Keterampilan proses sains (KPS) adalah
perangkat kemampuan kompleks yang biasa digunakan oleh para ilmuwan dalam
melakukan penyelidikan ilmiah ke dalam rangkaian proses pembelajaran. Menurut
Dahar (1996), keterampilan proses sains (KPS) adalah kemampuan siswa untuk
menerapkan metode ilmiah dalam memahami, mengembangkan dan menemukan ilmu
pengetahuan. KPS sangat penting bagi setiap siswa sebagai bekal untuk menggunakan
metode ilmiah dalam mengembangkan sains serta diharapkan memperoleh pengetahuan
baru atau mengembangkan pengetahuan yang telah dimiliki.
Keterampilan proses sains
dalam pembelajaran kimia merupakan kemampuan siswa
untuk mengelola (memperoleh) yang didapat dalam kegiatan belajar mengajar kimia
yang memberikan kesempatan seluas-luasnya pada siswa untuk mengamati peristiwa
atau objek kimia, menggolongkan, menafsirkan, meramalkan, menerapkan,
merencanakan penelitian, mengkomunikasikan hasil perolehan dalam praktikum atau
diskusi pada pembelajaran kimia.
KPS terdiri dari sejumlah keterampilan
tertentu. Klasifikasi KPS adalah sebagai berikut :
1. Mengamati
Mengamati adalah proses
pengumpulan data tentang fenomena atau peristiwa dengan menggunakan inderanya.
Untuk dapat menguasai keterampilan mengamati, siswa harus menggunakan sebanyak
mungkin inderanya, yakni melihat, mendengar, merasakan, mencium dan mencicipi.
Dengan demikian dapat mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dan memadai.
2. Mengelompokkan/Klasifikasi
Mengelompokkan adalah
suatu sistematika yang digunakan untuk menggolongkan sesuatu berdasarkan
syarat-syarat tertentu. Proses mengklasifikasikan tercakup beberapa kegiatan
seperti mencari kesamaan, mencari perbedaan, mengontraskan ciri-ciri,
membandingkan, dan mencari dasar penggolongan.
3. Menafsirkan
Menafsirkan hasil
pengamatan ialah menarik kesimpulan tentatif dari data yang dicatatnya.
Hasil-hasil pengamatan tidak akan berguna bila tidak ditafsirkan. Karena itu,
dari mengamati langsung, lalu mencatat setiap pengamatan secara terpisah,
kemudian menghubung-hubungkan hasil-hasil pengamatan itu. Selanjutnya siswa
mencoba menemukan pola dalam suatu seri pegamatan, dan akhirnya membuat
kesimpulan.
4. Meramalkan
Meramalkan adalah
memperkirakan berdasarkan pada data hasil pengamatan yang reliabel (Firman,
2000). Apabila siswa dapat menggunakan pola-pola hasil pengamatannya untuk
mengemukakan apa yang mungkin terjadi pada keadaan yang belum diamatinya, maka
siswa tersebut telah mempunyai kemampuan proses meramalkan.
5. Mengajukan
pertanyaan
Keterampilan proses
mengajukan pertanyaan dapat diperoleh siswa dengan mengajukan pertanyaan apa,
mengapa, bagaimana, pertanyaan untuk meminta penjelasan atau pertanyaan yang
berlatar belakang hipotesis.
6. Merumusakan
hipotesis
Hipotesis adalah suatu
perkiraan yang beralasan untuk menerangkan suatu kejadian atau pengamatan
tertentu.
7. Merencanakan
percobaan
Agar siswa dapat
memiliki keterampilan merencanakan percobaan maka siswa tersebut harus dapat
menentukan alat dan bahan yang akan digunakan dalam percobaan. Selanjutnya,
siswa harus dapat menentukan variabel-variabel, menentukan variabel yang harus
dibuat tetap, dan variabel mana yang berubah. Demikian pula siswa perlu untuk
menentukan apa yang akan diamati, diukur, atau ditulis, menentukan cara dan
langkah-langkah kerja. Selanjutnya siswa dapat pula menentukan bagaimana
mengolah hasil-hasil pengamatan.
8. Menggunakan
alat dan bahan
Untuk dapat memiliki
keterampilan menggunakan alat dan bahan, dengan sendirinya siswa harus
menggunakan secara langsung alat dan bahan agar dapat memperoleh pengalaman
langsung. Selain itu, siswa harus mengetahui mengapa dan bagaimana cara
menggunakan alat dan bahan.
9. Menerapkan
konsep
Keterampilan menerapkan
konsep dikuasai siswa apabila siswa dapat menggunakan konsep yang telah
dipelajarinya dalam situasi baru atau menerapkan konsep itu pada
pengalaman-pengalaman baru untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi.
10. Berkomunikasi
Keterampilan ini
meliputi keterampilan membaca grafik, tabel, atau diagram dari hasil percobaan.
Menggambarkan data empiris dengan grafik, tabel, atau diagram juga termasuk
berkomunikasi. Menurut Firman (2000), keterampilan berkomunikasi adalah
keterampilan menyampaikan gagasan atau hasil penemuannya kepada orang lain.
Menurut Smith dan Welliver,
pelaksanaan penilaian keterampilan proses dapat dilakukan dalam beberapa
bentuk, diantaranya:
1. Pretes
dan postes.
Guru melaksanakan penilaian keterampilan proses sains siswa pada awal tahun
sekolah. Penilaian ini bertujuan untuk menentukan kekuatan dan kelemahan dari
masing-masing siswa dalam keterampilan yang telah diidentifikasi. Pada akhir
tahun sekolah, guru melaksanakan tes kembali untuk mengetahui perkembangan skor
siswa setelah mengikuti pembelajaran sains.
2. Diasnotic
Guru melaksanakan penilaian keterampilan proses sains siswa pada awal tahun
ajaran. Penilaian ini bertujuan untuk menentukan pada bagian mana siswa
memerlukan bantuan dengan keterampilan proses. Kemudian guru merencanakan
pelajaran dan kegiatan laboratorium yang dirancang untuk mengatasi kekurangan
siswa.
3. Penempatan
kelas.
Guru melaksanakan penilaian keterampilan proses sains siswa sebagai salah
satu kriteria dalam penempatan kelas. Misalnya, criteria untuk memasuki kelas
akselerasi, kelas sains atau kelas unggulan.
4. Pemilihan
kompetisis siswa.
Guru melaksanakan penilaian keterampilan proses sains siswa sebagai
kriteria utama dalam pemilihan siswa yang akan ikut dalam lomba-lomba sains.
Jika siswa memiliki skor tes tinggi, maka dia akan dapat mengikuti lomba sains
dengan baik.
5. Bimbingan
karir.
Biasanya para peneliti melakukan uji coba menggunakan penilaian
keterampilan proses sains untuk mengidentifikasi siswa yang memiliki potensi di
bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat dibina.
Penilaian keterampilan proses sains
dilakukan dengan menggunakan instrumen yang disesuaikan dengan materi dan
tingkat perkembangan siswa atau tingkatan kelas (Rezba, 1999). Oleh karena itu,
penyusunan instrumen penilaian harus direncanakan secara cermat sebelum
digunakan. Menurut Widodo (2009), penyusunan instrumen untuk penilaian
terhadap keterampilan proses siswa dapat dilakukan dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
1. Mengidentifikasikan
jenis keterampilan proses sains yang akan dinilai.
2. Merumuskan
indikator untuk setiap jenis keterampilan proses sains.
3. Menentukan
dengan cara bagaimana keterampilan proses sains tersebut diukur (misalnya
apakah tes unjuk kerja, tes tulis, ataukah tes lisan).
4. Membuat
kisi-kisi instrumen.
5. Mengembangkan
instrumen pengukuran keterampilan proses sains berdasarkan kisi-kisi yang
dibuat. Pada saat ini perlu mempertimbangkan konteks dalam item tes
keterampilan proses sains dan tingkatan keterampilan proses sains (objek tes)
6. Melakukan
validasi instrumen.
7. Melakukan
ujicoba terbatas untuk mendapatkan validitas dan reliabilitas empiris.
8. Perbaikan
butir-butir yang belum valid.
9. Terapkan
sebagai instrumen penilaian keterampilan proses sains dalam pembelajaran sains.
Pada langkah-langkah penyusunan instrument
di atas, pencarian validitas dan reabilitas empiris terutama dilakukan untuk
penilaian keterampilan proses sains yang beresiko tinggi. Penilaian yang
beresiko tinggi yang dimaksud adalah penilaian dalam penelitian, penilaian
dalam skala besar atau penilaian untuk tujuan tertentu.
Pengukuran terhadap keterampilan proses
siswa, dapat dilakukan dengan menggunakan instrumen tertulis. Pelaksanaan
pengukuran dapat dilakukan secara tes (paper and pencil test) dan bukan tes.
Penilaian melalui tes dapat dilakukan dalam bentuk tes tertulis (paper and
pencil test). Sedangkan penilaian melalui bukan tes dapat dilakukan dalam
bentuk observasi atau pengamatan. Penilaian dalam keterampilan proses agak
sulit dilakukan melalui tes tertulis dibandingkan dengan teknik observasi.
Namun demikian, menggunakan kombinasi kedua teknik penilaian tersebut dapat
meningkatkan akurasi penilaian terhadap keterampilan proses sains.
Penilaian keterampilan proses melalui tes tertulis
Penilaian secara tertulis terhadap
keterampilan proses sains dapat dilakukan dalam bentuk essai dan pilihan ganda
. Pertanyaan yang disusun dalam bentuk pertanyaan konvergen dan pertanyaan
divergen. Penilaian dalam bentuk essai memerlukan jawaban yang berupa pembahasan
atau uraian kata-kata. Jawaban yang dituliskan oleh siswa akan lebih bersifat
subjektif, yang berarti menggambarkan pemahaman yang lebih indiviualistik.
Penilaian keterampilan proses melalui bukan tes
Penilaian melalui
keterampilan proses sains melalui bukan tes dapat dilakukan dalam bentuk
observasi atau pengamatan. Pengamatan dalam penilaian ini dapat dilakukan
secara langsung maupun tidak langsung. Selama proses kegiatan pembelajaran
sains dilaksanakan, guru dapat melakukan penilaian dengan mengamati perilaku
siswa secara langsung dalam menunjukkan kemampuan keterampilan proses sains
yang dimiliki. Selain itu, hasil-hasil pekerjaan tugas siswa atau produk hasil
belajar siswa juga dapat diamati untuk menilai keterampilan proses siswa secara
integrative.
Sebuah contoh rubrik penilaian untuk mengukur kegiatan
percobaan laboratorium dapat disajikan, sebagai berikut:
Tabel 1. Rubrik Percobaan Laboratorium
Kriteria
|
Skor
|
|||
4
(sangat baik)
|
3
(baik)
|
2
(cukup)
|
1
(kurang)
|
|
Tujuan percobaan
|
Mengidentifikasi tujuan dan cirri khusus
|
Mengidentifikasi tujuan
|
Mengidentifikasi sebagian tujuan
|
Salah mengidentifikasi tujuan
|
Alat dan Bahan
|
Melist semua alat dan bahan
|
Melist semua bahan
|
Melist beberapa bahan
|
Salah melist bahan
|
Hypotesis
|
Memprediksi dengan benar fakta dan membuat hipotesis
|
Memprediksi dengan benar fakta
|
Memprediksi dengan beberapa fakta
|
Menebak-nebak
|
Prosedur
|
Melist semua tahap dan detail-detail khusus
|
Melist semua tahap
|
Melist beberapa tahap
|
Salah melist tahap
|
Hasil
|
Data direkam, diorganisir, dan digrafiskan
|
Data direkam, diorganisir
|
Data direkam
|
Hasil salah atau tidak betul
|
Simpulan
|
Tampak memahami konsep dan membuat hipotesis baru
untuk aplikasi pada situasi lain.
|
Tampak memahami konsep yang telah
dipelajari
|
Tampak memahami beberapa konsep
|
Tidak ada kesimpulan atau tampak miskonsepsi
|
Sebagaimana pada contoh
di atas, sebuah rubrik memuat dua komponen, yaitu kriteria dan level unjuk
kerja (performance). Pada setiap rubrik terdiri atas minimal dua criteria dan
dua level unjuk kerja. Kriteria biasanya ditempatkan pada kolom paling kiri, sedangkan
level unjuk kerja ditempatkan pada baris paling atas dalam tabel rubrik. Untuk
memudahkan dalam penggunaannya, level unjuk kerja terdiri atas level kuantitatif berupa
angka (1, 2, 3, dan 4) dan level kualitatif.
Dalam rubrik biasanya juga disertai dengan
deskriptor. Dekriptor menyatakan harapan kondisi siswa pada setiap level unjuk
kerja untuk setiap kriteria. Pada contoh rubrik, dapat dilihat adanya perbedaan
diskriptor antara tujuan kegiatan yang dirumuskan dengan sangat baik dan tujuan
kegiatan yang dirumuskan dengan baik. Pada deskriptor, siswa dapat melihat
syarat unjuk kerja untuk mencapai sebuah level kriteria. Bagi guru, deskriptor
dapat membantu guru untuk memberikan penilaian secara konsisten pada hasil
kerja siswa.
Dalam implementasinya, penilaian melalui
observasi dengan menggunakan rubrik penilaian memiliki beberapa keunggulan.
Ketika rubrik penilaian ini dikomunikasikan kepada siswa di awal pembelajaran,
ekspektasi terhadap pencapaian level keterampilan proses dapat
diidentifikasikan dan dipahami secara baik oleh siswa. Observasi dapat
menghasilkan penilaian yang konsisten dan obyektif. Selain itu, hasil penilaian
dapat menghasilkan umpan balik (feedback) yang lebih baik. Hasil penilaian
dapat menunjukkan level khusus performans siswa selanjutnya yang harus dicapai
oleh siswa.
Permasalahan :
Kelebihan dan kekurangan keterampilan
proses sains
Adapun kelebihan dan kekurangan
keterampilan proses sains menurut Dimyati dan Mudjiono (2009) sebagai
berikut:
1. Kelebihannya siswa dapat:
a.Dilibatkan secara aktif dalam
pembelajaran.
b.Mengalami sendiri proses untuk
mendapatkan konsep-konsep pengetahuan.
c.Mengembangkan sikap ilmiah dan
merangsang rasa ingin tahu siswa.
d.Mengurangi ketergantungan siswa
terhadap orang lain dalam belajar.
e.Menumbuhkan motivasi intrinsik pada
diri siswa.
f.Memiliki keterampilan-keterampilan
dalam melakukan suatu kegiatan ilmiah sebagaimana yang biasa dilakukan para
saintis.
2. Kekurangannya:
a.Membutuhkan waktu yang relatif lama
untuk melakukannya.
b.Jumlah siswa dalam kelas harus relatif
kecil, karena setiap siswa memerlukan perhatian guru.
c.Memerlukan perencanaan dengan sangat
teliti.
d.Tidak menjamin bahwa setiap siswa akan
dapat mencapai tujuan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
e.Sulit membuat siswa turut aktif secara
merata selama berlangsungnya proses pembelajaran.
Untuk meminimalisir kekurangan dari
keteramilan proses sains siswa ini, guru harus memiliki persiapan yang matang,
siswa mempersiapakan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam pembelajaran, siswa
dibagi kedalam beberapa kelompok kecil, dan siswa harus aktif dalam
pembelajaran.
Beragam keterampilan yang dikembangkan
dalam pendekatan sains dijelaskan dalam tabel berikut.
Tabel Aspek-aspek Keterampilan Proses Sains
No
|
Keterampilan Proses Sains
|
Sub Keterampilan Proses Sains
|
1.
|
Mengamati
|
a. Mengamati
dengan indera
b. Mengumpulkan
fakta-fakta yang relevan
c. Mencari
kesamaan dan perbedaan
|
2.
|
Menafsirkan
Pengamatan
|
a. Mencatat
setiap pengamatan
b. Menghubungkan
setiap hasil pengamatan
c. Menemukan
suatu pola dalam satu seri pengamatan
d. Menarik
kesimpulan
|
3.
|
Meramalkan
|
Berdasarkan
hasil pengamatan dapat mengemukakan apa yang mungkin
terjadi
|
4.
|
Menggunakan
alat dan bahan
|
a. Terampil
menggunakan alat dan bahan
b. Mengetahui
konsep dan menggunakan alat dan bahan
|
5.
|
Menerapkan
konsep
|
a. Menerapkan
konsep dalam situasi baru
b. Menggunakan
konsep pada pengamalan baru untuk menjalankan apa
yang sedang terjadi
c. Menyusun
hipotesis
|
6.
|
Merencanakan
penelitian
|
a. Menentukan
alat, bahan dan sumber yang digunakan dalam penelitian
b. Menentukan
variable-variabel
c. Menentukan
variable yang dibuat tetap dan mana yang harus berubah
d. Menentukan
apa yang akan diamati, diukur dan ditulis
e. Menentukan
cara dan langkah kerja
|
7.
|
Berkomunikasi
|
a. Menyusun
dan menyampaikan laporan secara sistematis dan jelas
b. Menjelaskan
hasil percobaan atau pengamatan
c. Mendiskusikan
hasil percobaan
d. Menggambarkan
data dengan table grafik.
|
(Ertikanto,
2016)
|
Pada rubrik penilaian ini yang dilakukan
siswa yakni praktikum pada materi faktor yang mempengaruhi laju reaksi mulai
dari luas permukaan, suhu, konsentrasi, serta katalis. Berikut rubriknya:
No.
|
Mengajukan Pertanyaan
|
Aspek-Aspek Penilaian
|
Skala Penilaian
|
1.
|
Mengajukan pertanyaan
|
Bertanya mengenai
hal-hal yang berkaitan dengan praktikum
|
0. Siswa tidak bertanya
1. Siswa bertanya
mengenai alat dan bahan
2. Siswa bertanya
mengenai alat dan bahan, serta prosedur
3. Siswa bertanya
mengenai alat dan bahan, prosedur, hal-hal yang diamati
4. Siswa bertanya
mengenai alat dan bahan, prosedur, hal-hal yang
diamati dan analisa
data
|
2.
|
Menyusun hipotesis
|
Membuat penjelasan
atau kesimpulan sementara mengenai kegiatan praktikum yang dilakukan
|
0. Siswa tidak menyusun hipotesis
1. Siswa tidak menyusun hipotesis namun
menjelaskan apa yang akan di lakukan
2. Siswa menyusun hipotesis tanpa mampu untuk
menjelaskan
3. Siswa menyusun hipotesis dengan
penjelasan kurang tepat
4. Siswa menyusun hipotesis dengan
penjelasan yang tepat
|
3.
|
Merencanakan percobaan
|
Menentukan dan
mengambil
alat dan bahan
praktikum
|
0. Siswa tidak menentukan dan mengambil
2 alat dan 2 bahan yang
Diperlukan
1. Siswa tidak menentukan dan mengambil 4
alat dan 2 bahan yang diperlukan
2. Siswa tidak menentukan dan mengambil 8
alat dan 4 bahan yang diperlukan
3. Siswa menentukan dan mengambil 8 alat
dan 4 bahan yang diperlukan
4. Siswa menentukan dan mengambil semua
alat dan bahan yang
diperlukan dengan tepat
|
4.
|
Menggunakan alat dan
bahan
|
Menggunakan alat ukur
yang tepat dalam mengambil larutan dengan volum tertentu
|
0. Siswa langsung menuang larutan ke dalam
gelas kimia
1. Siswa menggunakan gelas kimia untuk
mengambil larutan dan memindahkan larutan
2. Siswa
menggunakan
gelas
kimia dan
pipet
tetes untuk mengambil larutan dan
memindahkan larutan
3. Siswa menggunakan gelas ukur dan pipet
tetes untuk mengambil larutan dan memindahkan larutan
4. Siswa menggunakan pipet volum dengam
bulp untuk mengambil larutan dan memindahkan larutan
|
Menggunakan neraca
untuk menimbang zat dengan baik dan benar
|
0. Siswa tidak mengkalibrasi neraca
1. Siswa mengkalibrasi neraca namun tidak menggunakan kaca arloji atau
wadah untuk menimbang
2. Siswa mengkalibrasi neraca, menimbang kaca arloji, rapi dalammenimbang tapi menggunakan
tangan untuk mengeser tangan neraca
3. Siswa
mengkalibrasi
neraca,
menimbang
kaca arloji,menggunakan alat bantu tapi tidak rapi dalam menimbang zat
4. Siswa
mengkalibrasi
terlebih
dahulu,
menimbang
kecaarloji/wadah lain dan menggunakan
alat bantu (spatula) untukmengeser
tangan neraca, rapi dalam menimbang zat
|
||
Menggunakan termometer
dengan baik dan benar
|
0. Siswa tidak menggunakan termometer
1. Siswa memegang badan termometer dan ujungnya menyentuh dinding gelas
kimia
2. Siswa memegang badan termometer
3. Siswa menggantung termometer dengan tali/karet
4. Siswa menggantung termometer dengan statif
|
||
5.
|
Observasi
|
Mengamati hasil reaksi
pada faktor konsentrasi dengan menggunakan indera yang tepat
|
0. Siswa tidak melakukan pengamatan
1. Siswa mengamati reaksi yang terjadi
dengan penglihatan naun tidak
membandingkannya dengan tabung lain dan mencatatnya.
2. Siswa mengamati reaksi yang terjadi dengan penglihatan dan
peraba, namun tidak membandingkan dengan tabung lain dan mencatatnya.
3. Siswa mengamati reaksi yang terjadi dengan penglihatan dan
peraba,
membandingkan dengan tabung
lain
dantidakmencatatnya.
4. Siswa mengamati reaksi yang terjadi dengan
penglihatan dan peraba, membandingkan dengan tabung lain dan
mencatatnya.Siswa mengamati reaksi yang terjadi dengan penglihatan dan peraba, membandingkan
dengan tabung
lain
dan tidak mencatatnya.
|
Mengamati hasil reaksi
pada faktor luas permukaan dengan menggunakan indera yang tepat
|
0. Siswa tidak melakukan pengamatan
1. Siswa
mengamati reaksi yang terjadi
dengan penglihatan naun tidak
membandingkannya dengan tabung lain dan mencatatnya.
2. Siswa
mengamati reaksi yang terjadi dengan penglihatan dan peraba, namun tidak
membandingkan dengan tabung lain dan mencatatnya.
3. Siswa
mengamati reaksi yang terjadi dengan penglihatan dan peraba, membandingkan
dengan tabung lain dan tidak mencatatnya.
4. Siswa
mengamati reaksi yang terjadi dengan penglihatan dan peraba, membandingkan dengan tabung lain dan
mencatatnya.
|
||
Mengamati hasil reaksi
pada faktor suhu dengan menggunakan indera yang tepat
|
0. Siswa tidak melakukan pengamatan
1. Siswa mengamati reaksi yang terjadi dan tanda x pada kertas dengan penglihatan dan
peraba, namun salah mengukur waktu dan tidakmencatatnya.
2. Siswa mengamati reaksi yang terjadi dan tanda x pada kertas dengan penglihatan dan
peraba, mencatatnya namun salah
menetukan waktu
reaksi.
3. Siswa mengamati reaksi
yang terjadi dan tanda x pada kertas dengan penglihatan dan peraba menentukan
waktu dengan benar namun tidak mencatatnya
4. Siswa mengamati reaksi
yang terjadi dan tanda x pada kertas dengan penglihatan dan peraba menentukan
waktu reaksi dengan tepat dan mencatatnya
|
||
Mengamati hasil reaksi
pada faktor katalis dengan menggunakan indera yang tepat
|
0. Siswa tidak melakukan pengamatan
1. Siswa mengamati reaksi yang terjadi dengan
penglihatan naun tidak membandingkannya dengan tabung lain dan mencatatnya.
2. Siswa mengamati reaksi yang terjadi dengan
penglihatan dan peraba, namun tidak membandingkan dengan tabung lain dan
mencatatnya.
3. Siswa mengamati reaksi yang terjadi dengan
penglihatan dan peraba, membandingkan dengan tabung lain dan tidak mencatatnya.
4. Siswa mengamati reaksi yang terjadi dengan
penglihatan dan
5. peraba, membandingkan dengan tabung lain dan mencatatnya.
|
||
6.
|
mengklasifikasikan
|
Mencatat
setiap hasil pengamatan
|
0. Siswa
tidak mencatat
1. Siswa
mencatat praktikum yang pertama
2. Siswa
mencatat praktikum yang pertama dan kedua
3. Siswa
mencatat praktikum pertama, kedua, ketiga
4. Siswa
mencatat praktikum pertama, kedua,ketiga dan ke empat
|
Membandingkan
data dan hasil pengamatan
|
0. Siswa
tidak membandingkan data dengan kelompok lain
1. Siswa
membandingkan data dengan 1 kelompok lain
2. Siswa
membandingkan data dengan 2 kelompok lain
3. Siswa
membandingkan data dengan 3 kelompok lain
4. Siswa
membandingkan data dengan semua kelompok lain
|
||
7
|
memprediksi
|
memprediksi
waktu reaksi jika diberikan kondisi konsentrasi, luas permukaan, suhu dan
katalis yang berbeda
|
0. Siswa
tidak mencatat seluruh hasil pengamatan
1. Siswa
tidak mencatat waktu reaksi
2. Siswa
tidak mencatat pengamatan reaksi (awal dan akhir reaksi)
3. Siswa
tidak membedakan hasil reaksi dengan tabung yang lain
4. Siswa
memcatat seluruh hasil pengamatan
|
8
|
interpretasi
|
Menghubungkan hasil
pengamatan yang didapatkan
|
0. Siswa tidak menghubungkan hasil
pengamatan
1. Siswa menghubungkan hasil percobaan saja
2. Siswa menghubungkan masing-masing hasil
pengamatan saja
3. Siswa menghubungkan hasil percobaan
dengan data kelompok lain
4. Siswa menghubungkan hasil pengamatan,
dengan konsep materi dan hasil kelompok lain
|
Menyimpulkan
berdasarkan data percobaan yang didapatkan
|
0. Siswa tidak menyimpulkan hasil percobaan
1. Siswa menyimpulkan namun kesimpulannya
kurang tepat
2. Siswa menyimpulkan tanpa alasan yang
relevan
3. Siswa menyimpulkan dengan alasan yang
kurang jelas
4. Siswa menyimpulkan dengan tepat, beserta
alasan dan hasil pengamatan yang lengkap dan jelas
|
||
9.
|
Menerapkan konsep
|
Mensterilisasi
alat-alat praktikum
|
0. Siswa tidak mensterilisasi alat
1. Siswa mencuci alat tanpa mengeringkannya
2. Siswa mencuci alat dengan sabun tanpa
mengeringkan
3. Siswa mencuci alat tanpa menggunakan
sabun lalu mengeringkannya
4. Siswa mencuci alat dengan baik,
mengeringkannya dan menyusun kembali alat tsb
|
Menghitung laju reaksi
pada faktor laju reaksi, luas permukaan,suhu, konsentrasi, dan katalis
|
0. Siswa tidak menghitung laju reaksi
1. Siswa mengetahui konsep dan
rumus laju reaksi, namun siswa tidakmenghitungnya.
2. Siswa mengetahui konsep dan rumus laju reaksi dan
menghitung dengan benar namun kurang tepat dalam menentukan waktu
reaksi.
3. Siswa mengetahui konsep dan rumus laju reaksi, menentukan waktu reaksi dengan tepat namun
salah dalam perhitungan.
4. Siswa mengetahui konsep dan rumus laju reaksi,
menentukan waktu reaksi dengan tepat dan menghitung dengan benar
|
||
10
|
mengkomunikasikan
|
Membuat tabel
pengamatan
|
0. Siswa tidak membuat tabel pengamatan
1. Siswa membuat tabel pengamatan tanpa menuliskan reaksi, waktureaksi, dan komponen zat yang tidak lengkap.
2. Siswa membuat tabel pengamatan tanpa konsentrasi larutan dan
luaspermukaan
3. Siswa membuat tabel pengamatan tanpa menuliskan reaksi
4. Siswa membuat tabel pengamatan dengan lengkap (gelas kimia 1-4,
komponen zat dengan konsentrasinya, reaksi dan waktu reaksi)
|
Membuat grafik laju
reaksi
|
0. Siswa tidak membuat grafik percobaan
1. Siswa membuat grafik percobaan benar, namun tidak lengkap dan
tidakrapih
2. Siswa membuat grafik percobaan
benar, rapih namun tidak lengkap
3. Siswa membuat grafik percobaan lengkap dengan benar namun
rapih.
4. Siswa membuat grafik percobaan dengan
lengkap benar dan rapi
|
||
Membuat laporan
|
0. Siswa tidak membuat laporan sementara.
1. Siswa membuat laporan sementara namun tidak lengkap dan
tidaksistematis.
2. Siswa membuat laporan sementara dengan lengkap namun tidak sistematis.
3. Siswa membuat laporan sementara dengan sistematis namun
tidaklengkap.
4. Siswa
memb.uat laporan
sementara dengan
lengkap dan
sistematis
|
Permasalahan :
1. Salah satu cara penyusunan instrumen untuk
penilaian terhadap keterampilan proses siswa adalah dengan cara
mengidentifikasikan jenis keterampilan proses sains yang akan dinilai.
Bagaimana cara mengidentifikasi keterampilan proses sains pada tiap siswa yang
memiliki kemampuan yang berbeda?
2. Apakah
penilaian keterampilan proses sains hanya bisa dilakukan pada pembelajaran yang
bersifat praktikum? Atau bisa pada semua materi ?
3. Dalam
penilaian keterampilan proses sains kimia biasanya guru menggunakan instrumen
penilaian berupa lembar Observasi (LO) dengan rubrik penilaian praktikum.
Apakah cukup penilaian menggunakan LO saja ? Jika belum cukup, instrumen
penilaian apa lagi yang perlu digunakan untuk menilai kemampuan proses sains
Kimia untuk penilaian otentik ?