Menurut Downing kreativitas dapat didefinisikan sebagai
“proses” untuk menghasilkan sesuatu yang baru dari elemen yang ada dengan
menyusun kembali elemen tersebut. Menurut Torrance (dalam Munandar, 2012),
“kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya masalah, membuat
dugaan tentang kekurangan (masalah) ini, menilai dan menguji dugaan atau
hipotesis, kemudian mengubah dan mengujinya lagi, dan akhirnya menyampaikan
hasil-hasilnya”. Mulyadi (2004) seorang psikolog perkembangan anak
mengatakan, kreativitas sebagai kemampuan untuk membuat kombinasi baru
berdasarkan data, informasi atau unsur-unsur yang ada. Kreativitas juga bisa
diartikan sebagai kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, dan
orisinalitas dalam berpikir.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Tumbuhnya Kreativitas
Kreativitas
tidak saja bergantung kepada potensi bawaan yang khusus, tetapi juga pada
perbedasan mekanisme mental yang menjadi sasaran untuk mengungkapkan sifat
bawaan. Mekanisme bawaan ini dihasilkan oleh suatu tipe adaptasi awal. Jadi
faktor-faktor yang mempengaruhi disini adalah:
·
Dorongan, terlepas dari seberapa jauh potensi anak
memenuhi standar orang dewasa, mereka harus didorong untuk kreatif dan bebas
dari menentukan masa depannya sendiri.
·
Sarana, harus disediakan untuk meransang melakukan
eksprimen dan eksplorasi yang merupakan unsur penting dalam kreativitas.
·
Lingkungan yang merangsang. Lingkungan keluarga dan
sekolah harus merangsang kreativitas dengan memberi bimbingan dan dorongan
untuk menggunakan sarana yang akan mendorong kreativitas. Ini harus dilakukan
sedini mungkin agar menjadikan remaja yang kreatif.
·
Kesemapatan, untuk memperoleh pengetahuan agar dapat
berkembang pikiran yang positif.
·
Dari segi waktu, untuk menjadi kreatif harus diberi
waktu dalam mengembangkan gagasan-gagasan yang ada pada remaja tersebut.
Ciri-Ciri
Kreativitas
Menurut
Davis (2012:259) ciri-ciri aptitude meliputi kelancaran,
fleksibilitas, keaslian, dan elaborasi sedangkan ciri-ciri non-aptitude meliputi
rasa ingin tahu,bersikap imajinatif, merasa tertantang oleh kemajemukan, sikap
berani mengambil resiko. Berikut ciri-ciri aptitude dan non-aptitude serta
penjelasannya.
1. Ciri-ciri kemampuan
berpikir kreatif (aptitude)
a.
Kelancaran adalah kemampuan untuk
menghasilkan banyak gagasan, ide, jawaban, penyelesaian masalah, atau
pertanyaan, memberikan saran dan selalu memikirkan lebih dari satu kemungkinan
penyelesaian
b.
Fleksibilitas adalah kemampuan untuk
menghasilkan gagasan yang bervariasi, mampu melihat masalah dari perspektif
berbeda dan mampu mengubah pola pikir.
c.
Keaslian atau Orisinalitas adalah
mampu melahirkan gagasan baru dan unik, mampu membuat kombinasi yang tidak
lazim dari bagian-bagian, mampu memikirkan cara yang tidak lazim untuk
mengungkapkan diri.
d.
Elaborasi adalah kemampuan untuk
mengembangkan, memperbaiki, memperhalus, menyempurnakan, menerapkan ide
sehingga menjadi lebih baik dan menarik dibandingkan sebelumnya.
2. Ciri-ciri afektif (non-aptitude)
a.
Rasa ingin tahu yaitu selalu terdorong untuk mengetahui lebih
banyak, mengajukan banyak pertanyaan, selalu memperhatikan orang, objek, dan
situasi serta peka dalam pengamatan dan ingin mengetahui/meneliti.
b. Imajinatif yaitu
mampu membayangkan bahkan memperagakan hal-hal yang tidak atau belum pernah
terjadi akan tetapi mengetahui perbedaan antara imajinasi dan kenyataan.
c.
Merasa tertantang yaitu mecari banyak kemungkinan,merasa
terdorong untuk mengatasi masalah yang sulit, dan lebih tertarik pada
tugas-tugas yang sulit.
d. Sikap
berani mengambil resiko yaitu tidak takut gagal atau mendapat kritikan
dan berani memberikan jawaban meskipun belum tentu benar dan teguh dalam
mempertahankan pendapat.
Berikut adalah kisi-kisi
aspek kreativitas:
Aspek Kreativitas
|
Indikator
|
|
Aptitude
|
1. Keterampilan
Berpikir Lancar
|
Mencetuskan banyak gagasan, jawaban, saran dalam
penyelesaian masalah
|
2. Keterampilan
berpikir luwes(fleksibilitas)
|
Menghasilkan gagasan yang bervariasi
|
|
Dapat melihat masalah dari berbagai sudut pandang
yang berbeda
|
||
3. Keterampilan
berpikir orisinil(orisinalitas)
|
Mencetuskan masalah, gagasan atau hal-hal yang tidak
terpikirkan orang lain
|
|
Menciptakan ide-ide atau hasil karya yang berbeda
dan betul-betul baru
|
||
4. Keterampilan
berpikir detail (elaborasi)
|
Mengembangkan atau memperkaya gagasan orang lain
|
|
Mengungkapkan cara kerja yang ditempuh untuk
menyelesaikan permasalahan
|
||
Membuat laporan dengan detail dan berbeda dari yang
lain
(untuk indikator ini lebih dijabarkan pada
ranah psikomotor/melalui portofolio)
|
||
Non-aptitude
|
5. Rasa
ingin tahu
|
Keinginan untuk mencari tahu, mendalami pengetahuan
lebih dalam
|
Mempertanyakan segala sesuatu
|
||
6.Bersikap merasa tertantang
|
Melibatkan diri dalam tugas yang diberikan
|
|
7. Berani
mengambil resiko
|
Percaya diri dalam mengerjakan sesuatu
|
|
Contoh Rubrik Penilaian Kreativitas
Tabel 1 Kisi-kisi Lembar Observasi
Penilaian Berpikir Kreatif Siswa
Aspek
|
Indikator
|
Nomor Item
|
|
Aptitude
|
1. Keterampilan
Berpikir Lancar
|
Mencetuskan banyak gagasan, jawaban, saran dalam
penyelesaian masalah
|
1
|
2. Keterampilan
berpikir luwes
|
Dapat melihat masalah dari berbagai sudut pandang
yang berbeda
|
2
|
|
Dapat menerapkan konsep, sifat, atau aturan dalam
contoh pemecahan masalah
|
3
|
||
3. Keterampilan
berpikir orisinil
|
Mencetuskan masalah, gagasan atau hal-hal yang tidak
terpikirkan orang lain
|
4
|
|
4. Keterampilan
berpikir detail (elaborasi)
|
Mengembangkan atau memperkaya gagasan orang lain
|
5
|
|
Membuat laporan dengan detail dan berbeda
|
6
|
||
Non- Aptitude
|
5. Rasa
ingin tahu
|
Keinginan untuk mencari tahu, mendalami pengetahuan
lebih dalam
|
7
|
6. Bersikap
merasa tertantang
|
Melibatkan diri dalam tugas yang diberikan
|
8
|
|
Contoh Penilaian Kreativitas Siswa
dengan Mengguakan Lembar Observasi yang diamati secara langsung saat diskusi
pembelajaran di kelas
No
|
Aspek
(tahapan)
|
Indikator
|
Kriteria
|
Nomor Siswa
|
||||
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
||||
1
|
Keterampilan berpikir lancar
|
Mencetuskan banyak gagasan, jawaban, saran dalam
penyelesaian masalah
|
Skor 4 jika siswa mencetuskan banyak gagasan,
jawaban atau saran dengan lancar dan tepat
|
|||||
Skor 3 jika siswa mencetuskan banyak
gagasan, jawaban atau saran dengan lancar namun kurang tepat
|
||||||||
Skor 2 jika siswa siswa mencetuskan banyak gagasan,
jawaban atau saran dengan cukup lancar namun tidak tepat
|
||||||||
Skor 1 jika siswa tidak mencetuskan banyak gagasan,
jawaban atau saran
|
||||||||
2
|
Keterampilan berpikir luwes
|
Dapat melihat masalah dari berbagai sudut pandang
yang berbeda
|
Skor 4 jika siswa menganalisis permasalahan yang
muncul dari fakta dan petunjuk yang diberikan guru
|
|||||
Skor 3 jika siswa kurang menganalisis
permasalahan yang muncul dari fakta dan petunjuk yang diberikan guru
|
||||||||
Skor 2 jika siswa hanya menganalisis permasalahan
yang muncul dari penjelasan guru saja atau dari fakta saja
|
||||||||
Skor 1 jika siswa tidak menganalisis permasalahan
yang muncul dari fakta dan petunjuk yang diberikan guru
|
||||||||
Dapat menerapkan konsep, sifat, atau aturan dalam
contoh pemecahan masalah
|
Skor 4 jika siswa dapat menerapkan konsep, sifat,
atau aturan dalam praktikum guna memecahkan permasalahan dengan berbeda dan
tepat
|
|||||||
Skor 3 jika siswa dapat menerapkan
konsep, sifat, atau aturan dalam praktikum guna memecahkan permasalahan dengan
berbeda namun kurang tepat
|
||||||||
Skor 2 jika siswa dapat memecahkan permasalahan
dengan berbeda namun tidak menerapkan konsep, sifat atau aturan dalam
pelaksanaan praktikum
|
||||||||
Skor 1 jika siswa tidak menerapkan konsep, sifat,
atau aturan dalam praktikum guna memecahkan permasalahan
|
||||||||
3
|
Keterampilan berpikir orisinil
|
Mencetuskan masalah, gagasan atau hal-hal yag tak
terpikirkan orang lain
|
Skor 4 jika siswa mencetuskan masalah, gagasan atau
hal yang berbeda dengan lancar dan tepat
|
|||||
Skor 3 jika siswa mencetuskan masalah,
gagasan atau hal yang berbeda dengan lancar namun kurang tepat
|
||||||||
Skor 2 jika siswa mencetuskan masalah, gagasan atau
hal yang berbeda dengan tidak lancar dan tidak tepat
|
||||||||
Skor 1 jika siswa tidak mencetuskan masalah, gagasan
atau hal yang berbeda
|
||||||||
4
|
Keterampilan berpikir detail (elaborasi)
|
Mengembangkan atau memperkaya gagasan orang lain
|
Skor 4 jika siswa mengembangkan gagasan
dari guru/teman dengan tepat
|
|||||
Skor 3 jika siswa mengembangkan gagasan
dari guru/teman namun kurang tepat
|
||||||||
Skor 2 jika siswa mengembangkan gagasan
dari guru/teman namun tidak tepat
|
||||||||
Skor 1 jika siswa tidak mengembangkan gagasan
dari guru/teman
|
||||||||
Membuat laporan dengan detail dan berbeda
|
Skor 4 jika siswa membuat laporan dengan lengkap dan
rapi: dimulai dari permasalahan, teori, metode, hasil dan kesimpulan
|
|||||||
Skor 3 jika siswa membuat laporan dengan
lengkap : dimulai dari permasalahan, teori, metode, hasil dan kesimpulan
namun tidak rapi
|
||||||||
Skor 2 jika siswa membuat laporan dengan tidak
lengkap
|
||||||||
Skor 1 jika siswa tidak membuat laporan
|
||||||||
5
|
Rasa ingin tahu
|
Keinginan untuk mencari tahu, mendalami pengetahuan
lebih dalam
|
Skor 4 jika siswa menganalisis data menggunakan
sumber internet, buku, bertanya pada guru/teman
|
|||||
Skor 3 jika siswa menganalisis data
menggunakan sumber internet dan buku
|
||||||||
Skor 2 jika siswa menganalisis data dengan bertanya
pada guru/teman
|
||||||||
Skor 1 jika siswa tidak menganalisis data
menggunakan sumber internet, buku, bertanya pada guru/teman
|
||||||||
Mempertanyakan segala sesuatu
|
Skor 4 jika siswa bertanya dengan lancar dan sesuai
materi
|
|||||||
Skor 3 jika siswa bertanya dengan lancar
namun tidak sesuai dengan materi
|
||||||||
Skor 2 jika siswa bertanya dengan tidak lancar dan
tidak sesuai dengan materi
|
||||||||
Skor 1 jika siswa tidak bertanya
|
||||||||
6
|
Bersikap merasa tertantang
|
Melibatkan diri dalam tugas yang diberikan
|
Skor 4 jika siswa fokus dan tekun bekerja dalam
menyelesaikan tugas/praktikum
|
|||||
Skor 3 jika siswa rajin bekerja dalam
menyelesaikan tugas/praktikum namun kurang fokus
|
||||||||
Skor 2 jika siswa bekerja dalam menyelesaikan
tugas/praktikum namun diingatkan terus menerus
|
||||||||
Skor 1 jika siswa tidak bekerja dan harus diingatkan
|
||||||||
|
Soal
|
Skor 0
|
Skor 1
|
Skor 2
|
Skor 3
|
Skor 4
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Berdasarkan data hasil percobaan dibawah ini, mengapa ada bahan kimia
yang menyebabkan bola lampu ada yang menyala dan tidak serta pengamatan pada
electrode ada yang bergelembung atau tidak? Apa yang membuatnya demikian?
Berikan alasan anda.
|
Tidak Menjawab
|
Memberikjawaban, namun tidak dengan
konsep yang mendukung
|
Memberikjawaban, namun konsep yang
mendukung tidak tepat
|
Memberikan jawaban, namun konsep yang
mendukung kurang tepat
|
Memberikan jawaban dan relevan dengan
konsep yang mendukung
· Bahan kimia yang
diujikan berupa larutan, dimana larutan itu adalah suatu zat yang dilarutkan
dalam suatu pelarut.
· Ada larutan yang
dapat menyebabkan banyak gelembung pada elektroda dan lampu menjadi menyala
terang, contoh: Larutan asam klorida 1M, Larutan Natrium Hidroksida 1M,
Larutan Natrium Klorida 1M. Namun ada juga yang sebaliknya, contoh: Air
suling, Larutan gula 1M, Larutan etanol 70%.
· Menurut konsep yang
dibaca, larutan yang dapat membuat lampu menjadi nyala terang (menghantarkan
listrik) dan muncul banyak gelembung dikarenakan larutan tersebut dapat
terurai menjadi ion-ion yang bergerak bebas contohnya Larutan Natrium Klorida
1M
NaCl(aq) ®Na+(aq) + Cl-(aq)
· Selanjutnya larutan
yang tidak dapat menimbulkan nyala lampu dan tidak terdapat gelembung pada
elektroda dikarenakan larutan tidak memiliki ion-ion yang bergerak bebas
contohnya Larutan gula 1M
C2H5OH(aq) ® 2C + 3H2 +
½O2
· Oleh sebab itu
larutan yang dapat terurai menjadi ion-ion (ion positif dan ion negative)
maka dapat menghantarkan arus listrik dan menyebabkan lampu menyala terang
dan banyak gelembung sedangkan larutan yang tidak memiliki ion-ion yang
bergerak bebas maka tidak dapat menghantarkan arus listrik sehingga lampu
tidak menyala dan tidak ada gelembung
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
· Pada suatu hari ibu
sedang memasak di dapur, saat itu ibu baru saja memegang larutan garam dan
saat ibu mematikan listrik, ibu sedikit terkena sengatan listrik.
· Keesokan harinya ibu
hanya memegang garam untuk dimasukkan kedalam sayuran saat mematikan lampu
ibu tidak terkena sengatan.
Lantas apa yang membuat perbedaan itu terjadi, padahal ibu sama-sama
memegang garam?
|
Tidak Menjawab
|
Memberikan jawaban, namun jawaban
tidak dapat dipahami
|
Memberikan jawaban namun jawaban tidak
terperinci dengan jelas
|
Memberikan jawaban namun jawaban kurang
terperinci dengan jelas
|
Memberikan jawaban dan terperinci
dengan jelas
· Garam dapur memiliki
rumus kimia NaCl
· NaCl Larutan
merupakan NaCl padat yang dilarutkan ke dalam suatu pelarut, Sedangkan NaCl
padat bentuknya masih berupa padatan
· NaCl larutan 1M
dapat menimbulkan sengatan pada ibu sedangkan NaCl padat tidak dapat
menimbulkan sengatan pada ibu
· Larutan NaCl 1M
dapat menimbulkan sengatan dikarenakan NaCl padat yang dilarutkan dalam air
terurai menjadi ion-ion yang bergerak bebas dikarenakan jarak antar
molekulnya yang renggang sehingga dapat menghantarkan listrik apabila dialiri
listrik
· Sedangkan NaCl Padat
tidak menimbulkan sengatan karena senyawa elektrolit berwujud padat tidak
menghantarkan arus listrik, karena tidak ada ion-ion yang bergerak bebas.
Jarak antarmolekul atau ion NaCl padat sangat rapat dibandingkan NaCl Larutan
sehingga apabila aliran listrik melewati ruang antarmolekul NaCl padat maka
akan mengalami hambatan.
· Oleh karena itu
bentuk senyawa kimia mempengaruhi dapat tidaknya menghantarkan arus listrik
|
Permasalahannya :
1.
Apa saja yang menjadi kesulitan dalam
penyusunan rubrik penilaian kreativitas ? Dan bagaimana solusinya ?
2.
Bagaimana cara kita melihat
keefektifan dari rubrik penilaian kreativitas ?
3.
Hal-hal apa saja
yang harus diperhatikan dalam penyusunan rubrik penilaian kreativitas yang baik
dan benar ?
menurut saya yang menjadi kesulitan adalah pada saat menentukan jawaban yang nantinya akan beragam dijawab oleh siswa
BalasHapussolusinya kita sebagai guru harus bisa mengerti seberapa besar level kreativitas siswa sehingga jawaban yang nantinya akan diberikan siswa sesuai dengan rubrik yang kita buat
HapusHal-hal apa saja yang harus diperhatikan dalam penyusunan rubrik penilaian kreativitas yang baik dan benar ?
BalasHapusMenurut saya sebelum membuat rubrik penilaian (dalam hal ini contohnya lembar observasi) maka yang harus dilakukan dahulu adalah membuat Kisi-kisi Lembar Observasi Penilaian Berpikir Kreatif Siswa
benar, sebelum sebelum membuat rubrik penilaian maka yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah membuat Kisi-kisi dari instrumen penilaian tersebut, contohnya seperti Lembar Observasi Penilaian Berpikir Kreatif Siswa.
HapusApa saja yang menjadi kesulitan dalam penyusunan rubrik penilaian kreativitas ? Dan bagaimana solusinya ?
BalasHapusmenurut saya yang juga menjadi kesulitan yaitu penyesuaian indikator dengan desaian penilaian pembelajaran untuk memunculkan indikator-indikator berpikir kreatif yang akan diukur.
Hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dalam penyusunan rubrik penilaian kreativitas, menurut saya adalah indikator-indikator pencapaian yang harus di capai oleh peserta didik namun harus tetap menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang dihadapi guru saat proses pembelajaran misalnya karakteristik materi, siswa, sarana serta prasarana dll. dalam penyusunan rubrik kreatifitas komponen indikator yang harus muncul dari siswa yaitu Kelancaran, Fleksibilitas, Keaslian atau Orisinalitas dan Elaborasi. Oleh karena itu dalam penyusunan rubrik ini dibutuhkan kepekaan dan kreatifitas guru dalam merancang proses pembelajaran agar seluruh kemampuan dari pencapaian indikator yang telah ditetapkan kepada siswa dapat muncul.
BalasHapusSaya setuju dengan yang dikatakan saudari fira dalam menjawab pertanyaan "Hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dalam penyusunan rubrik penilaian kreativitas yang baik dan benar ?"
Hapus.
Tentunya kreativitas itu sangatlah luas, seperti yang dikatakan oleh Munandar (2012), kreativitas merupakan suatu konstruk yang multidimensional, terdiri dari berbagai dimensi yaitu dimensi kognitif (berpikir kreatif), dimensi afektif (sikap dan kepribadian) dan dimensi psikomotor (keterampilan berpikir kreatif). Kita sebagai guru dalam memilih aspek kreativitas apa yang ingin dinilai tentunya harus melihat kembali karakteristik dari peserta didik yang kita ajarkan. Tentunya yang sya pernah baca, penilaian kreativitas itu yang biasa dilakukan peneliti adalah aspek afektif dan kognitif karena dalam memastikan kognitif siswa sesuai dengan indikator berpikir kreatif maka guru juga harus memastikannya dengan lembar observasi untuk menilai sikap siswa. Dan dalam membuat rubrik berpikir kreatif, guru harus juga kreatif membuat soal dimana dapat menggiring siswa menuju aspek berpikir kreatif seperti Kelancaran, Fleksibilitas, Keaslian atau Orisinalitas dan Elaborasi. Sebaiknya diawal soal guru memberikan suatu data, gambar, persamaan reaksi untuk meransang siswa berpikir kreatif.
saya akan menjawab pertanyaan fero, Bagaimana cara kita melihat keefektifan dari rubrik penilaian kreativitas ?
BalasHapusmenurut saya rubrik dikatakan efektif jika hasil penilaian dari rubrik itu mencapai tujuan yang diinginkan dari penilaian tsb. artinya rubrik itu benar-benar tepat guna. rubrik yang tepat guna/akurat biasanya memenuhi kriteria SMART yang kita bahas pada minggu lalu, jika kriteria itu sudah terpenuhi maka otomatis hasil dari rubrik yang kita susun akan memiliki hasil yang maksimal.
Sependapat dengan kak rini. Harus memenuhi kriteria SMART. agar tampak kreativitas siswa. Disini saya ingin menambahkan bahwa untuk melihat efektivitas rubrik harus di validasi dlu sehhingga alat ukur itu benar benar valid
HapusHal-hal apa saja yang harus diperhatikan dalam penyusunan rubrik penilaian kreativitas yang baik dan benar ?
BalasHapuskita harus perhatikan indikator dari kreatifnya serta karakteristik materi yang akan dibuat, untuk kognitif kita harus menelaah satu persatu KD KIMIA yang ada untuk mencapai tujuan soal tersebut, kemudian rubrik harus dibuat berdasarkan indikator kreatif
Hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dalam penyusunan rubrik penilaian kreativitas yang baik dan benar ?
Hapuskita harus perhatikan aspek dari kreativitas serta karakteristik materi yang akan dibuat, untuk kognitif kita harus menelaah satu persatu KD yg kita rincikan dalam bentuk indikator yang ada untuk mencapai tujuan soal tersebut, kemudian mencocokkan antara indikator materi dengan aspek kreatif sehingga materi yg diaampaikan mampu memunculkan kreatifitas siswa
Apa saja yang menjadi kesulitan dalam penyusunan rubrik penilaian kreativitas ? Dan bagaimana solusinya ?
BalasHapusmenurut saya kesulitan yang dialami dalam menyusun rubrik penilaian adalah penyocokkan indikator kreatifitas yang ingin digunakan dalam penilaian yang akan kita lakukan, misalnya poin penting yang akan dinilai dari jawaban siswa pada soal uraian yang kita berikan. jika bias maka akan terjadi perbedaan penafsiran pada rubrik penilaian dan hasil penilaian. solusinya adalah jelaskan rinci poin jawban bagian yang perlu dinilai dari indikator berpikir kreatif tersebut. misalnya indikator berpikir kreatif keterampilan berpikir lancar dan detail, maka poin rubrik penilaian skor 4 jika siswa mampu menjawab pertanyaan secara jelas dan lancar terdetail dan tepat. skor 1 jika siswa hanya menjawab sesuai poin jawaban saja tetapi tidak tepat
Hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dalam penyusunan rubrik penilaian kreativitas yang baik dan benar ? Silver (1997) menjelaskan bahwa komponen berpikir kreatif mencakup kefasihan (fluency), fleksibilitas (flexibility) dan kebaruan (novelty). jadi dalam menyusun rubrik penilaian berfikir kreatif hal pertama yang dilakukan adalah dengan menganalisis indikator yang akan dicapai. indikator yang disusun itu haruslah mencakup aspek2 berfikir kreatif. sehingga tujuan pembelajaran pun akan mengarah ke berfikir kreatif dan sehingga instrumen penilaian yang disusun juga akan mengukur tingkat kreatifitasnya.
BalasHapusHal-hal apa saja yang harus diperhatikan dalam penyusunan rubrik penilaian kreativitas yang baik dan benar ?
BalasHapusMelihat dari indikator yang akan di capai oleh siswa, dan aspek2 apa saja yg ada dalam berpikir kreatif yang mencakup kefasihan (fluency), fleksibilitas (flexibility) dan kebaruan (novelty).