Senin, 04 Maret 2019

Materi 5 : Penyusunan Rubrik Penilaian Aspek Afektif dan Psikomotor


Menurut Krathwohl (1961) bila ditelusuri hampir semua tujuan kognitif mempunyaikomponen afektif. Dalam pembelajaran sains, misalnya, di dalamnya ada komponen sikap ilmiah. Sikap ilmiah adalah komponen afektif. Tingkatan ranah afektif menurut taksonomi Krathwohl ada lima, yaitu: receiving (attending), responding, valuing, organization, dan characterization.
1.      Tingkat receiving
Pada tingkat receiving atau attending, peserta didik memiliki keinginan memperhatikan suatu fenomena khusus atau stimulus, misalnya kelas, kegiatan, musik, buku, dan sebagainya. Tugas pendidik mengarahkan perhatian peserta didik pada fenomena yang menjadi objek pembelajaran afektif. Misalnya pendidik mengarahkan peserta didik agar senang membaca buku, senang bekerjasama, dan sebagainya. Kesenangan ini akan menjadi kebiasaan, dan hal ini yang diharapkan, yaitu kebiasaan yang positif.
2.      Tingkat responding
Responding merupakan partisipasi aktif peserta didik, yaitu sebagai bagian dari perilakunya. Pada tingkat ini peserta didik tidak saja memperhatikan fenomena khusus tetapi ia juga bereaksi. Hasil pembelajaran pada ranah ini menekankan pada pemerolehan respons, berkeinginan memberi respons, atau kepuasan dalam memberi respons. Tingkat yang tinggi pada kategori ini adalah minat, yaitu hal-hal yang menekankan pada pencarian hasil dan kesenangan pada aktivitas khusus. Misalnya senang membaca buku, senang bertanya, senang membantu teman, senang dengan kebersihan dan kerapian, dan sebagainya.
3.      Tingkat valuing
Valuing melibatkan penentuan nilai, keyakinan atau sikap yang menunjukkan derajat internalisasi dan komitmen. Derajat rentangannya mulai dari menerima suatu nilai, misalnya keinginan untuk meningkatkan keterampilan, sampai pada tingkat komitmen. Valuing atau penilaian berbasis pada internalisasi dari seperangkat nilai yang spesifik. Hasil belajar pada tingkat ini berhubungan dengan perilaku yang konsisten dan stabil agar nilai dikenal secara jelas. Dalam tujuan pembelajaran, penilaian ini diklasifikasikan sebagai sikap dan apresiasi.
4.      Tingkat organization
Pada tingkat organization, nilai satu dengan nilai lain dikaitkan, konflik antar nilai diselesaikan, dan mulai membangun sistem nilai internal yang konsisten.Hasil pembelajaran pada tingkat ini berupa konseptualisasi nilai atau organisasi sistem nilai. Misalnya pengembangan filsafat hidup.
5.      Tingkat characterization
Tingkat ranah afektif tertinggi adalah characterization nilai. Pada tingkat ini peserta didik memiliki sistem nilai yang mengendalikan perilaku sampai pada waktu tertentu hingga terbentuk gaya hidup. Hasil pembelajaran pada tingkat ini berkaitan dengan pribadi, emosi, dan sosial.
C.     KARAKTERISTIK RANAH AFEKTIF
Ada 5 (lima) tipe karakteristik afektif yang penting, yaitu sikap, minat, konsep diri, nilai, dan moral.
1.         Sikap
Sikap merupakan suatu kencendrungan untuk bertindak secara suka atau tidaksuka terhadap suatu objek. Sikap dapat dibentuk melalui cara mengamati danmenirukan sesuatu yang positif, kemudian melalui penguatan serta menerimainformasi verbal. Perubahan sikap dapat diamati dalam proses pembelajaran,tujuan yang ingin dicapai, keteguhan, dan konsistensi terhadap sesuatu.
Menurut Fishbein dan Ajzen (1975) sikap adalah suatu predisposisi yangdipelajari untuk merespon secara positif atau negatif terhadap suatu objek,situasi, konsep, atau orang. Sikap peserta didik terhadap objek misalnya sikap terhadap sekolah atau terhadap mata pelajaran. Sikap peserta didik ini penting untuk ditingkatkan (Popham, 1999). Sikap peserta didik terhadap mata pelajaran, harus lebih positif setelah peserta didik mengikuti pembelajaran dibanding sebelum mengikuti pembelajaran. Perubahan ini merupakan salah satu indikator keberhasilan pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran. Untuk itu pendidik harus membuat rencana pembelajaran termasuk pengalaman belajar peserta didik yang membuat sikap peserta didik terhadap mata pelajaran menjadi lebih positif.
2.         Minat
Menurut Getzel (1966), minat adalah suatu disposisi yang terorganisir melaluipengalaman yang mendorong seseorang untuk memperoleh objek khusus,aktivitas, pemahaman, dan keterampilan untuk tujuan perhatian ataupencapaian. Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia (1990: 583),minat atau keinginan adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu.Hal penting pada minat adalah intensitasnya. Secara umum minat termasukkarakteristik afektif yang memiliki intensitas tinggi.
Penilaian minat dapat digunakan  mengetahui minat peserta didik sehingga mudah untuk diarahkan dalam pembelajaran, mengetahui bakat dan minat peserta didik yang sebenarnya,  pertimbangan penjurusan dan pelayanan individual peserta didik,  menggambarkan keadaan langsung di lapangan/kelas,acuan dalam menilai kemampuan peserta didik secara keseluruhan, memilih metode yang tepat dalam penyampaian materi,  mengetahui tingkat minat peserta didik terhadap pelajaran yang diberikan pendidik, bahan pertimbangan menentukan program sekolah,  mingkatkankatkan motivasi belajar peserta didik. mengelompokkan peserta didik yang memiliki minat sama, acuan dalam menilai kemampuan peserta didik secara keseluruhan dan memilih metode yang tepat dalam penyampaian materi, mengetahui tingkat minat peserta didik terhadap pelajaran yang diberikan pendidik, bahan pertimbangan menentukan program sekolah, dan meningkatkan motivasi belajar peserta didik.
3.         konsep diri
Menurut Smith, konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan individu terhadapkemampuan dan kelemahan yang dimiliki. Target, arah, dan intensitas konsepdiri pada dasarnya seperti ranah afektif yang lain. Target konsep diri biasanyaorang tetapi bisa juga institusi seperti sekolah. Arah konsep diri bisa positif
atau negatif, dan intensitasnya bisa dinyatakan dalam suatu daerah kontinum,yaitu mulai dari rendah sampai tinggi.
Konsep diri ini penting untuk menentukan jenjang karir peserta didik, yaitudengan mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri, dapat dipilih alternatif karir yang tepat bagi peserta didik. Selain itu informasi konsep diri penting bagi sekolah untuk memberikan motivasi belajar peserta didik dengan tepat.
4.         nilai
Nilai menurut Rokeach (1968) merupakan suatu keyakinan tentang perbuatan,tindakan, atau perilaku yang dianggap baik dan yang dianggap buruk.Selanjutnya dijelaskan bahwa sikap mengacu pada suatu organisasi sejumlahkeyakinan sekitar objek spesifik atau situasi, sedangkan nilai mengacu padakeyakinan.
5.         moral.
Moral berkaitan dengan perasaan salah atau benar terhadap kebahagiaan orang lain atau perasaan terhadap tindakan yang dilakukan diri sendiri. Misalnya menipu orang lain, membohongi orang lain, atau melukai orang lain baik fisik maupun psikis. Moral juga sering dikaitkan dengan keyakinan agamaseseorang, yaitu keyakinan akan perbuatan yang berdosa dan berpahala. Jadi
moral berkaitan dengan prinsip, nilai, dan keyakinan seseorang.
D.    PENILAIAN RANAH AFEKTIF
Penilaian sikap adalah penilaian yang dilakukan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap mata pelajaran, kondisi pembelajaran, pendidik, dan sebagainya.
Penilaian sikap dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden terhadap suatu objek. Secara tidak langsung dapat dilakukan dengan pernyataan-pernyataan hipotesis, kemudian ditanyakan pendapat responden.
Pada penilaian ranah afektif yang penting dikembangkan adalah sikap dan minat peserta didik. Hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan instrumen afektif sebagai berikut.
1.      Menentukan definisi konseptual atau konstruk yang akan diukur.
2.      Menentukan definisi operasional
3.      Menentukan indicator
4.      Menulis instrumen.
Dalam proses pembelajaran guru dapat melakukan penilaian kompetensi sikap melalui observasi, penilaian diri (self assessment), penilaian “teman sejawat” (peer assessment) oleh peserta didik, dan jurnal.
1.      Penilian Observasi.
Observasi merupakan teknik penilaian yang dilakukan secara berkesinambungan dengan menggunakan indera, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan pedoman observasi yang berisi sejumlah indikator perilaku yang diamati. Kriteria instrumen observasi:
         Mengukur aspek sikap (bukan pengetahuan atau keterampilan) yang dituntut pada Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar
         Sesuai dengan kompetensi yang akan diukur
         Memuat indikator sikap yang dapat diobservasi
         Mudah atau feasible untuk digunakan
         Dapat merekam sikap peserta didik
2.      Penilaian Diri
Penilaian diri merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya dalam konteks pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian diri. Penggunaan teknik ini dapat memberi dampak positif terhadap perkembangan kepribadian seseorang. Keuntungan penggunaan teknik penilaian diri dalam penilaian di kelas sebagai berikut:
·                     dapat menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik, karena mereka diberi kepercayaan untuk menilai dirinya sendiri;
·                      peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya, karena ketika mereka melakukan penilaian, harus melakukan introspeksi terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya;
·                     dapat mendorong, membiasakan, dan melatih peserta didik untuk berbuat jujur, karena mereka dituntut untuk jujur dan obyektif dalam melakukan penilaian.
Kriteria instrumen penilaian diri:
         kriteria penilaian dirumuskan secara sederhana, namun jelas dan tidak bermakna ganda
         bahasa lugas dan dapat dipahami peserta didik
         menggunakan format sederhana yang mudah dipahami peserta didik
         menunjukkan kemampuan peserta didik dalam situasi yang nyata/sebenarnya
         mengungkap kekuatan dan kelemahan capaian kompetensi peserta didik
         bermakna, mengarahkan peseta didik untuk memahami kemampuannya
         mengukur target kemampuan yang akan diukur (valid)
         memuat indikator kunci/indikator esensial yang menunjukkan kemampuan yang akan diukur
         memetakan kemampuan peserta didik dari terendah sampai tertinggi
3.      Penilaian Antar Peserta Didik
Penilaian antarpeserta didik merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk saling menilai terkait dengan pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian antarpeserta didik.
Kriteria instrumen penilaian antarteman:
         sesuai dengan kompetensi dan indikator yang akan diukur
         indikator dapat dilakukan melalui pengamatan peserta didik
         kriteria penilaian dirumuskan secara sederhana, namun jelas dan tidak berpotensi munculnya penafsiran makna ganda/berbeda
         menggunakan bahasa lugas yang dapat dipahami peserta didik
         menggunakan format sederhana dan mudah digunakan oleh peserta didik
         indikator menunjukkan sikap peserta didik dalam situasi yang nyata atau  sebenarnya dan dapat diukur
         instrumen dapat mengukur target kemampuan yang akan diukur (valid)
         memuat indikator kunci atau esensial yang menunjukkan penguasaan satu kompetensi peserta didik
         mampu memetakan sikap peserta didik dari kemampuan pada level terendahsampai kemampuan tertinggi.
4.      Jurnal.
Jurnal merupakan catatan pendidik di dalam dan di luar kelas yang berisi informasi hasil pengamatan tentang kekuatan dan kelemahan peserta didik yang berkaitan dengan sikap dan perilaku. Jurnal dapat memuat penilaian peserta didik terhadap aspek tertentu secara kronologis.
Kriteria jurnal:
         Mengukur capaian kompetensi sikap yang penting.
         Sesuai dengan kompetensi dasar dan indikator.
         Menggunakan format yang sederhana dan mudah diisi/digunakan.
         Dapat dibuat rekapitulasi tampilan sikap peserta didik secara kronologis.
         Memungkinkan untuk dilakukannya pencatatan yang sistematis, jelas dan komunikatif.
         Format pencatatan memudahkan dalam pemaknaan terhadap tampilan sikap peserta didik
         Menuntun guru untuk mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan peserta didik.
Instrumen yang digunakan untuk observasi, penilaian diri, dan penilaian antarpeserta didik adalah lembar pengamatan berupa daftar cek (checklist) atau skala penilaian (rating scale) yang disertai rubrik, sedangkan pada jurnal berupa catatan pendidik.
Instrumen penilaian harus memenuhi persyaratan substansi/materi, konstruksi, dan bahasa. Persyaratan substansi merepresentasikan kompetensi yang dinilai, persyaratan konstruksi memenuhi persyaratan teknis sesuai dengan bentuk instrumen yang digunakan, dan persyaratan bahasa adalah penggunaan bahasa yang baik dan benar serta komunikatif sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik.
Contoh format lembar observasi sikap siswa:
Mata Pelajaran
:
Kimia
Kelas
:
X
Semester
:
1
Tahun pelajaran
:
2013-2014
Kompetenti Inti
:
2. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab,
peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia
Kompetensi Dasar
:
2.1
Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu dalam bekerja sama memenemukan dan memahami keteraturan atom, unsur dan molekul.
2.2
Berperilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, kerjasama dan proaktif dalam melakukan percobaan dan berdiskusi.
2.3
Menunjukkan sikap kritis, teliti dan konsisten dalam menyajikan dan menafsirkan data.
2.4
Berperilaku menjaga lingkungan dan hemat dalam memanfaatkan sumber daya alam.
                
Sikap yang diintegrasikan dan dikembangkan untuk mencapai KD 2.1, 2.2, 2,3 dan KD 2.4 adalah perilaku rasa ingin tahu, jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, dapat bekerja sama, kritis dan teliti. Masing-masing sikap dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.      Sikap Rasa Ingin Tahu
Rasa Ingin Tahu adalah sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari apa yang dipelajarinya, dilihat dan didengarnya. Rasa ingin tahu dalam proses pembelajaran dapat ditunjukan dengan mengemukakan pendapat dari berbagai macam sumber, dan  selalu bertanya pada guru atau teman jika belum menguasai pelajaran.
Indicator sikap ingin tahu adalah sebagai berikut:
         Antusias mencari jawaban.
         Perhatian pada obyek yang diamati.
         Antusias pada proses Sains.
         Menanyakan setiap Iangkah kegiatan.

Rubrik penilaian sikap rasa ingin tahu dapat disusun sebagai berikut:
kriteria
skor
Indikator
Sangat Baik (SB)
4
Selalu berusaha mengetahui pelajaran dengan cara membaca buku dan bertanya.
Baik (B)
3
Sering berusaha mengetahui pelajaran dengan cara membaca buku dan bertanya.
Cukup (C)
2
Kadang-kadang berusaha mengetahui pelajaran dengan cara membaca buku dan bertanya.
Kurang (K)
1
Tidak pernah berusaha mengetahui pelajaran dengan cara membaca buku dan bertanya.

2.      Sikap Jujur
Sikap jujur adalah perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan dan pekerjaan.
Indikator sikap jujur adalah sebagai berikut:
         Tidak menyontek dalam mengerjakan ujian/ulangan
         Tidak menjadi plagiat (mengambil/menyalin karya orang lain tanpa menyebutkan sumber)
         Mengungkapkan perasaan apa adanya
         Menyerahkan kepada yang berwenang barang yang ditemukan
         Membuat laporan berdasarkan data atau informasi apa adanya
         Mengakui kesalahan atau kekurangan yang dimiliki

Rubrik penilaian sikap jujur dapat disusun sebagai berikut:
kriteria
skor
Indikator
Sangat Baik (SB)
4
Selalu jujur dalam bersikap dan bertutur kata kepada guru dan teman
Baik (B)
3
Sering jujur dalam bersikap dan bertutur kata kepada guru dan teman
Cukup (C)
2
Kadang-kadang jujur dalam bersikap dan bertutur kata kepada guru dan teman
Kurang (K)
1
Tidak pernah jujur dalam bersikap dan bertutur kata kepada guru dan teman

3.      Sikap Disiplin
Sikap disiplin adalah tindakan yang menunjukan perilaku tertib dan taat pada berbagai ketentuan dan peraturan. Sikap disiplin dalam proses pembelajaran dikelas dapat ditunjukan dengan datang tepat waktu, memperhatikan penjelasan dan pendapat guru maupun teman, dan mengikuti kegiatan dengan tertib.
Indicator sikap disiplin adalah sebagai berikut:
      Datang tepat waktu
      Patuh pada tata tertib atau aturan bersama/ sekolah
      Mengerjakan/mengumpulkan tugas sesuai  dengan waktu yang ditentukan
      Mengikuti kaidah berbahasa tulis yang baik dan benar

Rubrik penilaian sikap disiplin dapat disusun sebagai berikut:
kriteria
skor
Indikator
Sangat Baik (SB)
4
Selalu disiplin dalam mengikuti proses pembelajaran.
Baik (B)
3
Sering disiplin dalam mengikuti proses pembelajaran.
Cukup (C)
2
Kada-kadang disiplin dalam mengikuti proses pembelajaran.
Kurang (K)
1
Tidak pernah disiplin dalam mengikuti proses pembelajaran.

4.      Sikap Tanggung Jawab.
Sikap tanggung jawab adalah sikap dan perilaku untuk melaksanakan tugas dan kewajiban sebagaimana yang seharusnya dilakukan, baik terhadap diri sendiri, teman maupun guru. Dalam proses pembelajaran sikap tanggung jawab dapat ditunjukan dengan cara mengerjakan tugas sesuai yang telah ditentukan, berperan aktif dalam kelompok dan berani menanggung resiko atas perbuatan yang telah dilakukanya.
Indicator sikap tanggung jawab adalah sebagai berikut:
      Melaksanakan tugas individu dengan baik
      Menerima resiko dari tindakan yang dilakukan
      Tidak menyalahkan/menuduh orang lain tanpa bukti yang akurat
      Mengembalikan barang yang dipinjam
      Mengakui dan meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan
      Menepati janji
      Tidak menyalahkan orang lain utk  kesalahan tindakan kita sendiri
      Melaksanakan apa yang pernah dikatakan tanpa disuruh/diminta
Rubrik penilaian sikap tanggung jawab dapat disusun sebagai berikut:
kriteria
skor
Indikator
Sangat Baik (SB)
4
Selalu bertanggungjawab dalam bersikap dan bertindak terhadp guru dan teman.
Baik (B)
3
Sering bertanggungjawab dalam bersikap dan bertindak terhadp guru dan teman.
Cukup (C)
2
Kadang-kadang  bertanggungjawab dalam bersikap dan bertindak terhadp guru dan teman.
Kurang (K)
1
Tidak pernah bertanggungjawab dalam bersikap dan bertindak terhadp guru dan teman.

5.      Sikap Santun
Sikap santun adalah sifat yang halus dan baik dari sudut pandang tata bahasa ataupun cara berperilaku terhadap orang lain. Sikap santun di dalam prses pembelajaran dapat ditunjukan dengan sikap bicara yang sopan, bersikap hormat dan santun terhadap guru maupun teman.
Indicator sikap santun adalah sebagai berikut:
         Menghormati orang yang lebih tua.
         Tidak berkata-kata kotorkasar, dan takabur.
         Tidak meludah di sembarang tempat.
         Tidak menyela pembicaraan pada waktu yang tidak tepat
         Mengucapkan terima kasih setelah menerima bantuan orang lain
         Bersikap 3S (salam, senyum, sapa)
         Meminta ijin ketika akan memasuki ruangan orang lain atau menggunakan barang milik orang lain
         Memperlakukan orang lain sebagaimana diri sendiri ingin diperlakukan

Rubrik penilaian sikap santun dapat disusun sebagai berikut:
kriteria
skor
Indikator
Sangat Baik (SB)
4
Selalu santun dalam bersikap dan bertutur kata kepada guru dan teman
Baik (B)
3
Sering santun dalam bersikap dan bertutur kata kepada guru dan teman
Cukup (C)
2
Kadang-kadang santun dalam bersikap dan bertutur kata kepada guru dan teman
Kurang (K)
1
Tidak pernah santun dalam bersikap dan bertutur kata kepada guru dan teman

6.      Sikap bekerja sama
Kerjasama merupakan kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama oleh lebih dari satu orang guna mewujudkan tujuan bersama.
Indicator sikap bekerja sama adalah sebagai berikut:
      Kesediaan melakukan tugas sesuai kesepakatan
      Bersedia membantu orang lain tanpa mengharap imbalan
      Aktif dalam kerja kelompok
      Memusatkan perhatian pada tujuan kelompok
      Tidak mendahulukan kepentingan pribadi
      Mencari jalan untuk mengatasi perbedaan pendapat/pikiran antara diri sendiri dengan orang lain
Mendorong orang lain untuk bekerja sama demi mencapai tujuan bersama
Rubrik penilaian sikap dapat bekerja sama dapat disusun sebagai berikut:
kriteria
skor
Indikator
Sangat Baik (SB)
4
Selalu bekerja sama dengan teman dalam proses pembelajaran.
Baik (B)
3
Sering bekerja sama dengan teman dalam proses pembelajaran.
Cukup (C)
2
Kadang-kadang bekerja sama dengan teman dalam proses pembelajaran.
Kurang (K)
1
Tidak pernah bekerja sama dengan teman dalam proses pembelajaran.


Selanjutnya guru membuat rekapitulasi hasil penilaian sikap peserta didik dalam format seperti contoh berikut.

No.
Nama siswa
Ingin tahu
jujur
disiplin
Tanggung jawab
Bekerja sama
Jumlah skor
Skor sikap
kode
1
A.Nur Aqila
4
4
3
3
4
18
3,6
SB
2
M. Aqil Mumtaz
4
4
3
3
3
27
3,4
SB
3'
M.Z.Aqil M.
4
4
3
4
3
18
3,6
SB

Keterangan:
1.    Rentang skor masing-masing sikap = 1,00 s.d. 4,00
2.    Jumlah skor = jumlah skor seluruh criteria
3.    skor sikap = rata-rata dari skor sikap
4.     Kode nilai/Predikat:
3.25 - 4.00 = SB (Sangat baik)
2.50 – 3.24 = B (Baik)
1.75 – 2.49 = C (Cukup)
1.00 – 1.74 = K (Kurang)

Contoh Daftar Cek Penilaian Diri mengenai sikap terhadap mata pelajarankimia.

Mata Pelajaran
:
Kimia
Kelas
:
XI IPA
Semester
:
1
Tahun pelajaran
:
2013-2014
Kompetenti Inti
:
2. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab,
peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia
Kompetensi Dasar
:
2.1
Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu dalam bekerja sama memenemukan dan memahami keteraturan atom, unsur dan molekul.
2.2
Berperilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, kerjasama dan proaktif dalam melakukan percobaan dan berdiskusi.
2.3
Menunjukkan sikap kritis, teliti dan konsisten dalam menyajikan dan menafsirkan data.
2.4
Berperilaku menjaga lingkungan dan hemat dalam memanfaatkan sumber daya alam.

Petunjuk penilaian diri:
Bacalah baik-baik setiap pernyataan dan berilah tanda V pada kolom yang sesuai dengan keadaan dirimu yang sebenarnya!
No.
Pernyataan
Ya
Tidak
1.
Dalam praktikum menentukan ∆H reaksi saya mencatat data apa adanya.
2.
Saya menyelesaikan tugas praktikum sesuai dengan waktu yang telah ditentukan
3.
Saya membuat laporan praktikum meskipun tidak didukung data akurat.
4.
Saya berbagi tugas dengan teman satu kelompok.
5.
Dalam praktikum saya mendominasi setiap pekerjaan.
6.
Saya selalu mencari tahu prosedur dalam praktikum.
7.
Saya membersihkan semua alat dan tempat setelah praktikum selesai secara bersama-sama.

Keterangan
1.    Pernyataan pada instrumen di atas ada yang bersifat positif (No.1 dan 2) dan ada  yang bersifat negatif (No 3).  Pemberian skor untuk pernyataan yang bersifat positif: YA = 2, TIDAK = 1. Untuk pernyataan yang bersifat negatif adalah sebaliknya yaitu TIDAK = 2, dan YA = 1.
2.    Selanjutnya guru dapat membuat rekapitulasi hasil penilaian diri mengenai sikap  terhadap mata  pelajaran geografi yang dilakukan oleh peserta didik menggunakan format berikut.
No.
Nama
Skor untuk pernyataan nomor
Umlahskor
Skor sikap
Kode Nilai
1
2
3
4
5
6
7
1
Aisyah N.A.
2
2
2
2
1
2
1
24
3,42
B

Keterangan:
1.    Jumlah skor maksimal = Jumlah pernyataan x 2
2.    Skor sikap = (Jumlah skor perolehan/jumlah skor maksimal) x 4. Skor sikap ditulis dengan dua desimal. Rentang skor sikap: 2.00 – 4.00
3.    Kode nilai/predikat:
3.50 - 4.00 = SB  (Sangat baik)
3.00 – 3.49 = B (Baik)
2.50 – 2.99 = C (Cukup)
2.00 – 2.49 = K (Kurang)

Contoh instrumen penilaian (lembar pengamatan) teman sejawat (peer assessment) untuk mata pelajaran kimia.

Mata Pelajaran
:
Kimia
Kelas
:
XI IPA
Semester
:
1
Tahun pelajaran
:
2013-2014
Kompetenti Inti
:
2. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab,
peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia
Kompetensi Dasar
:
2.1
Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu dalam bekerja sama memenemukan dan memahami keteraturan atom, unsur dan molekul.
2.2
Berperilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, kerjasama dan proaktif dalam melakukan percobaan dan berdiskusi.
2.3
Menunjukkan sikap kritis, teliti dan konsisten dalam menyajikan dan menafsirkan data.
2.4
Berperilaku menjaga lingkungan dan hemat dalam memanfaatkan sumber daya alam.


Petunjuk:
1.    Amatilah perilaku temanmu dengan cemat selama mengikuti kegiatan praktikum penentuan ∆H menggunakan calorimeter!
2.    Berilah tanda V pada kolom yang sesuai (ya atau tidak) berdasarkan hasil pengamatanmu!
3.    Serahkan hasil pengamatan kepada bapak/ibu guru!

Nama siswa yang diamati    :
Waktu pengamatan              :
No.
Perilaku/sikap
Ya
Tidak
1.
Selama kegiatan selalu mendominasi pekejaan.
2.
Dapat menerima saran teman yang lain.
3.
Memberikan solusi terhadap pendapat yang berbeda.
4.
Mencatat hasil pengamatan apa adanya.
5.
Berpartisipasi dalam membersihkan tempat dan peralatan.
6.
Hati-hati dalam melakukan percobaan.
7.
Teliti dalam melihat ukuran.

Keterangan
1.    Pernyataan pada instrumen di atas ada yang bersifat positif (No.1 dan 2) dan ada  yang bersifat negatif (No 3).  Pemberian skor untuk pernyataan yang bersifat positif: YA = 2, TIDAK = 1. Untuk pernyataan yang bersifat negatif adalah sebaliknya yaitu TIDAK = 2, dan YA = 1.
2.    Selanjutnya guru dapat membuat rekapitulasi hasil penilaian diri mengenai sikap  terhadap mata  pelajaran geografi yang dilakukan oleh peserta didik menggunakan format berikut.
No.
Nama
Skor untuk pernyataan nomor
Umlahskor
Skor sikap
Kode Nilai
1
2
3
4
5
6
7
1
Aisyah N.A.
2
2
2
2
1
2
1
24
3,42
B

Keterangan:
1.    Jumlah skor maksimal = Jumlah pernyataan x 2
2.    Skor sikap = (Jumlah skor perolehan/jumlah skor maksimal) x 4. Skor sikap ditulis dengan dua desimal. Rentang skor sikap: 2.00 – 4.00
3.    Kode nilai/predikat:
3.50 - 4.00 = SB  (Sangat baik)
3.00 – 3.49 = B (Baik)
2.50 – 2.99 = C (Cukup)
2.00 – 2.49 = K (Kurang)

Contoh format jurnal atau catatan harian selama pembelajaran atau selama di sekolah/madrasah.

No.
Hari/Tanggal
Nama Siswa
Kejadian (positif/negatif
1.










 Penilaian Hasil Belajar Psikomotor
Ada beberapa ahli yang menjelaskan cara menilai hasil belajar psikomotor. Ryan (1980) menjelaskan bahwa hasil belajar keterampilan dapat diukur melalui (1) pengamatan langsung dan penilaian tingkah laku peserta didik selama proses pembelajaran praktik berlangsung, (2) sesudah mengikuti pembelajaran, yaitu dengan jalan memberikan tes kepada peserta didik untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap, (3) beberapa waktu sesudah pembelajaran selesai dan kelak dalam lingkungan kerjanya. Sementara itu Leighbody (1968) berpendapat bahwa penilaian hasil belajar psikomotor mencakup: (1) kemampuan menggunakan alat dan sikap kerja, (2) kemampuan menganalisis suatu pekerjaan dan menyusun urut-urutan pengerjaan, (3) kecepatan mengerjakan tugas, (4) kemampuan membaca gambar dan atau simbol, (5) keserasian bentuk dengan yang diharapkan dan atau ukuran yang telah ditentukan.
Dari penjelasan di atas dapat dirangkum bahwa dalam penilaian hasil belajar psikomotor atau keterampilan harus mencakup persiapan, proses, dan produk. Penilaian dapat dilakukan pada saat proses berlangsung yaitu pada waktu peserta didik melakukan praktik, atau sesudah proses berlangsung dengan cara mengetes peserta didik.
a.  Unsur Yang Terlibat Dalam Penilaian Psikomotor
Secara umum unsur – unsur yang terlibat dalam pengembangan dan penyusunan penilaian psikomotorik dalam dunia pendidikan sebagai berikut:
1.      Kepala Sekolah
2.      Tim Pengembang Kurikulum (TPK).
3.      Guru / MGMP
b.  Dasar Hukum /Referensi
Adapun dasar-dasar hokum yang menjadi landasan pentingnya penilaian psikomotorik sebagai berikut:
1.        Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan,
2.        Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi,
3.        Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan,
4.        Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian,
5.        Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses,
6.        SK. Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah No. 12/C/KEP/TU/2008 tentang Bentuk dan Tata Cara Penyusunan laporan Hasil Belajar Peserta Didik Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah
7.        Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Badan Standar Nasional Pendidikan;
8.        Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran Jasmani Olah Raga dan Kesehatan, Badan Standar Nasional Pendidikan;
9.        Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran Estetika, Badan Standar Nasional Pendidikan;
10.    Pedoman Pengembangan Perangkat Penilaian Psikomotor, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas;
11.    Pedoman Khusus Pengembangan Instrumen dan Penilaian Ranah Psikomotor, Direktorat Pendidikan Menengah Umum.

2.4.   Pengertian dan Konsep (Penilaian Psikomotorik)
Penilaian psikomotorik yang disebut juga tes praktik (kinerja) adalah tes yang meminta peserta didik melakukan perbuatan/menampilkan/ mendemonstrasikan keterampilannya. Penilaian Psikomotorik dilakukan oleh pendidik melalui pengamatan terhadap perkembangan psikomotorik peserta didik. Mata pelajaran yang berkaitan dengan psikomotor adalah mata pelajaran yang lebih berorientasi pada gerakan dan menekankan pada reaksi–reaksi fisik dan keterampilan tangan.
Prosedur pembelajaran psikomotor meliputi langkah-langkah dalam mengajar praktik, yaitu:
1.        Menentukan tujuan dalam bentuk perbuatan.
2.        Menganalisis keterampilan secara rinci dan berurutan.
3.        Mendemonstrasikan keterampilan disertai dengan penjelasan singkat dengan memberikan perhatian pada butir-butir kunci termasuk kompetensi kunci yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan dan bagian-bagian yang sukar.
4.        Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mencoba melakukan praktik dengan pengawasan dan bimbingan.
5.        Memberikan penilaian terhadap usaha peserta didik
a.         Pedoman Penskoran berupa daftar periksa observasi atau skala penilaian yang harus mengacu pada soal. Daftar periksa observasi memuat aspek-aspek keterampilan pada setiap aspek keterampilan kunci dalam bentuk pertanyaan/pernyataan ke dalam tabel, sedangkan skala penilaian memuat banyaknya gradasi skor
b.        Kriteria atau rubrik adalah pedoman penilaian kinerja atau hasil kerja peserta didik yang terdiri atas skor dan kriteria yang harus dipenuhi untuk mencapai skor tersebut.
c.         Penskoran harus memperhatikan ada atau tidak adanya perbedaan bobot tiap-tiap aspek keterampilan yang ada dalam skala penilaian atau daftar periksa observasi.
a.  Prosedur Kerja Penilaian Psikomotor
1.        Kepala sekolah menugaskan kepada TPK sekolah dan guru/MGMP sekolah untuk melakukan penyusunan perangkat penilaian psikomotor.
2.        Kepala sekolah memberikan arahan teknis kepada TPK dan guru tentang penyusunan perangkat penilaian psikomotor sekurang-kurangnya memuat :
a.         Dasar pelaksanaan penyusunan perangkat penilaian psikomotor
b.         Tujuan yang ingin dicapai dalam pelaksanaan penyusunan perangkat penilaian
c.         psikomotor
d.        Manfaat penyusunan perangkat penilaian psikomotor
e.         Hasil yang diharapkan dari penyusunan perangkat penilaian psikomotor
f.          Mekanisme kerja penyusunan perangkat penilaian psikomotor
g.         Unsur-unsur yang terlibat dan uraian tugas dalam pelaksanaan penyusunan perangkat penilaian psikomotor.
3.        TPK sekolah menyusun rencana kegiatan untuk penyusunan perangkat penilaian psikomotor SMA, sekurang-kurangnya berisi uraian kegiatan, sasaran/hasil, pelaksana dan jadwal pelaksanaan, mencakup kegiatan:
4.        TPK sekolah menyusun rencana kegiatan untuk penyusunan perangkat penilaian psikomotor SMA, sekurang-kurangnya berisi uraian kegiatan, sasaran/hasil, pelaksana dan jadwal pelaksanaan;
5.        TPK sekolah menyusun rambu-rambu mekanisme penyusunan perangkat penilaian psikomotor;
6.        Guru/MGMP sekolah menyusun perangkat penilaian psikomotor berupa instrumen penilaian psikomotor;
7.        Kepala sekolah dan TPK sekolah bersama guru/MGMP sekolah melakukan review dan revisi perangkat penilaian psikomotor;
8.        TPK sekolah bersama guru/MGMP sekolah memfinalkan hasil revisi perangkat penilaian psikomotor;
9.        Kepala sekolah menandatangani perangkat penilaian psikomotor;
10.    TPK sekolah menggandakan perangkat penilaian psikomotor sesuai kebutuhan dan mendistribusikan kepada dewan guru dan pihak lain yang memerlukan. Adapun Bagan Alur Prosedur Kerja Penyusunan Perangkat Penilaian Psikomotorik sebagai berikut:


b.  Instruksi Kerja
Adapun instruksi kerja proses penyusunan instrumen penilaian psikomotorik sebagai berikut:
1.        Analisis SK/KD mengikuti Instruksi Kerja Analisis SK/KD
2.        Menyusun kisi-kisi soal memperhatikan: identitas kisi-kisi dan kolom-kolom dalam tabel kisi-kisi (KD, Bahan Kelas/Semester, Materi, Indikator Soal, Bentuk dan Nomor Soal)
3.        Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun soal adalah kesesuaian kisi-kisi dan penjabaran indikator menjadi soal dengan mempertimbangkan materi pembelajaran
4.        Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun pedoman penskoran adalah:
a.         Mencermati soal
b.         Mengidentifikasi aspek-aspek keterampilan kunci
c.         Mengidentifikasi aspek keterampilan dari setiap aspek keterampilan kunci
d.        Menentukan jenis instrumen
e.         Menentukan rentang skor tiap aspek keterampilan
f.          Menentukan skor minimal dan skor maksimal
g.         Membaca kembali skala penilaian
h.         Meminta orang lain untuk membaca atau menelaah instrumen

c.  Jenis Tes Psikomotor
Tes untuk mengukur ranah psikomotorik adalah tes untuk mengukur penampilan atau kinerja (performance) yang telah dikuasai oleh peserta didik. Tes tersebut   dapat berupa tes paper and  pencil, tes identifikasi, tes simulasi, dan tes unjuk kerja.
1.  Tes simulasi
Kegiatan psikomotorik yang dilakukan melalui tes ini, jika tidak ada alat yang sesungguhnya yang dapat dipakai untuk memperagakan penampilan peserta didik, sehingga  peserta didik dapat dinilai tentang penguasaan keterampilan dengan bantuan peralatan tiruan atau berperaga seolah-olah  menggunakan suatu alat yang sebenarnya.
2.  Tes unjuk kerja (work sample)
Kegiatan psikomotorik yang dilakukan melalui tes ini, dilakukan dengan  sesungguhnya dan tujuannya untuk mengetahui apakah peserta didik sudah menguasai/terampil menggunakan alat tersebut. Misalnya dalam melakukan praktik pengaturan lalu lintas lalu lintas di lapangan yang sebenarnya
Tes simulasi dan tes unjuk kerja, semuanya dapat diperoleh dengan observasi langsung ketika peserta didik melakukan kegiatan pembelajaran. Lembar observasi dapat menggunakan   daftar cek (check-list) ataupun  skala penilaian (rating scale).  Psikomotorik  yang diukur dapat menggunakan alat ukur berupa skala penilaian terentang dari  sangat baik, baik, kurang, kurang, dan tidak baik.
Secara teknis penilaian ranah psikomotor dapat dilakukan dengan pengamatan (perlu lembar pengamatan) dan tes perbuatan.
1.        Dalam ranah psikomotorik yang diukur meliputi:
2.        Gerak refleks, 
3.        Gerak dasar fundamen, 
4.        Keterampilan perseptual; diskriminasi kinestetik, diskriminasi visual, diskriminasi auditoris, diskriminasi taktis, keterampilan perseptual yang terkoordinasi, 
5.        Keterampilan fisik, 
6.        Gerakan terampil, 
7.        Komunikasi non diskusi (tanpa bahasa-melalui gerakan) meliputi: gerakan ekspresif, gerakan interprestatif.
d.  Contoh Penilaian Psikomotor
Contoh Instrumen Penilaian Psikomotor pada Mata Pelajaran Kimia
Tabel 1. Contoh Kisi-kisi penilaian psikomotorik
Jenis Sekolah
:
SMA ---SMK
Mata Pelajaran
:
Kimia
Teknik Penilaian
:
Tes Praktik
Penilaian Pendidik
:
Ulangan Harian
Jumlah Soal/Waktu
:
1/30 menit
Standar Kompetensi
:
3. Memahami kinetika reaksi, kesetimbangan kimia, dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta penerapannya dalam  kehidupan sehari-hari dan industri.
Kompetensi Dasar
Bahan kelas/sem
Materi pembelajaran
Indikator soal
Bentuk soal
Nomor soal
3.3. Menjelaskan kesetimbangan dan faktor-faktor yang mempengaruhi pergeseran arah kesetimbangan dengan melakukan percobaan.
XI / 1
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi
Peserta didik
dapat
melakukan percobaan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi
Praktikum
1


e. Contoh Soal
Berdasarkan kisi-kisi soal, dapat dibuatkan soal sebagai berikut:
”lakukanlah percobaan untuk memahami faktor-faktor yang memepengaruhi laju reaksi dengan mengikuti prosedur kimia yang benar teknik yang benar. Perhatikan pengaruh konsentrasi, luas permukaan, suhu dan penambahan katali terhadap lama waktu reaksi berlangsung”.

f.   Pedoman Penskoran/Penilaian
Berdasarkan soal di atas, dapat disusun pedoman penskoran dengan tahapan sebagai berikut:
1.      Mengidentifikasi aspek-aspek keterampilan kunci dalam lari 100 m. Dalam hal ini aspek–aspek keterampilan kunci itu adalah:
a. posisi mulai (starting position)
b. teknik mulai (starting action),
c. teknik lari (sprinting action), dan
d. teknik memasuki garis finis (finishing action).
2.      Mengidentifikasi aspek-aspek keterampilan dari setiap aspek keterampilan kunci. Dalam hal ini aspek keterampilan kunci pada posisi mulai/starting position dirinci menjadi aspek keterampilan memposisikan kaki, tangan, badan, pandangan mata, dan posisi tungkai pada saat aba-aba “siap”, dan seterusnya.
3.      Dilanjutkan dengan membuat lembar daftar periksa observasi dan skala penilaian sebagai berikut :
Tabel 2. Aspek-aspek penilaian
Aspek-aspek keterampilan
Skala penilaian
Skor butir
5
4
3
2
1
P   Penggunaan alat dan bahan
·         Mengambil larutan dengan pipet volume
·         Menggunakan tabung reaksi
·         Memegang gelas erlenmeyer
·         Menggunakan termometer
·         Mencuci alat dan bahan
JUMLAH
Penentuan nilai peserta didik, dirumuskan:
Nilai =    X 100


Keterangan:

a) Jumlah aspek keterampilan (20)

b) Rentang skor tiap aspek ketrampilan (1 sampai dengan 5)

c) Skor perolehan (Jumlah skor perolehan siswa pada 20 aspek keterampilan)

d) Skor maksimal (20 x 5 = 100)

Permasalahan :
1.      Sebagai seorang pendidik apa saja yang menjadi kesulitan dalam penyusunan rubrik penilaian baik itu afektif maupun psikomotor ? Dan bagaimana solusinya ?
2.      Hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dalam penyusunan rubrik penilaian afektif dan psikomotor yang baik dan benar ?
3.      Bagaimana cara kita melihat keefektifan dari rubrik penilaian afektif dan psikomotor ?




12 komentar:

  1. Bagaimana cara kita melihat keefektifan dari rubrik penilaian afektif dan psikomotor ?
    cara kita melihat keefektifan itu jika instrumen tersebut dapat menilai indikator yang hendak dinilai dan dapat melihatkan pengaruhnya terhadap pembelajaran. maka dari itu sebelum membuatnya telaah terlebih dahulu KI dan Kd serta materi yang akan dipelajari

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya sependapat dengan tri bahwa untuk melihat rubrik yg kita buat efektif atau tidak yakni bisa dengan melihat pengaruhnya thdp pembelajaran. sedikit tambahan bahwa efektif atw tidaknya suaturubrik yang dibuat yakni dengan melihat reliabel atau tidakkah rubrik tersebut, sudah mampu mengukur apa yang mau di ukur atau tidak dan sudah bisa mewakili jawaban atas tujuan penilaian atau tidak.

      Hapus
    2. sepndapat apa yang disampaikan teman-teman diatas, efektif tidak nya tergantung pada kemampuannya dalam menjawab tujuan yang ingin dicapai. terjawabnya dan terukurnya KI dan KD. penyusunannya haruslah seefektif dan seefisien mungkin.

      Hapus
  2. untuk melihat efektif atau tidaknya penilaian yang dibuat harus melalui tahap validasi oleh ahli instrumen. dan jika sudah bisa diterapkan di kelas dan bisa kita lihat keefektifannya berguna atau tidak

    BalasHapus
  3. hal apa yang harus diperhatikan dalam menyusun instrumen baik afektif maupun psikomotorik?
    menurut saya hal-hal yang harus diperhatikan dalam menyususn dan mengembangkan instrumen adalah :
    tentukan dulu materinya, sesuaikan kisi-kisi intrumen dengan kompetensi dasar dan IPK, kemudian perjelas tujuan pembelajaran dengan menggunakan instrumen tsb, kemudian kembangkan dengan langkah sebagai berikut:
    1. menentukan spesifikasi instrumen
    2. menulis instrumen
    3. menentukan skala instrumen
    4. menentukan pedoman penskoran
    5. menelaah instrumen
    6. merakit instrumen
    7. melakukan ujicoba
    8. menganalisis hasil ujicoba
    9. memperbaiki instrumen
    10. melaksanakan pengukuran
    11. menafsirkan hasil pengukuran

    BalasHapus
    Balasan
    1. hal apa saja yang harus diperhatikan dalam penyusunan rubrik penilaian afektif dan psikomotor yang baik dan benar ?

      Saya sependapat dengan kak melda, yaitu kita berpatokan dengan KI, KD, dan indikator yg akan kita buat, setelah kita buat kita lakukan evaluasi, dengan demikin kekurangan dpat terlihat, dilanjutkan dengan validasi.

      Hapus
  4. kesulitan dalam penyusunan rubrik penilaian baik itu afektif maupun psikomotor ?

    Untuk menyusun instrumen penilaian afektif, dapat dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
    Pemilihan ranah afektif yang ingin dinilai oleh guru, misalnya sikap dan minat terhadap suatu materi pelajaran.
    Penentuan indikator apa yang sekiranya dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana sikap dan minat siswa terhadap suatu materi pelajaran
    Beberapa contoh indikator yang misalnya dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana sikap dan minat siswa terhadap suatu materi pelajaran, yaitu: (1) persentase kehadiran atau ketidakhadiran di kelas; (2) aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung, misalnya apakah suka bertanya, terlibat aktif dalam diskusi, aktif memperhatikan penjelasan guru, dsb.; (3) penyelesaian tugas-tugas belajar yang diberikan, seperti ketepatan waktu mengumpul PR atau tugas lainnya; (4) kerapian buku catatan dan kelengkapan bahan belajar lainnya terkait materi pelajaran tersebut.
    Penentuan jenis skala yang digunakan, misalnya jika menggunakan skala Likert, berarti ada 5 rentang skala, yaitu: (1) tidak berminat; (2) kurang berminat; (3) netral; (4) berminat; dan (5) sangat berminat.
    Penulisan draft instrumen penilaian afektif (misalnya dalam bentuk kuisioner) berdasarkan indikator dan skala yang telah ditentukan.
    Penelaahan dan meminta masukan teman sejawat (guru lain) mengenai draft instrumen penilaian ranah afektif yang telah dibuat.
    Revisi instrumen penilaian afektif berdasarkan hasil telaah dan masukan rekan sejawat, bila memang diperlukan
    Persiapan kuisioner untuk disebarkan kepada siswa beserta inventori laporan diri yang diberikan siswa berdasarkan hasil kuisioner (angket) tersebut.
    Pemberian skor inventori kepada siswa
    Analisis hasil inventori minat siswa terhadap materi pelajaran.

    Saat proses pembelajaran sedang berlangsung
    Untuk melakukan penilaian psikomotor pada saat proses pembelajaran dengan berlangsung dapat dikakukan pengamatan langsung melalui tingkah laku yang ditunjukkan siswa selama pembelajaran
    Sesudah mengikuti pembelajaran
    Penilaian hasil belajar psikomotor yang dilakukan sesudah pembelajaran dilaksanakan dapat dilakukan denga cara memberikan tes kepada siswa.
    Langkah-Langkah Menyusun Instrumen Penilaian Psikomotor
    Untuk menilai hasil belajar psikomotor, guru paling tidak harus menyiapkan 2 dokumen, yaitu:
    Soal / lembar kerja / lembar tugas / perintah kerja.
    Instrumen pengamatan / lembar observasi berupa daftar periksa (check list) atau skala penilaian (rating scale)

    BalasHapus
  5. Hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dalam penyusunan rubrik penilaian afektif dan psikomotor yang baik dan benar ?
    .
    Dalam menyusun rubrik penilaian kita harus memperhatikan KI, KD, dan indikator yang hendak di capai. Karena guna instrumen penilaian adalah untuk mengukur ketercapaian indikator. Berlaku juga untuk penilaian sikap dimana kita menurunkan indikator dari Kompetensi Dasar 2.1 untuk afektif dan kompetensi dasar 4.1 untuk psikomotor, dan disesuaikan lagi pada materi dan silabus serta keinginan guru sebaiknya penilaian autentik dirancang dengan instrumen apa saja dan mengukur kemampuan apa saja.

    BalasHapus
  6. untuk menjawab permasalahan Bagaimana cara kita melihat keefektifan dari rubrik penilaian afektif dan psikomotor ?
    dengan melihat susunan dari rubrik tersebut terkait susunan tingkat pencapaian,urutan kata dan urutan dari sistematika rubrik tersebut. selanjutnya dapat dilihat dari setelah digunakan, apakah rubrik tersebut dapat menilai siswa secara valid dan reliabel

    BalasHapus
  7. Bagaimana cara kita melihat keefektifan dari rubrik penilaian afektif dan psikomotor ?
    Untuk mencapai efektifan dari rubrik penilaian ini kita butuh proses mulai dari penyesuaian ki kd indikator dan ribrik penilaian,* kemudian direvisi oleh ahli, dan uji coba. Jika hasil yg kita perolah sesuai dengan indikator dan dapat mengukur yang kita nilai mka ribrik penilaian tsb sudah efektif

    BalasHapus
  8. Untuk melihat keefektifitasan suatu instrumen itu harus di uji coba dlu. Setalh di validasi dlu sehingga suatu instrumen itu akan nampak efektif atau tidak. Dan juga untuk melihat efektif atau tidakny rubrik itu di lihat dari patokan kisi kisi yang sudah kita buat dalam instrumen yg digunakan.

    BalasHapus
  9. sependapat dengan rini bahwa Keberhasilan pembelajaran pada ranah kognitif dan psikomotor dipengaruhi oleh kondisi afektif peserta didik. Peserta didik yang memiliki minat belajar dan sikap positif terhadap pelajaran akan merasa senang mempelajari mata pelajaran tertentu, sehingga dapat mencapai hasil pembelajaran yang optimal

    BalasHapus