A.
Definisi Model Pembelajaran Problem Based Learning
(PBL)
Rumusan dari Dutch (1994), Problem Based Learning (PBL) merupakan metode
instruksional yang menantang siswa agar “belajar dan belajar”, bekerja sama
dengan kelompok untuk mencari solusi masalah yang nyata. Masalah ini digunakan
untuk mengaitkan rasa keingintahuan serta kemampuan analisis siswa dan
inisiatif atas materi pelajaran. Problem Based Learning (PBL) mempersiapkan
siswa untuk berpikir kritis dan analitis, dan untuk mencari serta menggunakan
sumber pembelajaran yang sesuai.
Menurut Arend, PBL merupakan suatu pendekatan
pembelajaran dimana siswa dihadapkan pada masalah autentik (nyata) sehingga
diharapkan mereka dapat menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuh kembangkan
keterampilan tingkat tinggi dan inkuiri, memandirikan siswa, dan meningkatkan
kepercayaan dirinya (Trianto, 2007).
PBL adalah suatu model
pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan masalah melalui tahap-tahap
metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan
dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki kemampuan untuk berpikir kritis.
PBL merupakan model pembelajaran yang berorientasi pada kerangka kerja teoritik
konstruktivisme. Dalam model PBL, fokus pembelajaran ada pada masalah yang
dipilih sehingga pembelajar tidak saja mempelajari konsep-konsep yang
berhubungan dengan masalah tetapi juga metode ilmiah untuk memecahkan masalah
tersebut.
B. Karakteristik Model Pembelajaran PBL
B. Karakteristik Model Pembelajaran PBL
Menurut Trianto (2009:93), karakteristik model
pembelajaran Problem Based Learning (PBL) adalah: (1) adanya pengajuan
pertanyaan atau masalah, (2) berfokus pada keterkaitan antar disiplin, (3)
penyelidikan autentik, (4) menghasilkan produk atau karya dan
mempresentasikannya, dan (5) kerja sama.
Menurut Rusman (2010:232), karakteristik model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) adalah sebagai berikut:
Menurut Rusman (2010:232), karakteristik model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) adalah sebagai berikut:
1. Permasalahan menjadi starting point dalam belajar.
2. Permasalahan yang diangkat adalah permasalahan yang ada
di dunia nyata yang tidak terstruktur.
3. Permasalahan membutuhkan perspektif ganda (multiple
perspective).
4. Permasalahan menantang pengetahuan yang dimiliki oleh
siswa, sikap, dan kompetensi yang kemudian membutuhkan identifikasi kebutuhan
belajar dan bidang baru dalam belajar.
5. Belajar pengarahan diri menjadi hal yang utama.
6. Pemanfaatan sumber pengetahuan yang beragam,
penggunaannya, dan evaluasi sumber informasi merupakan proses yang esensial
dalam problem based learning.
7. Belajar adalah kolaboratif, komunikasi, dan
kooperatif.
8. Pengembangan keterampilan inquiry dan pemecahan masalah
sama pentingnya dengan penguasaan isi pengetahuan untuk mencari solusi dari
sebuah permasalahan.
9. Sintesis dan integrasi dari sebuah proses belajar.
10. Problem based learning melibatkan evaluasi
dan review pengalaman siswa dan proses belajar.
C.
Langkah-Langkah Model PBL
Pemecahan
masalah dalam Model PBL harus sesuai dengan langkah-langkah metode ilmiah.
Langkah-langkah pemecahan masalah dalam pembelajaran PBL paling sedikit ada
delapan tahapan (Sudjana, 2005), yaitu:
1.
Mengidentifikasi masalah
2.
Mengumpulkan data
3.
Menganalisis data
4.
Memecahkan masalah berdasarkan data yang ada dan
analisisnya
5.
Memilih cara untuk memecahkan masalah
6.
Merencanakan penerapan pemecahan masalah
7.
Melakukan uji coba terhadap rencana yang ditetapkan
8.
Melakukan tindakan untuk memecahkan masalah
D.
Sintaks Model PBL
1.
Fase 1: Orientasi siswa terhadap masalah autentik
2.
Fase 2: Mengorganisasi siswa dalam belajar
3.
Fase 3: Membantu siswa secara individual/kelompok melaksanakan
penelitian
4.
Fase 4: Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
5.
Fase 5: Analisis dan evaluasi proses pemecahan
masalah.
E. Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran PBL
E. Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran PBL
Setiap model pembelajaran
biasanya memiliki kelebihan dan kelemahan. Berikut ini merupakan keunggulan
penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL), yaitu sebagai
berikut (Sanjaya, 2006:220):
1. Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup
bagus untuk lebih memahami isi pelajaran sehingga pembelajaran lebih
bermakna.
2. Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan
siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi
siswa.
3.
Pemecahan masalah dapat meningkatkan
aktivitas pembelajaran siswa.
4. Pemecahan masalah dapat membantu siswa
bagaimana mentransfer pengetahuan siswa untuk memahami masalah dalam kehidupan
nyata.
5. Pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk
mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggungjawab dalam pembelajaran yang
dilakukan. Disamping itu, pemecahan masalah itu juga dapat mendorong untuk
melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya.
6. Melalui pemecahan masalah bisa memperlihatkan
kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran pada dasarnya merupakan cara berpikir,
dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekedar belajar dari
guru atau dari buku saja.
7.
Pemecahan masalah dianggap lebih menyenangkan
dan disukai siswa.
8. Pemecahan masalah dapat mengembangkan
kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan menyesuaikan dengan pengetahuan
baru.
9. Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan
siswa untuk menerapkan pengetahuan yang dimiliki dalam dunia nyata.
10.Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat
siswa untuk secara terus menerus belajar, sekalipun belajar pada pendidikan
formal telah berakhir.
Adapun kelemahan-kelemahan
dari penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL), adalah sebagai
berikut (Sanjaya, 2006:221):
1.
Manakala siswa tidak memiliki minat atau
siswa berasumsi bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka akan
merasa enggan untuk mencoba.
2. Keberhasilan model pembelajaran melalui
Problem Based Learning membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.
3. Tanpa pemahaman mengapa siswa berusaha
memecahkan masalah yang dipelajari, maka siswa tidak akan belajar apa yang
ingin dipelajari.
F. Definisi
Kemampuan Berpikir Kritis
Kemampuan berpikir
kritis adalah suatu kemampuan seseorang dalam menganalisis ide atau gagasan
secara logis, reflektif, sistematis dan produktif untuk membantu membuat,
mengevaluasi serta mengambil keputusan tentang apa yang diyakini atau akan
dilakukan sehingga berhasil dalam memecahkan suatu masalah yang dihadapi. Berpikir kritis termasuk proses berpikir tingkat tinggi,
karena pada saat mengambil keputusan atau menarik kesimpulan menggunakan
kontrol aktif, yaitu reasonable, reflective, responsible, dan skillful
thinking. Tidak semua orang bisa berpikir kritis karena dibutuhkan keyakinan
yang kuat dan mendasar agar tidak mudah dipengaruhi. Kemampuan berpikir kritis
sangat diperlukan untuk menganalisis suatu permasalahan hingga pada tahap
pencarian solusi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.
G. Karakteristik Kemampuan Berpikir Kritis
Menurut
Seifert dan Hoffnung (dalam Desmita, 2010:154), terdapat empat komponen
berpikir kritis, yaitu sebagai berikut:
1. Basic
operations of reasoning. Untuk berpikir secara kritis, seseorang memiliki
kemampuan untuk menjelaskan, menggeneralisasi, menarik kesimpulan deduktif dan
merumuskan langkah-langkah logis lainnya secara mental.
2. Domain-specific
knowledge. Dalam menghadapi suatu problem, seseorang harus
mengetahui tentang topik atau kontennya. Untuk memecahkan suatu konflik
pribadi, seseorang harus memiliki pengetahuan tentang person dan dengan siapa
yang memiliki konflik tersebut.
3. Metakognitive
knowledge. Pemikiran kritis yang efektif mengharuskan
seseorang untuk memonitor ketika ia mencoba untuk benar-benar memahami suatu
ide, menyadari kapan ia memerlukan informasi baru dan mereka-reka bagaimana ia
dapat dengan mudah mengumpulkan dan mempelajari informasi tersebut.
4. Values,
beliefs and dispositions. Berpikir secara kritis berarti melakukan
penilaian secara fair dan objektif. Ini berarti ada semacam keyakinan diri
bahwa pemikiran benar-benar mengarah pada solusi. Ini juga berarti ada semacam
disposisi yang persisten dan reflektif ketika berpikir.
Sedangkan
menurut Beyer (dalam Surya, 2011:137), terdapat delapan karakteristik dalam
kemampuan berpikir kritis, yaitu:
1. Watak
(dispositions). Seseorang yang mempunyai keterampilan berpikir
kritis mempunyai sikap skeptis (tidak mudah percaya), sangat terbuka,
menghargai kejujuran, respek terhadap berbagai data dan pendapat, respek
terhadap kejelasan dan ketelitian, mencari pandangan-pandangan lain yang
berbeda, dan akan berubah sikap ketika terdapat sebuah pendapat yang
dianggapnya baik.
2. Kriteria
(criteria). Dalam berpikir kritis harus mempunyai sebuah
kriteria atau patokan. Untuk sampai ke arah sana maka harus menemukan sesuatu
untuk diputuskan atau dipercayai. Meskipun sebuah argumen dapat disusun dari
beberapa sumber pelajaran, namun akan mempunyai kriteria yang berbeda. Apabila
kita akan menerapkan standarisasi maka haruslah berdasarkan kepada relevansi,
keakuratan fakta-fakta, berlandaskan sumber yang kredibel, teliti, tidak bias,
bebas dari logika yang keliru, logika yang konsisten, dan pertimbangan yang
matang.
3. Argumen
(argument). Argumen adalah pernyataan atau proposisi yang
dilandasi oleh data-data. Namun, secara umum argumen dapat diartikan sebagai
alasan yang dapat dipakai untuk memperkuat atau menolak suatu pendapat,
pendirian, atau gagasan. Keterampilan berpikir kritis akan meliputi kegiatan
pengenalan, penilaian, dan menyusun argumen.
4. Pertimbangan
atau pemikiran (reasoning). Yaitu kemampuan untuk
merangkum kesimpulan dari satu atau beberapa premis. Prosesnya akan meliputi
kegiatan menguji hubungan antara beberapa pernyataan atau data.
5. Sudut pandang (point of view). Sudut pandang
adalah cara memandang atau landasan yang digunakan untuk menafsirkan sesuatu
dan yang akan menentukan konstruksi makna. Seseorang yang berpikir dengan
kritis akan memandang atau menafsirkan sebuah fenomena dari berbagai sudut
pandang yang berbeda.
6. Prosedur
penerapan kriteria (procedures for applying criteria). Prosedur
penerapan berpikir kritis sangat kompleks dan prosedural. Prosedur tersebut
akan meliputi merumuskan masalah, menentukan keputusan yang akan diambil, dan
mengindentifikasikan asumsi atau perkiraan-perkiraan.
H. Indikator Kemampuan Berpikir Kritis
Menurut
Ennis dalam Kartimi (2013) indikator kemampuan berpikir kritis terdiri dari
lima jenis, yaitu:
1.
Memberikan penjelasan sederhana (elementary
clarification)
2.
Membangun keterampilan dasar (basic support)
3.
Membuat inferensi (inferring)
4.
Membuat penjelasan lebih lanjut (advanced
clarification)
5.
Mengatur strategi dan taktik (strategies and tactics).
Sintak inovasi yang
dibuat
Materi
: Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit
Model
: Problem Based Learning (PBL)
Pertemuan : 1
Model Konvensional
(Model PBL)
|
Inovasi Sintaks Model PBL
|
Dampak Kemampuan Berpikir Kritis
|
Orientasi Masalah
|
Orientasi Masalah
|
|
· Guru
menginfomasikan tujuan pembelajaran
|
· Guru menginfomasikan
tujuan pembelajaran
|
|
· Guru mengarahkan
kepada pertanyaan atau masalah
|
· Guru mengarahkan kepada
pertanyaan yang menjadi permasalahan : “sebelumnya kita sudah
belajar tentang larutan, apa yang dimaksud dengan larutan ? pernahkah
kalian melihat larutan yang dapat menghantarkan arus listrik ? dan
sebelumnya siswa ibu pastinya sudah mengerti benda apa saja yang dapat
menghantarkan arus listrik, coba kalian sebutkan larutan apa saja yang kalian
temui dalam kehidupan sehari-hari yang bersifat menghantarkan listrik dan
tidak menghantarkan listrik ?Hal ini dilakukan untuk
mengorientasikan siswa dalam menemukan permasalahan
|
· -(Memberikan penjelasan sederhana)
Mengidentifikasi pertanyaan
|
· Guru
mengarahkan siswa untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah nyata yang
dipilih atau ditentukan oleh guru
|
· Guru mengarahkan
siswa untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah nyata yang dipilih
atau ditentukan oleh guru
S Guru memberikan materi pelajaran secara
singkat mengenai larutan elektrolit dan non elektrolit. “Nah sekarang
kita akan belajar larutan yang dapat menghantarkan arus listrik dan tidak
menghantarkan arus listrik, larutan yang dapat menghantarkan arus listrik itu
dinamakan larutan elektrolit dan sebaliknya dinamakan larutan non elektrolit.
|
· -(Memberikan penjelasan sederhana)
Mengidentifikasi pertanyaan
|
Mengorganisasikan siswa untuk belajar
|
Pemodelan (Modelling)
|
|
· Guru
menciptakan lingkungan kelas yang memungkinkan pertukaran ide yang
terbuka
|
· Mengarahkan siswa
membentuk kelompok yang heterogen
|
· -(Mengatur
strategi dan taktik)
Berinteraksi dengan orang lain
|
· Guru
mengarahkan siswa untuk merespon masalah yang diberikan oleh guru dengan
mengekspresikan ide – ide yang terbuka
|
· Mengenalkan dahulu
model atau langkah-langkah pembelajaran yang seharusnya dilakukan siswa dalam
pembelajaran ini
|
|
· Guru
mendorong siswa untuk membaca literatur atu teori pendukung
|
· Memberikan LKPD materi larutan eletrolit dan non
elektrolit kepada masing-masing siswa
|
|
· Guru membantu
siswa merumuskan hipotesis
|
||
Membantu menyelidiki secara mandiri atau kelompok
|
Mengorganisasikan siswa untuk belajar
|
|
· Guru
mengarahkan siswa untuk merancang percobaan
|
· Guru menciptakan
lingkungan kelas yang memungkinkan pertukaran ide yang terbuka
|
· -(Mengatur strategi dan taktik)
Berinteraksi dengan orang lain
· -(Memberikan penjelasan sederhana)
Bertanya dan menjawab pertanyaan klarifikasi dan pertanyaan yang menantang
|
· Guru
mendorong siswa bekerjasama dalam melakukan percobaan
|
· Guru mendorong
siswa untuk membaca literatur atu teori pendukung
|
· -(Membagun keterampilan dasar)
Mengobservasi dan mempertimbangkan hasil observasi
|
· Guru mengarahkan
siswa menggunakan alat dan bahan yang sesuai dengan LKS
|
· Guru mengarahkan
siswa untuk merespon masalah yang diberikan oleh guru dengan mengekspresikan
ide – ide yang terbuka
|
· -(Memberikan penjelasan sederhana)
Mengidentifikasi kriteria untuk mempertimbangkan jawaban yang mungkin
|
· Guru
mengarahkan siswa mengamati percobaan dengan teliti
|
· Guru membantu siswa
merumuskan hipotesis
|
· -(Mengatur strategi dan taktik)
Mengidentifikasi masalah
· -(Mengatur Inferensi)
Membuat hipotesis
|
· Guru mengarahkan
siswa mencatat hasil pengamatan
|
· Guru bersama siswa
menyeleksi ide-ide yang dianggap dapat mendukung pemecahan masalah dalam
pembelajaran larutan elektrolit dan non elektrolit
|
· -(Mengatur strategi dan taktik)
- Menyeleksi kriteria untuk membuat solusi
- Merumuskan alternatif yang memungkinkan
- Memutuskan hal-hal yang akan dilakukan secara
alternatif
|
Mengembangkan dan menyajikan hasil kerja
|
Membantu menyelidiki secara mandiri atau kelompok
|
|
· Guru mengarahkan siswa mengidentifikasi data
yang diperoleh
|
· Guru mengarahkan
siswa untuk merancang percobaan dan bekerjasama dalam melakukan percobaan
|
· -(Mengatur Inferensi)
Menyeimbangkan, menimbang, dan memutuskan
|
· Guru membantu siswa menghubungkan data yang
diperoleh dengan teori yang ada
|
||
· Guru membantu siswa mengerjakan LKS
|
· Guru mengarahkan
siswa menggunakan alat dan bahan yang sesuai dengan LKPD
|
· -(Mengatur keterampilan dasar)
Menggunakan prosedur yang ada
|
· Guru mempersilahkan siswa menyajikan hasil pengamatan
|
· Guru mengarahkan
siswa mengamati percobaan dengan teliti
|
· -(Mengatur keterampilan dasar)
Kebiasaan berhati-hati
|
· Guru mengarahkan
siswa mencatat hasil pengamatan
|
· -(Mengatur keterampilan dasar)
- Dilaporkan oleh pengamat sendiri
- Mencatat hal-hal
yang diinginkan
|
|
Menganalisis dan mengevaluasi hasil pemecahan masalah
|
Mengembangkan dan menyajikan hasil kerja
|
|
· Guru membantu
siswa menyimpulkan hasil pemecahan masalah dengan benar dan didukung
literatur
|
· Guru mengarahkan
siswa mengidentifikasi data yang diperoleh
|
· -(Mengatur strategi dan taktik)
Mengidentifikasi masalah
· -(Mengatur keterampilan dasar)
Mampu memberikan alasan
|
· Guru memberikan kesimpulan atas pemecahan
masalah yang didapat
|
· Guru membantu siswa menghubungkan data yang diperoleh
dengan teori yang ada
|
· -(Mengatur Inferensi)
- Penerapan prinsip-prinsip
- Mempertimbangkan
alternaif
· -(Mengatur
keterampilan dasar)
- Kemampuan observer atas kredibilitas kriteria
- Kesepakatan antara sumber
|
· Guru
menarahkan siswa untuk memperhatikan penguatan darinya terhadap kesimpulan
materi yang telah dipelajari
|
· Guru membantu siswa mengerjakan LKPD
|
· -(Mengatur strategi dan taktik)
- Berinteraksi dengan orang lain
- Menyeimbangkan, menimbang, dan memutuskan
|
· Guru mempersilahkan siswa menyajikan hasil pengamatan
|
· -(Mengatur strategi dan taktik)
Presentasi solusi, lisan atau tulisan
|
|
Menganalisis dan mengevaluasi hasil pemecahan masalah
|
||
· Guru membantu siswa menyimpulkan hasil pemecahan
masalah dengan benar dan didukung literatur
|
· -(Mengatur strategi dan taktik)
Presentasi solusi, lisan atau tulisan
· -(Mengatur Inferensi)
Membuat kesimpulan
· (Mengatur keterampilan dasar)
Terlibat dalam menyimpulkan
|
|
· Guru mengarahkan
siswa untuk memperhatikan penguatan darinya terhadap kesimpulan materi yang
telah dipelajari
|
· -(Mengatur keterampilan dasar)
- Mencatat hal-hal yang diinginkan
- Penguatan dan
kemungkinan penguatan
|
|
Mengarahkan siswa untuk mengerjakan tugas akhir berupa soal essay yang
diberikan
|
||
Mengawasi siswa selama proses pengerjaan soal
|
Pertanyaan :
1. Apakah inovasi sintaks model pembelajaran yang telah
saya buat sudah efektif dalam proses pembelajaran ?
2. Apakah sudah cocok inovasi yang saya buat pada model
pembelajaran PBL dengan indikator kemampuan berpikir kritis ?
3. Berikan saran Anda terhadap inovasi yang saya buat !