1. Kurikulum Sebagai
Suatu Sistem
Sistem berasal dari bahasa Latin (systēma) dan bahasa Yunani (sustēma) adalah suatu
kesatuan yang terdiri komponen
atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan
aliran informasi, materi atau energi untuk mencapai suatu
tujuan. Ada banyak pendapat tentang pengertian dan definisi sistem yang
dijelaskan oleh beberapa ahli. Berikut pengertian dan definisi sistem menurut
beberapa ahli:
- Jogianto (2005:2), Sistem adalah kumpulan dari elemen-elemen yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Sistem ini menggambarkan suatu kejadian-kejadian dan kesatuan yang nyata, seperti tempat, benda dan orang-orang yang betul-betul ada dan terjadi.
- Indrajit (2001:2), Sistem adalah kumpulan-kumpulan dari komponen-komponen yang memiliki unsur keterkaitan antara satu dengan lainnya.
- Lani Sidharta (1995:9), Sistem adalah himpunan dari bagian-bagian yang saling berhubungan, yang secara bersama mencapai tujuan-tujuan yang sama.
- Murdick, R. G (1991:27), Sistem adalah seperangkat elemen yang membentuk kumpulan atau prosedur-prosedur atau bagan-bagan pengolahan yang mencari suatu tujuan bagian atau tujuan bersama dengan mengoperasikan data dan/atau barang pada waktu rujukan tertentu untuk menghasilkan informasi dan/atau energi dan/atau barang.
- Davis, G. B (1991:45), Sistem adalah kumpulan dari elemen-elemen yang beroperasi bersama-sama untuk menyelesaikan suatu sasaran.
Merujuk pada pengertian
para ahli di atas mereka lebih menekankan pada kata-kata mencapai tujuan yang
sama. Sehingga dapat saya simpulkan bahwa sistem merupakan suatu gabungan dari
komponen dan elemen yang memiliki keterkaitan satu sama lain yang tidak dapat
dipisahkan untuk menghasilkan tujuan atau sasaran yang sama.
Level Sistem, sistem
sendiri memiliki beberapa level, diantaranya adalah sebagai berikut:
- Analisis sistem, yaitu membuat analisis aliran kerja manajemen yang sedang berjalan
- Spesifikasi kebutuhan sistem, yaitu melakukan perincian mengenai apa saja yang dibutuhkan dalam pengembangan sistem dan membuat perencanaan yang berkaitan dengan proyek sistem
- Perancangan sistem, yaitu membuat desain aliran kerja manajemen dan desain pemrograman yang diperlukan untuk pengembangan sistem informasi
- Pengembangan sistem, yaitu tahap pengembangan sistem informasi dengan menulis program yang diperlukan
- Pengujian sistem, yaitu melakukan pengujian terhadap sistem yang telah dibuat
- Implementasi dan pemeliharaan sistem, yaitu menerapkan dan memelihara sistem yang telah dibuat
Kurikulum dapat
dikatakan sebagai suatu sistem, mengapa? Karna kurikulum memiliki tujuan
yang satu dan memiliki komponen-komponen yang saling berkaitan satu dengan yang
lainnya seperti sistem. Sistem adalah suatu kesatuan sejumlah elemen
(objek, manusia, kegiatan, informasi, dsb) yang terkait dalam proses atau
struktur dan dianggap berfungsi sebagai satu kesatuan organisasi dalam mencapai
satu tujuan. Jika pengertian di atas dipadukan, maka sangat mungkin dapat
dikatakan bahwa kurikulum merupakan suatu sistem, karena ada sejumlah komponen
dalam terbentuknya kurikulum yang saling berkaitan dan terikat, dan memiliki
tujuan yang utuh. Jika suatu sistem kurikulum dapat di analogikan
dengan organisme manusia yang memiliki susunan anatomi tubuh tertentu.
Maka komponen-komponen atau anatomi dari sebuah sistem kurikulum yang
utama adalah tujuan, isi materi, proses atau sistem penyampaian serta evaluasi.
2. Komponen-Komponen Kurikulum
Komponen merupakan satu
sistem dari berbagai komponen yang saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan
satu sama lainnya, sebab kalau satu komponen saja tidak ada atau tidak berjalan
sebagaimana mestinya.
Empat komponen utama dari kurikulum adalah :
1. Kompetensi Lulusan (tujuan)
Kompetensi lulusan
adalah criteria minimal tentang kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup
sikap (kognitif) ,pengetahuan (knowledge) dan ketrampilan (psikomotorik) yang
dinyatakan dalam rumusan capaian pembelajaran lulusan.
Melalui kerangka dasar kurikulum, tujuan berfungsi untuk mengarahkan dan
mempengaruhi komponen-komponen lain. Tujuan pendidikan suatu negara tidak dapat
dipisahkan dari tujuan negara atau falsafah negara karena pendidikan merupakan
alat untuk mencapai tujuan negara. Di dalam pendidikan nasional, tujuan umum
dijabarkan pada falsafah bangsa, yakni Pancasila.
Tujuan pendidikan nasional merupakan tujuan pendidikan tertinggi di
Indonesia. Tujuan pendidikan nasional dapat dilihat dalam Undang-Undang Nomor
20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa “pendidikan nasional
berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab”.
Tujuan pendidikan nasional merupakan tujuan jangka panjang, yaitu tujuan ideal
pendidikan bangsa Indonesia. Sedangkan, tujuan institusional merupakan sarana
pendidikan bangsa Indonesia. Pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor
22 Tahun 2007 dikemukakan tujuan umum pendidikan, di antaranya:
a. Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan,
kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti
pendidikan lebih lanjut.
b. Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan,
kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti
pendidikan lebih lanjut.
c. Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri
dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.
2. Materi Pembelajaran
Isi kurikulum merupakan
komponen yang berhubungan dengan pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa.
Isi kurikulum itu menyangkut semua aspek baik yang berhubungan dengan
pengetahuan atau materi pelajaran yang biasanya tergambarkan pada isi setiap
materi pelajaran yang diberikan maupun aktivitas dan kegiatan siswa. Baik
materi maupun aktivitas itu seluruhnya diarahkan untuk mencapai tujuan yang
ditentukan.
Materi ajar merupakan seperangkat pokok bahasan yang digunakan untuk
mencapai setiap tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Materi ajar dan
tujuan pembelajaran harus selaras. Apabila tujuan pendidikan mengalami
perkembangan, maka materi ajar juga akan berkembang.
Materi ajar tersusun atas topik-topik dan sub topik tertentu. Tiap topik
atau sub topik mengandung ide-ide pokok yang relevan dengan tujuan yang
ditetapkan. Topik-topik atau sub topik kemudian membentuk suatu sekuens materi
ajar. Adapun cara untuk menyusun sekuens materi ajar menurut Sukmadinata (1997,
hlm. 105-106), sebagai berikut:
1. Sekuens kronologi
Peristiwa-peristiwa sejarah, perkembangan historis suatu institusi, penemuan-penemuan
ilmiah, dan sebagainya disusun berdasar sekuens kronologi.
2. Sekuens kausal
Peserta didik dihadapkan pada peristiwa atau situasi yang menjadi sebab
atau pendahulu dari suatu peristiwa atau situasi lain. Melalui pembelajaran
sebab, maka peserta didik akan mengetahui akibatnya.
3. Sekuens struktural
Bagian-bagian materi ajar suatu bidang studi telah mempunyai struktur
tertentu. Penyusunan sekuens materi ajar suatu bidang studi disesuaikan dengan
struktur bidang studi tersebut.
4. Sekuens logis dan psikologis
Berdasar sekuens psikologis, materi ajar disusun dari keseluruhan kepada
bagian, dari yang kompleks kepada yang sederhana.
5. Sekuens spiral
Materi ajar dipusatkan pada topik atau pokok bahan tertentu. Berdasar topik
atau pokok tersebut bahan diperluas dan diperdalam topik atau pokok tertentu.
Sesuatu yang populer dan sederhana kemudian diperluas dan diperdalam dengan
bahan yang lebih kompleks.
6. Rangkaian ke belakang
Pada sekuens ini mengajar dimulai dengan masalah yang bersifat ilmiah,
meliputi lima langkah, yaitu pembatasan masalah, penyusunan hipotesis,
pengumpulan data, pengetesan hipotesis, dan interpretasi hasil tes.
7. Sekuens berdasar hierarki
belajar
Hierarki menggambarkan urutan perilaku apa yang mula-mula harus dikuasai
peserta didik, berturut-turut sampai dengan perilaku terakhir. Prosedur
pelaksanaan hierarki adalah tujuan-tujuan khusus utama pembelajaran dianalisis
kemudian dicari suatu hierarki urutan materi ajar untuk mencapai tujuan
pembelajaran.
3. Strategi Pembelajaran
Guru merupakan tokoh
sentral di dalam proses pembelajaran dan dipandang sebagai pusat informasi dan
pengetahuan. Sedangkan peserta didik hanya dianggap sebagai obyek yang secara
pasif menerima sejumlah informasi dari guru. Metode dan teknik pembelajaran
yang digunakan pada umumnya bersifat penyajian (ekspositorik) secara massal,
seperti ceramah atau seminar. Selain itu, pembelajaran cenderung lebih bersifat
tekstual.
Strategi pembelajaran yang berorientasi pada guru tersebut mendapat reaksi
dari kalangan progresivisme. Menurut kalangan progresivisme, yang seharusnya
aktif dalam suatu proses pembelajaran adalah peserta didik itu sendiri. Peserta
didik secara aktif menentukan materi dan tujuan belajarnya sesuai dengan minat
dan kebutuhannya, sekaligus menentukan bagaimana cara-cara yang paling sesuai
untuk memperoleh materi dan mencapai tujuan belajarnya. Pembelajaran yang
berpusat pada peserta didik mendapat dukungan dari kalangan rekonstruktivisme
yang menekankan pentingnya proses pembelajaran melalui dinamika kelompok.
Dalam hal ini, guru tidak banyak melakukan intervensi. Peran guru hanya
sebagai fasilitator, motivator dan guider. Sebagai fasilitator, guru berusaha
menciptakan dan menyediakan lingkungan belajar yang kondusif bagi peserta
didiknya. Sebagai motivator, guru berupaya untuk mendorong dan menstimulasi
peserta didiknya agar dapat melakukan perbuatan belajar. Sedangkan sebagai
guider, guru melakukan pembimbingan dengan berusaha mengenal para peserta
didiknya secara personal.
Selanjutnya, dengan munculnya pembelajaran berbasis teknologi yang
menekankan pentingnya penguasaan kompetensi membawa implikasi tersendiri dalam
penentuan strategi pembelajaran. Meski masih bersifat penguasaan materi atau
kompetensi seperti dalam pendekatan klasik, tetapi dalam pembelajaran
teknologis masih dimungkinkan bagi peserta didik untuk belajar secara
individual. Peran guru dalam pembelajaran teknologis lebih cenderung sebagai
director of learning, yang berupaya mengarahkan dan mengatur peserta didik
untuk melakukan perbuatan-perbuatan belajar sesuai dengan apa yang telah
didesain sebelumnya.
Ada beberapa unsur dalam strategi
pembelajaran untuk melakasanakan suatu kurikulum, yakni:
1. Tingkat dan jenjang
pendidikan
Dalam sistem pendidikan kita dewasa ini ada tiga ketegori pendidikan
foramal yakni pendidikan dasar, pendidikan menengah (pertama dan atas) dan
pendidikan tinggi.
Adanya perbedaan kategori jenis sekolah menyebabkan adanya perbedaan dalam
hal komponen kurikulum. Misalnya perbedaan tujuan institusional, perbedaan isi
dan strukutur pendidikan, perbedaan strategi pelaksanaan kurikulum, perbedaan
sarana kurikulum, perbedaan system evaluasi dan lain sebagainya.
2. Proses belajar mengajar
Pada hakekatnya pelaksaan kurikulum berfungsi untuk mempengaruhi anak didik
untuk mencapai suatu tujuan pendidikan. Proses belajar mengajar merupakan
kegiatan nyata mempengaruhi anak didik dalam suatu situasi yang memungkinkan
terjadinya interaksi antara anak didik denagn guru siswa dan siswa serta sisiwa
dengan lingkungan beljaranya.
Komponen-komponen yang harus dipenuhi dalam kegiatan belajra-mengajar
mencapai tujuan pembelajaran adalah bahan pengajaran atau isi pengajaran,metode
mengajar dan alat bantu pengajaran serta penilaian dan evaluasi.
3. Bimbingan penyuluhan
Proses belajar mengajar sebagai operasionalisasi dari kurikulum tidak
semulus seperti yang diharapkan. Siswa sering tidak menguasai materi sehingga
tujuan pendidikan tidak tercapai, maka upaya mengatsi kendala dengan diadakan
kegiatan dinamakan bimbingan penyuluhan yang ditangani oleh counselor.
4. Adminisrtasi dan supervise
Pelaksanaan kurikulum menuntut adanya upaya kerjasama yang terencana,
terpola dan terprogram agar tujuan pendidikan dapat tercapai optimal. Upaya
tersebut berkenaan dengan administrasi. Wujud operasional kegiatan ini mencakup
bidang pengajaran, bidang keuangan, hubungan sekolah dengan masyarakat.
Sisi lain yang erat dengan administrasi pendidikan ada;ah supervisi. Supevisi
adalah bantuan yang diberikan kepada seluruh staf, khususnya guru untuk
mengembangkan proses belajar mengajar yang efeektif dan efisien.
5. Sarana kurikuler
Saran walaupun bersifat teknis namun mempunyai kontribusi yang tinngi
terhadap kurikulum. Sarana kurikuler yang menunjang pelaksanaan kurikulum
antara lain adalah sarana instruksional, sarana material, sarana personil.
6. Evaluasi atau penilaian
Penilaian berfungsi sebagai control terhadap keberhasilan pembelajaran.
Karena dari evaluasi dapat diketahui tingkat penguasaan tujuan pengajaran oleh
siswa dalam hasil belajar yang dicapainya.
4. Penilaian (Evaluasi)
Evaluasi merupakan salah satu komponen kurikulum. Dalam pengertian
terbatas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa tingkat ketercapaian
tujuan-tujuan pendidikan yang ingin diwujudkan melalui kurikulum yang
bersangkutan. Sebagaimana dikemukakan oleh Wright bahwa : “curriculum
evaluation may be defined as the estimation of growth and progress of students
toward objectives or values of the curriculum”
Sedangkan dalam pengertian yang lebih luas, evaluasi kurikulum dimaksudkan
untuk memeriksa kinerja kurikulum secara keseluruhan ditinjau dari berbagai
kriteria. Indikator kinerja yang dievaluasi tidak hanya terbatas pada efektivitas
saja, namun juga relevansi, efisiensi, kelaikan (feasibility) program.
Pada bagian lain,dikatakan bahwa luas atau tidaknya suatu program evaluasi
kurikulum sebenarnya ditentukan oleh tujuan diadakannya evaluasi kurikulum.
Apakah evaluasi tersebut ditujukan untuk mengevaluasi keseluruhan sistem
kurikulum atau komponen-komponen tertentu saja dalam sistem kurikulum tersebut.
Salah satu komponen kurikulum penting yang perlu dievaluasi adalah berkenaan
dengan proses dan hasil belajar siswa.
Tiap kegiatan akan memberikan umpan balik, demikian juga dalam pencapaian
tujuan belajar dan proses pelaksanaan mengajar. Secara umum evaluasi dibedakan
menjadi dua yaitu:
a) Evaluasi hasil belajar
Dalam lingkup luas bahan dan jangka waktu belajar dibedakan antara evaluasi
formatif dan sumatif.
1) Evaluasi Formatif
Ditujukan untuk menilai pengusaan siswa terhadap tujuan-tujuan belajar atau
kompetensi dasar dalam jangka waktu yang relative pendek. Dalam kurikulum
pendidikan dasar dan menengah evaluasi formatif digunakan untuk menilai
penguasaan siswa setelah siswa mempelajari satu pokok bahasan.
2) Evaluasi Sumatif
Ditujukan untuk menilai penguasaan siswa terhadap tujuan-tujuan atau
kompetensi yang lebih luas, sebagai hasil usaha belajar dalam jangka waktu yang
cukup lama. Seperti satu semester, satu tahun atau selama jenjang pendidikan.
b) Evaluasi Proses Pembelajaran
Komponen yang dievaluasi dalam pembelajaran bukan hanya hasil belajar
mengajar tetapi keseluruhan pelaksanaan program pembelajaran, metode, media
serta komponen evaluasi pembelajaran.
Untuk mengevaluasi komponen-komponen dan proses pelaksanaan mengajar bukan
hanya digunakan tes, tetapi digunakan bentuk-bentuk non tes seperti observasi,
studi documenter, angket dan lain-lain.
Ada beberapa prinsip evaluasi pendidikan yang harus diperhatikan oleh
evaluator dalam menjalankan tugasnya. Prinsip tersebut adalah:
1. Evaluasi harus mengacu pada
tujuan pembelajaran
2. Evaluasi harus dilaksanakan
secara obyektif
3. Evaluasi harus dilaksanakan
secara komprehensif atau menyeluruh
4. Evaluasi harus dilaksakan
secara terus menerus (kontinyu)
Pertanyaan :
1.Komponen kurikulum
itu menempati posisi yang sangat strategis dalam kebijakan pendidikan di Indonesia.
Pendidikan merupakan hal yang harus terencana dan dikonsep secara matang dengan
desain yang sebaik-baiknya sehingga tujuan dari pendidikan bisa dicapai.
Bagaimana kaitan antara pendidikan dengan komponen-komponen kurikulum ?
2.Dalam komponen kurikulum
terdapat strategi pada proses pembelajaran. Bagaimana strategi itu bisa berjalan
dengan lancar sehingga interaksi antara siswa dengan guru dan siswa dengan
lingkungan belajaranya dapat berjalan dengan baik ?
3.Evaluasi juga termasuk dalam komponen kurikulum. Apakah evaluasi ditujukan untuk mengevaluasi keseluruhan sistem kurikulum atau komponen-komponen tertentu saja dalam sistem kurikulum tersebut ?
3.Evaluasi juga termasuk dalam komponen kurikulum. Apakah evaluasi ditujukan untuk mengevaluasi keseluruhan sistem kurikulum atau komponen-komponen tertentu saja dalam sistem kurikulum tersebut ?

saya akan menjawab pertanyaan no. 3 menurut saya proses evaluasi harus dilakukan secara keseluruhan maupun pada tiap komponennya, ini ditinjau lagi dari masalah apa yang dihadapi, jika masalah yang timbul akibat kerancuan pada komponen tujuan, maka komponen tujuan yang diperbaiki, namun tidak serta merta diterapkan, dicocokkan dlu dengan komponen yang lainnya. untuk melihat maalah pada keterlaksanaan kurikulum k13 secara keseluruhan maka evaluasi yang dilakukan menyeluruh, pada tiap instrumen dan komponennya perlu ditelaah lebih lanjut guna mendapatkan alternatif solusi penyelesaian
BalasHapusTerima kasih atas jawaban dari saudari Rini,tadi dikatakan bahwa evaluasi harus dilakukan secara keseluruhan maupun pada tiap komponennya, ini ditinjau lagi dari masalah apa yang dihadapi, jika masalah yang timbul akibat kerancuan pada komponen tujuan, maka komponen tujuan yang diperbaiki, namun tidak serta merta diterapkan, yang menjadi pertanyaan bagaimana jika komponen tujuan tidak bisa diterapkan ?
HapusIngin menjawab nomor 2. Strategi itu bisa di implementasikan jika ada metode yang sudah di susun agar strategi yg sudah di buat bisa di jalankan. Tanpa adanya metode atau cara implementasinya tentu strategi tidak berjalan dgn baik. Dalam penggunaan metode tdi pun harus ada pendekatan yang digunakan agar dalam pelaksanaan lebih luwes dan terarah untuk menghindari hal hal yang tidak di inginkan. Dan untuk mewujudkan tujuan tdi pun tidak mudah karena tidak adanya strategi dam metode tdi. Disini strategi, metode dan pendekatan sangat berkaitan satu sama lain untuk menyampaikan atau mewujudkan suatu yg telah kita buat atau kita susun untuk mencapai tujuan tdi.
BalasHapussependapat dengan dian untuk permasalahan kedua bahwa Strategi itu bisa diimplementasikan jika ada metode yang sudah di susun agar strategi yg sudah di buat bisa di jalankan. Tanpa adanya metode atau cara implementasinya tentu strategi tidak berjalan dgn baik. Dalam penggunaan metode tdi pun harus ada pendekatan yang digunakan agar dalam pelaksanaan lebih luwes dan terarah untuk menghindari hal hal yang tidak di inginkan
HapusMenanggapi permasalahan yang ke 1 yaitu kaitan antara pendidikan dengan komponen kurikulum.
BalasHapusYang mana telah dijelaskan pendidikan merupakan hal yang harus terencana dan dikonsep secara matang dengan desain yang sebaik-baiknya sehingga tujuan dari pendidikan bisa dicapai.
Rencana dalam pendidikan yang berbentuk kurikulum akan didesain berdasarkan komponen-komponen kurikulum tsb.sehingga hubungan dapat dilihat bahwa pendidikan sangat erat hubungannya dengan komponen-komponen kurikulum yang mana komponen" ini akan menjadi konsep dari pendidikan itu sendiri
Terima kasih atas jawaban dari saudari esa, tadi dikatakan bahwa Rencana dalam pendidikan yang berbentuk kurikulum akan didesain berdasarkan komponen-komponen kurikulum tersebut, sehingga hubungan dapat dilihat bahwa pendidikan sangat erat hubungannya dengan komponen-komponen kurikulum yang mana komponen" ini akan menjadi konsep dari pendidikan itu sendiri, yang menjadi pertanyaan adalah apakah untuk membuat suatu konsep pendidikan diperlukan semua komponen-komponen kurikulum ?
HapusMenjawab permasalahan ketiga, luas atau tidaknya suatu program evaluasi kurikulum sebenarnya ditentukan oleh tujuan diadakannya evaluasi kurikulum. Apakah evaluasi tersebut ditujukan untuk mengevaluasi keseluruhan sistem kurikulum atau komponen-komponen tertentu saja dalam sistem kurikulum tersebut. Salah satu komponen kurikulum penting yang perlu dievaluasi adalah berkenaan dengan proses dan hasil belajar siswa.
BalasHapussaya menambahkan dari pendapat rini proses evaluasi harus dilakukan secara keseluruhan maupun pada tiap komponennya, ini ditinjau lagi dari masalah apa yang dihadapi, jika masalah yang timbul akibat kerancuan pada komponen tujuan, maka komponen tujuan yang diperbaiki, namun tidak serta merta diterapkan, dicocokkan dlu dengan komponen yang lainnya. untuk melihat maalah pada keterlaksanaan kurikulum k13 secara keseluruhan maka evaluasi yang dilakukan menyeluruh, pada tiap instrumen dan komponennya perlu ditelaah lebih lanjut guna mendapatkan alternatif solusi penyelesaian
Hapusevaluasi kurikulum adalah suatu tindakan penilaian, penjaminan dan penetapan mutu kurikulum, berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu, sebagai bentuk akuntabilitas pengembang kurikulum dalam rangka menentukan keefektifan kurikulum, senagkan penilaian hasil belajar adalah suatu kegiatan pengumpulan, pengolahan dan penafsiran informasi tentang proses dan hasil belajar peserta didik berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu untuk membuat suatu keputusan. evaluasi perencanaan dan pengembangan, hasil evaluasi ini sangat diperlukan untuk mendesain kurikulum. Sasaran utamanya adalah memberikan tahap awal dalam penyusunan kurikulum. Persoalan yang disoroti menyangkut tentang kelayakan dan kurikulum. Hasil evaluasi ini dapat meramalkan kemungkinan implementasi kurikulum serta keberhasilannya. Pelaksanaan evaluasi dilakukan sebelum kurikulum disusun dan dikembangkan.
BalasHapusEvaluasi monitoring, evaluasi ini dimaksudkan untuk memeriksa apakah kurikulum mencapai sasaran secara efektif, dan apakah kurikulum terlaksana sebagaimana mestinya.
Evaluasi dampak, evaluasi ini dimaksudkan untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan oleh suatu kurikulum. Dampak ini dapat diukur berdasarkan criteria keberhasilan sebagai indicator ketercapaian tujuan kurikulum.
Evaluasi efisiensi-ekonomis, evaluasi ini dimaksudkan untuk menilai tingkat efisiensi kurikulum. Untuk itu diperlukan perbandingan antara jumlah biaya, tenaga dan waktu yang diperlukan dalam kurikulum dengan kurikulum lainnya yang memiliki tujuan yang sama.
Evaluasi program kompehensif, evaluasi ini dimaksudkan untuk menilai kurikulum secara menyeluruh mulai ari perencanaan, pengembangan, implementasi, dampak serta tingkat keefekfan dan efisiensi.
jadi dalam mengevaluasi kurikulum tergantung pada bagian mana yg ingin di evaluasi.
Menanggapi pertanyaan nomor tiga, pada komponen evaluasi terdapat tujuan evaluasi dan dapat ditinjau dari tiga dimensi, yakni dimensi I (formatif-sumatif), dimensi II (proses-produk) dan dimensi III (operasi keseluruhan proses kurikulum atau hasil belajar siswa).
BalasHapusa) Dimensi I
Formatif : evaluasi dilakukan sepanjang pelaksanaan kurikulum. Data dikumpulkan dan dianalisis untuk menemukan masalah serta mengadakan perbaikan sedini mungkin.
Sumatif : proses evaluasi dilakukan pada akhir jangka waktu tertentu, misalnya pada akhir semester, tahun pelajaran atau setelah lima tahun untuk mengetahui evektifitas kurikulum dengan menggunakan semua data yang dikumpulkan selama pelaksanaan dan akhir proses implementasi kurikulum
b) Dimensi II
Proses : yang dievaluasi ialah metode dan proses dalam pelaksanaan kurikulum. Tujuannya ialah untuk mengetahui metode dan proses yang digunakan dalam implementasi kurikulum. Metode apakah yang digunakan? Apakah tepat penggunaannya? Apakah berhasil baik atau tidak? Kesulitan apa yang dihadapi?
Produk : yang dievaluasi ialah hasil-hasil yang nyata, yang dapat dilihat dari silabus, satuan pelajaran dan alat-alat pelajaran yang dihasilkan oleh guru dan hasil-hasil siswa berupa hasil test, karangan, termasuk tesis, makalah, dan sebagainya.
c) Dimensi III
Operasi : disini dievaluasi keseluruhan proses pengembangan kurikulum termasuk perencanaan, desain, implementasi, administrasi, pengawasan, pemantauan dan penilaiannya. Juga biaya, staf pengajar, penerimaan siswa, pendeknya seluruh operasi lembaga pendidikan itu
Hasil belajar siswa : disini yang dievaluasi ialah hasil belajar siswa berkenaan dengan kurikulum yang harus dicapai, dinilai berdasarkan standar yang telah ditentukan dengan mempertimbangkan determinan kurikulum, misi lembaga pendidikan serta tuntutan dari pihak konsumen luar
Menjawab pertanyaan kedua dimana strategi dalam proses pembelajaran harus bersinergi dengan siswa dan guru. Strategi yg di buat oleh pendidik harus sesuai dengan tujuan kurikulum,, Proses kegiatan belajar mengajar merupakan mata rantai yang menghubungkan antara guru dan siswa untuk menciptakan komunikasi yang baik sehingga proses pembelaran dapat berjalan dengan efektif. Kedua belah pihak, baik guru dan siswa harus bersinergi , dimana guru harus dapat menyampaikan materi dengan baik dan siswa juga harus dapat memahami dan menyerap materi dengan baik. Jika keduanya dapat memahami dan menyadari tugasnya masing-masing maka akan tercipta komunikasi pembelajaran yang kondusif.
BalasHapusCara guru mengajar pada jaman sekarang tentunya tidak dapat disamakan pada saat jaman guru tersebut sekolah. Sekarang siswa sudah hidup di abad 21, siswa tidak bisa dipaksakan untuk menerima kondisi di era 80- an atau 90-an. Jadi kecocokan antara siswa dan guru tersebut mutlak diciptakan oleh kedua belah pihak seperti kecocokan antara mur dan bautnya.
Saya swtuju dengan pendapat widia dimana strategi dalam proses pembelajaran harus bersinergi dengan siswa dan guru. Strategi yg di buat oleh pendidik harus sesuai dengan tujuan kurikulum, maka jika sudah saling melakukan tugas masing2 akan bisa telaksana strategi pembelajaran sesuai harapan, karena jika guru tanpa menerapkan strategi makan akan muncul kebosanan dalam diri siswa dan tidak sesuai dgn harapan
Hapusmenanggapi permasalahn nomor satu kaitan setiap komponen dalam pendidikan yaitu Komponen tujuan berhubungan dengan arah atau hasil yang diharapkan. Dalam skala makro rumusan tujuan kurikulum erat kaitannya dengan filsafat atau sistem nilai yang dianut masyarakat. Bahkan rumusan tujuan menggambarkan suatu masyarakat yang dicita-citakan. Isi kurikulum merupakan komponen yang berhubungan dengan pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa. Isi kurikulum itu menyangkut semua aspek baik yang berhubungan dengan pengetahuan atau materi pelajaran yang biasanya tergambarkan pada isi setiap mata pelajaran yang diberikan maupun aktivitas dan kegiatan siswa. Baik materi maupun aktivitas itu seluruhnya diarahkan untuk mencapai tujuan yang ditentukan.
BalasHapusStrategi berkaitan dengan upaya yang harus dilakukan dalam rangka pencapaian tujuan. Strategi yang ditetapkan dapat berupa strategi yang menempatkan siswa sebagai pusat dari setiap kegiatan, ataupun sebaliknya. Strategi yang berpusat kepada siswa biasa dinamakan teacher centered. Strategi yang bagaimana yang dapat digunakan sangat tergantung kepada tujuan dan materi kurikulum.
Evaluasi merupakan komponen untuk melihat efektivitas pencapaian tujuan. Dalam konteks kurikulum evaluasi dapat berfungsi untuk mengetahui apakah tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai atau belum, atau evaluasi digunakan sebagai umpan balik dalam perbaikan strategi yang diterapkan.
BalasHapusagar strategi dapat berjalan dengan lancar, sebagai guru harus dapat menganalisis terlebih dahulu apa yang di butuhkan siswa. Artinya, kita harus tau komponen kurikulum yg 1 yaitu tujuan dan 2 Isi. sehingga dengan berpedoman pada kedua komponen ini guru dapat menentukan metode, model, media apa saja yang dibutuhkan oleh peserta didik dalam mengembangkan potensinya.
dan tahap evaluasi sangat diperlukan dalam pembelajaran. menurut saya, semua komponen harus di evaluasi. Karna dari hal ini kita dapat membuat sebuah program pengajaran yang optimal
untuk pertanyaan "Evaluasi juga termasuk dalam komponen kurikulum. Apakah evaluasi ditujukan untuk mengevaluasi keseluruhan sistem kurikulum atau komponen-komponen tertentu saja dalam sistem kurikulum tersebut ?'
BalasHapusmenurut saya proses evaluasi itu tidak hanya evaluasi secara keseluruhan saja, tidak hanya komponen-komponen tertentu saja, semuanya di evaluasi, termasuk pertahap, perkomponen, bahkan setelah jadi dan dilakukan penerapan pun dilakukan kembali evaluasi.