Senin, 26 November 2018

Persentasi Inovasi Sintaks Model Pembelajaran PBL dan Dampaknya terhadap Kemampuan Berpikir Kritis

     A.   Definisi Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

Rumusan dari Dutch (1994), Problem Based Learning (PBL) merupakan metode instruksional yang menantang siswa agar “belajar dan belajar”, bekerja sama dengan kelompok untuk mencari solusi masalah yang nyata. Masalah ini digunakan untuk mengaitkan rasa keingintahuan serta kemampuan analisis siswa dan inisiatif atas materi pelajaran. Problem Based Learning (PBL) mempersiapkan siswa untuk berpikir kritis dan analitis, dan untuk mencari serta menggunakan sumber pembelajaran yang sesuai.
Menurut Arend, PBL merupakan suatu pendekatan pembelajaran dimana siswa dihadapkan pada masalah autentik (nyata) sehingga diharapkan mereka dapat menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuh kembangkan keterampilan tingkat tinggi dan inkuiri, memandirikan siswa, dan meningkatkan kepercayaan dirinya (Trianto, 2007).
PBL adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki kemampuan untuk berpikir kritis. PBL merupakan model pembelajaran yang berorientasi pada kerangka kerja teoritik konstruktivisme. Dalam model PBL, fokus pembelajaran ada pada masalah yang dipilih sehingga pembelajar tidak saja mempelajari konsep-konsep yang berhubungan dengan masalah tetapi juga metode ilmiah untuk memecahkan masalah tersebut.

B.   Karakteristik Model Pembelajaran PBL 

Menurut Trianto (2009:93), karakteristik model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) adalah: (1) adanya pengajuan pertanyaan atau masalah, (2) berfokus pada keterkaitan antar disiplin, (3) penyelidikan autentik, (4) menghasilkan produk atau karya dan mempresentasikannya, dan (5) kerja sama.

          Menurut Rusman (2010:232), karakteristik model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) adalah sebagai berikut:
1.     Permasalahan menjadi starting point dalam belajar.
2.     Permasalahan yang diangkat adalah permasalahan yang ada di dunia nyata yang tidak terstruktur. 
3.     Permasalahan membutuhkan perspektif ganda (multiple perspective). 
4.     Permasalahan menantang pengetahuan yang dimiliki oleh siswa, sikap, dan kompetensi yang kemudian membutuhkan identifikasi kebutuhan belajar dan bidang baru dalam belajar. 
5.     Belajar pengarahan diri menjadi hal yang utama. 
6.     Pemanfaatan sumber pengetahuan yang beragam, penggunaannya, dan evaluasi sumber informasi merupakan proses yang esensial dalam problem based learning. 
7.     Belajar adalah kolaboratif, komunikasi, dan kooperatif. 
8.     Pengembangan keterampilan inquiry dan pemecahan masalah sama pentingnya dengan penguasaan isi pengetahuan untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan. 
9.     Sintesis dan integrasi dari sebuah proses belajar. 
10. Problem based learning melibatkan evaluasi dan review pengalaman siswa dan proses belajar.

      C.   Langkah-Langkah Model PBL

Pemecahan masalah dalam Model PBL harus sesuai dengan langkah-langkah metode ilmiah. Langkah-langkah pemecahan masalah dalam pembelajaran PBL paling sedikit ada delapan tahapan (Sudjana, 2005), yaitu:
1.                 Mengidentifikasi masalah
2.                 Mengumpulkan data
3.                 Menganalisis data
4.                 Memecahkan masalah berdasarkan data yang ada dan analisisnya
5.                 Memilih cara untuk memecahkan masalah
6.                 Merencanakan penerapan pemecahan masalah
7.                 Melakukan uji coba terhadap rencana yang ditetapkan
8.                 Melakukan tindakan untuk memecahkan masalah

      D.   Sintaks Model PBL

1.   Fase 1: Orientasi siswa terhadap masalah autentik
2.   Fase 2: Mengorganisasi siswa dalam belajar
3.   Fase 3: Membantu siswa secara individual/kelompok melaksanakan
           penelitian
4.   Fase 4: Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
5.   Fase 5: Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah.

E.   Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran PBL 

Setiap model pembelajaran biasanya memiliki kelebihan dan kelemahan. Berikut ini merupakan keunggulan penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL), yaitu sebagai berikut (Sanjaya, 2006:220):
1.   Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran sehingga pembelajaran lebih bermakna. 
2. Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa. 
3.     Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.
4.   Pemecahan masalah dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan siswa untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.
5.    Pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggungjawab dalam pembelajaran yang dilakukan. Disamping itu, pemecahan masalah itu juga dapat mendorong untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya.
6.  Melalui pemecahan masalah bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran pada dasarnya merupakan cara berpikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekedar belajar dari guru atau dari buku saja. 
7.     Pemecahan masalah dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa. 
8.  Pemecahan masalah dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan menyesuaikan dengan pengetahuan baru. 
9.  Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan siswa untuk menerapkan pengetahuan yang dimiliki dalam dunia nyata. 
10.Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus menerus belajar, sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.
Adapun kelemahan-kelemahan dari penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL), adalah sebagai berikut (Sanjaya, 2006:221):
1.     Manakala siswa tidak memiliki minat atau siswa berasumsi bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka akan merasa enggan untuk mencoba. 
2. Keberhasilan model pembelajaran melalui Problem Based Learning membutuhkan cukup waktu untuk persiapan. 
3. Tanpa pemahaman mengapa siswa berusaha memecahkan masalah yang dipelajari, maka siswa tidak akan belajar apa yang ingin dipelajari.

     F.    Definisi Kemampuan Berpikir Kritis

    Kemampuan berpikir kritis adalah suatu kemampuan seseorang dalam menganalisis ide atau gagasan secara logis, reflektif, sistematis dan produktif untuk membantu membuat, mengevaluasi serta mengambil keputusan tentang apa yang diyakini atau akan dilakukan sehingga berhasil dalam memecahkan suatu masalah yang dihadapi. Berpikir kritis termasuk proses berpikir tingkat tinggi, karena pada saat mengambil keputusan atau menarik kesimpulan menggunakan kontrol aktif, yaitu reasonable, reflective, responsible, dan skillful thinking. Tidak semua orang bisa berpikir kritis karena dibutuhkan keyakinan yang kuat dan mendasar agar tidak mudah dipengaruhi. Kemampuan berpikir kritis sangat diperlukan untuk menganalisis suatu permasalahan hingga pada tahap pencarian solusi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

    G.  Karakteristik Kemampuan Berpikir Kritis 

Menurut Seifert dan Hoffnung (dalam Desmita, 2010:154), terdapat empat komponen berpikir kritis, yaitu sebagai berikut:
1.          Basic operations of reasoning. Untuk berpikir secara kritis, seseorang memiliki kemampuan untuk menjelaskan, menggeneralisasi, menarik kesimpulan deduktif dan merumuskan langkah-langkah logis lainnya secara mental. 
2.     Domain-specific knowledge. Dalam menghadapi suatu problem, seseorang harus mengetahui tentang topik atau kontennya. Untuk memecahkan suatu konflik pribadi, seseorang harus memiliki pengetahuan tentang person dan dengan siapa yang memiliki konflik tersebut. 
3.   Metakognitive knowledge. Pemikiran kritis yang efektif mengharuskan seseorang untuk memonitor ketika ia mencoba untuk benar-benar memahami suatu ide, menyadari kapan ia memerlukan informasi baru dan mereka-reka bagaimana ia dapat dengan mudah mengumpulkan dan mempelajari informasi tersebut. 
4.    Values, beliefs and dispositions. Berpikir secara kritis berarti melakukan penilaian secara fair dan objektif. Ini berarti ada semacam keyakinan diri bahwa pemikiran benar-benar mengarah pada solusi. Ini juga berarti ada semacam disposisi yang persisten dan reflektif ketika berpikir.

Sedangkan menurut Beyer (dalam Surya, 2011:137), terdapat delapan karakteristik dalam kemampuan berpikir kritis, yaitu:
1.           Watak (dispositions). Seseorang yang mempunyai keterampilan berpikir kritis mempunyai sikap skeptis (tidak mudah percaya), sangat terbuka, menghargai kejujuran, respek terhadap berbagai data dan pendapat, respek terhadap kejelasan dan ketelitian, mencari pandangan-pandangan lain yang berbeda, dan akan berubah sikap ketika terdapat sebuah pendapat yang dianggapnya baik. 
2.            Kriteria (criteria). Dalam berpikir kritis harus mempunyai sebuah kriteria atau patokan. Untuk sampai ke arah sana maka harus menemukan sesuatu untuk diputuskan atau dipercayai. Meskipun sebuah argumen dapat disusun dari beberapa sumber pelajaran, namun akan mempunyai kriteria yang berbeda. Apabila kita akan menerapkan standarisasi maka haruslah berdasarkan kepada relevansi, keakuratan fakta-fakta, berlandaskan sumber yang kredibel, teliti, tidak bias, bebas dari logika yang keliru, logika yang konsisten, dan pertimbangan yang matang. 
3.       Argumen (argument). Argumen adalah pernyataan atau proposisi yang dilandasi oleh data-data. Namun, secara umum argumen dapat diartikan sebagai alasan yang dapat dipakai untuk memperkuat atau menolak suatu pendapat, pendirian, atau gagasan. Keterampilan berpikir kritis akan meliputi kegiatan pengenalan, penilaian, dan menyusun argumen. 
4.        Pertimbangan atau pemikiran (reasoning). Yaitu kemampuan untuk merangkum kesimpulan dari satu atau beberapa premis. Prosesnya akan meliputi kegiatan menguji hubungan antara beberapa pernyataan atau data.
5.      Sudut pandang (point of view). Sudut pandang adalah cara memandang atau landasan yang digunakan untuk menafsirkan sesuatu dan yang akan menentukan konstruksi makna. Seseorang yang berpikir dengan kritis akan memandang atau menafsirkan sebuah fenomena dari berbagai sudut pandang yang berbeda. 
6.   Prosedur penerapan kriteria (procedures for applying criteria). Prosedur penerapan berpikir kritis sangat kompleks dan prosedural. Prosedur tersebut akan meliputi merumuskan masalah, menentukan keputusan yang akan diambil, dan mengindentifikasikan asumsi atau perkiraan-perkiraan.

     H.  Indikator Kemampuan Berpikir Kritis 

Menurut Ennis dalam Kartimi (2013) indikator kemampuan berpikir kritis terdiri dari lima jenis, yaitu:

1.                 Memberikan penjelasan sederhana (elementary clarification)
2.                 Membangun keterampilan dasar (basic support)
3.                 Membuat inferensi (inferring)
4.                 Membuat penjelasan lebih lanjut (advanced clarification)
5.                 Mengatur strategi dan taktik (strategies and tactics).

Sintak inovasi yang dibuat
Materi              : Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit
Model              : Problem Based Learning (PBL)
Pertemuan       : 1

Model Konvensional
 (Model PBL)
Inovasi Sintaks Model PBL
Dampak Kemampuan Berpikir Kritis

Orientasi Masalah
Orientasi Masalah
·    Guru menginfomasikan tujuan pembelajaran 
·   Guru menginfomasikan tujuan pembelajaran 
·    Guru mengarahkan kepada pertanyaan  atau  masalah
·   Guru mengarahkan kepada pertanyaan  yang  menjadi permasalahan : “sebelumnya kita sudah belajar tentang larutan, apa yang dimaksud dengan larutan ?  pernahkah kalian melihat  larutan yang dapat menghantarkan arus listrik ? dan sebelumnya siswa ibu pastinya sudah mengerti benda apa saja yang dapat menghantarkan arus listrik, coba kalian sebutkan larutan apa saja yang kalian temui dalam kehidupan sehari-hari yang bersifat menghantarkan listrik dan tidak menghantarkan listrik ?Hal ini dilakukan untuk mengorientasikan siswa dalam menemukan permasalahan
·    -(Memberikan penjelasan sederhana)
     Mengidentifikasi pertanyaan
·    Guru mengarahkan siswa untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah nyata yang dipilih atau ditentukan oleh guru
·   Guru mengarahkan siswa untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah nyata yang dipilih atau ditentukan oleh guru

S  Guru memberikan materi pelajaran secara singkat mengenai larutan elektrolit dan non elektrolit.  “Nah sekarang kita akan belajar larutan yang dapat menghantarkan arus listrik dan tidak menghantarkan arus listrik, larutan yang dapat menghantarkan arus listrik itu dinamakan larutan elektrolit dan sebaliknya dinamakan larutan non elektrolit.
·    -(Memberikan penjelasan sederhana)
Mengidentifikasi pertanyaan
Mengorganisasikan siswa untuk belajar
Pemodelan (Modelling)
·    Guru menciptakan lingkungan kelas yang memungkinkan pertukaran ide yang terbuka 
·   Mengarahkan siswa membentuk kelompok yang heterogen
·    -(Mengatur strategi dan taktik)
Berinteraksi dengan orang lain
·    Guru mengarahkan siswa untuk merespon masalah yang diberikan oleh guru dengan mengekspresikan ide – ide yang terbuka
·   Mengenalkan dahulu model atau langkah-langkah pembelajaran yang seharusnya dilakukan siswa dalam pembelajaran ini
·    Guru mendorong siswa untuk membaca literatur atu teori pendukung
·   Memberikan LKPD materi larutan eletrolit dan non elektrolit  kepada masing-masing siswa
·    Guru membantu siswa merumuskan hipotesis
Membantu menyelidiki secara mandiri atau kelompok
Mengorganisasikan siswa untuk belajar
·    Guru mengarahkan siswa untuk merancang percobaan
·   Guru menciptakan lingkungan kelas yang memungkinkan pertukaran ide yang terbuka
·    -(Mengatur strategi dan taktik)
Berinteraksi dengan orang lain

·    -(Memberikan penjelasan sederhana)
Bertanya dan menjawab pertanyaan  klarifikasi dan pertanyaan yang menantang
·    Guru mendorong siswa bekerjasama dalam melakukan percobaan
·   Guru mendorong siswa untuk membaca literatur atu teori pendukung
·    -(Membagun keterampilan dasar)
Mengobservasi dan mempertimbangkan hasil observasi
·    Guru mengarahkan siswa menggunakan alat dan bahan yang sesuai dengan LKS
·   Guru mengarahkan siswa untuk merespon masalah yang diberikan oleh guru dengan mengekspresikan ide – ide yang terbuka
·     -(Memberikan penjelasan sederhana)
Mengidentifikasi kriteria untuk mempertimbangkan jawaban yang mungkin
·    Guru mengarahkan siswa mengamati percobaan dengan teliti
·   Guru membantu siswa merumuskan hipotesis
·    -(Mengatur strategi dan taktik)
Mengidentifikasi masalah

·    -(Mengatur Inferensi)
Membuat hipotesis
·    Guru mengarahkan siswa mencatat hasil pengamatan
·   Guru bersama siswa menyeleksi ide-ide yang dianggap dapat mendukung pemecahan masalah dalam pembelajaran larutan elektrolit dan non elektrolit
·    -(Mengatur strategi dan taktik)
-    Menyeleksi kriteria untuk membuat solusi
-    Merumuskan alternatif yang memungkinkan
-    Memutuskan hal-hal yang akan dilakukan secara alternatif
Mengembangkan dan menyajikan hasil kerja  
Membantu menyelidiki secara mandiri atau kelompok
·    Guru mengarahkan siswa mengidentifikasi data yang diperoleh
·   Guru mengarahkan siswa untuk merancang percobaan dan bekerjasama dalam melakukan percobaan
·    -(Mengatur Inferensi)
Menyeimbangkan, menimbang, dan memutuskan
·    Guru membantu siswa menghubungkan data yang diperoleh dengan teori yang ada
·    Guru membantu siswa mengerjakan LKS
·   Guru mengarahkan siswa menggunakan alat dan bahan yang sesuai dengan LKPD
·    -(Mengatur keterampilan dasar)
Menggunakan prosedur yang ada
·    Guru mempersilahkan siswa menyajikan hasil pengamatan
·   Guru mengarahkan siswa mengamati percobaan dengan teliti
·    -(Mengatur keterampilan dasar)
Kebiasaan berhati-hati
·   Guru mengarahkan siswa mencatat hasil pengamatan
·    -(Mengatur keterampilan dasar)
-    Dilaporkan oleh pengamat sendiri
-     Mencatat hal-hal yang diinginkan
Menganalisis dan mengevaluasi hasil pemecahan masalah
Mengembangkan dan menyajikan hasil kerja  
·    Guru membantu siswa menyimpulkan hasil pemecahan masalah  dengan benar dan didukung literatur
·   Guru mengarahkan siswa mengidentifikasi data yang diperoleh
·    -(Mengatur strategi dan taktik)
Mengidentifikasi masalah

·    -(Mengatur keterampilan dasar)
Mampu memberikan alasan
·    Guru memberikan kesimpulan atas pemecahan masalah yang didapat
·   Guru membantu siswa menghubungkan data yang diperoleh dengan teori yang ada
·     -(Mengatur Inferensi)
-     Penerapan prinsip-prinsip
-     Mempertimbangkan alternaif

·    -(Mengatur keterampilan dasar)
-    Kemampuan observer atas kredibilitas kriteria
-    Kesepakatan antara sumber
·    Guru menarahkan siswa untuk memperhatikan penguatan darinya terhadap kesimpulan materi yang telah dipelajari
·   Guru membantu siswa mengerjakan LKPD
·    -(Mengatur strategi dan taktik)
-    Berinteraksi dengan orang lain
-    Menyeimbangkan, menimbang, dan memutuskan
·   Guru mempersilahkan siswa menyajikan hasil pengamatan
·    -(Mengatur strategi dan taktik)
Presentasi solusi, lisan atau tulisan
Menganalisis dan mengevaluasi hasil pemecahan masalah
·   Guru membantu siswa menyimpulkan hasil pemecahan masalah  dengan benar dan didukung literatur
·    -(Mengatur strategi dan taktik)
Presentasi solusi, lisan atau tulisan

·    -(Mengatur Inferensi)
Membuat kesimpulan

·    (Mengatur keterampilan dasar)
Terlibat dalam menyimpulkan
·   Guru mengarahkan siswa untuk memperhatikan penguatan darinya terhadap kesimpulan materi yang telah dipelajari
·    -(Mengatur keterampilan dasar)
-    Mencatat hal-hal yang diinginkan
-    Penguatan dan kemungkinan penguatan
Mengarahkan siswa untuk mengerjakan tugas akhir berupa soal essay yang diberikan
Mengawasi siswa selama proses pengerjaan soal


Pertanyaan :
1.     Apakah inovasi sintaks model pembelajaran yang telah saya buat sudah efektif dalam proses pembelajaran ?
2.      Apakah sudah cocok inovasi yang saya buat pada model pembelajaran PBL dengan indikator kemampuan berpikir kritis ?
3.          Berikan saran Anda terhadap inovasi yang saya buat !