penilaian hasil belajar psikomotor mencakup: (1) kemampuan menggunakan
alat dan sikap kerja, (2) kemampuan menganalisis suatu pekerjaan dan menyusun
urut-urutan pengerjaan, (3) kecepatan mengerjakan tugas, (4) kemampuan membaca
gambar dan atau simbol, (5) keserasian bentuk dengan yang diharapkan dan atau
ukuran yang telah ditentukan.
Dari penjelasan di atas dapat dirangkum bahwa dalam penilaian hasil belajar
psikomotor atau keterampilan harus mencakup persiapan, proses, dan produk.
Penilaian dapat dilakukan pada saat proses berlangsung yaitu pada waktu peserta
didik melakukan praktik, atau sesudah proses berlangsung dengan cara mengetes
peserta didik.
a.
Unsur Yang Terlibat Dalam Penilaian Psikomotor
Secara umum unsur – unsur yang terlibat dalam pengembangan dan penyusunan
penilaian psikomotorik dalam dunia pendidikan sebagai berikut:
1. Kepala
Sekolah
2. Tim
Pengembang Kurikulum (TPK).
3. Guru
/ MGMP
b.
Dasar Hukum /Referensi
Adapun dasar-dasar hokum yang menjadi landasan pentingnya penilaian
psikomotorik sebagai berikut:
1. Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan,
2. Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi,
3. Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan,
4. Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian,
5. Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses,
6. SK. Direktorat Jenderal
Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah No. 12/C/KEP/TU/2008 tentang Bentuk dan
Tata Cara Penyusunan laporan Hasil Belajar Peserta Didik Satuan Pendidikan Dasar
dan Menengah
7. Panduan Penilaian
Kelompok Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Badan Standar Nasional
Pendidikan;
8. Panduan Penilaian
Kelompok Mata Pelajaran Jasmani Olah Raga dan Kesehatan, Badan Standar Nasional
Pendidikan;
9. Panduan Penilaian
Kelompok Mata Pelajaran Estetika, Badan Standar Nasional Pendidikan;
10. Pedoman Pengembangan Perangkat Penilaian
Psikomotor, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas;
11. Pedoman Khusus Pengembangan Instrumen dan
Penilaian Ranah Psikomotor, Direktorat Pendidikan Menengah Umum.
2.4. Pengertian dan Konsep (Penilaian Psikomotorik)
Penilaian psikomotorik yang disebut juga tes praktik (kinerja) adalah tes
yang meminta peserta didik melakukan perbuatan/menampilkan/ mendemonstrasikan
keterampilannya. Penilaian Psikomotorik dilakukan oleh pendidik melalui
pengamatan terhadap perkembangan psikomotorik peserta didik. Mata pelajaran
yang berkaitan dengan psikomotor adalah mata pelajaran yang lebih berorientasi
pada gerakan dan menekankan pada reaksi–reaksi fisik dan keterampilan tangan.
Prosedur pembelajaran psikomotor meliputi langkah-langkah dalam mengajar
praktik, yaitu:
1. Menentukan tujuan dalam
bentuk perbuatan.
2. Menganalisis keterampilan
secara rinci dan berurutan.
3. Mendemonstrasikan
keterampilan disertai dengan penjelasan singkat dengan memberikan perhatian
pada butir-butir kunci termasuk kompetensi kunci yang diperlukan untuk
menyelesaikan pekerjaan dan bagian-bagian yang sukar.
4. Memberi kesempatan kepada
peserta didik untuk mencoba melakukan praktik dengan pengawasan dan bimbingan.
5. Memberikan penilaian
terhadap usaha peserta didik
a. Pedoman Penskoran
berupa daftar periksa observasi atau skala penilaian yang harus mengacu pada
soal. Daftar periksa observasi memuat aspek-aspek keterampilan pada setiap
aspek keterampilan kunci dalam bentuk pertanyaan/pernyataan ke dalam tabel,
sedangkan skala penilaian memuat banyaknya gradasi skor
b. Kriteria atau rubrik
adalah pedoman penilaian kinerja atau hasil kerja peserta didik yang terdiri
atas skor dan kriteria yang harus dipenuhi untuk mencapai skor tersebut.
c. Penskoran harus memperhatikan
ada atau tidak adanya perbedaan bobot tiap-tiap aspek keterampilan yang ada
dalam skala penilaian atau daftar periksa observasi.
a.
Prosedur Kerja Penilaian Psikomotor
1. Kepala
sekolah menugaskan kepada TPK sekolah dan guru/MGMP sekolah untuk melakukan
penyusunan perangkat penilaian psikomotor.
2. Kepala
sekolah memberikan arahan teknis kepada TPK dan guru tentang penyusunan
perangkat penilaian psikomotor sekurang-kurangnya memuat :
a. Dasar pelaksanaan
penyusunan perangkat penilaian psikomotor
b. Tujuan yang ingin
dicapai dalam pelaksanaan penyusunan perangkat penilaian
c. psikomotor
d. Manfaat penyusunan
perangkat penilaian psikomotor
e. Hasil yang
diharapkan dari penyusunan perangkat penilaian psikomotor
f. Mekanisme
kerja penyusunan perangkat penilaian psikomotor
g. Unsur-unsur yang
terlibat dan uraian tugas dalam pelaksanaan penyusunan perangkat penilaian
psikomotor.
3. TPK
sekolah menyusun rencana kegiatan untuk penyusunan perangkat penilaian
psikomotor SMA, sekurang-kurangnya berisi uraian kegiatan, sasaran/hasil,
pelaksana dan jadwal pelaksanaan, mencakup kegiatan:
4. TPK
sekolah menyusun rencana kegiatan untuk penyusunan perangkat penilaian
psikomotor SMA, sekurang-kurangnya berisi uraian kegiatan, sasaran/hasil,
pelaksana dan jadwal pelaksanaan;
5. TPK
sekolah menyusun rambu-rambu mekanisme penyusunan perangkat penilaian
psikomotor;
6. Guru/MGMP
sekolah menyusun perangkat penilaian psikomotor berupa instrumen penilaian
psikomotor;
7. Kepala
sekolah dan TPK sekolah bersama guru/MGMP sekolah melakukan review dan revisi
perangkat penilaian psikomotor;
8. TPK
sekolah bersama guru/MGMP sekolah memfinalkan hasil revisi perangkat penilaian
psikomotor;
9. Kepala
sekolah menandatangani perangkat penilaian psikomotor;
10. TPK sekolah menggandakan
perangkat penilaian psikomotor sesuai kebutuhan dan mendistribusikan kepada
dewan guru dan pihak lain yang memerlukan. Adapun Bagan Alur Prosedur Kerja
Penyusunan Perangkat Penilaian Psikomotorik sebagai berikut:
b.
Instruksi Kerja
Adapun instruksi kerja proses penyusunan instrumen penilaian psikomotorik
sebagai berikut:
1. Analisis SK/KD mengikuti
Instruksi Kerja Analisis SK/KD
2. Menyusun kisi-kisi soal
memperhatikan: identitas kisi-kisi dan kolom-kolom dalam tabel kisi-kisi (KD,
Bahan Kelas/Semester, Materi, Indikator Soal, Bentuk dan Nomor Soal)
3. Hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam menyusun soal adalah kesesuaian kisi-kisi dan penjabaran
indikator menjadi soal dengan mempertimbangkan materi pembelajaran
4. Hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam menyusun pedoman penskoran adalah:
a. Mencermati
soal
b. Mengidentifikasi
aspek-aspek keterampilan kunci
c. Mengidentifikasi
aspek keterampilan dari setiap aspek keterampilan kunci
d. Menentukan
jenis instrumen
e. Menentukan
rentang skor tiap aspek keterampilan
f. Menentukan
skor minimal dan skor maksimal
g. Membaca
kembali skala penilaian
h. Meminta
orang lain untuk membaca atau menelaah instrumen
c. Jenis
Tes Psikomotor
Tes untuk mengukur ranah psikomotorik adalah tes untuk mengukur penampilan
atau kinerja (performance) yang telah dikuasai oleh peserta didik. Tes
tersebut dapat berupa tes paper and pencil, tes
identifikasi, tes simulasi, dan tes unjuk kerja.
1. Tes simulasi
Kegiatan psikomotorik yang dilakukan melalui tes ini, jika tidak ada alat
yang sesungguhnya yang dapat dipakai untuk memperagakan penampilan peserta
didik, sehingga peserta didik dapat dinilai tentang penguasaan
keterampilan dengan bantuan peralatan tiruan atau berperaga seolah-olah
menggunakan suatu alat yang sebenarnya.
2. Tes unjuk kerja (work sample)
Kegiatan psikomotorik yang dilakukan melalui tes ini, dilakukan
dengan sesungguhnya dan tujuannya untuk mengetahui apakah peserta didik
sudah menguasai/terampil menggunakan alat tersebut. Misalnya dalam melakukan
praktik pengaturan lalu lintas lalu lintas di lapangan yang sebenarnya
Tes simulasi dan tes unjuk kerja, semuanya dapat diperoleh dengan observasi
langsung ketika peserta didik melakukan kegiatan pembelajaran. Lembar observasi
dapat menggunakan daftar cek (check-list) ataupun
skala penilaian (rating scale). Psikomotorik yang diukur
dapat menggunakan alat ukur berupa skala penilaian terentang dari sangat
baik, baik, kurang, kurang, dan tidak baik.
Secara teknis penilaian ranah psikomotor dapat dilakukan dengan pengamatan
(perlu lembar pengamatan) dan tes perbuatan.
1. Dalam ranah psikomotorik
yang diukur meliputi:
2. Gerak refleks,
3. Gerak dasar
fundamen,
4. Keterampilan perseptual;
diskriminasi kinestetik, diskriminasi visual, diskriminasi auditoris,
diskriminasi taktis, keterampilan perseptual yang terkoordinasi,
5. Keterampilan fisik,
6. Gerakan terampil,
7. Komunikasi non diskusi (tanpa
bahasa-melalui gerakan) meliputi: gerakan ekspresif, gerakan interprestatif.
d.
Contoh Penilaian Psikomotor
Contoh Instrumen
Penilaian Psikomotor pada Mata Pelajaran Kimia
Tabel 1. Contoh
Kisi-kisi penilaian psikomotorik
Jenis
Sekolah
|
:
|
SMA ---SMK
|
|||||
Mata
Pelajaran
|
:
|
Kimia
|
|||||
Teknik
Penilaian
|
:
|
Tes
Praktik
|
|||||
Penilaian
Pendidik
|
:
|
Ulangan
Harian
|
|||||
Jumlah
Soal/Waktu
|
:
|
1/30 menit
|
|||||
Standar
Kompetensi
|
:
|
3. Memahami kinetika reaksi, kesetimbangan kimia,
dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta penerapannya dalam
kehidupan sehari-hari
dan industri.
|
|||||
Kompetensi
Dasar
|
Bahan
kelas/sem
|
Materi
pembelajaran
|
Indikator
soal
|
Bentuk
soal
|
Nomor soal
|
||
3.3.
Menjelaskan kesetimbangan dan faktor-faktor yang mempengaruhi pergeseran arah
kesetimbangan dengan melakukan percobaan.
|
XI / 1
|
Faktor-faktor
yang mempengaruhi laju reaksi
|
Peserta
didik
dapat
melakukan
percobaan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi
|
Praktikum
|
1
|
||
e. Contoh Soal
Berdasarkan
kisi-kisi soal, dapat dibuatkan soal sebagai berikut:
”lakukanlah
percobaan untuk memahami faktor-faktor yang memepengaruhi laju reaksi dengan
mengikuti prosedur kimia yang benar teknik yang benar. Perhatikan pengaruh
konsentrasi, luas permukaan, suhu dan penambahan katali terhadap lama waktu
reaksi berlangsung”.
f. Pedoman Penskoran/Penilaian
Berdasarkan soal di atas, dapat disusun pedoman penskoran dengan tahapan
sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi aspek-aspek
keterampilan kunci dalam lari 100 m. Dalam hal ini aspek–aspek keterampilan
kunci itu adalah:
a. posisi mulai (starting position)
b. teknik mulai (starting action),
c. teknik lari (sprinting action), dan
d. teknik memasuki garis finis (finishing action).
2. Mengidentifikasi aspek-aspek
keterampilan dari setiap aspek keterampilan kunci. Dalam hal ini aspek
keterampilan kunci pada posisi mulai/starting position dirinci menjadi aspek
keterampilan memposisikan kaki, tangan, badan, pandangan mata, dan posisi
tungkai pada saat aba-aba “siap”, dan seterusnya.
3. Dilanjutkan dengan membuat lembar
daftar periksa observasi dan skala penilaian sebagai berikut :
Tabel 2.
Aspek-aspek penilaian
Aspek-aspek
keterampilan
|
Skala
penilaian
|
Skor butir
|
||||
5
|
4
|
3
|
2
|
1
|
||
P Penggunaan alat dan bahan
· Mengambil larutan
dengan pipet volume
· Menggunakan tabung
reaksi
· Memegang gelas
erlenmeyer
· Menggunakan
termometer
· Mencuci alat dan
bahan
|
||||||
JUMLAH
|
||||||
Penentuan nilai
peserta didik, dirumuskan:
Nilai = X
100
Keterangan:
a) Jumlah aspek keterampilan (20)
b) Rentang skor tiap aspek ketrampilan (1 sampai dengan 5)
c) Skor perolehan (Jumlah skor perolehan siswa pada 20 aspek keterampilan)
d) Skor maksimal (20 x 5 = 100)
Permasalahan
:
1.
Sebagai
seorang pendidik apa saja yang menjadi kesulitan dalam penyusunan rubrik
penilaian baik itu afektif maupun psikomotor ? Dan bagaimana solusinya ?
2.
Hal-hal
apa saja yang harus diperhatikan dalam penyusunan rubrik penilaian afektif dan
psikomotor yang baik dan benar ?
3.
Bagaimana
cara kita melihat keefektifan dari rubrik penilaian afektif dan psikomotor ?
Bagaimana cara kita melihat keefektifan dari rubrik penilaian afektif dan psikomotor ?
BalasHapuscara kita melihat keefektifan itu jika instrumen tersebut dapat menilai indikator yang hendak dinilai dan dapat melihatkan pengaruhnya terhadap pembelajaran. maka dari itu sebelum membuatnya telaah terlebih dahulu KI dan Kd serta materi yang akan dipelajari
saya sependapat dengan tri bahwa untuk melihat rubrik yg kita buat efektif atau tidak yakni bisa dengan melihat pengaruhnya thdp pembelajaran. sedikit tambahan bahwa efektif atw tidaknya suaturubrik yang dibuat yakni dengan melihat reliabel atau tidakkah rubrik tersebut, sudah mampu mengukur apa yang mau di ukur atau tidak dan sudah bisa mewakili jawaban atas tujuan penilaian atau tidak.
Hapussepndapat apa yang disampaikan teman-teman diatas, efektif tidak nya tergantung pada kemampuannya dalam menjawab tujuan yang ingin dicapai. terjawabnya dan terukurnya KI dan KD. penyusunannya haruslah seefektif dan seefisien mungkin.
Hapusuntuk melihat efektif atau tidaknya penilaian yang dibuat harus melalui tahap validasi oleh ahli instrumen. dan jika sudah bisa diterapkan di kelas dan bisa kita lihat keefektifannya berguna atau tidak
BalasHapushal apa yang harus diperhatikan dalam menyusun instrumen baik afektif maupun psikomotorik?
BalasHapusmenurut saya hal-hal yang harus diperhatikan dalam menyususn dan mengembangkan instrumen adalah :
tentukan dulu materinya, sesuaikan kisi-kisi intrumen dengan kompetensi dasar dan IPK, kemudian perjelas tujuan pembelajaran dengan menggunakan instrumen tsb, kemudian kembangkan dengan langkah sebagai berikut:
1. menentukan spesifikasi instrumen
2. menulis instrumen
3. menentukan skala instrumen
4. menentukan pedoman penskoran
5. menelaah instrumen
6. merakit instrumen
7. melakukan ujicoba
8. menganalisis hasil ujicoba
9. memperbaiki instrumen
10. melaksanakan pengukuran
11. menafsirkan hasil pengukuran
hal apa saja yang harus diperhatikan dalam penyusunan rubrik penilaian afektif dan psikomotor yang baik dan benar ?
HapusSaya sependapat dengan kak melda, yaitu kita berpatokan dengan KI, KD, dan indikator yg akan kita buat, setelah kita buat kita lakukan evaluasi, dengan demikin kekurangan dpat terlihat, dilanjutkan dengan validasi.
kesulitan dalam penyusunan rubrik penilaian baik itu afektif maupun psikomotor ?
BalasHapusUntuk menyusun instrumen penilaian afektif, dapat dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
Pemilihan ranah afektif yang ingin dinilai oleh guru, misalnya sikap dan minat terhadap suatu materi pelajaran.
Penentuan indikator apa yang sekiranya dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana sikap dan minat siswa terhadap suatu materi pelajaran
Beberapa contoh indikator yang misalnya dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana sikap dan minat siswa terhadap suatu materi pelajaran, yaitu: (1) persentase kehadiran atau ketidakhadiran di kelas; (2) aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung, misalnya apakah suka bertanya, terlibat aktif dalam diskusi, aktif memperhatikan penjelasan guru, dsb.; (3) penyelesaian tugas-tugas belajar yang diberikan, seperti ketepatan waktu mengumpul PR atau tugas lainnya; (4) kerapian buku catatan dan kelengkapan bahan belajar lainnya terkait materi pelajaran tersebut.
Penentuan jenis skala yang digunakan, misalnya jika menggunakan skala Likert, berarti ada 5 rentang skala, yaitu: (1) tidak berminat; (2) kurang berminat; (3) netral; (4) berminat; dan (5) sangat berminat.
Penulisan draft instrumen penilaian afektif (misalnya dalam bentuk kuisioner) berdasarkan indikator dan skala yang telah ditentukan.
Penelaahan dan meminta masukan teman sejawat (guru lain) mengenai draft instrumen penilaian ranah afektif yang telah dibuat.
Revisi instrumen penilaian afektif berdasarkan hasil telaah dan masukan rekan sejawat, bila memang diperlukan
Persiapan kuisioner untuk disebarkan kepada siswa beserta inventori laporan diri yang diberikan siswa berdasarkan hasil kuisioner (angket) tersebut.
Pemberian skor inventori kepada siswa
Analisis hasil inventori minat siswa terhadap materi pelajaran.
Saat proses pembelajaran sedang berlangsung
Untuk melakukan penilaian psikomotor pada saat proses pembelajaran dengan berlangsung dapat dikakukan pengamatan langsung melalui tingkah laku yang ditunjukkan siswa selama pembelajaran
Sesudah mengikuti pembelajaran
Penilaian hasil belajar psikomotor yang dilakukan sesudah pembelajaran dilaksanakan dapat dilakukan denga cara memberikan tes kepada siswa.
Langkah-Langkah Menyusun Instrumen Penilaian Psikomotor
Untuk menilai hasil belajar psikomotor, guru paling tidak harus menyiapkan 2 dokumen, yaitu:
Soal / lembar kerja / lembar tugas / perintah kerja.
Instrumen pengamatan / lembar observasi berupa daftar periksa (check list) atau skala penilaian (rating scale)
Hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dalam penyusunan rubrik penilaian afektif dan psikomotor yang baik dan benar ?
BalasHapus.
Dalam menyusun rubrik penilaian kita harus memperhatikan KI, KD, dan indikator yang hendak di capai. Karena guna instrumen penilaian adalah untuk mengukur ketercapaian indikator. Berlaku juga untuk penilaian sikap dimana kita menurunkan indikator dari Kompetensi Dasar 2.1 untuk afektif dan kompetensi dasar 4.1 untuk psikomotor, dan disesuaikan lagi pada materi dan silabus serta keinginan guru sebaiknya penilaian autentik dirancang dengan instrumen apa saja dan mengukur kemampuan apa saja.
untuk menjawab permasalahan Bagaimana cara kita melihat keefektifan dari rubrik penilaian afektif dan psikomotor ?
BalasHapusdengan melihat susunan dari rubrik tersebut terkait susunan tingkat pencapaian,urutan kata dan urutan dari sistematika rubrik tersebut. selanjutnya dapat dilihat dari setelah digunakan, apakah rubrik tersebut dapat menilai siswa secara valid dan reliabel
Bagaimana cara kita melihat keefektifan dari rubrik penilaian afektif dan psikomotor ?
BalasHapusUntuk mencapai efektifan dari rubrik penilaian ini kita butuh proses mulai dari penyesuaian ki kd indikator dan ribrik penilaian,* kemudian direvisi oleh ahli, dan uji coba. Jika hasil yg kita perolah sesuai dengan indikator dan dapat mengukur yang kita nilai mka ribrik penilaian tsb sudah efektif
Untuk melihat keefektifitasan suatu instrumen itu harus di uji coba dlu. Setalh di validasi dlu sehingga suatu instrumen itu akan nampak efektif atau tidak. Dan juga untuk melihat efektif atau tidakny rubrik itu di lihat dari patokan kisi kisi yang sudah kita buat dalam instrumen yg digunakan.
BalasHapussependapat dengan rini bahwa Keberhasilan pembelajaran pada ranah kognitif dan psikomotor dipengaruhi oleh kondisi afektif peserta didik. Peserta didik yang memiliki minat belajar dan sikap positif terhadap pelajaran akan merasa senang mempelajari mata pelajaran tertentu, sehingga dapat mencapai hasil pembelajaran yang optimal
BalasHapus